
Pada saat ini, Alseenio dan Katisa berada di dalam mobil yang melaju ke sebuah tempat apartemen. Katisa ini memiliki teman yang satu profesi dengannya, hari ini ia ada acara kolaborasi dengan temannya itu, dan sekarang sedang menuju lokasi tempat temannya berada.
Teman Katisa adalah Lysia Rinrena, seorang wanita yang bekerja sebagai pemain gim, Selebgrem, Tiktoder, brand ambassador tim permainan dan produk kecantikan. Wanita ini juga adalah seorang yang terkenal karena sering aktif di internet, banyak yang suka dia karena orangnya terlihat polos dan lugu, Alseenio pun pernah dengar namanya.
“Aku mau bertanya,” ujar Katisa tiba-tiba kepada Alseenio yang sedang menyetir dengan dua tangan dan pandangan ke depan jalan.
Mendengar kata Katisa, Alseenio masih dengan santai mengendalikan mobil, kemudian dia berkata tanpa menoleh ke Katisa, “Tanya apa?“
“Kamu itu … sebenarnya siapa? Kenapa aku tidak tahu kamu?“ Katisa bertanya dengan suara yang terdengar sangat penasaran.
Masker mulut Alseenio melengkung dan membentuk senyuman puas. Masker ajaib dari sistem ternyata bekerja dengan baik sesuai dengan fungsinya yang dijelaskan oleh sistem.
Wajah Alseenio tidak ditutupi semuanya oleh masker mulut, hanya mulut, dagu, dan hidung yang ditutup oleh masker ajaib ini, sedangkan mata, alis, dahi, dan rambut masih terlihat jelas, tetapi wanita ini tidak tahu Alseenio.
Tampak Katisa memandang Alseenio berusaha untuk mengenali siapa sosok Alseenio ini.
“Aku Alseenio,” jawab Alseenio ringan.
“Alseenio? Alseenio yang mana dan siapa? Aku tidak tahu.“ Dahi Katisa mengernyit dan mengamati wajah Alseenio yang sedang fokus berkendara. “Aku hanya tahu nama Alseenio yang seorang Selebgrem itu. Apakah itu kamu?“
“Mungkin, tebak saja.“ Alseenio mengangkat kedua pundaknya dan terus mengendalikan mobil.
Jalanan agak padat jadi tidak begitu lancar, perjalanan menjadi lama.
Bibirnya cemberut, ia memandang Alseenio dengan wajah tidak senang. “Aku tidak bisa menebak! Kasih tahu aku, siapa kamu sebenarnya?!“
Suara Katisa sedikit naik, ia terdengar sedang marah, sebab dari awal mereka bertemu, Katisa tidak tahu siapa Alseenio, sama sekali tidak kenal.
“Kamu ingin tahu aku?“ Alseenio memastikan keinginan Katisa.
Dengan tegasnya Katisa mengangguk beberapa kali. Wanita ini sudah bulat niatnya ingin mengetahui siapa Alseenio sebenarnya.
“Aku sebenarnya seorang penculik,” Alseenio berkata sambil menahan tawa.
Ekspresi wajah Katisa berubah, ia memandang Alseenio dengan wajah ketakutan, kemudian ia berteriak, “Jangan culik aku! Aku terlalu kurus, kamu pasti tidak suka yang datar, tolong jangan culik aku!“
Katisa menjauh dari Alseenio dan memohon kepada Alseenio untuk tidak menculiknya.
Alseenio tertegun sejenak setelah melihat tanggapan Katisa setelah ia mengatakan sebuah candaan. Wanita ini malah menganggapnya sungguhan.
“Tenang-tenang, aku bukan penculik, jangan panik,” Alseenio berkata dan menoleh melihat Katisa untuk menenangkan Katisa.
“Benarkah? Kamu enggak bohong, kan?“ Katisa menatap Alseenio dengan wajah yang belum percaya dan curiga.
“Aku enggak bohong,” balas Alseenio. “Lagi pula, penculik mana yang membawa mobil seperti ini untuk menculik?“
“Kamu,” celetuk Katisa dengan cepat.
Sudut mulut Alseenio berkedut begitu mendengar jawaban Katisa. Wanita ini masih menganggapnya sebagai seorang penculik.
“Aku bukan penculik, untuk apa aku menculik kamu?“ Alseenio memandang sosok Katisa yang duduk di sebelahnya dengan ekspresi yang masih takut
“Siapa tahu kamu menculik aku untuk kesenanganmu, layaknya penjahat kelamin!“ ucap Katisa ketus sambil menatap Alseenio dengan wajah yang tak senang.
Alseenio menghela napas berat, sepertinya sudah waktunya melepas masker mulut untuk menghilangkan pandangan Katisa yang buruk terhadapnya.
