
[Ding! Berhasil Menyelesaikan Misi dan Dapatkan Harley DavidDisini CVO Limited, Tempramen Lembut.]
[Hadiah telah diberikan!]
Dalam sekejap, seluruh tubuh Alseenio mengeluarkan pancaran aura yang berbeda. Terdapat kelembutan yang menyelimuti tubuhnya sehingga orang yang melihatnya akan merasa nyaman dan tidak merasa asing.
Setumpuk kertas yang berisikan dokumen dan surat-surat kelengkapan sepeda motor jatuh di bagasi mobil, Alseenio diberitahukan mengenai kertas ini.
Alseenio yang mendengar informasi dari sistem terus melanjutkan mengendarai mobil menuju rumah Fara yang ada di Sukabumi.
Di dalam mobil, Alseenio dan Fara mengobrol tentang masa kecilnya yang menyenangkan, kemudian tiba-tiba Alseenio ingat bahwa ia ingin menanyakan kondisi keluarga dan Fara sekarang.
“Orang tua di rumah bagaimana? Sehat, 'kan?“ tanya Alseenio sambil menyetir mobil.
Fara menoleh ke arah Alseenio dan mengangguk. “Papah mamah sehat, mereka baik-baik saja di rumah.“
“Papah masih kerja di pabrik air minum?“
Alseenio tahu ayah Fara bekerja di sebuah pabrik yang memproduksi air mineral yang terkenal, itu diberi tahu oleh Fara waktu di SMP.
Setelah mendengar pertanyaan Alseenio ini, Fara langsung mengubah wajahnya dan menunduk. “Sudah tidak, sekarang papah bekerja serabutan dan mamah ikut membantu dengan bekerja sebagai buruh cuci baju.“
Alseenio sedikit tersentak karena terkejut mendengar kondisi orang tua Fara di sana.
Dahulu saat kecil, Alseenio ingat jelas bahwa keluarga Fara baik-baik saja, seperti tidak ada kekurangan di segi ekonomi di keluarganya.
Kenapa setelah pindah menjadi seperti ini?
“Kenapa bisa begitu? Apakah papah Fara terkena—”
“PHK, pemutusan hubungan kerja di tahun 2020 kemarin. Kamu pasti sudah tahu alasannya kenapa,” sela Fara yang masih menundukkan kepalanya.
Alseenio mengangguk dan menjawab, “Ya, aku tahu.“
Tahun 2020 banyak sekali perusahaan yang memutuskan hubungan kerja dengan karyawannya secara massal hingga awak berita pun banyak yang meliput. Peristiwa ini terjadi akibat adanya pandemi yang menyebar sampai ke Indonesia. Tidak perlu dijelaskan lagi, semuanya terus merembet hingga akhirnya banyak pekerja yang diberhentikan.
“Jadi, sekarang kamu kuliah atau kerja?“
Pertanyaan inilah yang ingin dilontarkan oleh Alseenio kepada Fara dan akhirnya kesampaian juga.
“Aku kerja, Nio. Aku harus membantu orang tua, sebagai anak tunggal aku harus bisa diandalkan,” ucap Fara tersenyum tanpa memandang Alseenio yang tengah mengendalikan mobil.
Begitu mendengar jawaban ini, Alseenio tertegun sesaat dan merasa sedih. Dari apa yang dikatakan oleh Fara, bisa disimpulkan bahwa keluarga Fara sedang tidak baik-baik saja.
“Kamu bekerja di mana?“ Alseenio masih ingin tahu mengenai Fara.
“Aku bekerja di toko baju kecil di Kota Sukabumi,” jawab Fara dan menoleh melihat wajah Alseenio yang sudah tidak mengenakan kacamata.
“Memangnya kenapa? Jangan bilang kamu ingin membantuku, aku tidak perlu bantuanmu, Nio.“
Alseenio terkejut beberapa saat dan menggelengkan kepalanya.
Ternyata niatnya yang di bagian hati yang terdalam dan belum diungkapkan langsung bisa ditebak oleh Fara.
Sebuah rencana langsung terbentuk di kepalanya dan digerakkan oleh hati nuraninya, yaitu Alseenio ingin membantu Fara dan keluarga. Namun, itu sudah ditolak lebih dahulu bahkan sebelum sempat ia katakan.
Sifat dan sikap ini masih sama dengan Fara yang dahulu, waktu SMP ketika Fara sedang membutuhkan bantuan, wanita ini sangat enggan sekali untuk meminta tolong kepada orang lain, termasuk kepada Alseenio, tetapi saat sedang terdesak Fara akan meminta bantuan kepadanya.
