
Setelah mendengar semua panggilan orang kepadanya, Alseenio berdiri di samping Hilman dengan wajah yang terlihat pusing dan rumit. Hari kedua sangat berbeda dengan hari Senin kemarin, ini sangat ramai, bahkan baru di waktu jam makan siang.
Alseenio sangat cekatan dalam pekerjaannya sehingga para karyawan yang kewalahan meminta bantuan Alseenio untuk menghadapi para pelanggan.
Ada satu yang menjadi masalah, yaitu semua pelanggan sebagian besar memanggil Alseenio untuk melakukan sesuatu entah memesan makanan, menanyakan makanan yang telah dipesan, dan sampai bertanya tentang nama akun Instagrem miliknya.
Semua pertanyaan dan permintaan bantuan dari pelanggan Alseenio tanggapi dengan sebaik mungkin, kecuali yang meminta nomor telepon dan nama akun Instagrem, Alseenio akan menolak dengan cara yang sehalus mungkin.
Saat ini, jam sudah masuk jam setengah 2 siang, pelanggan sudah banyak yang pulang dan minggat.
Akan tetapi, banyak pelanggan wanita muda masih diam di sini sambil menatap Alseenio penuh minat.
Kemungkinan besar para pelanggan ini tertarik dengan Alseenio, beberapa kali para pelanggan ini meminta Alseenio untuk melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri.
Jujur saja, Alseenio kesal dengan pelanggan ini, tetapi ia ingat dengan hukuman misi. Jikalau saja tidak ada hukuman misi, Alseenio sudah keluar dari pekerjaan ini dan lebih baik bekerja sebagai kuli bangunan atau tukang bangunan yang bermain fisik daripada menjadi seorang pelayan.
Melayani orang-orang adalah tekanan batin, terlebih para pelanggan restoran di sini banyak sekali permintaannya.
Bukan salah restoran, tetapi memang para pelanggan yang banyak sekali keinginannya.
Alseenio berdiri di samping Hilman yang juga sudah selesai mengantarkan makanan dan kembali berdiri di tempat mereka berdua bersiaga.
“Ramai sekali barusan,” ucap Hilman kepada Alseenio. “Aku dari tadi sering mendengar orang yang memanggil kamu. Mereka meminta apa saja, Bang?“
Sejak jam makan siang datang dan pelanggan banyak yang berdatangan, Hilman mendengar banyak sekali orang yang memanggil Alseenio.
Banyak juga orang yang memanggil Hilman untuk menanyakan kabar makanan yang dipesan dan meminta tagihan makanan, tetapi tidak sebanyak Alseenio.
Hilman melihat beberapa kali Alseenio berfoto bersama seorang pelanggan.
Aneh sekali ini terjadi. Namun, mengingat Alseenio yang tampan, Hilman tak menjadi aneh lagi dan mewajarkan.
Orang tampan bebas melakukan apa saja.
Mendengar pertanyaan Hilman, Alseenio menanggapi dan menjawab, “Mereka bertanya tentang makanannya, ada yang bertanya tentang apa makanan yang ada di buku menu, bertanya seputar letak toilet, dan ada juga yang menanyakan nomor telepon aku.“
“Pfft!“
__ADS_1
Hampir saja Hilman tertawa ketika mendengar kalimat terakhir Alseenio.
Dia tidak menyangkal ada pelanggan yang meminta nomor dari seorang pelayan.
Setahu Hilman, orang-orang yang datang ke restoran ini sebagian besar orang yang memiliki mobil pribadi, jarang sekali pelanggan yang datang menggunakan sepeda motor.
Diam-diam juga Hilman mengamati pelanggan dan sekitar, semua pendapatnya hasil dari observasi yang ia lakukan secara sembunyi.
Memang benar, wanita yang datang ke sini adalah seorang yang elite atau keluarga elite yang kaya. Harga restoran di tempat Alseenio bekerja memiliki harga yang mahal karena kualitasnya sangat tinggi. Pelanggan yang beli biasanya memang orang di kalangan menengah agak ke atas.
Khusus di cabang saja. Restoran TaySatay di cabang lain tidak sama.
Letak restoran ini memang di kawasan elite, ada gedung Bank di jajaran restoran ini dan dekat dengan Monas. Tak heran jika orang yang datang adalah orang yang berduit banyak.
“Sabar, Bang. Di sini pelanggannya aneh semua, beberapa bulan yang lalu ada karyawan yang hampir ganti rugi sebuah mainan,” kata Ilham, pegawai lama restoran ini.
Kalimat Ilham membuat Alseenio dan Hilman penasaran dengan peristiwa tersebut.
“Kejadiannya waktu itu ada karyawan lama dan itu teman kerja aku yang lumayan dekat, orang ini tak sengaja menjatuhkan ponsel pelanggan itu mainan milik anak dari pelanggan yang diletakkan di atas meja. Untungnya, barang itu baik-baik saja dan tak ada yang rusak, tetapi orang tua ini meminta gant rugi kepada temanku ini, padahal jelas-jelas anaknya bilang tak ada kerusakan.“ Ilham memasang wajah yang serius dan terlihat agak kesal. Tampaknya Ilham juga masih kesal mengingat peristiwa ini.