Jika tidak seperti itu, kesalahpahaman yang aneh ini terus berlanjut.
Tangan Alseenio memegangi masker yang menutup mulutnya, pelan-pelan ia melepas kaitan masker dari telinganya, akhirnya seluruh wajahnya ditampilkan di depan Katisa.
“Kamu kenal aku sekarang?“
Mata Katisa yang agak sipit melebar, ia menatap Alseenio dengan mimik wajah yang terpana.
Wajah ini, wajah yang selalu ia lihat di setiap malam hari melalui ponselnya. Katisa adalah penggemar Alseenio juga, itu sebabnya ia kenal dengan nama Alseenio yang seorang selebgrem.
Ketampanan wajah Alseenio membuat hati Katisa terombang-ambing dalam sebuah imajinasi masa kecilnya yang selalu ingin memiliki pacar seorang pangeran tampan.
Menurut Katisa, wajah Alseenio sangat sesuai dengan pangeran tampan di dalam imajinasinya, seperti Alseenio adalah memang tipe pasangannya.
Ia tak menyangka akan bertemu dengan Alseenio sang pangeran imajinasinya.
“Ka–kamu … Alseenio?“ Katisa memajukan tubuhnya dan melihat wajah Alseenio yang tengah memerhatikan jalan di depannya.
“Ya, aku Alseenio,” Alseenio menoleh sesaat pada Katisa dan menjawab sambil tersenyum.
Jantung Katisa berdenyut cepat saat melihat senyuman memesona yang ditampilkan Alseenio. Senyuman ini terlalu indah baginya.
Perlahan tangan Katisa terulur dan ia menyentuh pipi putih Alseenio dengan jari telunjuknya, ia sedang memeriksa keaslian orang yang ada di depannya.
“Kamu masih tidak percaya kalau aku bukan seorang penculik?“
Katisa mengubah sikapnya dan ia bertindak seperti wanita yang pemalu, tingkahnya kembali seperti pertama kali bertemu, “Umm, aku masih percaya kalau kamu penculik, soalnya kamu sudah menculik hati aku, aku rela diculik olehmu, Nio~ ….“
Seketika, tubuh Alseenio bergidik, ia menatap Katisa dengan wajah yang ngeri.
“Haha … jangan takut seperti itu, aku hanya bercanda,” kekeh Katisa sambil menepuk pundak Alseenio.
“Jangan seperti itu, aku merinding ketika mendengar ucapanmu, anggap saja kita teman.“ Alseenio tampak takut ketika mendengar ucapan seduktif Katisa.
Ia masih normal. Jikalau dirinya digoda dan dipancing ia bereaksi sama dengan pria normal, mungkin dia bisa saja menyerang Katisa pada saat ini juga.
__ADS_1
Tentu, itu bukan suatu yang baik dan etis, lebih lagi Katisa ini seorang yang terkenal dan memiliki banyak penggemar, perbuatan buruknya pasti akan dipublikasikan ke orang-orang.
“Iya-iya, aku tidak melakukan itu lagi,” kata Katisa menyudahi candaannya.
Tepat ketika Alseenio memakai masker mulutnya kembali, Katisa tiba-tiba bereaksi aneh.
“Kamu siapa?!“ Katisa bertanya dengan wajah yang ketakutan. “Jangan bilang kamu penculik?!“
Alseenio malas dengan candaan Katisa dan ia berkata, “Sudah, jangan bercanda seperti itu lagi.“
“Bercanda apa? Kamu siapa sebenarnya?!“ Katisa terus bertanya dengan pertanyaan yang sama.
Wajah Katisa begitu serius, ekspresi ketakutannya sangat alami tidak dibuat-buat, ini sangat sulit untuk dibuat berpura-pura atau akting.
Setelah itu, Alseenio membuka maskernya dan menampilkan wajahnya.
“Ternyata itu Alseenio ….“ Katisa menghembuskan napas lega setelah melihat bahwa yang memakai masker mulut adalah Alseenio.
Alseenio baru sadar bahwa masker ini membuat orang tidak mengenalinya, kemungkinan besar masker mulut ajaib membuat Katisa tak mengenal dirinya lagi.
Berikutnya, Alseenio mengenakan lagi masker mulutnya untuk mengetahui reaksi Katisa.
Benar saja, Katisa bertanya lagi tentang siapa dirinya dan terus melihatnya dengan wajah yang ketakutan.
Dengan senyum masam, Alseenio melepaskan masker mulutnya untuk sekarang ini, ia pusing mendengar tuduhan Katisa bahwa dirinya seorang penjahat kelamin yang suka menculik.
“Nio, boleh aku membuat video untuk cerita di Instagrem?“ pinta Katisa dengan sopan.
