
Linda dan Bondan beradu omongan beberapa saat. Semua orang hanya bisa tertawa mendengar ucapan keduanya. Meskipun disertai ucapan sindiran, keduanya sama-sama bercanda tidak dimasukkan ke dalam hati perkataan satu sama lain.
Selain itu, mereka berdua seperti biasa lagi dan melanjutkan pembahasan obrolan ke Alseenio.
Selagi mereka semua makan, Alseenio hanya duduk diam sambil memainkan ponselnya untuk mengirim pesan dengan Fara.
Jidan setelah makan duduk si samping Alseenio yang duduk di teras depan mes yang cukup untuk duduk berjejer ke samping.
“Telepon pintar merek iPon, ya? Beli berapa, Bang Asep?“ Jidan bertanya kepada Alseenio yang tengah mengetik di layar.
Menanggapi pertanyaan Jidan, kepala Alseenio sedikit mengangguk. “Iya, benar. Ini iPon, aku beli dengan harga normalnya yang mirip dengan harga yang dicantumkan di internet. Bagaimana dengan ponsel kamu?“
Alseenio tidak melihat Jidan, ia masih fokus mengetik pesan untuk Fara.
“Aku beli iPon sepuluh, tetapi sekarang sudah rusak, baru beli tidak sengaja jatuh ke aspal. Sekarang layarnya jadi retak.“ Jidan menunjukkan ponselnya yang memiliki garis halus retakan di sekujur tubuh ponsel dan layar ponsel. “Aku sudah beli ponsel ini di dua tahun lalu, barang ini adalah hasil kerja aku di sini.“
Alis Alseenio terangkat ke atas, ia menyelesaikan obrolan dengan Fara di ponsel dan ia melihat ponsel Jidan beberapa saat dengan mata yang memiliki sebuah arti.
“Keren, kamu bisa membeli ponsel dari hasil kerja.“ Alseenio tersenyum di balik maskernya.
“Iya, Bang. Aku memang sudah ingin sekali memiliki ponsel ini. Makanya aku sisihkan uang gajian untuk membeli ponsel ini.“
Kepala Alseenio mengangguk satu kali menunjukkan dirinya mendengarkan ucapan Jidan.
“Sudah hampir satu jam, Bang. Lebih baik kita absensi selesai istirahat sekarang.“ Jidan berdiri dan menepuk-nepuk celananya.
Seragam yang dikenakan para karyawan lama sedikit berbeda dengan karyawan baru karena seragam yang dipakai berasal dari perusahaan langsung. Seragam ini memiliki motif batik yang didominasi warna cokelat, celana tetap memakai yang berwarna hitam panjang.
Alseenio ikut bangkit dari posisi duduk dan berjalan bersama Jidan ke dalam dapur, di sana mereka berdua melakukan absensi selesai istirahat dan kembali ke dalam restoran.
Sekarang sudah jam 2 siang, masih ada waktu 2 jam lagi untuk Alseenio bekerja. Jidan memberi tahu Alseenio bahwa jika ia masuk jam 8 pagi akan pulang jam 4 sore.
Setelah istirahat, Jidan dan Alseenio berdiri di samping tempat minuman yang ada di depan pelanggan yang duduk tengah melahap makanan. Sosok Alseenio dan Jidan diperhatikan oleh banyak pelanggan, terutama Alseenio yang memiliki sosok tinggi dan tampan yang membuat pandangan mereka secara tidak sadar teralihkan.
Sosok Jidan dan Alseenio sangat kontras, Jidan yang tingginya 160 cm tampak seperti anak kecil berdiri di sebelah Alseenio.
Karyawan restoran di sini tidak ada yang setinggi Alseenio, ada yang tinggi, tetapi tampilannya kurus kering dan agak bungkuk. Alseenio tinggi, tegak, berotot, bisa dilihat dari lengannya yang agak berisi karena otot dan urat-urat besar yang menonjol, ditambah lagi temperamen yang membuat tampilan Alseenio menjadi sangat berbeda dan mudah ditemukan.
