
Begitu mendengar pertanyaan Alseenio, pria ini langsung merespons, “Siapa yang Yituber?“
“Kamu, kamu Yituber, kan?“ tanya Alseenio sekali lagi.
Pria ini tidak mengaku bahwa dirinya sendiri adalah seorang Yituber, padahal Alseenio tahu benar pria di depannya ini.
Alseenio sesekali menonton channel atau saluran Yitub pria ini yang memiliki konten yang bertema bermain gim, gim seluler yang tengah terkenal beberapa tahun belakangan ini, yaitu Mobel Lejen.
Kalau tidak salah ingat nama pria ini ialah Brendin Kentodi. Terkenal dengan kata-kata kasarnya saat berbicara di dalam video kontennya.
Namun, memang dikarenakan faktor tersebut pria satu ini terlihat unik yang membuat orang suka menontonnya walaupun memang bersifat negatif dari sisi berbicara kotor dan kasarnya.
Anak kecil memang tidak diperuntukkan dan disarankan menonton channel pria ini.
“Memang aku mirip Yituber siapa menurutmu? Sampai-sampai aku disebut seorang Yituber?“
Pria ini masih tidak mengakui, ia menatap Alseenio dengan wajah yang bercanda. Alseenio melihat dengan jelas bahwa di sekelilingnya ada beberapa orang yang menurutnya adalah tim dan temannya pria ini, terlebih lagi Alseenio melihat ada pria yang memegangi kamera dan menyoroti ke arahnya.
Selain itu, di kerah baju pria ini ada mikrofon tanpa kabel yang dikaitkan. Sudah jelas ini memang Yituber yang Alseenio duga.
“Brendi Kentodi, seorang Yituber Emel,” kata Alseenio dengan tegas tanpa ada keraguan.
“Ya, benar, hahaha!“
Akhirnya, pria ini mengakui juga, dua orang pria dan satu wanita di depan Alseenio dan Brendin Kentodi ikut tertawa.
Ternyata mereka mengerjai Alseenio secara spontan tanpa skrip.
“Abang masuk video aku, dadah-dadah, dong, ke kamera,” kata Brendin kepada Alseenio.
Alseenio menuruti permintaan Brendin Kentodi dan melambaikan tangan ke kamera.
“Eh, omong-omong, maaf aku tidak sengaja membuatmu jatuh tadi, aku tidak tahu ada kamu di belakang.“
Alseenio masih merasa bersalah karena telah membuat Brendin Kentodi jatuh ke belakang, beruntungnya tidak ada mobil yang sedang berjalan tadi.
Tempat cumi bakar dijual ini letaknya berada di pinggir jalan, wajar saja kalau ada mobil beberapa kali lewat di depan tempat ini.
“Tidak apa-apa, santai saja,” jawab Brendin dengan ramah.
Sejujurnya, Alseenio cukup terkejut melihat sikap orang ini, awalnya kira orang ini akan kasar dan arogan. Sebaliknya, pria ini sangat ramah dan sopan, tidak seperti apa yang Alseenio pikirkan.
Pasalnya, di video Yitubnya Brendin Kentodi ini memakai bahasa yang kasar, secara otomatis membuat orang menduga bahwa orang ini adalah orang yang kasar juga sesuai dengan ucapan kata-kata kotornya.
“Lagi sama pacar, bang?“ tanya Brendin Kentodi yang sadar dengan Tiara yang ada di samping Alseenio.
Alseenio menggelengkan kepalanya. “Bukan, hanya kenalan.“
“Belum, ya, bang?“ Brendin menyeringai aneh pada Alseenio.
Begitu mendengar ini, Alseenio melirik Tiara dengan canggung. Tiara pun menunduk karena malu setelah dianggap pacar Alseenio.
Brendin merasakan sesuatu yang canggung dan malu di sini, dengan cepat ia mengganti topik pembicaraan. “Aku lihat-lihat Abangnya habis beli cumi bakar, ya? Bagaimana rasanya?“
“Belum dicoba, niatnya untuk makan di rumah,” balas Alseenio dengan jujur.
“Oh, begitu.“ Brendin Kent mengangguk.
“Brendin, ke sini dahulu.“
“Ya, ada apa?“
Tiba-tiba, salah satu teman Brendin Kentodi yang seorang pria memanggil Brendin untuk berbisik memberi tahu sesuatu. Selama berbisik beberapa detik, Brendin mengangguk menunjukkan pemahamannya, kemudian ia kembali berdiri di sebelah Alseenio.
“Maaf sebelumnya, ya, Bang. Itu helm di atas kepala boleh dilepas atau tidak? Ini kamera sulit menangkap wajah Abangnya karena gelap. Rencananya mau diunggah video yang diambil sekarang, entah besok atau besok lusa, judul video-nya mencoba berbagai makanan belakang Mall Saibu,” terang Brendin dengan nada yang ramah dan sopan pada Alseenio.
Ternyata Brendin diinstruksikan oleh temannya untuk meminta Alseenio melepas helm-nya, mungkin karena wajah Alseenio tidak tertangkap oleh kamera karena pencahayaan yang kurang.
