SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 191: Menunjukkan Burung


__ADS_3

"Oke, aku mengikuti saranmu."


Mendengar usulan yang dikeluarkan oleh Sugi, Alseenio langsung setuju dengannya. Sejujurnya, dia memikirkan ini juga sebelum bertanya kepada Sugi, tetapi dia tidak bisa membulatkan pikiran tersebut, butuh masukan dari orang lain agar lebih pasti.


Tidak disangka Sugi punya pendapat yang sama.


Membuat Aviari bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan, banyak sekali tahapan perizinan yang harus dilewati, bahkan sekelas artis pun tidak semudah yang dipikirkan untuk bisa mendirikan Aviari dengan segala jenis burung di dalamnya.


Lagi pula, Alseenio mendirikan Aviari hanya untuk satu jenis burung saja, terlalu berlebihan jika dia memilih untuk membangun Aviari.


Lebih baik dibiarkan hidup di sekitar taman rumah kalau memang mereka sanggup dan mampu.


Alseenio akan berkomunikasi dengan mereka saat sampai di rumah.


Sistem memberi izin dirinya memakai ruang penyimpanan Sistem untuk membawa Burung-burung Huia.


Selain ada sisi buruknya, Sistem selalu memiliki sisi baik dan lembut.


Tidak mungkin burung-burung ini bermigrasi sejauh ratusan kilometer dalam waktu yang cepat.


Maka dari itu, Alseenio meminta Sistem untuk memasukkan mereka kembali ke dalam ruang penyimpanan.


"Memangnya, Burung Huia masih ada? Bukannya itu sudah punah?" tanya Sugi yang baru sadar dengan nama burung yang disebutkan oleh Alseenio. Dia menatap Alseenio dengan bingung.


Alseenio bertanya kepadanya tentang mendirikan sebuah Aviari luas untuk Burung Huai, dan dia tidak langsung memeriksa burung apa itu sebenarnya, ternyata setelah dicari di internet burung tersebut adalah burung yang telah punah.


Setelah Sugi mengatakan itu, Fara dan Fani ikut mencari nama Burung Huia di Gugel, dan hasilnya memang dikatakan telah punah.


Melihat mereka bertiga menatapnya penuh rasa ingin tahu seakan meminta penjelasan, Alseenio menjawab dengan senyuman, "Sebenarnya, aku menemukan burung itu sebelum pergi ke LA. Aku baru memberi tahu kalian karena aku pun baru ingat."


"Jangan bercanda, Sayang. Aku tidak pernah melihat burung itu bersamamu," kata Fara yang meragukan ucapan Alseenio.


Meski Alseenio hebat, bukan berarti bisa segalanya, bahkan bisa menemukan makhluk yang telah dinyatakan punah oleh dunia.


Alseenio menoleh untuk melihat Fara duduk di sampingnya dan menampilkan senyuman yang tampak serius tanpa ada perasaan yang main-main.


"Sudah aku bilang, tidak ada gunanya berbohong kepada kalian. Setelah kita sampai di rumah, aku akan menunjukkan burung-burung itu kepada kalian."

__ADS_1


Berbohong dan bercanda kepada mereka perihal yang serius tidak ada manfaatnya untuk Alseenio.


Setelah Alseenio mengatakan itu, Fara dan lainnya menantikan burung yang sudah dikatakan punah itu di rumah.


Mereka percaya Alseenio, apalagi ketika Alseenio sudah mengklarifikasi hal tersebut.


Hampir 19 jam Alseenio dan lainnya di dalam pesawat dalam penerbangan menuju rumah, akhirnya mereka tiba di rumah dan disambut oleh orang-orang di rumah.


Setibanya di rumah, hari sudah menjadi gelap, bahkan bisa dibilang sudah larut malam hampir ingin pagi.


Begitu kembali ke rumah, mereka semua masuk ke dalam kamar untuk tidur.


Kedua orang tua Fara, Gondals, dan Bella juga kembali ke kamar masing-masing usai menyambut mereka pulang dari bandara, melanjutkan tidurnya yang dijeda.


Saat mereka semua tidur, Alseenio diam-diam keluar dari kamar untuk pergi ke taman yang gelap.


Bermodalkan cahaya dari senter ponselnya, dia ke taman samping rumah untuk mengeluarkan Burung-burung Huia yang disimpan di dalam ruang penyimpanan Sistem.