“Apakah dia pelayan di sini? Kelihatan tampan. Aku suka lengannya dan postur tubuhnya yang kuat.“
“Terlalu tinggi pelayan satu ini. Sangat keren penampilannya, seperti seorang pelayan tampan di restoran mewah, bahkan ini lebih baik.“
“Maukah kita minta nomor teleponnya? Kurasa tidak masalah menjadi pacar seorang pelayan, asalkan yang tampan.“
“Mengapa dia menjadi seorang pelayan? Seharusnya, tinggi tubuhnya cocok menjadi seorang model. Dilihat dari mata dan alisnya, itu sangat tampan.“
“Kurasa aku ingin menggoda dia nanti, hehehe ….“
“…”
Semua celotehan orang-orang terdengar oleh telinga Alseenio meski dirinya sedang mengobrol dengan Jidan, Hilman, dan Linda di depan orang-orang yang makan ini. Mereka sedang bersiaga untuk melayani pelanggan yang meminta bantuan.
Alseenio tidak tergerak oleh komunikasi di antara banyaknya pelanggan.
Ting!
Suara bel berbunyi dari arah dapur, membuat Alseenio dan Hilman refleks bergerak ke belakang untuk mengambil makanan.
Ada 2 makanan yang siap untuk diantarkan dan terdapat nomor meja di dekat makanan-makanan tersebut.
Makanan untuk meja nomor 4, Alseenio ambil dan ia membawa nampan yang berisi makanan ini sesuai dengan SOP, yaitu menggunakan kedua tangan.
Linda yang melihat Alseenio membawa makanan siap untuk membantu Alseenio meletakkan makanan di atas meja pelanggan.
SOP di restoran ini pelayan harus dibantu oleh karyawan minuman atau karyawan yang mengambil pesanan pelanggan, contohnya Jidan, Linda, Ilham, dan Rizan, keempat orang ini masuk kerja hari ini sebagai orang yang mengambil orderan dan siap siaga membantu pelanggan.
Sementara itu, Alseenio dan Hilman bertugas mengantarkan makanan ke pelanggan. Restoran cabang Kebun Sirih ini memang cukup besar karena ada 2 lantai sehingga pelayan juga banyak.
Alseenio yang baru pertama kali memegang baki atau nampan sudah sangat bagus dari cara memegangnya, stabil dan kokoh. Berbeda dengan Hilman yang agak kesulitan karena makanan di atas nampan begitu banyak.
Dengan senyuman, Linda mengambil makanan di atas nampan yang dipegang Alseenio dan menaruh dengan sopan ke atas meja pelanggan seraya berkata “Selamat menikmati makanan ….“
Setelah semua makanan selesai diantarkan, Alseenio dan Linda berbalik dan berjalan kembali ke dapur.
Keduanya kembali ke tempat mereka awal berdiri dan mengamati setiap pelanggan, bersiaga apabila ada pelanggan yang memanggil mereka.
Benar saja, tak lama kemudian, ada seorang pelanggan yang mengangkat tangannya dan memanggil ke arah mereka.
__ADS_1
Melihat ini, Bang Ilham yang masuk siang berjalan dan mendekati pelanggan.
Saat kembali, Bang Ilham memberi tahu bahwa makanan pelanggan tersebut minta dibungkus.
“Pelanggan pelit, padahal makanan sudah tinggal sedikit, bisa-bisanya minta dibungkus, ikannya sudah banyak yang tersisa tulang, daging cuma secuil minta dibungkus buat di rumah.“
“Ya, tidak apa-apa, dong, Ilham. Namanya juga pelanggan, memang seperti itu. Buruan sana, bungkus makanannya!” kata Linda kepada Ilham.
