
Dalam perjalanan pulang menuju Jakarta, Alseenio melajukan sepeda motornya pada kecepatan yang tinggi, lantaran ia sedang terburu-buru.
Sore hari ini Alseenio memiliki janji dengan Bang Windi, yakni menukar kembali mobilnya. Alseenio sebenarnya tidak begitu mempermasalahkan mobil Ferrari miliknya dipakai oleh Bang Windi selama beberapa hari, tetapi ini bukan hanya masalah mengenai mobil, melainkan hal menepati janji sebagai seorang pria.
Dengan kemampuan mengendarai sepeda motor yang berada di level tinggi, Alseenio mudah untuk melewati jalur yang tiba-tiba padat oleh kendaraan beroda empat, kendalinya dalam bermotor sudah mendalam sehingga lolos dari kemacetan dapat ia lakukan.
Alseenio berangkat untuk pulang dari Alun-alun Kota Bogor di jam 3 lewat sekian menit, artinya hari sudah menjelang sore.
Dalam setengah jam saja Alseenio sudah berada di kawasan Depok, tidak lama lagi ia sampai di Jakarta Selatan.
Akan tetapi, masa senang Alseenio menikmati santainya mengendarai sepeda motor dirusak oleh suara mekanis sistem yang tiba-tiba muncul di telinganya, senyum bahagia Alseenio langsung berubah menjadi senyum kecut.
[Ding! Misi Sampingan Terdeteksi!]
Misi : Wheelie atau Standing selama 1 menit.
Waktu : 5 menit.
Hadiah : 1x Kotak Misteri.
Hukuman : Rambut panjang sepunggung selama 5 tahun.
[Misi otomatis diterima!]
Melihat isi misi sampingan kali ini, rasa keputusasaan terlukis di wajah Alseenio, pasalnya tiba-tiba jalanan yang sepi tiba-tiba menjadi macet dan ia sama sekali tidak bisa melajukan sepeda motornya.
Alseenio baru sadar bahwa hari ini adalah hari Sabtu yang di mana sore ini pasti macet karena banyak orang yang ingin pergi di malam minggu yang ramai.
Kalau ingat ini lebih dahulu, ia pasti akan melewati jalan tol daripada lewat jalur ini.
“Sial,” sesal Alseenio pelan dengan wajah yang pasrah.
[Ding! Misi Sampingan Gagal dan Hukuman Diberikan!]
Satu jam kemudian, Alseenio sampai di tempat parkir apartemen, ia tiba di pukul 04.47 WIB dan masih ada waktu untuk mengembalikan mobil sebelum malam tiba.
Jalanan sangat padat bahkan sulit untuk bergerak maju, beruntungnya Alseenio tahu jalan tikus dan akhirnya bisa sampai ke apartemen walaupun memakan waktu yang lama, setidaknya ia tidak terjebak di jalanan sampai berjam-jam.
Begitu Alseenio membuka helmnya, rambut hitam pendeknya digantikan oleh rambut hitam yang panjang, bahkan panjangnya sampai di tengah-tengah punggung. Apabila rambutnya dikedepankan panjangnya sampai di atas perut, agak sedikit ke bawah beberapa sentimeter.
Kini rambut Alseenio benar-benar panjang dan lurus, bagaikan seorang wanita, tetapi rambut panjang ini tidaklah mengurangi ketampanan Alseenio, ia tetap tampan bahkan rambutnya panjang.
Alseenio tidak tahu caranya mengikat rambut, untuk sementara waktu ini ia membiarkan rambutnya tergerai ke belakang.
Lambat laun penampilan Alseenio beradaptasi dengan rambutnya, dan kesannya yang diberikan kepada orang lain yang melihat terbentuk dengan baik.
Saat ini Alseenio terlihat seperti seorang peri dari dunia Kultivasi yang memiliki wajah tampan dan rambut panjang yang lurus dan terkena musibah sehingga ia jatuh ke dunia ini.