Oleh karena itu, Alseenio menuruti egonya sekarang, tetapi Alseenio akan memerhatikan Fara dan keluarga, pasalnya keluarga Fara baik kepadanya terasa seperti keluarga kedua, sebagai anak yang baik dan tampan, ia harus membalas kebaikan keluarga Fara.
“Tidak, aku belum ingin membantumu. Aku tahu kamu itu kuat untuk melewati rintangan ini semua, tetapi … jika kamu tidak kuat, kamu harus menghubungi aku, oke?“ ucap Alseenio sambil menatap sepasang mata jernih Fara.
“Baiklah, tetapi aku usahakan untuk tidak meminta bantuan kepadamu.“ Fara mengangguk sedikit enggan.
Tepat ketika mengatakan kalimat itu, terlihat wajah Fara yang terlihat rumit dan berubah-ubah, sepertinya hati dan ucapannya tidak sinkron satu sama lain.
Alseenio menggelengkan kepalanya dan menghembuskan napas, dan berkata, “Ya, terserah pilihanmu. Terpenting kamu harus ingat, aku telah kembali lagi di kehidupanmu, jangan anggap aku itu tidak ada lagi.“
Fara mengangguk dan diam, dan untuk sementara waktu di dalam mobil menjadi sunyi.
Beberapa jam kemudian, mobil Avanza Bang Windi sampai di suatu perkampungan yang ada di pinggir kota Sukabumi.
Langit sudah malam dan perkampungan di sini sudah sepi.
Mobil yang Alseenio bawa telah sampai di depan sebuah rumah tidak begitu besar dan kecil yang bahan bangunannya terbuat dari batako yang rapuh.
Rumah ini terlihat tua dan beberapa bagian rumah terlihat catnya sudah terkelupas.
Ketika mobil sedan berwarna hitam ini berhenti, tiba-tiba dari dalam rumah keluarlah seorang pria tua dan wanita yang cukup tua.
Keduanya pasangan tua yang adalah pemilik rumah dan juga orang tua Fara.
Seorang pemuda tinggi keluar dari mobil dan berjalan ke sisi mobil yang lain untuk membuka pintu.
Melihat ini, orang tua Fara bingung dan tidak mengenali siapa pemuda tersebut.
“Mobil siapa ini?“ tanya Mamah Fara kepada suaminya.
Papah Fara mengangkat bahunya dan berkata, “Tidak tahu, tetapi Papah sepertinya pernah melihat pemuda yang keluar itu.“
__ADS_1
“Siapa?“
“Tidak tahu.“
Wajah Mamah Fara menjadi masam setelah mendengar jawaban suaminya.
Mereka berdua terus melihat gerakan pemuda tersebut hingga hendak membuka pintu mobil yang satunya.
“Omong-omong, Fara sudah pulang?“ tanya Mamah Fara yang belum melihat Fara pulang ke rumah.
“Tidak tahu, seharusnya dia sudah pulang jam segini,” jawab Papah Fara yang merasa ada sesuatu yang salah. “Jangan-jangan Fara diculik oleh mereka?“
“Hush! Jangan ngomong seperti itu!“ Mamah Fara menepuk keras tangan Papah Fara.
Papah Fara mengusap tangannya yang ditepuk keras dan berkata, “Lalu, di mana Fara seka—”
“Fara!“ Mamah Fara memotong ucapan Papah Fara dan ia berseru ketika melihat seorang wanita yang keluar dari mobil yang berhenti di depan rumah mereka.
Mamah Fara segera berlari menuju Fara yang sedang berjalan bersama bersama Alseenio.
Kemudian mamah Fara memeluk Fara dengan erat, rasa khawatir karena Fara belum pulang akhirnya menghilang.
“Akhirnya anakku pulang, Mamah sudah khawatir kamu belum pulang padahal hari sudah malam!“
Mamah Fara merasa lega setelah melihat Fara pulang dengan selamat, ia sedari tadi sore sudah berpikir berlebihan tenang anak satu-satunya ini, takut diapa-apakan oleh seseorang.
Papah Fara yang melihat ini pun tersenyum dan berjalan perlahan menuju ketiganya.
“Kamu habis ke mana? Kayaknya kamu bukan pergi kerja, soalnya Mamah lihat baju yang biasa kamu pakai untuk kerja masih ada di kamar,” kata Mamah Fara sambil menatap wajah Fara.
Fara menggaruk kepala dan berkata, “Bukannya Fara sudah menaruh surat di atas meja makan? Mamah tidak tahu?“
“Surat?“ Mamah Fara bingung, ia tidak melihat kertas di atas meja makan.
