
Pada saat ini, suasana di dalam gedung menjadi sunyi dan sepi, orang-orang yang memukuli Alseenio dan Gondals memberhentikan aksinya, menatap keduanya dengan wajah yang terpana.
“Kurasa sudah waktunya untuk membalas perbuatan kalian.“ Alseenio yang meringkuk di lantai tersenyum sangat aneh. Ia perlahan bangkit dan berdiri di depan kedelapan orang yang memukulinya. Setengah dari mereka memukuli Alseenio, padahal mereka hanya meminta tas Alseenio, itu bisa diambil paksa tanpa harus memukul.
Pada dasarnya, orang-orang ini senang sekali menyiksa orang, bahagia mendengar jeritan dan permohonan orang lain.
“Sebaiknya, jangan terlalu gegabah. Semua perbuatan kalian akan dibalas serupa pada waktunya, dan sekaranglah saatnya aku membalas kalian … atas dasar membela diri.“
Krek! Krek! Krek!
Suara renyah dari tangan Alseenio terdengar, ia sedang mempersiapkan diri untuk menghajar orang-orang sampah ini.
Melihat Alseenio yang berdiri dan berkata-kata yang tidak jelas, orang-orang ini hanya menertawakan Alseenio.
“Lucu sekali, Sialan! Anak ini kerasukan karakter anime!“
“Waduh adalah kata yang digunakan untuk mengekspresikan diriku sendiri terhadap segala sesuatu yang luar biasa.“
“Ada-ada saja. Bukannya minta ampun, malah sok berlagak kuat!“
“…”
Mendengarkan ejekan para preman ini, Alseenio sama sekali tidak bergerak, ia menatap mereka dengan senyuman menyeramkan di balik maskernya yang kotor.
“Habisi dia! Jangan beri kesempatan dia berbicara!“ Pria memakai topi itu berseru sambil menunjuk Alseenio dengan kejam di depannya.
Berikutnya, ketujuh orang tersebut bergegas secara bersamaan menuju Alseenio.
Melihat ini, Alseenio langsung bereaksi dengan cepat. Segala serangan yang diluncurkan oleh orang-orang ini ditangkis oleh Alseenio dengan indah dan mudah.
Tangan Alseenio bergerak begitu cepat untuk menangkap semua pukulan dan tinju yang membidik ke arahnya.
Sebuah pukulan melesat cepat dari arah kiri tubuh Alseenio, seolah mengetahui ini, tangan kiri Alseenio terulur dan menepak pukulan tersebut dengan santai.
Meskipun terlihat santai, kekuatan yang terkandung dari tamparan Alseenio begitu besar hingga pukulan tersebut terhempas menjauh dari tubuh Alseenio.
Tiba-tiba tendangan datar terbang ke arah tulang kering Alseenio, terlihat tendangan ini sangat serius. Namun, Alseenio sudah mengantisipasi dengan gerakan ini dan ia menghindar dengan cara mengangkat kakinya sangat cepat.
Belasan tangan dan kaki meluncur dari segala arah, Alseenio menangkap dan menahan semua serangan ini dan memberi serangan balik yang efektif.
Sekali terkena pukulan Alseenio, orang tersebut langsung tumbang dan pingsan.
Pukulan Alseenio tidak main-main, pukulan Alseenio setara ditabrak oleh mobil dengan kecepatan yang lumayan cepat.
Alseenio tidak membuat mereka cacat, hanya membuat mereka pingsan dengan memberikan luka memar yang luar biasa.
Sementara itu, Gondals juga melawan mereka semua setelah sekian lamanya ia bersabar.
Gerakan Gondals tidak kalah hebat dengan Alseenio, ia dengan tenang menjatuhkan mereka ke lantai.
Mereka hanya terlihat seram, tetapi kekuatannya tidak layak untuk dilihat oleh Alseenio dan Gondals.
Ada beberapa orang yang Alseenio dan Gondals biarkan lari, bukannya mereka kabur, melainkan kembali datang dengan membawa senjata tajam.
Jiwa pantang mundur tertanam di dalam diri mereka, sama sekali tidak ingin kalah oleh seseorang.
Sayangnya, seberapa banyak dan kuatnya mereka, mereka semua tidak bisa mengalahkan Alseenio seorang.
