SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 134: Belanja Brutal


__ADS_3

Tak lama berselang, Bang Windi, Bang Luffi dan yang lainnya turun dari kamar hotel ke lobi untuk berkumpul bersama.


Pada hari ini, Alseenio dan yang lainnya memiliki tujuan wisata terdekat yang memiliki suasana musim dingin yang indah.


Usai semuanya berkumpul dan tak ada satu orang pun tertinggal, mereka bersama berjalan menuju tempat wisata, yaitu Hutan Seoul.


Banyak yang bilang danau di Hutan Seoul telah membeku di bulan ini, sangat cocok untuk mereka kunjungi dan lihat sambil memanjakan mata.


Semua teman sepakat untuk ke Hutan Seoul lebih dahulu. Hari pertama tidak perlu pergi ke tempat yang jauh, cukup berlibur ke tempat dekat.


Lagi pula, masih ada hari berikutnya yang bisa mereka gunakan untuk pergi ke tempat wisata lainnya yang letaknya jauh.


Hutan Seoul berada di Distrik Seoungsu, mereka menaiki kereta untuk bisa ke sana, waktu yang dihabiskan untuk bisa ke sana lebih dari 1 jam lamanya.


Adanya rombongan Alseenio, banyak orang yang mengawasi mereka. Pasalnya, teman-teman Alseenio banyak berbicara di dalam kereta, tetapi Alseenio sudah memberi tahu mereka untuk tidak terlalu bising di tempat khalayak umum atau publik.


Jadi, mereka tidak begitu bising seperti sebelumnya walaupun masih mengobrol dan membuat vlog.


Tak perlu ditanyakan lagi, Alseenio dan Fara menjadi pusat perhatian di kereta. Mau sibuk apa pun orang-orang, pandangan mata mereka pasti teralihkan ke wajah Alseenio dan Fara, seakan ada sesuatu sihir yang membuat mereka menggerakkan matanya untuk melihat kedua sosok tersebut.


Banyak para wanita yang mencuri pandangan ke arah Alseenio, mereka penasaran dengan wajah Alseenio apabila tak ditutupi oleh masker.


Dari postur tubuh sampai tampilan mata dan alis, Alseenio sudah mencerminkan sosok pria tampan yang sesuai dengan selera wanita Korea Selatan.


Tampan berarti bukan cantik, banyak pria tampan di Korea Selatan yang dianggap sebagai pria cantik karena memakai riasan.


Berbeda dengan Alseenio yang dianggap oleh wanita asli Korea yang ada di gerbong kereta.


Mereka bahkan berbisik kepada temannya, tetapi itu bisa Alseenio dengar, sebab fisik Alseenio sudah ditingkatkan, termasuk panca indranya.


Terlebih Alseenio juga memiliki kemampuan bahasa Korea sehingga mengerti apa yang mereka katakan.


Isi dari tindakan mereka berbisik adan membicarakan Alseenio.


Diam-diam mereka memuji Alseenio.


Tak terasa 1 jam berlalu, mereka tutun di stasiun paling dekat dengan Hutan Seoul.


Kemudian mereka berjalan lagi untuk bisa sampai ke Hutan Seoul.


Musim dingin terkadang indah, pemandangan salju yang menutupi pepohonan di hutan tampak menakjubkan.


Begitu mereka tiba di Hutan Seoul, mereka disambut oleh pemandangan pepohonan yang diselimuti salju, keindahan yang sangat majestik.


Mereka banyak mengambil foto di beberapa spot hutan, tempat ini sangat cocok untuk berfoto karena latar belakangnya sangat estetik bagaikan berada di sebuah tempat dalam film yang tengah musim hujan.


Kaki mereka terus melangkah maju lalu di kejauhan mereka menemukan sebuah danau yang membeku.


Dengan gegas mereka mendekati danau ini dan mengambil beberapa gambar dengan latar danau beku.


Alseenio memindai kondisi es di danau ini, dan ia mendapatkan kesimpulan bahwa es yang menutup danau sangat rawan untuk retak dan pecah.


Saat Alseenio cek dengan mengetuk hati-hati es di atas air, ketebalan esnya tipis dan tak memungkinkan untuk orang berdiri di atasnya.


Hal itu akan berbahaya jika seseorang memaksakan diri untuk menginjak es di atas danau. Kemungkinan akan terjatuh dan terperosok lalu mati tenggelam karena suhu air yang sangat dingin.


Tidak lucu apabila ada sebuah kecelakaan seperti itu ketika mereka sedang menikmati suasana alam di Hutan Seoul.


Maka dari itu, Alseenio mengimbau kepada mereka untuk tidak menginjak es danau, tak lupa untuk memberikan alasannya.


Mendengar alasan logis Alseenio, mereka langsung menurut dan benar-benar tidak akan pernah menginjakkan kakinya di atas es danau.


Masih ada beberapa spot di Hutan Seoul yang cocok untuk dinikmati keindahannya.


Pada saat mereka berjalan menyusuri jalan yang tertutup salju, tiba-tiba mereka semua mendengar sebuah langkah kaki aneh di sekitarnya.


