
[Informasi Dasar.]
Nama : Fara Nisa.
Kelamin : Wanita.
Umur : 20 tahun.
Tinggi : 163 cm.
Penampilan : 666 poin.
Kemurnian : 100 poin.
Pemain : 0 orang.
[Wanita tercantik di dunia ini, melebihi wanita cantik di berbagai zaman dahulu yang ada di masa lalu, bahkan di zaman masa depan dan di dunia paralel lainnya.]
Alseenio mundur ke belakang hingga menabrak kursi khusus gim sebelum akhirnya berhenti.
Tatapannya terfokus pada layar virtual yang mengambang di depannya yang terdapat informasi dasar tentang Fara.
“Wanita tercantik di semua multiverse?“ Alseenio bergumam tidak percaya dengan data yang ditampilkan oleh kemampuan Sexeyes miliknya sendiri.
Melihat reaksi Alseenio yang menghebohkan, Fara langsung menghampiri Alseenio dan bertanya, “Nio? Kamu tidak apa-apa, kan?“
Suara khawatir yang terdengar lembut dan manis terdengar oleh Alseenio, kemudian ia mengalihkan pandangan matanya ke sosok wanita cantik di depannya.
Zhingg!
Sebuah kilauan memancar keluar dari wajah Fara dan itu menghalangi penglihatan Alseenio sementara waktu, kilauan tersebut terpancar bersama nyanyian ilahi yang dapat membuat hati bergetar.
Alseenio terpana sambil mengangkat tangannya untuk meminimalisir pancaran kilauan yang menghantam matanya.
Di detik berikutnya, kilauan tersebut menghilang dan digantikan oleh wajah cantik tanpa ada secuil pun cacat.
Mata, alis, hidung, bibir, dagu, bentuk wajah, telinga, kedua pipi, dahi, kelopak mata, dan semua anggota wajah tidak ada yang jelek, semuanya sangat indah dan memesona. Rambut hitam panjang yang tergerai ke belakang menambah kesan cantik yang lebih, ini wanita paling cantik yang dilihat oleh Alseenio semasa hidupnya.
Transgender tercantik yang penampilannya di atas 90 poin pun kalah oleh wanita di depan ini.
“Fara, ini kamu, kan?“ Alseenio bertanya dengan ragu-ragu.
Fara maju satu langkah ke depan agar lebih dekat dengan Alseenio, kemudian tangannya terulur untuk memegang tangan Alseenio. Setelah itu, tangan Alseenio diarahkan ke pipi lembutnya dan ia tersenyum.
“Ini aku, Fara Nisa yang selama ini kamu kenal,” ucap Fara dengan nada yang begitu lembut, mengalahkan kelembutan kain sutra.
“Fa–Fara?“ Alseenio masih tidak menyangka dan masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang. “Kamu tidak berbohong, kan?“
“Tidak. Inilah wajah asliku, kamu menyukainya?“ Fara memiringkan kepalanya dan tersenyum sangat manis.
__ADS_1
Dengan cepat Alseenio mengangguk. “Aku sangat menyukainya!“
Mustahil Alseenio tidak menyukai penampilan dari Fara yang sekarang, orang bodoh pun tahu harus memilih apa.
“Apa aku cantik?“ Fara bertanya sambil mendekatkan tubuhnya ke Alseenio, perlahan melingkari tangannya di pinggang Alseenio.
“Kamu tahu? Kamu wanita tercantik yang pernah aku temui dan lihat.“ Alseenio menjangkau pinggang Fara dan menatap wajah Fara dengan pandangan mata yang sangat lembut.
Pipi Fara berubah merah, ia tersipu setelah mendengar pujian dari Alseenio.
“Kamu ternyata sudah pintar menggoda wanita, ya.“ Fara mencubit kecil pinggang Alseenio dan tersenyum. “Pengecut yang aku kenal sudah berubah banyak.“
“Kamu juga, pemberani yang aku kenal, kini menjadi lemah lembut.“
“Lembut?“ Fara makin merah wajahnya dan bertanya dengan curiga.
Tangan kanan Alseenio terangkat kemudian memegang dagu Fara dengan hati-hati. “Sikapmu yang dewasa jauh lebih lembut daripada sifatmu saat kecil. Bagian tubuhmu yang aku pegang juga makin lembut.“
Alseenio sengaja memajukan wajahnya dan menatap Fara dengan tatapan yang bercanda.
“Nio! Jangan bahas itu!“ Pipi Fara menggembung bagaikan adonan yang mengambang, tampak sangat cantik dan imut.
Wajah marah Fara saja secantik ini, tidak bisa dibayangkan secantik apa jika wajahnya dibuat cantik secara sengaja.
“Bukankah itu kenyataan? Haha,” kekeh Alseenio sembari menatap wajah Fara yang berubah.