Tubuh Alseenio berubah menjadi bayangan hitam yang melesat begitu cepat bagai peluru pistol.
Tangannya dengan cekatan mengambil alih senjata yang dipegang oleh mereka semua sebelum mereka bisa bereaksi.
Melihat senjata yang mereka pegang berpindah ke tangan Alseenio, sontak mereka semua tertegun tidak bergerak. Wajah mereka dipenuhi oleh tanda tanya.
__ADS_1
Kapan Alseenio merebut senjata mereka?
Sebelum mereka bertindak untuk mengambil senjatanya kembali, lantas Alseenio membuat mereka semua pingsan di tempat.
Masing-masing dari mereka memiliki tanda biru yang gelap agak ungu redup, semua itu adalah bekas pukulan Alseenio yang mengakibatkan mereka pingsan.
Saat melihat gerakan Alseenio yang cepat ini, raut wajah Gondals terlihat tidak biasa, ia menatap Alseenio dengan pandangan mata yang tajam dan menyipit.
Gondals sendiri bingung dengan Alseenio. Mengapa gerakan serangan Alseenio begitu efesien dan praktis? Ia sendiri tidak pernah melihat gerakan bertarung yang bagus semacam ini.
Selama dirinya menjadi seorang pengawal dan mata-mata kelas atas, tak pernah sekali pun melihat teknik bertarung yang bagus seperti ini.
Gondals tidak tahu bahwa gaya bertarung Alseenio masih masuk ke dalam beberapa teknik bela diri yang dicampur dan disederhanakan oleh Alseenio.
Hal ini karena teknik bela diri Alseenio berada di tingkat dewa, bukan suatu yang sulit baginya untuk menyederhanakan beberapa teknik dari berbagai jenis bela diri yang ia punya.
Tak heran jika Gondals melihatnya sebagai teknik bela diri yang baru.
Selain itu, kelincahan tubuh Alseenio membuat Gondals sangat terkejut, ini melebihi kelincahan istrinya. Istrinya, Bella terkenal dengan tubuhnya yang sangat cepat dan licin, dia yang bisa menyerang orang dengan waktu yang singkat.
Berbanding terbalik dengannya, ia terkenal karena kekuatannya, tetapi gerakannya tidak secepat Bella. Sebaliknya, kekuatan pukulan Bella tidak sekuat Gondals.
Namun, kasus Alseenio tampaknya berbeda, Gondals bisa merasakan bahwa setiap pukulan yang Alseenio lempar tidak sepenuhnya kekuatannya dikeluarkan, seakan sengaja ditahan oleh Alseenio.
Meskipun demikian, dampak dari pukulan Alseenio setara dengan pukulan miliknya sendiri.
Alseenio melihat dengan aneh Gondals yang berdiri diam sembari menatap dirinya. Daripada diam seperti itu, Alseenio menyuruh Gondals untuk melakukan sesuatu.
“Gondals, mari kita ikat mereka semua! Jangan lupa untuk telepon polisi setempat untuk menahan mereka semua.“
“Baik! Laksanakan, Tuan!“ Gondals mengangguk dan berjalan untuk memulai mengikat penjahat kecil-kecil ini yang terbaring di atas lantai.
Di dalam situasi seperti ini, Gondals biasanya menyebut Alseenio dengan formal, jika di rumah ia akan menyebut kembali nama Alseenio layaknya seorang teman dan keluarga.
Selanjutnya, Gondals menelepon polisi terdekat meminta mereka untuk datang ke gudang atau markas para penjahat ini.
Para polisi akhirnya tiba setelah Alseenio dan Gondals menunggu lebih dari 20 menit lamanya, mungkin karena medan perjalanan yang tidak mulus membuat mereka datang agak lama.
Setelah sampai di gudang, para polisi mulai mengamankan mereka semua, kebetulan para preman ini sadar dari pingsannya begitu polisi datang untuk membawa mereka ke kantor polisi.
Di kantor polisi, mereka semua didata dan dicari riwayat kejahatannya, ternyata semua dari mereka merupakan pelaku kejahatan yang dicari oleh polisi.
Bukannya polisi yang tidak benar dan tidak becus, melainkan para preman ini sangat jarang keluar dari markas semenjak kejadian bosnya yang berhasil tertangkap. Laporan mengenai kejahatan mereka pun berkurang, polisi mengira mereka sudah berhenti berbuat jahat atau lainnya.