“Video apa?“
“Video duduk di mobil kamu.“
“Untuk apa?“ tanya Alseenio yang tak mengerti tujuan Katisa membuat cerita Instagrem di dalam mobilnya.
“Emm … pamer mungkin? Intinya aku ingin membuat cerita Instagrem sedang berada di mobilmu, sekaligus membuat vlog, boleh?“ jawab Katisa dengan jelas.
“Terserahmu, asalkan jangan melakukan hal yang konyol,” kata Alseenio yang memperbolehkan.
“Siap, Nio!“
Segera Katisa mengeluarkan alat rekaman yang berupa kamera Yopro dan perlengkapannya, kemudian dia merekam video beberapa saat, dan isi videonya hanya memberi tahu penonton bahwa dirinya sedang menuju ke apartemen Lysia.
Namun, ia sama sekali tidak memberi tahu tentang di mana dirinya sekarang, Katisa hanya memberi informasi bahwa dirinya diantar oleh orang yang spesial.
Usai membuat rekaman potongan vlog, Katisa membuat cerita di Instagrem yang menampilkan kemewahan interior mobil Alseenio.
“Aku bosan, bagaimana kalau kita membuat video Tiktod?“ Tiba-tiba Katisa berkata, ia merasa bosan karena jalanan sedang macet dan mobil Pagani Alseenio terjebak sulit maju.
“Video tiktod?“ kata Alseenio menoleh ke arah Katisa yang sedang bersandar dengan malas di kursi empuk mobil.
Katisa mengangguk cepat. “Ya, membuat video pura-pura bernyanyi hanya menggerakkan bibir saja.“
“Lipsync?“
“Benar! Bagaimana menurutmu?“ tanya Katisa.
“Boleh saja, tetapi jangan diunggah hari ini juga,” Alseenio meminta syarat.
“Kenapa?“ Katisa melihat Alseenio dengan heran.
“Takut digosipkan oleh Netizen.“ Alseenio menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya ke depan.
Segera Katisa memajukan tubuhnya ke arah Alseenio dan berkata, “Memang kenapa? Apakah ada yang salah?“
“Tidak ada, tetapi memangnya kamu mau dijodohkan oleh para Netizen yang brutal? Seperti Lesbyar?“ balas Alseenio seraya memutarkan setir mobilnya.
“Tidak, aku tidak ingin dicekik, dibanting, atau dilempari bola basket, mengerikan!“ tolak Katisa dengan ekspresi yang ketakutan.
“Kalau begitu, buat video yang tidak menimbulkan kesan gosip.“
“Bagaimana kalau aku membuat video pendek di Tiktod tentang cerita yang sebenarnya terjadi?“ kata Katisa meminta saran kepada Alseenio.
“Video yang dicantumkan teks berisikan cerita di layar atas video? Kemudian orang yang bercerita lewat teks itu berjoget tidak jelas?“ tanya Alseenio kepada Katisa.
“Bukan-bukan,” Katisa menyanggah. “Aku hanya merekam video yang menyorot ke jalan lalu berpindah menyoroti dirimu, ceritanya aku tak sengaja bertemu kamu, dan diantar olehmu ke apartemen Lysia, seperti itu ceritanya. Bagaimana?“
“Boleh, atur saja sesukamu.“ Alseenio fokus berkendara karena jalanan sudah mulai lancar.
“Oke!“
Setelah percakapan itu, Katisa membuat video yang sesuai dengan apa yang direncanakan.
Alseenio hanya diam dan terus menyetir, tanpa memperhatikan tingkah Katisa.
“Oke, sudah selesai, saatnya mengunggah!“ ucap Katisa lalu menekan tombol unggah di layar ponselnya.
Pada saat Alseenio mendengar perkataan Katisa, suara lain tiba-tiba terdengar, sistem datang dan menyampaikan suatu informasi.
[Ding! Misi Spesial Telah Terdeteksi!]
Judul Misi : Menjadi seorang tiktoder dalam seminggu.
__ADS_1
Misi : Membuat akun tiktoder dan mendapatkan banyak pengikut dan jumlah tayangan.
Syarat : Hadiah tergantung banyaknya pengikut dan jumlah penonton yang terakumulasi.
Waktu : 1 Minggu.
Hadiah : 1x Kotak Misteri Spesial.
Hukuman : tidak ada.
[Misi otomatis diterima!]
Setelah melihat misi baru dari Sistem, Alseenio terkejut bagaikan orang yang melihat makhluk astral. Alseenio memandang misi di bidang penglihatannya dengan raut wajah yang heran dan bingung.
“Tidak biasanya Sistem memberi misi tanpa hukuman, apakah Sistem sudah tercerahkan?“ kata Alseenio di dalam hatinya.
“Jadi, apakah aku boleh tidak melakukan perintah misi?“ Alseenio bertanya-tanya di dalam hati.
