
“Fara, jangan lihat!“ Alseenio langsung menyuruh Fara untuk tidak melihat Joni besar, panjang, putih, dan berurat miliknya. Kedua tangan Alseenio dengan cepat menutupi kepala Joni yang hampir mau keluar dari lubang celana kanan.
Sesuai dengan perintah Alseenio, Fara menutupi matanya. Wajahnya sudah sangat memerah, ia tahu apa yang dilihatnya tadi.
Mengingat pemandangan tadi, Fara makin memerah bahkan asap mengepul dari wajahnya, dengan malu ia pun berpikir, “Apakah semua pria punya ukuran yang sebesar itu? Ataukah hanya Alseenio saja yang punya? Itu sangat besar!“
Tangan Alseenio mengambil jaket yang biasa ia taruh di ruang studio untuk menutupi sosok adik kecilnya yang tangguh.
“Kamu boleh membuka mata sekarang,” Alseenio berkata dan kembali menghadap layar komputer.
Secara perlahan, Fara membuka tangannya dan memberanikan diri untuk melihat sesuatu di tubuh Alseenio.
Melihat sesuatu yang besar itu sudah ditutupi oleh jaket, ia menghembuskan napas merasa lega, Fara sendiri belum siap untuk melihat barang Alseenio.
Namun, melihat milik Alseenio yang sangat besar membuat Fara sedikit takut.
“Sayang, itu apa tadi?“ Fara bertanya untuk memastikan, ia berjalan menghampiri Alseenio.
“Anu, itu ….“ Alseenio bingung harus menjawab apa, ini akan ambigu dan suasana menjadi aneh.
Duduk di kursi khusus bekerja yang ada di sebelah Alseenio, mata Fara yang memandang Alseenio terlihat penasaran dan juga agak takut.
“Apakah itu 'barang' yang kamu punya?“ Saat pertanyaan itu terlontar, Fara makin tersipu.
“Mungkin ….“ Alseenio mengangguk, ia tidak bisa menyangkalnya karena sudah terlalu ketahuan. “Fara, bisakah jangan membahas kejadian tadi? Ini terdengar memalukan.“
Alseenio juga merasa malu ketika Fara menanyakan hal itu, adik kecilnya merupakan privasi baginya.
“Umm, oke.“ Wajah Alseenio sudah sangat merah merang, Fara merasa kasihan, tetapi ia masih penasaran mengapa milik Alseenio bisa bangun tiba-tiba seperti itu. “Sayang, apa aku boleh bertanya tentang itu untuk yang terakhir?“
“Tanya ap–apa?“ Alseenio ragu-ragu dengan ini.
“Mengapa punyamu mendadak berdiri, maksudku karena apa bisa membesar seperti itu?“ Fara pun malu ketika bertanya, ia tidak berani menatap langsung wajah Alseenio, apalagi bagian bawah tubuh Alseenio.
“Anu … itu karena, umm … karena bola-bola yang kamu miliki.“ Alseenio juga ikut menunduk, sejak awal ia menyembunyikan adiknya, Alseenio tidak berani melihat sosok Fara, jika ia melirik, apalagi memandang penampilan Fara yang sekarang, adik kecilnya akan sulit untuk tidur lagi.
“Eh?!“
Mendengar jawaban Alseenio, Fara sangat terkejut dan ia menatap Alseenio tidak menyangka.
__ADS_1
Kemudian Fara melihat ke bawah untuk memastikan pakaian yang menutup bagian dadanya.
Namun, ketika Fara melihat pakaian atas yang dikenakan, ia pun tersadar dan langsung memeluk dadanya.
'Sial! Aku lupa memakai kacamata! Aaaa! Ini sangat memalukan!' jerit Fara di dalam hatinya.
Kaos hitam lengan panjang yang Fara kenakan ini menampilkan sesuatu yang kecil menonjol, tidak bulat seperti biasanya, kini ada tambahan sesuatu benda yang menonjol, pakaiannya ini mengikuti benda yang ada di dalam.
Hal itu terjadi karena Fara lupa memakai kacamata atau mangkuk buah dada sehabis mencocokkan pakaian yang akan dikenakannya nanti untuk bertemu Niara.
Alseenio sadar, sebab sebelumnya ia tidak merasakan sesuatu yang sangat jelas sekali terasa lembut dan seakan-akan sedang menyentuh tubuhnya ketika beradu mulut sekaligus berpelukan.
“Sayang, aku keluar dahulu. Jangan angkat kepalanya sampai aku keluar dari ruangan!“
Setelah mengatakan itu, Fara meninggalkan kursi dan berlari sampai keluar ruang studio.
Suara pintu yang ditutup terdengar oleh telinga Alseenio, kemudian ia mengangkat kepalanya dan melirik ke arah pintu.
“Sangat kencang, meskipun tidak memakai pelindung. Sepertinya aku sangat beruntung mendapatkan Fara,” gumam Alseenio dengan menyungging senyum yang aneh, sekaligus senang.