Sesuai dengan rencana Alseenio dan Gondals, semuanya berjalan dengan lancar, keduanya terbebas dari pasal kekerasan karena dianggap sebagai membela diri. Ada bukti rekaman video dan suara.
Kamera diletakkan di dalam tas, pemandangan ketika mereka memukul Alseenio dan Gondals tertangkap di sini, bahkan termasuk pembicaraan mereka yang mengancam Alseenio dan Gondals untuk memberikan harta berharga.
Banyak pasal yang mengikat 17 orang. Kasus penusukan yang terjadi juga berkaitan dengan orang-orang tersebut. Terkena pasal berlapis-lapis, bagaikan wafer.
Sejujurnya, Alseenio ingin membalas mereka semua dengan tinjunya sampai mereka semua tidak bisa bangun dari kasur rumah sakit sampai bertahun-tahun, tetapi ada rasa kemanusiaan yang tersimpan di dalam tubuh dan hatinya sehingga Alseenio sangat sulit untuk mewujudkan hal tersebut.
Hasil ini memang yang terbaik yang bisa Alseenio lakukan.
Zaman sekarang ini bukanlah zaman dahulu yang tak ada undang-undang dan peraturan tentang kekerasan. Oleh sebab itu, serahkan penjahat pada wewenang yang bersangkutan, tak perlu ia hakimi sendiri sampai mati.
Berdoa dam berharap semoga pemegang kekuasaan hak tersebut menjalankan tugasnya dengan baik, paling tidak memberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatan jahat yang dilakukan oleh sang pelaku.
Sebelum pulang, Alseenio dan Gondals kembali ke kampung halaman Fara, di sana mereka berkeliling untuk memantau orang-orang, dikhawatirkan ada beberapa anak buah tukang memberi utang yang masih berkeliaran dan melakukan tindakan berbahaya, seperti yang terjadi pada Ayah Fara. Sangat memprihatinkan.
Mereka berdua berkeliaran di kampung Fara sampai sore menjelang. Mereka di sini tidak hanya sekadar mengintai, juga ia mengamati pembangunan usaha yang dijalankan oleh keluarga Fara.
Terdapat bangunan yang di mana tempat sebelumnya adalah tempa rumah Fara berdiri, sebentar lagi bangunan dua lantai ini akan jadi dan siap digunakan untuk bisnis.
__ADS_1
Seperti yang ayah dan ibu Fara rencanakan, bangunan ini akan disewakan untuk orang yang ingin usaha atau berdagang.
Ada beberapa tanah yang Alseenio beli di sini, tanah tersebut akan diberikan kepada ayah dan ibu Fara sebagai hadiah karena telah menjaga Fara. Entah ingin digunakan untuk apa, tetapi Sugi sudah merencanakan bisnis untuk kedua orang tua Fara, jika mereka mau, Sugi akan memberikan proposal tersebut.
Mereka pergi di sore hari dan kembali ke rumah sakit di malam hari.
Di rumah sakit hanya ada Ibu Fara yang menjaga Ayah Fara yang tengah tidur dan beristirahat pasca-operasi.
Alseenio memberi bekal yang ia beli di restoran kepada Ibu Fara. Ibu Fara tidak mau pulang, ia ingin tidur di sini dan menunggu suaminya sampai besok. Ibu Fara menolak tawaran Alseenio yang menggantikan dirinya menjaga Ayah Fara.
Ibu Fara lega mengetahui semua pelaku kejahatan semuanya dipenjara sampai ke akar-akarnya. Ibu Fara khawatir Alseenio terluka, ia sampai memeriksa keadaan Alseenio, bahkan merawat beberapa luka lebam Alseenio. Gondals tidak bisa menolak perhatian ini, ia juga dirawat lukanya oleh Ibu Fara, padahal di sana ada suster dan dokter yang lebih profesional.
Tidak mengapa, luka ringan bukan suatu yang harus dipermasalahkan.
Dengan begitu, Alseenio dan Gondals pulan di jam 10 malam menuju mansion, meninggalkan Ibu Fara dan Ayah Fara di rumah sakit.