Dengan suara kicauan burung, mereka semua pergi ke atas pepohonan yang tinggi dan mencari tempat untuk nyaman bertengger.


Berikutnya, dia meminta salah satu dari mereka untuk mendekatinya dengan ucapan yang ringan dan suara yang kecil.


Tak lama kemudian, satu burung terbang dan bertengger di atas bahu Alseenio, Burung Huai satu ini langsung berkicau seolah sedang bertanya tentang sesuatu kepada Alseenio.


Alseenio menampilkan senyum dan berkata, "Kalian akan tinggal di sini untuk waktu yang lama. Jika kalian merasa kurang luas, aku akan membuat taman lain untuk kalian di halaman depan."


Setelah mengatakan itu, Burung Huai ini berkicau menyahut ucapan Alseenio dengan senang hati.


Burung Huia tersebut terbang dari bahu Alseenio dan bertengger di salah satu pohon tinggi di taman.


Taman di rumah Alseenio terbilang cukup luas, ada sepuluh pohon besar yang di taman ini dengan jenis yang berbeda. Tampak rindang dan sejuk.


Seharusnya, tempat ini disukai burung-burung.


Alseenio akan membuat taman ini cocok untuk populasi Burung Huai.


Sekarang dia butuh tidur untuk mentalnya meski tubuhnya tidak terlalu membutuhkan istirahat.

__ADS_1


Masuk ke dalam rumah Alseenio langsung pergi ke kamar dan menjatuhkan tubuh di atas kasur.


Hidup Alseenio sangat-sangat mudah berkat adanya Sistem. Di dalam hatinya, Alseenio sangat berterima kasih kepada Sistem karena telah mengubah hidupnya menjadi jauh lebih baik.


Dia telah mengalami kebahagiaan dan rasa senang yang begitu besar sejak adanya Sistem.


Banyak sekali yang dia bisa lakukan, bahkan membeli perusahaan bukan suatu yang sulit baginya.


Sebenarnya, ada satu keinginan Alseenio yang ingin dia capai, yaitu membeli perusahaan Indobgst, salah satu provider terbaik di Indonesia.


Alasan Alseenio ingin membeli perusahaan ini karena ingin mengubah perusahaan ini menjadi lebih baik.


Setidaknya, ketika dia sedang bermain gim menggunakan ponsel dan kartu SIM tidak mengalami lag atau jaringan jelek sehingga performa mainnya sangat menurun, dan kesenangan dalam bermain gim menghilang.


Rencana ini sudah dibuat oleh Alseenio sejak lama, tetapi dia belum menjalankannya karena ingin tahu betapa buruknya provider satu ini.


Juga, ada satu keinginan yang baru ingin direncanakan, yaitu membeli sebuah perusahaan saingan Tokopedia miliknya.


Perusahaan belanja daring ini sangat mengganggu Alseenio ketika bermain ponsel, terlebih saat membuka mesin pencarian, ketika salah menekan sesuatu di layar, iklan dari perusahaan tersebut selalu muncul dan mengalihkan layarnya untuk mengunduh aplikasi itu.


Sangat-sangat menyebalkan. Alseenio sangat ingin memusnahkan aplikasi tersebut dari muka Bumi karena saking mengganggunya iklan yang perusahaan itu buat.


Saat pagi hari datang, Alseenio bersama Fara, Sugi, dan Fani datang ke taman untuk melihat spesies burung yang telah punah.


"Di mana burungnya?" Fara melihat ke atas pohon dengan rasa penasaran yang tinggi.


Sugi dan yang lainnya pun melakukan hal yang sama, tetapi mereka tidak menemukan satu burung pun di atas pohon.


Mendengar pertanyaan Fara, Alseenio menunjukkan senyuman yang penuh arti, kemudian berkata, "Hei, kalian! Keluar dan datang kepadaku!"


Suara Alseenio terdengar cukup keras, tetapi tidak sampai mengganggu Gondals dan orang di rumah mendengar ucapannya.


Begitu suara itu jatuh, Fara dan yang lainnya melihat gerombolan burung berwarna hitam dengan warna paruh yang berbeda terbang dan mendarat di depan mereka semua.


Kicauan khas Burung Hiau terdengar, seolah mereka sedang menyahuti Alseenio yang memanggil mereka.


"Bagaimana? Bukankah mereka ini Burung Huai yang telah punah itu?"

__ADS_1


__ADS_2