Pendengar Alseenio sangat tajam sehingga dengan cepat menemukan sumber suara tersebut.

__ADS_1


Sumber suaranya ternyata berasal dari rusa yang berlarian di sekitar hutan.


Para rusa terkejut ketika melihat rombongan Alseenio, insting alaminya membuat mereka berlari menjauh dari teman-teman Alseenio.


Untungnya, Bang Windi dan lainnya sempat memotret rusa-rusa tersebut yang tengah berlari,


Hutan yang keren dan memesona.


Tidak ada perasaan kecewa dari rombongan Alseenio usai melihat Hutan Seoul. Banyak sekali foto bagus yang berhasil mereka ambil dan konten video yang bagus untuk diunggah.


Puas dengan pemandangan hutan, mereka melanjutkan perjalanannya menuju sebuah kafe yang terkenal bagus di Gugel.


Ulasannya di internet memiliki bintang yang tinggi, sangat direkomendasikan untuk dicoba minumannya.


Alseenio yang merasa dirinya seorang penikmat kopi, tentunya sudah mendaftarkan kafe ini ke deretan tempat yang wajib dikunjungi olehnya.


Benar saja, ulasan tidak mengkhianati produk, Alseenio bisa menyebutkan kopi di kafe ini cocok dengan seleranya, terlebih kopi espresso yang dipesannya, sangat enak.


Bang Windi, Bang Luffi, dan para pria lainnya setuju dengan pendapat Alseenio bahwa kafe ini memiliki banyak kopi yang enak


Mereka berkata akan mengunjungi kafe ini lagi jika berlibur ke Korea Selatan.


Melihat mereka semua menikmati tempat ini, mereka akhirnya memutuskan untuk menghangatkan diri di kafe ini sampai malam tiba.


“Apakah kita ada jadwal tempat apa yang akan kita kunjungi besok?“ Bang Luffi tiba-tiba bertanya kepada teman-teman.


“Belum sepertinya,” Bang Windi menjawab sambil menonton Yitub di ponselnya.


“Aku ada saran!“ Kak Diya tiba-tiba berkata dengan semangat. “Bagaimana kalau kita pergi ke Rotte World besok pagi?“


“Boleh, aku penasaran dengan wahananya, aku lihat di Yitub cukup seru permainan di sana.“ Fandick mengangguk dan setuju dengan saran Kak Diya.


“Aku ikut Bang Luffi saja,” ucap Alpahit yang sangat santai sambil menikmati tangan lembut teman perempuannya ini.


Kemudian yang lainnya juga setuju dengan saran Kak Diya, termasuk Alseenio dan Fara.


Kak Diya merasa bingung dengan ucapan Alseenio, kemudian ia bertanya, “Mengapa tidak bisa pagi kita berangkatnya?“


“Rotte World buka jam setengah sebelas, cukup siang, lebih baik kita juga berangkat agak siang, mungkin sekitar jam sembilan atau jam sepuluh,” jawab Alseenio sambil tersenyum.


“Oh, iya. Aku lupa tentang jam bukanya, hehe.“


Dengan pembahasan tersebut, mereka menyepakati rencana besok hari untuk pergi ke Rotte World.


Malam akhirnya datang dan langit sudah gelap. Mereka keluar dari kafe dan pergi menuju stasiun kereta.


Mereka tak langsung pulang ke hotel, mereka pergi ke stasiun bawah tanah untuk bisa datang ke sebuah mall.


Mall yang mereka tuju adalah Goto Mall, tempat di mana barang mahal yang di jual murah dengan kualitas yang tak jauh berbeda.


Jiwa belanja mereka membara saat melihat harga-harga pakaian dan barang di mall ini yang murah, di bawah harga pasar.


Tak hanya para wanita, para pria pun tergoda dengan harganya, mereka pun membeli beberapa pakaian dan oleh-oleh khas Korea.


Pria tidak menyesal membeli barang ini, sebab harganya murah dan memiliki kualitas, sangat pantas untuk dibeli.


Sementara itu, wanita-wanita membeli banyak sekali barang, sampai-sampai di tangan mereka dipenuhi oleh tas belanjaan.


Melihat ini, para pria serempak menggelengkan kepalanya, wanita memang boros dalam berbelanja.


Mudah sekali tergiur oleh embel-embel harga murah.


Bagi Alseenio mungkin tak masalah, tetapi bagi yang lain tentu saja masalah. Uang yang dibawa oleh mereka untuk liburan menjadi tipis, berbeda dengan Alseenio, uangnya takkan menipis.


“Sayang, aku beli banyak baji ukuran besar, selain baju itu juga aku membeli baju baru, kamu pasti suka melihat aku memakai baju itu. Kamu penasaran tidak?“ Fara yang selesai belanja langsung menghampiri Alseenio dan berkata dengan wajah yang penuh misteri.