Alseenio berjalan ke apartemennya untuk meletakkan tas, helm, dan hadiah sistem berupa kamera yang telah ia dapatkan.
“Halo, selamat sore, Tuan Alseenio!“ Pria Jas yang sudah kenal Alseenio pertama kali dan bekerja di sini menyapa Alseenio begitu melihatnya.
“Halo, selamat sore juga,” sahut Alseenio dan berhenti di depan meja resepsionis tempat pegawai atau karyawan tersebut berdiri.
“Mengapa rambutnya panjang, Tuan Alseenio? Perasaan tadi pagi Alseenio rambutnya masih pendek,” ujar Pria berjas ini dengan heran, sepertinya pria ini memperhatikan rambut Alseenio yang berubah.
“Anu, itu …” Alseenio berpikir sejenak untuk mencari jawaban yang tepat. “Itu … aku habis bermain permainan kejujuran atau keberanian dan aku ditantang untuk mengenakan wig rambut panjang ini.“
Alseenio sempat mengingat permainan ini dahulu SMA ketika temannya yang lain bermain permainan manual kejujuran atau keberanian, cukup menyenangkan melihatnya walaupun ia tidak diajak bermain.
“Oh, begitu …. Cocok rambutnya, mirip kaisar Cina yang ada di film, Tuan Alseenio,” kata Pria tersebut sambil tersenyum.
“Iya, itu benar,” Pegawai wanita yang tampaknya baru bekerja di sini pun menambahkan.
Pegawai wanita ini lebih terbuka dibanding pegawai wanita yang sebelumnya, pegawai yang dahulu hanya diam-diam menatap dan sedikit bicara.
Begitu Alseenio memindahkan pandangannya ke wanita ini, ia melihat sederet tulisan di matanya.
[Informasi Dasar.]
Nama : Yani Hara.
Kelamin : Wanita.
Umur : 26 tahun.
Tinggi : 164 cm.
Penampilan : 73 poin.
Kemurnian : 82 poin.
Pemain : 1 orang.
[Wanita yang memiliki prinsip bahwa hanya satu pria yang bisa mendapatkan kesuciannya.]
__ADS_1
“Prinsip yang bagus,” gumam kecil Alseenio ketika melihat informasi data diri dari pegawai wanita ini.
Namun, ketik ia melihat jari-jari tangan wanita ini, ia tidak melihat ada satu cincin pun di sana.
“Sudah menikah?“ tanya Alseenio spontan.
“Belum, aku juga belum punya pacar, Tuan Alseenio,” jawab pegawai bernama Yani ini.
Mendengar jawaban yang tak terduga ini, Alseenio mengangkat satu alisnya dan memandang wajah pemalu pegawai ini.
Cukup tahu saja bahwa wanita satu ini ternyata tidak memiliki prinsip yang kuat.
“Oke, aku pergi dahulu.“
Alseenio berjalan menuju lift setelah pamit kepada mereka petugas resepsionis di lobi apartemen.
Setibanya di dalam apartemen miliknya sendiri, Alseenio dengan cekatan meletakkan helm, Yopro, kotak kamera Canon, dan tasnya, semua barang yang dibawa untuk kolaborasi dengan Dua Secoli disimpan kembali di sini.
Usai semua ditempatkan di tempat yang seharusnya, Alseenio bergegas pergi menuju tempat parkir dan membawa mobil Bang Windi.
Di dalam mobilnya Alseenio membawa laptop ROG karena ia berencana untuk mengedit video yang direkam hari ini di rumah Bang Windi.
Lagi-lagi jalanan macet dan padat, Alseenio harus banyak bersabar untuk menghadapi jalanan di Jakarta, cukup sayang apabila membeli mobil sport di Kota ini, percuma saja punya mobil yang dikhususkan di jalanan yang cepat, tetapi tidak bisa dipakai lantaran jalanan kota kerap kali macet.
