
Alseenio tersenyum ke arah dua pria tua ini, dan ia berkata, “Kamu berdua tidak begitu terburu-buru, umur kami masih sangat muda, nanti kami akan menyusul Ryan.“
“Kamu usianya sama dengan Ryan, kan?“ Ayah Ryan bertanya lagi dan mulai penasaran dengan profil Alseenio.
“Usiaku baru dua puluh tahun.“
Setelah kata-kata itu keluar dari mulut Alseenio, kedua pria tua tersebut terhenyak sesaat, kemudian mereka makin tahu dan bertanya lagi.
Makin banyak mereka bertanya kepada Alseenio, makin terkejut pula mereka berdua. Mereka berdua menganggap Alseenio sebagai bocah yang luar biasa.
Di usia 20 tahun, anak ini sudah sukses, meskipun Alseenio tidak memberi tahu semuanya tentang dari mana uang untuk membeli mansion besar itu, tetapi mereka berdua yakin Alseenio memiliki perusahaan besar ataupun saham, harga mansion tidak semurah harga rumah, orang yang mampu membelinya bukan orang yang sembarangan.
Mereka tambah terkejut begitu Alseenio menjawab bahwa orang tuanya sudah tiada. Awalnya, mereka kira Alseenio mendapatkan bantuan dari orang tuanya, karena itu mereka bertanya tentang orang tua Alseenio, tetapi jawaban Alseenio sangat tidak terduga.
Kedua pria tua ini makin menyukai Alseenio, kemudian mereka sama-sama memberi kartu nama, mereka bersedia kapan saja untuk bekerja sama dengan Alseenio perihal bisnis.
Merasakan aura dan tempramen yang memancar keluar dari tubuh Alseenio, mereka percaya Alseenio akan menjadi sosok yang besar lagi dari sekarang.
Visi pebisnis sangat tajam, bahkan bisa menilai dari melihat dari sosok orang tersebut.
Sementara itu, Fara sedang ditanya-tanya tentang bagaimana wajahnya bisa secantik itu oleh wanita-wanita yang ada dari kedua keluarga. Ibu Ryan dan ibu Niara langsung menyukai Fara, menganggap Fara salah satu dari anaknya.
Fara menjawab dengan jujur bahwa wajahnya seperti ini secara alami tanpa bantuan pembersih wajah ataupun riasan.
Sikap Fara yang agak pemalu dan sopan menjadi salah satu faktor mengapa keluarga Niara dan Ryan senang dengan Fara.
Usai berbincang, acara pertunangan resmi berakhir.
Alseenio, Fara, dan Sugi berpamitan dengan keluarga Niara dan Ryan, hari sudah agak sore, besok mereka ada acara.
Di bawah tatapan orang yang ada di depan gedung, mobil Pagani dan sepeda motor Harley DavidDisini meluncur meninggalkan area gedung.
Mereka bertiga kembali ke rumah Bang Luffi untuk mengajak Bang Luffi dan timnya pergi bersamanya ke mansion, besok mereka akan berangkat ke luar negeri.
“Bang Luffi, tolong buat daftar orang yang akan ikut ke Jepang.“
Di rumah Bang Luffi, Alseenio dan yang lain berkumpul di ruang tamu menunggu Bang Luffi dan yang lain membawa barang-barangnya.
Rencananya mereka akan berkumpul di mansion Alseenio sebelum pergi ke bandara.
“Oke, tunggu sebentar,” jawab Bang Luffi sambil meletakkan kopernya di ruang tamu.
__ADS_1
Kemudian ia mengambil ponsel dan membuat catatan orang-orang yang ikut liburan di dalam ponsel.
“Bang Windi, Kak Agnis, Bang Birand Pros dan pacarnya, Aku, Diya, Bang Nio, dan Kak Fara ….“ Bang Luffi menyebutkan nama-nama orang yang akan ikut.
“Nanti akan ada orang tambahan, sementara catat sampai di situ dahulu,” kata Alseenio sambil menyesap kopi yang disediakan oleh Fara.
Fara sudah lihai dan ahli, tahu apa saja yang diinginkan Alseenio, makanan dan minuman kesukaan Alseenio dipahami dengan baik oleh Fara, memang cocok dijadikan asisten sekaligus calon istri.
“Siap, Bang Nio.“ Bang Luffi mengangguk dan menyimpan kembali ponselnya.
Setelah 1 jam menunggu Bang Luffi dan Kak Diya beres-beres dan memilih barang untuk liburan, mereka berenam dengan tambahan 1 orang dari tim Bang Luffi pergi ke tempat tinggal Alseenio.
Bang Luffi, Kak Diya, dan 1 orang timnya menaiki mobil pribadi Bang Luffi, sedangkan Alseenio dan Fara naik Pagani, Sugi membawa Harley dan mengekori kedua mobil tersebut sampai mansion.
Setibanya di mansion, langit sudah gelap dan jalan raya sudah diterangi lampu jalan, serta gedung-gedung sudah memancarkan cahayanya.