__ADS_1
“Ini mau mewawancarai aku mengenai makanan di sini atau bagaimana?“ tanya Alseenio dengan bingung.
Ia ke sini juga berniat untuk merekam video sekaligus membeli makanan dan menikmati pemandangan kota, kenapa tiba-tiba ia tersangkut di Yituber Emel.
“Bisa dibilang begitu, intinya lepas dahulu saja, Bang. Ini pacarku penasaran dengan wajah Abang, enggak tahu alasannya kenapa dia mendadak seperti itu,” jawab Brendin dengan ekspresi yang canggung.
Brendin tidak enak menyuruh seseorang yang tidak dikenal tiba-tiba. Karena itu, ia mengucapkan niatnya dengan nada yang ramah.
Tidak tahu kenapa temannya dan pacarnya memberi permintaan kepadanya untuk bilang ke Alseenio supaya dibuka helm-nya.
“Emm …” Alseenio memikirkan hal ini sesaat, kemudian ia memutuskan pilihan dengan cepat, “baiklah, kalau begitu.“
Setelah mendengar jawaban Alseenio, diam-diam pacar Brendin dan Tiara bergembira.
Sebenarnya, Tiara sudah sangat penasaran dengan pria yang tiba-tiba berkenalan dengannya.
Beberapa dugaan dan spekulasi bersemayam di kepalanya dan ingin sekali ia keluarkan dalam bentuk pertanyaan, tetapi ia tidak menemukan momen dan waktu yang cocok.
Pada saat ini, keinginannya bisa terwujud dan terwakili karena orang-orang ini.
Tiara memandang Alseenio dengan wajah yang penuh rasa ingin tahu.
Alseenio menyerahkan bungkusan makanan kepada Tiara, lalu Ia mematikan kamera.
“Ini, Abangnya Yituber juga? Kok, terpasang kamera Yopro di helm?“
Brendin memperhatikan kamera di moncong helm Alseenio. Karena itu, ia mempertanyakan ini kepada Alseenio.
“Benar, aku sebenarnya juga seorang Yituber,” Alseenio menjawab sambil membuka sabuk pengaman helm.
“Yituber apa? Siapa nama Yitubnya?“ tanya Brendin yang penasaran.
Sebelum membuka helm, Alseenio menjawab pertanyaan ini lebih dahulu, “Nio MV.“
Saat berikutnya, di bawah tatapan mata penasaran Tiara, Brendin, dan temannya, Alseenio membuka helm dan wajah tampannya terlihat jelas dalam sekejap.
“Wow! Ternyata, Bang Nio!“ Brendin Kentodi langsung bersalaman versi pria.
Wanita-wanita yang kebetulan melewati Alseenio dan tim Brendin pun berhenti di jalan dengan wajah yang tercengang.
Mereka semua menatap wajah Alseenio dengan tatapan penuh cinta dan sedikit nafsu.
“Mengapa enggak bilang dari tadi kalau kamu Bang Alseenio? Aku jadi enggak enak, Bang.“ Brendin menggaruk-garuk kepala dan bertingkah canggung.
Brendin merasa tidak enak karena di awal ia sempat menjahili Alseenio.
“Santai saja, tunggu late game,” kata Alseenio sambil tersenyum.
“Haha, benar-benar.“
Melihat senyum Alseenio, Tiara merasa bahwa sangat senang sekaligus malu. Hari ini adalah hari terbaik menurutnya, pasalnya ia bisa bertemu dengan sang idola secara langsung, bahkan berkenalan muka dengan muka, juga ditraktir membeli jajan.
Benar, Alseenio adalah sosok idola Tiara, tetapi wanita ini tidak blak-blakan mengakuinya.
Tubuh Tiara gemetar begitu memikirkan hal yang menakjubkan ini, dirinya terlalu senang bertemu dengan Alseenio.
“Aaa! Ternyata benar dugaanku! Pria ini adalah Alseenio Asep orang yang aku kagumi! Sekarang dia ada di sebelahku! Aaa! Apa yang harus aku lakukan?!“ Di dalam hatinya Tiara menjerit kesenangan sembari tatapannya terpaku pada wajah Alseenio yang tengah berbicara dengan Brendin.
Sekarang ia bingung harus bersikap seperti apa, ia takut membuat jijik Alseenio karena tingkahnya.
“Konten video kali ini keren, sih! Orang-orang bakal suka ini, mah,” kata Brendin pada kamera. “Mumpung kita berdua ada di sini, bagaimana kalau kita kolaborasi mendadak?“
“Ya, boleh.“ Alseenio mengangguk setuju dengan tawaran Brendin.
“Kalau begitu, ayo kita mulai!“
Saat berikutnya, Alseenio membuat video kolaborasi makanan dengan Brendin di tempat yang ramai ini.
__ADS_1
Di sana, keduanya mencoba berbagai macam makanan dalam satu porsi berdua. Hitungannya Alseenio dan Brendin hanya icip-icip saja, sisanya dihabiskan oleh teman-teman Brendin.