“Oh, kertas putih itu, ya?“ celetuk Papah Fara.
“Iya, pah.“ Fara mengangguk. “Papah tahu?“
“Oh itu …. Kertasnya Papah jadikan tatakan gorengan tadi, hehe ….“ Papah Fara tersenyum canggung dan sedikit tertawa.
Mamah Fara segera memicingkan matanya dan menatap tajam suaminya yang melakukan hal konyol.
Papah Fara segera mengalihkan pembicaraan karena takut oleh istrinya. “Eh, siapa pemuda ini?“
Alseenio yang sedari tadi ada di samping Fara, akhirnya dilirik juga setelah beberapa menit diam dan menjadi penonton.
“Halo, Papah Fara. Ini aku Alseenio.“ Alseenio bersalaman dengan Papah Fara dan mencium tangan, salaman tradisi orang Indonesia.
Alseenio tersenyum dan bersalaman kepada Mamah Fara yang juga sedang mengingat nama Alseenio di dalam hidupnya.
“Alseenio, anak laki-laki yang berteman denganku waktu kecil di Jakarta itu, Mah, Pah.“
Setelah kalimat itu jatuh, Papah dan Mamah Fara langsung mengingat sesosok anak kecil yang suka sekali dengan putri satu-satunya ini.
“Oh … itu. Papah tahu,” kata Papah Fara dan memandangi sosok Alseenio dari ujung sepatu hingga ujung rambut.
Papah Fara menepuk bahu Alseenio pelan dan berkata dengan senyum, “Ternyata itu kamu, sudah besar, ya. Aku ingat kamu masih sekecil botol air minum beberapa tahun yang lalu, juga kamu sekarang jauh lebih tampan dariku di masa muda.“
Alseenio hanya bisa tersenyum lebar mendengarkan kata-kata Papah Fara.
“Ya ampun, kasep pisan kamu teh, Alseenio!“ Mamah Fara segera melihat-lihat wajah Alseenio dari segala sisi. “Mamah Fara ingat kamu itu waktu kecil kulitnya berwarna hitam, sekarang kamu putih kayak artis-artis di televisi!“
Mulut Alseenio sempat berkedut ketika mendengar kata “hitam” dan ia membalas tersenyum. “Haha, namanya juga manusia, Mamah Fara. Pastinya berubah.“
“Ya sudah, ayo masuk ke dalam!“
“Tunggu, mah. Alseenio bawa makanan untuk mamah sama papah,” kata Fara yang ingat bahwa mereka berdua membawa makanan yang dibeli di perjalanan.
“Sini Papah bantu.“ Papah Fara hendak mengambil makanan yang ada di dalam mobil.
“Tidak usah, Papah Fara. Biar Alseenio saja.“
“Tidak-tidak, biar Papah Fara bantu juga.“ Papah Fara bersikeras untuk membantu membawa barang.
Alseenio pasrah dan membiarkan barang-barang yang ada di dalam mobil dibawa ke dalam rumah.
Di dalam rumah, banyak sekali banyak tas belanja dan beberapa kantong plastik yang terdapat makanan.
Tas belanja itu berisi 5 set pakaian Canel untuk Fara, juga diam-diam terselip kalung emas yang Alseenio beli ketika membeli makanan di pinggir jalan, kebetulan di sana terdapat toko emas yang masih buka.
“Woah banyak sekali!“ seru Mamah Fara ketika melihat barang bawaan yang ditaruh di atas lantai. “Siapa yang beli ini?“
“Itu, Nio.“ Fara menunjuk Alseenio dengan lantang.
“Sepertinya kamu sudah sukses, Nio. Kamu sudah punya mobil dan banyak uang. Mamah Fara senang melihat kamu seperti sekarang ini. Pasti mendiang Mamah dan Papah kamu juga ikut senang karena kamu sudah sukses seperti ini.“ Mamah Fara menatap Alseenio dengan kasih sayang layaknya seorang ibu.
“Semoga saja,” jawab Alseenio sambil tersenyum.
Hati Alseenio merasa sedih dan senang di waktu bersamaan. Semoga saja orang tuanya senang melihat anaknya tidak kesulitan dalam hidup.
__ADS_1
Mereka berempat mengobrol di sana bertanya-tanya mengenai kehidupan Alseenio setelah mereka pergi, mereka terkejut ketika mendengar bahwa Alseenio bekerja di sebuah perusahaan besar, aslinya ia tidak bekerja sama sekali, Alseenio berbohong kepada mereka untuk sementara waktu karena belum siap mengungkapkan identitasnya.