Alseenio malas mengunduh dan memasang aplikasi Tiktod, soalnya banyak sekali hal yang aneh di aplikasi tersebut, contohnya mengemis dengan cara mandi lumpur, bangga dengan sifat buruknya, dan menceritakan kisah buruknya untuk mendapatkan perhatian orang-orang, lebih lagi banyak wanita yang menari tak jelas.
[Ding! Hukuman diubah!]
[Hukuman : Hanya bisa merasakan pahit di lidah selamanya.]
“Sial!“ Alseenio mengutuk setelah melihat hukuman Sistem diubah dan ditambahkan.
Sungguh dirinya menyesal karena mengomentari hal yang tidak biasa Sistem, andai saja dirinya tak bergumam mengenai masalah tadi.
Tanpa banyak alasan dan basa-basi, Alseenio segera mengunduh aplikasi Tiktod yang di pasar aplikasi gugel sembari mengendalikan mobil.
Katisa yang melihat ini langsung bertanya, “Kamu tidak pernah mengunduh Tiktod sebelumnya, Nio?“
“Ya, aku penasaran dengan aplikasi ini setelah kamu membuat video, kelihatannya asyik.“ Alseenio mengangguk.
“Memang asyik! Kalau begitu, aku akan memberitahukan padamu tata cara bermain aplikasi Tiktod yang benar,” Katisa menawarkan diri untuk menjadi tutor Alseenio dalam belajar aplikasi Tiktod.
“Oke.“
Sambil menyetir, Alseenio mendengarkan Katisa yang menjelaskan fungsi dari pada fitur yang ada di dalam aplikasi Tiktod, fitur siaran langsung, membuat video pendek dan panjang, memberi hadiah kepada penyiar, cara menerjemahkan komentar asing, dan masih banyak lainnya.
Dalam sekejap, Alseenio paham dengan fitur yang ada di dalam aplikasi tersebut setelah Katisa membimbingnya.
Tak lama kemudian setelah menjelaskan panjang lebar seputar aplikasi, mereka pun sampai di depan jalan sebuah apartemen yang cukup mewah.
“Sudah sampai,” ujar Alseenio yang sudah meminggirkan mobilnya di bahu jalan.
“Akhirnya sampai juga!“ Katisa berkata dengan semangat.
“Ini benar di sini tempatnya?“ tanya Alseenio memastikan.
Katisa mengangguk dan berkata, “Benar, itu di sini.“
“Lalu, kenapa kamu tidak pergi masuk ke dalam?“
“Kamu mengusirku, ya?“ Katisa memandang Alseenio dengan wajah yang marah.
“Tidak, aku tidak bermaksud mengusir. Hanya saja kamu sudah lama di perjalanan karena terjebak macet, memang kamu tidak kasihan dengan Lysia yang sudah menunggu?“
“Oh, iya! Benar katamu. Baiklah, aku pergi dahulu,” jawab Katisa sambil mencoba membuka pintu mobil. “Anu, ini bagaimana cara membukanya?“
Alseenio menggelengkan kepalanya, ia menahan tawa setelah melihat Katisa yang bingung cara membuka pintu mobilnya.
Alseenio mengulurkan tangannya ke pintu mobil di samping kiri dan menarik pengunci, kemudian ia dorong sampai pintu bergerak ke atas. Sangat sederhana.
“Terima kasih, Nio. Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi, oke?“ kata Katisa kepada Alseenio yang ada di dalam mobil.
“Oke,” jawab Alseenio ringan.
Katisa tersenyum dan melambaikan tangan. “Sampai jumpa!“
Alseenio membalas dengan lambaian tangan dan tersenyum.
Kemudian Katisa berbalik dan berjalan ke dalam apartemen.
Melihat Katisa yang sudah pergi, Alseenio segera menginjak pedal gas mobil dengan kejam, dan mobil melesat cepat disertai suara raungan yang keras.
Brumm!
Sesampainya di tempat parkir apartemen, Alseenio berdiri dengan bingung di dekat mobilnya.
“Bukankah aku berangkat bersama Yoga? Sepertinya aku sudah melupakan pria itu,” gumam Alseenio yang baru ingat dengan Yoga. “Ke mana pria botak itu?“
Sementara itu, pada saat ini Yoga masih ada di tempat penjual ketoprak. Dirinya sudah menunggu Alseenio hampir satu jam, tetapi pemuda itu tidak kunjung datang.
“Bang, saya pesan satu piring lagi,” pesan Yoga kepada Abang tukang ketoprak.
“Siap!“
"Ketopraknya enak banget, gila!"
Yoga lupa bahwa dirinya sedang menunggu Alseenio, ia terbuai dengan kelezatan ketoprak si Abang, sampai-sampai habis dua porsi, dan sekarang menuju ke porsi ketiga.
__ADS_1