“Rekan kerja aku ini tidak mau membayar, lantaran anaknya si ibu sendiri bilang tidak perlu diganti rugi karena tak ada yang rusak. Ibunya ini terus mengoceh kepada temanku, bersikeras untuk minta ganti rugi. Namun, temanku tidak menggubris omongan ibu tersebut dan ia diamkan saja,” jelas Ilham kepada mereka berdua.
“Setelah itu?“ Hilman menatap Ilham dengan wajah yang penasaran.
“Mentok, sudah di ujung jalan.“
Sebuah lelucon kuno ditampilkan oleh Ilham lagi.
Wajah Hilman yang antusias ingin mendengarkan ceritanya lagi berubah menjadi masam. “Bang Ilham, ceritakan lagi kelanjutannya, aku masih penasaran.“
“Nanti saja, kamu harus fokus kerja, lihat ke depan! Bang Royan memberi kode.“ Bang Ilham menunjukkan kepada Bang Royan, salah satu karyawan bagian depan, tengah membuat isyarat ke arah mereka bertiga yang sedang mengobrol.
Isyarat itu adalah tanda untuk para pelayan, yakni Alseenio dan Hilman, di antara keduanya membereskan meja pelanggan yang telah pergi.
Hilman yang melihat ini segera bergegas dan mulai membersihkan tempat meja pelanggan, kemudian merapikan lagi layaknya meja sebelum ditempati oleh pelanggan.
Butuh kurang dari 2 menit untuk Hilman membersihkan dan menata meja pelanggan dengan rapi seperti semula.
__ADS_1
Alseenio juga sudah diajarkan tentang ini, sangat mudah sebenarnya, hanya mengelap meja, meletakkan kursi, dan menata ulang nomor meja.
Kegiatan itu harus dilakukan dengan waktu yang singkat.
Setelah itu, mereka bertiga ada waktu lagi untuk berbincang sambil berdiri dan melihat para pelanggan.
“Kelanjutannya, karyawan ini yang adalah temanku tidak jadi ganti rugi. Asal kalian tahu saja, di restoran ini memang memiliki pelanggan yang aneh, setengah tahun lalu yang lebih ada orang yang mengadakan acara lamaran di sini, membawa dua keluarga besar yang jumlahnya puluhan orang. Beruntung, di restoran ini memiliki lantai dua yang bisa menampung mereka semua.
“Acara lamaran benar-benar dilakukan di restoran ini, padahal restoran ini bersifat publik. Mereka yang memiliki acara ini meminta teman-teman kerjaku dahulu membantu meletakkan parsel dan makanan yang mereka bawa dari rumah, mereka meminjam piring restoran untuk menempatkan makanan mereka yang beli dari luar.
“Asal kalian tahu saja, itu seharusnya tidak boleh. Kalian boleh menolak permintaan pelanggan tersebut.“
Ilham melanjutkan kembali ceritanya, kali ini cerita peristiwa yang berbeda, masih terdengar seru dan asyik.
“Bagaimana dengan berikutnya? Mereka terus melanjutkan acara?“ Hilman orang yang aktif dan ia selalu bertanya tentang cerita Ilham.
Alih-alih Ilham menjawab, Linda yang masuk siang jam 2 siang datang dan berdiri di sebelah Alseenio, dan ia menjawab, “Mereka meneruskan acara lamaran mereka di lantai dua sampai beberapa jam. Kukira karyawan saat itu diberi uang karena membantu acara mereka, nyatanya tidak sama sekali, malahan karyawan menambal kerugian karena pesanan makanan mereka yang melakukan acara lamaran ini kelebihan.“
“Benar, aku ikut menambahkan uang kerugian.“ Ilham mengangguk membenarkan.
Linda dengan senyum judesnya berkata, “Aku juga. Setiap ada kerugian, kita akan patungan, terkadang, sih. Apabila kerugian memang ditimbulkan oleh banyak karyawan, seperti salah memasukan pesanan makanan dan salah memasak makanan, tak sesuai dengan pesanan, semua itu karena tidak sinkron komunikasinya.“
Kepala Alseenio dan Hilman mengangguk, mereka menjadi tahu risiko bekerja menjadi seorang pelayan, tak berbeda dengan pekerjaan lain, contohnya menjaga toko baju dan supermarket, kalau ada kekurangan uang atau kerugian, karyawan yang akan bertanggung jawab. Menyedihkan.
“Bagaimana kalian berdua di sini? Sudah lancar kerjanya?“ Linda menatap Hilman dan Alseenio dengan senyuman ramah.
“Lancar, tetapi hari ini ramai sekali.“ Hilman menunjukkan wajah kelelahan.
“Ini masih mending, besok akan jauh lebih parah. Kalian harus siap fisik, selalu olahraga, jangan selalu mengocok barang itu, nanti tubuh kalian lemah, seperti si Ilham.“ Tunjuk Linda kepada Ilham.
“Enak saja! Mulutnya ringan sekali. Belum pernah ditampar pakai sosis daging, ya?“ Ilham berkata dengan wajah yang merah karena malu dan kesal.
“Sudah pernah, malah aku isap. Rasanya asin!“
Wajah Ilham, Alseenio, dan Hilman menjadi salah setelah mendengar ucapan Linda.
Dalam sekejap suasana menjadi hening seketika.
__ADS_1