“Oke-oke!“
Ilham mengambil makanan pelanggan tersebut dan membawanya ke dapur, Alseenio dan Hilman diajak oleh Ilham untuk diajari bagaimana caranya membungkus makanan.
Kemudian, Hilman mengantarkan makanan yang dibungkus tersebut kepada pelanggan.
Semuanya berjalan baik, tak ada kesalahan.
Dalam sehari ini, Alseenio menjalankan tugasnya sebagai seorang pelayan dengan baik, tidak ada pelanggan yang aneh sampai akhir dia bekerja hari ini.
Alseenio dan Hilman segera pulang setelah melakukan absensi keluar dari restoran. Linda dan Mawar berkali-kali mengingatkan Alseenio untuk hati-hati di jalan.
“Bang, bolehkah aku ikut? Kamu ke arah Mall GI, kan?“ Hilman berjalan di sebelah Alseenio dan memberanikan diri untuk bertanya. Tatapannya terlihat canggung dan ragu.
Mendengar ini, Alseenio terdiam sejenak dan mengangguk, kebetulan ia ingin lewat Mall GI, sekalian memeriksa bagaimana kondisi tiga anak itu. “Mau bareng?“
“Iya! Apakah boleh?“ Hilman mengangguk tegas dan bertanya lagi memastikan.
“Tentu saja. Naiklah,” ucap Alseenio sembari memakai helm dan naik ke atas sepeda motor R6.
“Oke!“
Segera kaki Hilman menginjak pijakan kaki sepeda motor dan duduk di belakang jok.
“Be, pulang dahulu, ya,“ Hilman berpamitan dengan Babe yang berdiri di depan belakang restoran.
Alseenio juga melambaikan tangannya kepada Babe dan berpamitan.
Dengan raungan sepeda motor yang beringas, sepeda motor Alseenio melaju meninggalkan restoran menuju rumah Hilman.
Di dalam perjalanan, Hilman bertanya-tanya tentang pacar Alseenio, orang ini benar-benar tahu mencari topik, ada saja yang dijadikan topik pembicaraan.
“Kak Linda dan lainnya, ya? Aku dari tadi mendengar mereka membicarakan kamu, katanya nama kamu persis kayak seorang artis yang terkenal beberapa bulan ini. Menurut aku, itu tidak mungkin terjadi, mana ada artis yang mau menjadi seorang pelayan untuk bekerja?“ Ada-ada saja ….“
Sudut mulut Alseenio melengkung di balik masker, ia hanya diam dan membiarkan Hilman mengoceh sepanjang jalan, terkadang membalas kalau itu memang harus dijawab.
“Terima kasih, Bang. Besok kita kayaknya kita masih di jadwal yang sama, jam delapan pagi lagi.“ Turun dari sepeda motor, Hilman menunjukkan ekspresi berterima kasih kepada Alseenio.
“Sama-sama. Benar, aku juga sempat melihat jadwal besok, kita berdua masuk di jam delapan lagi.“
“Baiklah, aku pulang dahulu, hati-hati di jalan, Bang.“ Hilman melambaikan tangannya dan mulai berjalan mundur.
“Siap.“ Alseenio membalikkan sepeda motor, kemudian pergi meninggalkan daerah rumah Hilman yang ada di belakang Mall GI.
Daerah ini dekat dengan rumah tiga anak tersebut, Darel, Nia, Zia.
Butuh beberapa menit saja untuk Alseenio sampai ke rumah ketiga anak yang Alseenio belikan untuk mereka di sekitar area ini.
Setelah berpikir beberapa kali, Alseenio memutuskan untuk membelikan mereka sebuah tempat tinggal, tidak terlalu mewah, tetapi lebih dari sebuah rumah sederhana.
“Abang Nio!“
Ketiga anak kecil yang sudah lama tidak Alseenio temui menyambutnya dengan wajah yang ceria. Mereka memeluk Alseenio dengan rindu yang tak tertahankan.
Ibu ketiga anak itu pun muncul dari dalam rumah dan tersenyum.
