
Tepat saat Alseenio dan Fara berada di jarak 5 meter dari orang itu, mendadak pemuda tersebut menoleh dan melirik keduanya.
“Alseenio?“ panggil Pemuda itu tanpa sadar.
Melihat wajah pemuda ini, Alseenio langsung tersenyum. “Ternyata itu kamu, Ryzan Laryse.“
Meskipun Alseenio memakai kacamata dan masker, Ryan dengan cepat mengetahui Alseenio.
“Siapa ini?“ Ryan yang memakai kemeja putih dan celana bahan hitam melirik sekilas Fara dan kembali menatap Alseenio.
Alih-alih langsung menjawab, Alseenio melepaskan tangan Fara dan bergerak untuk membisikkan sesuatu ke telinga Ryan.
“Sungguh?“ Ryan melihat Alseenio dengan lirikan mata yang terkejut.
Alseenio mengangguk sambil tersenyum, kemudian berbalik menggenggam tangan Fara.
Dengan tersenyum, Ryan menepuk pundak kanan Alseenio dan berkata, “Selamat, Kawan. Semoga sampai ke atas pelaminan.“
“Terima kasih, Ryan.“ Alseenio mengangguk
Mendengar ucapan selamat dari Ryan, Fara tersipu malu dan menundukkan kepalanya.
“Namanya siapa?“ tanya Ryan Laryse yang penasaran dengan Fara.
Sebelum Alseenio menyebutkan nama Fara, segera Fara mengangkat kepalanya dan menjawab dengan tegas, “Aku Fara, wanita Alseenio.“
Sikap Fara yang tegas mengungkapkan identitasnya sebagai pacar Alseenio membuat Ryan sedikit tercengang, ia mengangguk sembari menjulurkan tangannya ke Fara dan memberi tahu tentang namanya, “Aku Ryan Laryse, teman sangat jauh Alseenio.“
Melihat tangan Ryan yang terulur ke arahnya, Fara tidak menjabat tangan pria ini, melainkan mengangguk menunjukkan pengertiannya. “Salam kenal, Ryan.“
“Salam kenal juga.“ Ryan menarik dan memasukkan tangannya ke saku celana, ia tidak mempermasalahkan hal ini, ia mewajarkan perilaku Fara yang tidak ingin berjabat tangan dengannya.
Menurutnya, Fara memang baik bagi Alseenio, diam-diam Ryan memberi lampu hijau untuk Fara.
Alseenio juga memperhatikan tindakan Fara, dan ia tersenyum senang.
“Teman jauh? Tempat tinggal kita tidak jauh, masih satu kompleks,” protes Alseenio.
“Anggap saja jauh,” kata Ryan berkata dengan malas. “Ngomong-ngomong, kalian sedang apa di sini?“
“Menikmati waktu berdua bersama,” Alseenio membalas dengan santai.
Ketika Alseenio mengatakan ini, Fara mengganti gaya memegang tangan Alseenio menjadi memeluk sambil bersandar di tangan kiri Alseenio, kelihatan manja.
Rasa iri muncul di hati Ryan, ia juga ingin memiliki pasangan.
“Mengapa tidak ke hotel? Bukankah itu lebih cocok untuk menikmati waktu berdua?“
“Tidak, belum waktunya. Aku tidak sepertimu, Ryan. Pria yang sering membawa wanita ke hotel.“
“Tahu dari mana?“ Ryan menaikkan alisnya dan bertanya.
__ADS_1
“Dari wajahmu yang sangat terlihat seperti pria yang mencintai seribu wanita.“
“Aku saja belum pernah berhubungan lagi dengan wanita setelah berpacaran waktu kecil dahulu.“ Wajah Ryan terlihat agak sedih.
“Sudah-sudah, jangan bersedih, lebih baik kamu ikut aku dan Fara.“ Alseenio memegang bahu kiri Ryan.
“Ke mana?“
“Ikut saja.“
Ryan dipaksa oleh Alseenio untuk pergi ke suatu tempat, yakni restoran sate yang terkenal di mall ini.
Mereka bertiga makan siang bersama dengan senang, tetapi … itu tidak berlaku bagi Ryan.
Ia menyesal mengikuti mereka berdua ke sini, sejak awal makanan datang, keduanya bermesraan di depan matanya.
Namun, anehnya wanita Alseenio ini tidak ikut makan, melainkan hanya melayani Alseenio makan, katanya ia akan makan nanti.
Ryan tidak peduli dengan ini, dan ia tetap makan sampai makanan habis.
“Aku lupa bertanya, kamu ke sini untuk apa?“ Alseenio bertanya sambil menikmati suapan terakhir yang diberikan Fara.
“Besok orang tuaku dan temannya ingin ke rumahku, aku ke sini untuk membeli beberapa baju baru dan beberapa barang untuk mereka ketika sampai, hadiah pertemuan.“ Ryan mengaduk kopi susu yang ia pesan, alisnya bertaut dan menatap air kopi dengan pandangan yang sulit, wajahnya terlihat seperti ada yang salah.
“Bukannya kamu senang orang tuamu datang melihatmu, mengapa wajahmu terlihat aneh seperti itu?“ Alseenio menyadari ada sesuatu yang tidak beres dari ekspresi Ryan. Fara pun menyadarinya.