Beruntungnya Alseenio ditemani Fara yang sedang santai di tempat kerjanya karena pembeli tidak begitu banyak, ia bisa melakukan panggilan video dengannya.
Akan tetapi, Alseenio sedikit terganggu oleh kualitas kamera Fara yang jelek sehingga ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah Fara, tampilan di layar ponsel Alseenio tampak buram dan tidak tajam.
Dengan demikian, Alseenio berencana untuk membelikannya sebuah ponsel, bukan iPon tentunya karena itu terlalu berisiko untuk dicuri orang dan target kejahatan, mungkin Alseenio akan membelikannya ponsel flip atau lipat dari Sungsang.
Satu jam berlalu Alseenio melakukan panggilan video, akhirnya ia sampai di daerah perumahan rumah Bang Windi, Alseenio izin pamit kepada Fara sebelum keluar dari mobil.
Omong-omong masalah perempuan, Alseenio masih berhubungan teman dengan Niara, malam-malam biasanya wanita ini mengajak dirinya bertelepon sampai jam 11 malam, tetapi tidak setiap malam, sebab Niara memiliki kesibukannya masing-masing.
Sementara itu, Rara dan Kakak perempuan dari temannya anak kecil yang pernah Alseenio ajak bermain gim bola basket, mereka berdua hanya sekadar mengobrol melalui pesan ketikan.
Alseenio memberhentikan mobil Bang Windi tepat di depan rumahnya, lalu ia keluar dari mobil sambil membawa laptop, kantong berisikan makanan, dan kunci mobil.
Di depan rumah Bang Windi juga terparkir mobil Ferrari milik Alseenio, dilihat dari bannya yang kotor, Alseenio duga mobil ini sempat dipakai oleh Bang Windi.
Baguslah kalau seperti itu, mobil tidak baik apabila didiamkan tanpa dipakai sama sekali, hanya menyempitkan jalanan.
Tok! Tok! Tok!
Ternyata orang yang membuka pintu adalah pemilik rumahnya.
“Selamat sore, pizza Anda sudah sampai,” ucap Alseenio sambil tersenyum.
Mendengar candaan ini, Bang Windi tertawa dan menyuruhnya masuk ke dalam. “Haha, ayo masuk ke dalam, Bang Nio.“
Alseenio mengangguk dan masuk ke dalam rumah Bang Windi.
Begitu ia masuk ke dalam rumah, Alseenio disambut oleh Candy, Kak Agnis, dan Kak Lafhel.
“Halo, Bang Nio!“
“Em … halo, Bang Nio~”
“Halo, selamat sore, Bang Nio.“
Alseenio merespons sapaan ini dengan senyuman dan lambaian tangan.
“Aku bawa makanan burger dari Lawliss, silakan ambil,” kata Alseenio kepada mereka semua.
“Wow!“ Mata Candy berbinar dan segera ia mengambil salah satu burger.
Bang Windi dan yang lainnya pun ikut mengambil, tetapi Kak Agnis dan Kak Lafhel tidak dimakan sekarang, berbeda dengan Bang Windi dan Bang Candy yang langsung dimakan.
“Bang, rambutnya kenapa? Kok panjang? Bukannya kemarin-kemarin itu rambutnya pendek.“ Candy memerhatikan rambut Alseenio yang berbeda dan ia menatap Alseenio dengan heran dan bingung.
Selain Bang Candy, Bang Windi dan dua wanita yang ada di sini pun mengetahui perbedaan penampilan Alseenio, hanya saja mereka tidak berani bertanya secara terus terang. Bang Windi ingin bertanya, tetapi didahului oleh Bang Candy.
“Ini wig, aku disuruh memakai wig panjang oleh teman saat bermain kejujuran dan keberanian,” jawab Alseenio ringan.