“Tidak-tidak, lebih baik aku memilih untuk dicium olehmu daripada dicubit.“
“Itu memang maunya kamu! Dasar, Pria!“ Fara memalingkan wajahnya dan mendengus.
“Asal kamu tahu, Fara. Cita-citaku sejak kecil adalah dicium olehmu, tetapi kelihatannya kamu tidak sudi menciumiku.“ Alseenio perlahan menundukkan kepalanya dan terlihat sedih.
“Eh?“ Kepala Fara dengan cepat bergerak dan memandang Alseenio. “Benarkah? Kamu tidak bercanda?“
“Tidak. Masalah hati tidak akan pernah aku jadikan sebuah candaan. “
“Umm … beneran?“ Fara bertanya dengan wajah yang sudah sangat memerah.
“Ya, aku tidak berbohong.“ Alseenio mengangguk tegas.
“Kalau begitu … ayo kita berciuman!“ Fara berkata dengan semangat, tetapi juga dengan rasa malu di wajahnya, ia berkata tanpa berani melihat wajah Alseenio.
“Ehh??“ Alseenio tercengang dan dia menatap Fara dengan ragu. “Kamu pasti bercanda ….“
“Tidak, aku sekarang serius, kamu mau atau tidak?!“ Fara mengajak sekali lagi dengan berani menatap langsung wajah Alseenio.
“Tentu saja aku mau, tidak mungkin aku menolak ajakan dari wanita yang sudah kenal aku sejak lama.“
“Kalau begitu … tunggu apa lagi?“
__ADS_1
“Baiklah!“
Segera, Alseenio memajukan bibirnya dan sedikit menunduk ke arah Fara.
Melihat Alseenio yang sudah memulai gerakannya, Fara pun ikut memajukan wajahnya sambil berjinjit.
Mereka berdua hampir bersamaan memejamkan matanya ketika bibir mereka berdua hendak bersentuhan.
Di detik berikutnya, Alseenio merasakan kelembutan yang luar biar di bibirnya, ditambah aroma wangi yang nyaman tercium dari hidungnya.
Sementara itu, Fara terkejut sesaat dan tubuhnya menjadi kaku di awal, tetapi beberapa detik kemudian ia mulai menikmati perasaan yang indah ini.
Fara merasa tersipu, jantungnya berdebar kencang saat bersamaan dengan pikirannya yang bertahap menjadi kosong.
Begitu pun Alseenio, hatinya sangat berdebar-debar dan tidak karuan.
Nyatanya, ini adalah pertama kali mereka berdua berciuman dengan seseorang. Mereka sama-sama pertama kali mencoba.
Adu bibir yang pertama berlangsung canggung di awal dan tidak terlalu bersemangat, durasinya pun hanya 1 menit.
Setelah melakukan ciuman pertama, mereka saling memandang dengan tatapan yang terkejut.
Pada saat berikutnya, mereka berdua memiliki satu pikiran yang sama, mereka memutuskan melakukannya lagi tanpa harus berbicara dan mengeluarkan satu kata pun.
Fara dengan gegas melompat ke tubuh Alseenio dan tangan Alseenio pun meraih tubuh Fara.
Mereka berdua melakukan adu mulut untuk kedua kalinya dengan gerakan yang sangat bersemangat.
Dua mulut itu saking menyedot satu sama lain, hingga Fara pun mengeluarkan suara yang aneh, sangat panas dan bergairah.
Alseenio tidak hanya sekadar mencium, kedua tangannya yang menggendong tubuh Fara pun ikut bermain, kerap kali jari-jarinya meremas bagian kenyal dan padat yang ada di bawah pinggul Fara, bagian itu memang kelihatan kenyal.
Beradu mulut pada sesi kedua ini berlangsung selama 10 menit, terpaksa dihentikan karena Fara memohon untuk berhenti, napasnya sudah tidak kuat.
Keduanya saling bertatapan selama beberapa detik, kemudian Fara turun dari pelukan Alseenio untuk mengambil tisu.
Wanita ini dengan inisiatif menyeka air liur di sekitar bibirnya, dan juga di sekitar bibir Alseenio. Otak Fara masih berjalan, ia ingat dengan tugasnya sekarang sebagai asisten pribadi Alseenio.
Setelah itu, Fara tiba-tiba memeluk erat Alseenio dan memendamkan kepalanya ke dalam pelukan Alseenio.
Merasakan ini, Alseenio membalas pelukan Fara dan menggosokkan pipinya ke rambut panjang Fara.
Untuk beberapa saat, mereka berpelukan untuk menikmati perasaan setelah melakukan hal yang luar biasa.
“Aku sayang kamu, Nio.“
“Aku lebih menyayangimu, Fara.“
Lebih dari 10 menit berselang mereka berpelukan, Fara yang ada di pelukan Alseenio mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Alseenio, kemudian ia berkata dengan wajah yang normal, “Jadi, kamu sudah mengerti alasan aku selalu memakai riasan?“
__ADS_1