Bulat, kenyal, kencang, dan besar semuanya ada di buah dada milik Fara.
“Sayang, aku kembali!“ Suara Fara terdengar dari arah pintu, dan sosoknya berlari menuju Alseenio yang tengah mengedit video.
Alseenio menghentikan kegiatannya sesaat dan menoleh melihat penampilan Fara saat ini.
Pakaian Fara sudah normal walaupun itu masih sangat seksi. Apabila Alseenio tidak merekam dan orang tua Fara tidak bersama keduanya, Fara biasanya memakai kaos lengan pendek dan celana pendek yang memperlihatkan pahanya yang putih dan mulus.
Sama seperti sekarang yang Fara kenakan.
Fara berjalan dan duduk kembali di kursi yang lain.
Melihat layar komputer di depannya terdapat video yang sedang digarap, Fara bertanya, “Sudah mengeditnya, Sayang?“
“Sebentar lagi, mungkin setengah jam berikutnya akan selesai.“ Alseenio melupakan peristiwa memalukan yang terjadi di beberapa menit yang lalu, dan mengelus rambut hitam panjang Fara.
Rambut Fara yang halus membuat Alseenio kecanduan untuk sering mengelus.
Tindakan Alseenio ini tidak masalah bagi Fara, ia malah menyukai belaian kasih sayang dari Alseenio.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan menemanimu kalau begitu,” ujar Fara sambil tersenyum.
Alseenio mengangguk dan melanjutkan urusan mengedit videonya di komputer.
Selama 30 menit Fara menunggu Alseenio membereskan pekerjaan mengedit, ia merasa bosan dan kerap kali bergerak untuk mengobrol dengan Alseenio.
Selain itu, ia duduk kembali di pangkuan Alseenio yang nyaman sambil memainkan dagu Alseenio yang mulus, atau menyentuh urat-urat menonjol di tangan Alseenio yang terlihat sangat jantan.
Wanita ini tidak bisa diam dan selalu ingin diajak berbicara, tingkahnya sama dengan gadis kecil.
Namun, ketika dicium oleh Alseenio, ia pasti diam dan duduk dengan tenang di atas pangkuan Alseenio.
Tidak terasa waktu berjalan, jam digital di layar komputer telah menampilkan waktu jam 1 siang, waktunya mereka untuk bersiap-siap pergi ke tempat pertemuan dengan Niara.
Untuk pertemuan Alseenio mengenakan pakaian rapi dan informal, lebih ke gaya kasual, yakni kemeja hitam lengan pendek, blazer hitam, celana jeans abu-abu, dan sepatu hitam.
Outfit atau setelan yang dipakai Alseenio serasi dengan pakaian Fara.
Tidak jauh berbeda dengan perpaduan warna pakaian Alseenio, Fara juga memakai kaus hitam agak besar, mantel panjang abu-abu, dan celana jeans hitam. Fara tidak terbiasa dengan sepatu hak, ia memilih untuk menggunakan sepatu santai yang hampir sama dengan yang Alseenio kenakan.
Sebelum mereka berangkat, Alseenio memberikan sebuah hadiah yang sudah ia janjikan sebelumnya, yakni jam tangan Rilex Date Just 31 Emas Putih yang Alseenio dapatkan dari hadiah Sistem beberapa waktu yang lalu.
Barang itu memang sudah diniatkan untuk diberikan kepada Fara, waktunya belum tepat sehingga baru hari ini ia bisa memberikan jam tangan cantik ini.
“Bagaimana, Sayang? Apa cocok denganku jam tangannya?“ Fara berjalan lenggak-lenggok di depan Alseenio menampilkan penampilannya sekarang.
Alseenio mengangguk, kemudian ia mengancingkan mantel yang dipakai Fara supaya menutupi bola besar. “Jam tangannya sangat cocok dipakai olehmu, jam tangannya tambah cantik apabila disandingkan denganmu.“
“Terima kasih, Sayang!“ Fara menggenggam kedua tangan Alseenio dan berjinjit hendak mencium pipi Alseenio.
Melihat gerakan ini, Alseenio refleks merendahkan tubuhnya agar Fara bisa mencium pipinya.
Setelah semuanya siap, Alseenio dan Fara memberi tahu tentang kepergian mereka kepada Bella yang sedang sibuk mengasah kemampuan memasak bersama ibu Fara, ayah Fara sedang tidak ada di rumah, dia ikut bersama Gondals dan ingin melihat perusahaan Alseenio.
Segera, sebuah mobil Gemera keluar dari gerbang mansion dan meluncur menuju Mall tempat mereka akan bertemu dengan Niara.
Ketika melewati tempat tinggal Ryan, Alseenio melihat bahwa tempatnya kosong dan seperti tidak ada orang, cuma terdapat sekuriti yang sedang menjaga gerbang.
Alseenio berspekulasi Ryan dan orang tuanya telah mengadakan pertemuan dan waktunya singkat, mengingat orang tua Ryan pemilik perusahaan investasi Laryse Group.
__ADS_1