“Oh … begitu.“
Bang Rando dan kawan-kawan mengangguk paham apa yang terjadi dengan Alseenio, ternyata itu karena permainan kejujuran atau keberanian “TOD” yang mewajibkan mentaati peraturan permainan.
Alseenio mengibaskan rambutnya ke belakang, terlihat jelas bahwasanya Alseenio belum terbiasa dengan rambut barunya, dan kemudian ia berkata, “Aku sedikit risih dengan rambut ini, apakah ada yang bisa mengajari aku mengikat rambut panjang?“
“Kak Lafhel, dia jago menguncir rambut, gaya apapun bisa, doggy sty— eh, maksudku gaya kuncir kuda dan lain-lain, dia pasti bisa.“ Bang Candy menunjuk kepada Kak Lafhel yang sedang duduk di sofa bersama Kak Agnis.
Bang Candy dan Bang Windi duduk di atas lantai sambil memakan burger pemberian Alseenio.
Mendengar kata-kata mencurigakan yang sempat diucapkan oleh Candy, wajah cantik kak Lafhel mulai berubah berwarna merah.
__ADS_1
“Apakah benar?“ tanya Alseenio pada Kak Lafhel yang tersipu malu.
Kak Lafhel mengangguk dan menjawab, “Ya, aku bisa.“
“Kalau begitu tolong ajari aku cara menguncir rambut dengan benar.“ Alseenio mendekat ke Kak Lafhel dan menatapnya.
“Emm … boleh.“ Kak Lafhel tersenyum dan mengangguk kepada Alseenio.
Segera, Alseenio duduk di atas lantai di depan sofa yang sedang diduduki oleh Kak Lafhel.
Di sana, ia diajari berbagai macam menguncir rambut. Tidak butuh waktu yang lama, hanya perlu beberapa menit untuk Alseenio mempelajari semua jenis kunciran rambut, entah itu kuncir kuda, Messy top knot, dan lainnya.
“Mengapa rambutmu terlihat seperti rambut sungguhan?“ tanya Kak Lafhel yang merasa aneh dan ganjil.
Ketika mengajari Alseenio menguncir rambut sekaligus mempraktekkan langsung dengan rambut Alseenio, ia melihat bahwa rambut Alseenio yang panjang ini berakar di kepala, tidak seperti wig yang biasanya.
Alseenio menggaruk-garuk pipinya dan terdiam sejenak untuk mencari jawaban yang tepat.
“Anu, itu wig tempel yang sulit dilepas, memang terlihat seperti asli,” kata Alseenio sedikit gugup.
“Oh, seperti itu. Sampai kapan kamu memakai wig ini?“ tanya Kak Agnis yang penasaran, sedangkan Kak Lafhel masih bingung dengan jawaban Alseenio.
“Mungkin seminggu atau lebih.“
Alseenio berusaha menjawab sembari ia mengubah gaya kunciran dan mencari yang cocok untuknya.
Dengan cepat, Alseenio menguasai ilmu kuncir-menguncir.
“Lama juga, ya.“
“Iya, lumayan lama.“
Alseenio telah selesai memilih kunciran yang cocok, dan ia segera melihat dirinya sendiri di cermin besar yang bisa digantungkan.
Di dalam cermin, tampilannya saat ini lebih rapi dibanding dengan awal penampilannya yang belum dikuncir. Gaya kuncir yang digunakan oleh Alseenio ialah Messy Top Knot, cukup mudah dilakukan cuma mengikat rambut bagian atas, sedangkan bagian bawah rambut dibiarkan menjuntai ke belakang.
“Bagaimana rambutku sekarang? Apakah cocok?“ Alseenio meminta pendapat kepada Bang Windi dan yang lain.
Bang Candy dan Kak Agnis memberi jempolnya, Kak Lafhel tersenyum dan mengangguk tegas.
“Bagus, Bang Nio. Pada dasarnya wajahmu itu cocok dengan gaya rambut apa saja,” ucap Bang Windi yang jujur.