Alseenio tentu penasaran dengan pakaian yang dibeli oleh Fara, terlebih yang kata Fara dirinya pasti akan menyukai pakaian tersebut. “Pakaian apa itu?“

__ADS_1


“Nanti, kalau kita sampai di rumah, aku akan menunjukkannya padamu, hihihi,” kekeh Fara yang senang membuat Alseenio penasaran.


Rasa penasaran Alseenio membesar, tetapi sekuat mungkin Alseenio tahan.


Kini ia berharap waktu berjalan cepat agar dirinya bisa pulang ke Indonesia lebih cepat dan dapat melihat pakaian yang dimaksud Fara.


Puas berbelanja, mereka tidak berlama-lama lagi untuk pulang ke hotel dan membenahi barang belanjaan.


Mereka sudah menyiapkan 1 koper khusus untuk oleh-oleh, Alseenio dan Fara pun sama.


Hari pertama cukup berjalan baik, mereka tidur setelah makan malam bersama.


Keesokan harinya, sesuai dengan jadwal yang dibicarakan bersama di kafe kemarin, mereka pergi ke Rotte World melalui subway dan turun di Stasiun Jamsil.


Meraka harus berjalan kaki lagi ke gerbang selatan.


Sesampainya di sana, mereka sangat antusias ingin mencoba banyak wahana.


Dimulai dari wahana luar ruangan, seperti roller coaster, gyro swing, dan beberapa wahana yang bisa digunakan.


Musim dingin membuat beberapa wahana tidak bisa dijalankan seperti biasa.


Saat mencoba wahana rumah hantu, ada suatu momen yang membuat Alseenio tertawa lepas, yaitu Fara menjerit ketakutan begitu melihat hantu yang tiba-tiba muncul di dekatnya, bahkan Fara sampai melompat ke tubuhnya dan tidak mau turun saking takutnya.


Dengan adanya Alseenio, Fara tidak menangis saat mencoba wahana rumah hantu. Usapan lembut Alseenio meringankan ketakutannya terhadap hantu bohongan.


Akhirnya, Fara resmi berhasil menaklukkan wahana rumah hantu walaupun banyak berteriak ketakutan.


Ada banyak wahana yang bisa membuat para pria berteriak, contohnya french revolution. Wahana tersebut merupakan roller coaster dalam ruangan yang tidak jauh berbeda dengan roller coaster luar ruangan, wahana ini lebih menakutkan karena bisa berputar 360 derajat saat turunan, tanjakan, dan belokan.


Alseenio tak menyarankan untuk wanita mencoba wahana, sebab para pria saja kewalahan.


Saat mencoba wahana tersebut ada kejadian yang sangat lucu, yaitu Fandick hampir pingsan. Dia dan Bang Windi berteriak sangat keras karena ketakutan yang luar biasa.


Keduanya takut jatuh dari keretanya karena berotasi penuh sampai berputar-putar layaknya tubuhnya dimasukkan ke dalam toples besar dan dikocok-kocok.


“Hahaha! Fandick payah sekali! Begitu saja mau pingsan,” ledek Bang Luffi sambil tertawa puas.


Dia memang suka sekali melihat Fandick tersiksa seperti ini karena ekspresinya sangat lucu.


“Aduh, sumpah! Aku tidak kuat, Bang Luffi. Kereta tadi benar-benar mengocok isi perutku, padahal aku habis makan sosis bakar sebelumnya, aku merasa mual.“ Fandick duduk sambil memegangi perutnya.


“Ya sudah, diam di situ dahulu sampai keadaan tubuhmu normal, kami akan kembali ke sini. Pegang barang milikku, aku nitip.“


Setelah mengatakan itu, Bang Luffi dan yang lainnya pergi menuju wahana santai yang biasa, seperti komedi putar dan Conquistador.


Kedua wahana tersebut mudah ditemukan di taman bermain lainnya, sudah tidak aneh.


Setelahnya, mereka kembali lagi ke Fandick untuk mengajak dia pergi ke wahana berikutnya.


Wahana tersebut adalah The Comet Express.


Fandick salah mengikuti jejak pria-pria sialan ini. Ternyata wahana itu tak ada bedanya dengan wahana roller coaster dalam ruangan, sama-sama mengocok isi perutnya karena berputar 360 derajat penuh.


Sama dengan namanya yang bertema luar angkasa, wahana ini mengajak mereka seperti sedang di luar angkasa dan terbang di antara benda-benda langit.


Saat melewati benda itu semua, otomatis bangku yang mereka duduki berputar dan menciptakan sensasi sedang berada di kapal luar angkasa canggih.


Fandick menyerah, dia akhirnya pergi ke kamar mandi dan muntah di sana.


Sudah cukup bermainnya, mereka mengakhiri hari dengan berbelanja lagi, tetapi tidak brutal seperti malam kemarin.


Mereka berbelanja secukupnya dan membeli barang yang dikira penting dan memang sangat bagus.


Selanjutnya, mereka pulang di malam hari dan tidur di hotel sampai hari berikutnya datang.


“Eh? Mengapa Bang Nio tidak mau ikut kita pergi?“ Alpahit bertanya dengan heran.

__ADS_1


__ADS_2