Meletakkan sendok yang dipakai untuk mengaduk, Ryan menjawab, “Orang tuaku jarang menjengukku, kalau dia datang, biasanya ada sesuatu, tidak jauh dari masalah perusahaan. Aku curiga orang tuaku ini yang membawa temannya pasti memiliki tujuan lain.“
“Jangan berprasangka buruk, Ryan. Siapa tahu orang tuamu memang hanya ingin melihat dirimu sekarang, kebetulan membawa temannya untuk jalan-jalan.“
“Kalau begitu, kamu sudah membeli semua barang yang ingin dibeli?“
“Belum.“
Alseenio tertegun sejenak, kemudian ia memberi saran, “Selagi masih ada waktu sebelum hari menjadi sore, lebih baik kamu segera berbelanja dam membeli barang-barangnya.“
“Benar juga.” Ryan berpikir untuk waktu yang singkat, kemudian ia menghabiskan kopi di tangannya dan berdiri.
“Mau ke mana?“ Alseenio terkejut dengan gerakan buru-buru Ryan.
“Seperti katamu, aku harus pergi untuk membeli semua barang yang ingin aku beli.“
“Oh, oke. Ya sudah, kamu pergi saja, biar aku yang bayar makanannya.“ Alseenio mengangguk dan membiarkan Ryan pergi.
“Iya, terima kasih, Kawan. Nanti, aku akan memberimu stiker Penti sebagai ungkapan terima kasih,” ucap Ryan sambil menyentuh pundak Alseenio.
“Tidak perlu, stikernya buatmu sendiri saja.“ Alseenio menepis tangan Ryan dan sedikit takut.
Dari perkataan Ryan, Alseenio tahu bahwa pria ini sudah mengetahui tentang karakter yang ada pada stiker yang dibelinya waktu itu. Ryan sedikit mencurigakan.
“Baiklah, aku pamit dahulu.“ Ryan menyodorkan kepalan tangannya ke arah Alseenio dan Fara.
__ADS_1
Masih dengan respons yang sama, Fara hanya mengangguk kecil. Alseenio sedikit menggunakan tenaga saat membenturkan kepalan tangannya ke kepalan milik Ryan.
Setelah itu, Ryan meninggalkan Alseenio dan Fara di restoran.
“Sayang, bukankah orang itu yang pernah kita temui ketika belanja untuk kebutuhan panti asuhan?“ Fara menatap Alseenio, ia masih ingat samar-samar sosok Ryan saat itu.
“Ya, kamu masih ingat ternyata.“ Alseenio membenarkan dugaan Fara.
“Pantas saja, aku merasa pernah melihat orang ini sebelumnya.“ Fara mengangguk paham. “Kalian berdua kelihatan sangat dekat.“
“Begitulah, mansion kita ternyata dekat dengan tempat tinggalnya, terlebih aku dan dia juga beberapa kali saling mengirim pesan.“
“Oh, seperti itu. Sayang, aku ingin makan juga, aku boleh buka masker di sini, kan?“ Fara sudah merasa lapar, dan ia menatap Alseenio untuk meminta izin.
“Buka saja, tidak apa-apa.“
Setelah mengizinkan Fara, Alseenio berinisiatif untuk membuka masker yang dikenakan oleh Fara.
Di detik berikutnya, seluruh wajah Fara yang cantik terungkap tanpa ada yang ditutupi.
Kali ini gantian, Alseenio yang menyuapi makanan ke dalam mulut Fara.
Mereka duduk di pojok restoran, orang-orang tidak begitu memperhatikan mereka karena tidak terlalu terlihat, apalagi Fara duduknya di bagian dalam, dan terhalang oleh tubuh Alseenio.
Tepat ketika Alseenio berdiri hendak membayar makanannya, nada dering ponselnya berbunyi, dan ia langsung duduk sambil mengangkat panggilan yang masuk.
“Niara, ada apa menelepon?“
Begitu mendengar kata-kata Alseenio, Fara langsung menoleh dan mendekati telinganya ke ponsel yang dipegang Alseenio.
Melihat gerakan Fara, Alseenio menekan tombol pengeras suara dan mengatur suara yang keluar dari ponsel supaya Fara juga dapat mendengar apa yang diucapkan oleh Niara.
“Nio, besok aku pergi ke Jakarta, bisakah kita bertemu saat aku sampai di Jakarta?“
“Itu ….“ Alseenio mulai berkeringat karena Fara sedang melototinya.
“Bilang iya, aku ingin bertemu dengannya,” bisik Fara ke telinga Alseenio.
Alseenio merespons dengan anggukan, dan kemudian menjawab pertanyaan Niara, “Itu boleh, kamu kabari saja ketika mau sampai.“
“Oke, aku akan mengabarimu nanti. Sudah dahulu, ya. Aku masih ada di kampus, sampai jumpa!“
“Sampai Jumpa lagi ….“
Panggilan berakhir dan telepon terputus.
“Apa tidak apa-apa aku bertemu dengannya besok?“ tanya Fara pada Alseenio.
Alseenio mengangguk kecil. “Boleh saja, tetapi kamu jangan melakukan hal aneh nantinya.“
“Tenang, Sayang. Aku takkan berbuat macam-macam saat bertemu.“
__ADS_1
“Emm, oke.“
Alseenio masih sedikit takut terhadap aura yang terpancarkan dari tubuh Fara.