Mereka semua menerima kedatangan Alseenio dengan kebahagiaan.
Selama di sana, Alseenio melihat kondisi mereka dan hidup mereka semua sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya, bahkan Ayah ketiga anak ini telah bekerja di sebuah gedung sebagai satpam.
Ekonomi mereka sudah sangat baik, dan mulai stabil. Uang yang diberikan oleh Alseenio digunakan sangat baik, mereka tahu barang apa yang harus beli dan berguna untuk mereka pakai.
Saat jam menampilkan pukul jam setengah 7 malam, Alseenio berpamitan kepada mereka semua dan memberi uang tambahan sekitar 10 juta untuk bulan Februari.
Sebelum ke rumah, Alseenio memesan makanan di kawasan jajanan dekat Mall GI, membeli makanan kesukaan Fara, yaitu kepiting krispi dan beberapa makanan manis untuk orang-orang di rumah.
Alseenio malas ke dalam mall untuk membeli kue mewah, ia lebih memilih membeli makanan pinggir jalan yang setidaknya terlihat higenis. Di perjalanan, ia menyempatkan untuk membuat video motovlog malam hari.
Di mansion, Alseenio disambut oleh Fara dan lainnya, melihat Alseenio yang pulang kerja, mereka melihat sesuatu yang berbeda, agak asing, biasanya Alseenio diam di rumah dan keluar pun hanya untuk membuat konten video.
__ADS_1
Sebuah pemandangan yang asing dan masih belum terbiasa mereka lihat.
“Sayang, bagaimana kerjanya tadi?“ Fara memeluk tubuh Alseenio dan bertanya dengan ekspresi penasaran di wajahnya.
Alseenio menggendong Fara dengan tangan kanannya, tampak terlihat tidak berat, seakan-akan Fara itu ringan bagai kapas. Mereka bersama-sama menuju ke ruang keluarga.
“Semuanya berjalan lancar, hanya sedikit lelah. Aku tak menyangka bekerja sebagai pelayan sangat merepotkan karena memegang banyak tugas fisik,” jawab Alseenio yang wajahnya terlihat lelah. Ia bukan lelah fisik, melainkan mental. Tubuhnya terkejut terhadap menjalankan aktivitas baru ini.
Rasa penasaran muncul di dalam hati Fara dan lainnya. Fara pun bertanya sekali lagi, “Memangnya di sana kamu disuruh apa saja? Bukannya pelayan hanya mengambil pesanan dan mengantarkan makanan ke meja pembeli?“
“Akan kuberi tahu ketika kita duduk di meja makan.“
Kebetulan ini sudah malam, waktunya mereka makan malam. Ibu Fara berbelok ke kamar dia mengajak suaminya untuk makan bersama.
Gondals juga sudah pulang dari kantor, semuanya lengkap, dan siap untuk makan malam bersama.
“Seorang pelayan tidak hanya mengurus pelanggan di sana juga membantu membersihkan toilet, mencuci piring, mengepel lantai, membersihkan kaca, dan menyiapkan buku menu serta merapikan meja, belum lagi membantu membuang sampah jika sudah penuh, membantu orang di dapur dan minuman, harus membantu semuanya.
“Jujur saja, ini pekerjaan yang terbilang berat, apalagi karyawan dituntut untuk selalu bersih, sedangkan seragam berwarna putih dan bermain dengan makanan yang di mana itu akan rawan terkena noda dari makanan.
“Apalagi, kata orang di sana, kita harus menghafalkan menu dan segala isinya, hampir semua restoran yang ada di Indonesia seperti itu.“
Alseenio mulai menceritakan tentang pengalaman pertama kerja kepada mereka semua.
Mendengar ini, mereka semua juga berpikir bahwa pekerjaan pelayan tidak semudah kelihatannya, ternyata begitu melelahkan bagi orang biasa.