“Sayang!“ Fara berlari mendekati Alseenio yang sedang berjalan dari pintu rumah. Ia menatap Alseenio dengan wajah yang penuh rasa cemas dan bimbang. “Kamu tidak apa-apa, kan? Tidak ada yang terluka, kan?“
“Baby! Mengapa kamu terluka seperti ini?!“
Baru saja Alseenio membuka mulutnya, Bella sudah mengeluarkan kalimatnya kepada Gondals.
Dengarkan suara Bella yang tinggi, perhatian Fara langsung teralihkan untuk melihat Gondals dan Bella.
Saat melihat keduanya, Fara melihat Gondal yang bajunya dibuka oleh Bella dan tubuhnya dipenuhi oleh luka memar akibat hantaman benda tumpul.
Mengetahui ini, Fara segera kembali memandang Alseenio dan tanpa basa-basi lagi membuka baju Alseenio secara paksa di tempat.
Ketika dibuka, Fara melihat tubuh Alseenio yang penuh otot indah sudah tercemar oleh noda biru dan ungu bekas pukulan orang-orang.
Mata Fara mulai digenangi air mata, kemudian ia memeluk Alseenio dengan hati-hati. “Sayang, jangan terluka lagi seperti ini. Aku sangat takut, aku takut kehilanganmu ….“
Alseenio tidak menjawab, ia hanya menanggapi dengan pelukan sambil mengusap rambut dan punggung Fara. Membiarkan Fara menangis di pelukannya.
“Tolong jelaskan mengapa kamu bisa mendapatkan luka sebanyak ini?“ Bella sedikit marah kepada Gondals dan ia meminta penjelasan.
Setelah mendengar ucapan Bella, Gondals menerangkan alasan dirinya mendapatkan luka-luka ini.
Bella langsung mengerti, ia mengangguk dan tak jadi marah. Bella memeluk Gondals dan memberinya ciuman kehangatan.
Keduanya pergi ke kamar, Bella mengobati luka-luka Gondals. Meski sudah diobati oleh Ibu Fara, Bella harus mengobati luka Gondals secara hati-hati dan baik. Suaminya harus lebih diperhatikan dan dirawat sangat hati-hati.
Fara pula melakukan hal yang sama, dia membawa Alseenio untuk pertama kalinya ke kamarnya. Ia merawat luka-luka yang tercetak di sekujur tubuh Alseenio.
Setelahnya, mengantarkan Alseenio ke kamarnya sendiri. Tak lupa ia memberikan kecupan selamat malam kepada Alseenio.
[Ding! Hadiah dari Misi Pembalasan Dendam disimpan di dalam ruang sistem! Apakah Anda ingin mengintegrasikan kemampuan?]
Berhasil memenjarakan para preman menjadi misi Sistem, Alseenio mendapatkan misi tersebut di pagi hari. Oleh karena itu, ia dengan senang hati menghajar preman tersebut.
Hadiah yang didapatkan berupa 20 nilai penampilan, Kemampuan Menembak Pistol Tingkat Dewa, dan Saham Perusahaan AlsCorp di AS sebesar 50%.
AlsCorp merupakan perusahaan tentara bayaran atau keamanan terbaik di dunia, perusahaan ini adalah tempat Gondals dan Bella berasal.
AlsCorp berdiri di negara Amerika Serikat, memiliki lebih dari 30.000 pasukan, 15 pesawat tempur, puluhan kendaraan lapis baja, dengan tempat pelatihan militer yang memiliki luas 8.000 hektare di California. Selain itu, ada beberapa cabang yang didirikan dan tersebar ke beberapa negara.
Memiliki laba bersih lebih dari 94 triliun untuk tahun ini. Sangat besar, sebab banyak yang memakai jasa keamanan dari perusahaan AlsCorp.
Sebuah berkas kepemilikan saham jatuh di atas kasur, dan hadiah berupa kemampuan serta lainnya mulai menyatu pada tubuh Alseenio.
Saking tingginya penampilan Alseenio, nilai penampilan bertambah 20 poin terasa tidak ada efeknya sedikit pun.
Kemampuan menembak menggunakan pistol langsung dikuasai oleh Alseenio, otot pada bahunya sudah beradaptasi, tak masalah untuk menembak menggunakan satu tangan.
__ADS_1
“Aku bingung, apakah aku harus menerima undangan televisi ini atau tidak?“