Benar apa yang dikatakan oleh Bang Rando, memang postur wajah Alseenio itu sangat cocok dengan gaya rambut apapun yang ada di dunia ini, botak sekalipun ia tetap tampan.
Teman-teman Bang Windi pun mengangguk setuju dengan apa yang dibilang oleh Bang Windi.
Alseenio tidak tahu harus menjawab apa, ia cuma bisa tersenyum setelah dipuji seperti itu.
Masalah rambut telah selesai, selanjutnya ia ingin mengedit video di rumah Bang Windi sekalian mengunggahnya.
Bang Windi mengizinkan Alseenio, bahkan ia menawarkan untuk memakai WiFi untuk unggah video, tetapi Alseenio menolaknya karena takut ia merepotkan Bang Windi dan teman-teman.
Dua jam Alseenio bermain di rumah Bang Windi, ia telah selesai mengerjakan tugasnya mengedit dan mengunggah dua sampai empat video sekaligus, itu video sekarang dan video yang kemarin bersama dengan Fara mengendarai Ferrari, sehabis itu Alseenio izin pamit untuk pulang, pasalnya besok ia harus pergi ke sebuah acara dan sekarang harus bersiap-siap untuk besok.
Alseenio mengendarai mobil Ferrari hitam miliknya untuk bisa sampai ke apartemen, setibanya di apartemen langit sudah sangat gelap dan jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Di perjalanan juga ia sempat berinteraksi melalui pesan dengan Niara dan Fara, serta teman-teman pesepeda motor.
Tepat ketika sampai di apartemen, Alseenio segera mandi membersihkan tubuhnya, tetapi sekarang terasa ada yang berbeda, Alseenio membeli shampo khusus untuk rambutnya agar tidak rusak dan terawat.
Alseenio sudah mencoba memotong rambut panjangnya sampai pendek, sayangnya itu tidak berguna karena rambutnya akan tetap bertumbuh panjang secara instan, sistem memang sudah mengatur rambutnya untuk panjang selama 5 tahun.
Selama di kamar mandi, Alseenio bernyanyi sebuah lagu asal-asalan yang ia buat dengan lirik yang berisi hinaan kepada sistem.
Lalu, ia pergi tidur sehabis memeriksa akun Instagrem dan Yitub, orang yang berlangganan dan mengikutinya terus bertambah banyak seiring berjalannya menit.
Kurang dari lima menit ia memejamkan mata, Alseenio masuk ke fase tidurnya yang berjalan sangat baik.
Langit yang hitam berubah menjadi biru yang cerah dalam belasan jam, sinar matahari sedikit kekuningan menyinari wajah tampan Alseenio yang tengah tidur.
Bulu mata panjang Alseenio bergetar dan akhirnya kelopak matanya terbuka, pupil mata cokelat yang indah ditampilkan dengan jelas.
“Jam berapa ini?“
Alseenio mengambil ponselnya dan melihat jam, ternyata sudah jam 6 pagi.
Dengan terburu-buru ia pergi mandi dan memakai pakaiannya.
Kemudian Alseenio mengambil tas armani kecil yang sudah terisi barang, seperti alat pengisi daya ponsel dan kamera, kamera Yopro cadangan, dan permen karet sebagai pengganti rokok.
Turun ke tempat parkir, Alseenio menaiki sepeda motor berpenampilan layaknya kendaraan Alien.
Vyrus Alyen 988, ia belum pernah mencoba sepeda motor ini sebelumnya. Sangat cocok di hari minggu yang cerah ini untuk mencoba menggunakan Vyrus Alyen 988.
Begitu mesin dinyalakan, knalpot sepeda motor ini mengeluarkan suara yang menggelegar bagaikan raungan monster. Setelah mesin sudah aman dan siap untuk dikendarai, Alseenio langsung menarik gas, lalu melajukan sepeda motornya ke sebuah tempat yang terkenal di Jakarta.
__ADS_1