“Banyak sekali tugasnya. Sepertinya, kamu sedang cosplay menjadi seorang pembantu di sana, Sayang.“ Fara terkejut, tugas menjadi pelayan sangat banyak, ia kira cuma sekadar mengantarkan makanan dan memberi tahu makanan yang dipesan oleh pelanggan.
“Kurasa juga seperti itu, Sayang.“
“Gajinya berapa besar dalam sebulan?“ Bella bertanya dengan mata yang penasaran.
“Tiga sampai empat jutaan kalau di sana,” jawab Alseenio yang masih ingat sistem gajinya.
Bella dan Gondals sama-sama menggelengkan kepalanya. Gondals memakan potongan martabak manis dan berkata sambil mengunyah, “Lebih baik menjadi satpam, hanya diam dan menjaga tempat, kebanyakan kerjanya hanya duduk dan memantau, jabatan yang lebih tinggi dari satpam juga mainnya di kantor dan hanya bermain komputer untuk melihat cctv, gaji cukup besar jika di tempatkan di gedung perusahaan yang besar.“
“Benar juga. Lihatlah Pakuitod, dia hanya duduk kerjanya dan mengamati gerbang. Jarang sekali kejahatan di sini, kalaupun ada hanya kecil, tidak seperti yang ada di Brazil, mereka main tembak-tembakan, di sini tidak sampai begitu,” tambah Bella yang berkata sesuai dengan tanggapannya.
Alseenio mengangguk, ucapan keduanya ada benarnya. Pekerjaan sebagai pelayan memang melelahkan karena mereka itu multiguna dan harus bisa meski tidak ahli. Alseenio bahkan melihat Hilman yang beberapa diberi tahu untuk gerak cepat, padahal ia melihat Hilman sudah cukup cepat dan cekatan.
Mental dan fisik terkuras menjadi seorang pelayan.
“Belum lagi kalau bertemu pelanggan aneh, pasti itu akan merepotkan,” kata Alseenio setelah berpikir.
“Benar. Maka dari itu, kamu harus kuat, jalani saja dengan santai dan hati yang senang, apabila ada sesuatu yang menyebalkan, tanggapi dengan ketenangan hati dan jangan pakai emosi.“ Bella mengangguk sambil menatap Alseenio dengan serius.
Semuanya memberi nasihat kepada Alseenio dan memberi semangat. Fara juga memberi nasihat kepada Alseenio untuk tidak aneh-aneh di sana.
Tentang Linda dan lainnya, Alseenio juga beri tahu dan jabarkan ke semuanya. Oleh sebab itu, Fara memperingati Alseenio untuk tidak menanggapi wanita-wanita itu.
Setelah makan malam selesai, mereka semua pergi tidur dan tidur nyenyak di kamar masing-masing.
Keesokan harinya, Alseenio pergi kerja lagi di waktu jam yang sama seperti kemarin, tak lupa untuk membuat video dan merekam.
Awal kerja tak ada masalah apa pun, Alseenio dan Hilman sudah mulai beradaptasi, Alseenio bahkan sudah sangat paham apa yang harus ia kerjakan tanpa bertanya-tanya lagi.
Akan tetapi, di waktu makan siang, banyak pelanggan yang berdatangan sehingga Alseenio harus lebih cepat bergerak dan merespons segala sesuatu dengan lincah.
“Bang, ini nasinya mana? Aku sudah pesan, lho.“
“Sebentar, ya. Mbak baru pesan, nasinya baru kita buatkan, tunggu beberapa menit.“
“Baiklah, tetapi boleh minta nomornya, Bang? Sepertinya kita cocok.“
“Anu ….“
“…”
“Mas! Saya mau pesan!“
“Abang yang tinggi! Tolong kemari! Aku ingin pesan makanan!“
“Mas, boleh minta foto?“
“Pelayan! Mana makanan yang aku pesan?!“
“Tolong percepat masaknya, aku sebentar lagi ingin pergi.“
__ADS_1