Tangan Alseenio yang kanan menggenggam Yopro dan mengarahkannya ke wajahnya dan wajah Brendin selama perekaman video diambil.
Helm Alseenio dipegang oleh salah satu teman Brendin, dia sukarela membantu Alseenio. Oleh karena itu Alseenio tidak kerepotan pada saat merekam video.
Tiara pun membantu Alseenio dengan sangat sabar, ia membawakan makanan Alseenio yang dibungkus. Di samping itu, Tiara dan pacar Brendin Kentodi dengan cepat berteman dan saling membantu membawa barang belanjaan kedua pria ini.
“Coba ini, bagaimana menurutmu?“ Alseenio menyuapi makanan tahu gejrot kepada Tiara dan menanyakan pendapatnya.
Dengan wajah yang memerah, Tiara pun menjawab, “Enak, tetapi pedas.“
“Kamu suka pedas, kan?“ tanya Alseenio menatap wajah Tiara yang makin merah.
Tiara kali ini tidak menjawab, ia hanya menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan cepat sambil menatap Alseenio dengan dahi yang berkeringat.
“Eh!“
Alseenio langsung panik, ia segera meminta tisu kepada pacar Brendin Kentodi dan ia menyeka dahi Tiara dengan perlahan, kemudian memberi Tiara minuman es tebu miliknya yang sudah disedotnya.
Brendin dan teman-teman terkejut melihat Alseenio yang tergesa-gesa seperti ini. Begitu mereka melihat Alseenio menyeka keringat di dahi Tiara, mereka semua tersenyum penuh makna.
Mereka semua mengelilingi sosok Alseenio dan Tiara agar orang-orang tidak tahu tindakan Alseenio, kalau orang tahu ini, kemungkinan besar Tiara menjadi bulan-bulanan netizen dan penggemar Alseenio.
Untuk adegan ini pun akan dipotong oleh editor Brendin.
“Kamu tidak apa-apa, kan?“ Alseenio memandang wajah Tiara dengan khawatir.
“Emm … aku baik-baik saja,” Tiara menatap Alseenio dan menjawab dengan tegas.
Begitu mendengar ini, Alseenio menghela napas lega. Untungnya anak orang tidak kenapa-kenapa karena ulahnya, Alseenio lupa tidak bertanya terlebih dahulu kepada Tiara, apakah dia suka pedas atau tidak.
“Syukurlah, habiskan saja minumanku, kalau ada apa-apa bilang aku, aku akan bertanggung jawab,” kata Alseenio ringan dengan ekspresi yang serius.
Tiara mengangguk kecil beberapa kali. “Aku mengerti.“
Setelah itu, Alseenio dan Brendin fokus pada konten kolaborasinya, keduanya melanjutkan untuk mencicipi makanan yang ada di sini.
Pacar Brendin mendekati Tiara dan ia bertanya, “Kamu enggak apa-apa, Tiara? Kamu kenapa tidak bilang dahulu sebelum Alseenio menyuapi kamu.“
Tiara tidak tahu ingin menjawab apa, ia hanya menanggapi dengan senyuman.
“Terima kasih sudah mau berkolaborasi denganku, Bang Nio! Video kali ini pecah, aku suka!“ Brendin berkata pada Alseenio.
Alseenio tersenyum sembari memasang kembali sarung tangannya. “Terima kasih kembali, aku juga senang dengan adanya kolaborasi ini. Kapan-kapan kita lakukan kolaborasi kalau ada kesempatan.“
“Ya, sudah, Bang Nio. Kalau begitu kami semua pamit, ya. Sudah malam soalnya,” ucap Brendin.
“Oke, hati-hati, di jalan semuanya.“
“Siap! Dadah!“ Mereka semua melambaikan tangan ke arah Alseenio dan Tiara sembari berjalan mundur.
Dengan senyuman, Alseenio pun melambaikan tangannya, diikuti oleh Tiara yang ada di sebelahnya.
Usai semuanya beres, Alseenio meminta Tiara untuk memasukkan makanan yang dibungkus aman dan rapi ini ke dalam tasnya.
Tiara menuruti permintaan Alseenio dengan hati-hati meletakkan makanan milik mereka berdua yang dibungkus ke dalam tas Alseenio.
“Kamu pakai tasnya, biar aku pakai tas milikmu,” Alseenio menginstruksikan Tiara.
Sesuai dengan permintaan Alseenio, Tiara menyerahkan tasnya kepada Alseenio dan segera pria ini memakai tas kecilnya dengan diselempangkan ke depan, sedangkan Tiara sendiri menggendong tas Alseenio.
Beruntungnya Zx10RR ini memiliki jok penumpang, Alseenio bisa membawa Tiara untuk pulang ke rumahnya.
Mereka berdua sudah siap, sudah diperiksa tidak ada barang yang hilang ataupun ketinggalan.
Vroom!
__ADS_1
Setelah itu, mereka berdua langsung meninggalkan tempat jajanan jalanan dengan raungan sepeda motor yang garang.