Alseenio mengajak orang tua Fara untuk ikut liburan, tetapi mereka berdua tidak mau karena ada urusan, Bella dan Gondals pun sama, terlebih Gondals, ia sangat sibuk.
Apalagi setelah pertemuan acara pertunangan Niara dan Ryan, banyak perusahaan yang ingin merekrut penjaga keamanan dari Perusahaan Chakra Asep Perkasa.
Orang-orang kaya yang berkenalan di acara Ryan dan Niara itulah yang ingin bekerjasama dalam bidang keamanan perusahaannya.
Pendapatan sepertinya akan meningkat puluhan persen dari pendapatan tahun kemarin.
Pada catatan yang Bang Luffi buat, ada sekitar total 12 orang yang ikut ke Jepang.
Tidak menyangka Sugi memiliki pacar, pacarnya masih orang Indonesia, lebih tepatnya orang Sukabumi, dia tahu di mana daerah penghasil wanita cantik selain daerah Bandung.
Jaya Exford yang ikut hanya Bang Windi dan Kak Agnis, anggota yang lainnya sibuk karena ada urusan, Bang Birand mengajak pacarnya dan adiknya karena orang tuanya tidak mau ikut, Bang Luffi, Kak Diya, dan 1 orang timnya sudah dipastikan ikut, ditambah dengan Alseenio, Fara, Sugi, dan Fani, pacarnya Sugi.
Keesokan harinya, setelah melakukan absensi kehadiran dan tak ada yang ketinggalan, mereka semuanya pergi menggunakan mobil Gokar.
Tidak perlu repot-repot menggunakan mobil pribadi. Mobil Bang Windi dan yang lain ditempatkan di mansion Alseenio.
“Woah! Bukankah ini jet pribadi yang jenisnya sama dengan milik R. Conaldo?!“
“Keren! Ada nama Alseenio di bagian badan pesawat!“
“Kita benaran naik pesawat ini, Bang Nio?“
Di depan mereka semua, terdapat pesawat pribadi dengan eksterior desain yang keren dan elegan, pesawat inilah yang akan membawa mereka ke Jepang.
__ADS_1
Mereka semua berseru dan memandang pesawat dengan takjub. Fara pun sama, ini baru pertama kalinya melihat pesawat secara langsung, juga pertama kali dia naik pesawat.
“Benar. Ayo kita masuk!“
Alseenio dan Fara berjalan menaiki tangga dan masuk ke dalam pesawat.
Tidak perlu naik garbarata untuk masuk ke dalam pesawat jet.
Melihat Alseenio masuk lebih dahulu, mereka semua dengan tertib masuk ke dalam pesawat jet.
Begitu mereka masuk ke dalam pesawat, mereka disambut oleh 2 pramugari cantik, keduanya yang akan melayani mereka semua apabila memiliki permintaan, entah itu makanan dan yang lainnya.
Sugi sudah merekrut 2 pilot dan 2 pramugari, serta tim perawatan jet pribadi di perusahaan agen perawatan jet pribadi yang sama.
Memiliki jet pribadi memanglah sangat menguras uang.
Di dalam pesawat, mereka semua secara berbarengan membuat unggahan dan mengirimnya di media sosial mereka masing-masing, bertujuan untuk mengabadikan momen langka.
Bang Windi dan Bang Luffi pun terkesima melihat interior yang ada di dalam jet ini.
“Bang Nio, harga Jet ini hampir 1 triliun, ya?“ Bang Birand yang tahu dengan barang mewah bertanya mengenai jet Alseenio.
Alseenio tersenyum dan menjawab, “Sebenarnya lebih dari itu, sebab interiornya dirancang atau kustomisasi sesuai dengan keinginanku.“
Mereka semua seketika tercengang, ternyata tebakan Bang Birand salah dan itu lebih mahal dari dugaan mereka semua.
Masih tidak bisa menahan keterkejutan atas harta Alseenio, mereka kira Alseenio hanya orang kaya yang ada di tingkatan miliar rupiah atau seorang Miliarder, nyatanya sudah ada di tingkat Triliuner.
Setelah melakukan persiapan, pilot memberikan pemberitahuan bahwa pesawat akan terbang.
Berikutnya, Pesawat Gulfstream G650 lepas landas dan terbang menuju daratan Jepang.
Terlihat mereka tampak sangat antusias begitu pesawat berhasil terbang.
Selama di dalam pesawat, Alseenio baru sadar bahwa pesawat ini tampak kecil jika diisi oleh belasan orang, begitu ramai dan sesak.
Alseenio duduk dan bergumam, “Sepertinya aku harus beli jet pribadi yang lebih besar.“
Tanpa Alseenio sadari, ucapannya tak sengaja didengar oleh Bang Windi dan Bang Luffi yang duduk di kursi paling dekat dengannya.
Mereka berdua saling memandang, kemudian menggelengkan kepalanya tanpa daya hampir bersamaan.
__ADS_1
"Masih belum paham dengan pikiran orang kaya ...."