Selain itu juga, Mamah Papah Fara meminta maaf secara langsung kepada Alseenio karena tidak sempat datang ketika upacara pemakaman orang tua Alseenio dilaksanakan.
Alseenio memaklumi mereka sebab, dari cerita sebelumnya yang diungkapkan oleh Mamah dan Papah Fara bahwa keluarganya sedang masa sulit, tingkat ekonominya tidak sekuat yang dahulu.
Namun, Mamah dan Papah Fara memesan kepada Alseenio untuk tidak perlu memikirkan mereka, fokus mengurus kehidupannya sendiri dan terus berkembang, mereka bilang mereka sudah tidak apa-apa sekarang.
Padahal Alseenio tahu betul mengenai keluarganya mereka sekarang, banyak peralatan rumah tangga yang sudah tua dan usang, bahkan Alseenio bisa melihat peralatan masak yang ditutupi noda hitam bekas api kompor.
Tampaknya juga hari ini Mamah Fara tidak memasak makanan.
Beruntungnya Alseenio membawa makanan untuk mereka bisa makan bersama.
Fara memberitahukan bahwa baju-baju ini diberikan oleh Alseenio dan Mamah Papah senang dengan pemberian Alseenio, hal ini membuat Alseenio malu.
Akan tetapi, mereka ingin menolak pemberian kalung emas 20 gram 24 karat yang Alseenio belikan.
Setelah dibujuk dan diyakinkan secara terus menerus, keluarga Fara menerima hadiah ini.
Mereka sempat menangis ketika mendapatkan hadiah hadiah yang sebesar ini, tetapi mereka tidak tahu bahwa total keseluruhan baju Fara yang dibelikan oleh Alseenio melebihi harga emas.
Hari ini Alseenio telah mengunggah 2 video yang tersisa dari 3 video yang kemarin direkam, untuk hari ini Alseenio bisa santai dan mengedit video via ponsel pintar.
Alseenio dipaksa oleh orang tua Fara untuk menginap di sini satu malam. Dikarenakan sudah larut malam.
Mau tidak mau, Alseenio menerima dan mengamankan mobil Bang Windi terlebih dahulu.
Ia kira dirinya akan tidur bersama Fara, ternyata Alseenio tidur bersama Papahnya Fara di kamar orang tua Fara, sedangkan Mamah Fara dan Fara tidur di kamar Fara.
Harapannya pupus setelah satu detik berharap.
Keesokan paginya, Alseenio berpamitan dengan Fara dan orang tuanya, tidak lupa Fara memberikan nomor teleponnya kepada Alseenio sebelum pulang.
Mereka bertiga menyaksikan Alseenio pergi dan terus memandang bagian belakang mobil yang perlahan menjadi kecil dan menghilang.
Fara dan kedua orang tuanya masuk ke dalam rumah, dan Papah Fara tidak lama kemudian keluar sembari membawa sepatu bot dan cangkul.
Papah Fara berangkat untuk bekerja karena hari ini ada yang membutuhkan jasanya.
Fara dan Mamah Fara ditinggalkan berdua di dalam rumah.
“Fara, kamu tidak memberi tahu kondisi keluarga kita sebenarnya, kan?“ Mamah Fara tiba-tiba bertanya kepada Fara.
“Tidak, Mah.“ Fara menggelengkan kepalanya.
“Bagus. Mamah merasakan bahwa Alseenio ini mirip sekali sifatnya dengan ayahnya yang dermawan, Mamah tidak ingin dia merugi karena membantu kita.“
Sebenarnya masalah keluarga Fara tidak hanya seputar PHK, melainkan ada hal yang lebih serius.
“Mamah yakin, kita bertiga bisa menyelesaikan masalah ini,” ujar Mamah Fara kepada Fara. “Maafkan Mamah dan Papah, Nak. Sudah membuat masa depanmu terhambat.“
Mamah Fara tiba-tiba memeluk Fara karena ia merasa bersalah karena telah membawa anaknya ke dalam masalah ini.
“Tidak apa-apa, Mah. Fara senang bisa membantu, maaf juga kalau Fara tidak bisa membahagiakan Mamah Papah.“ Fara membalas pelukan erat dari Mamahnya.
Mereka berdua saling berpelukan seraya mengeluarkan air mata. “Melihat kamu ingin membantu Mamah dan Papah yang sedang kesulitan juga sudah membuat Mamah bahagia, Nak.“
Mulut Fara bergetar dan hendak berbicara lagi, tetapi ia tidak bisa.
Air mata pun pecah dan Fara memeluk erat Mamahnya.
Sementara itu, Papah Fara sedang berjalan menuju tempat seseorang yang memintanya untuk datang bekerja, tiba-tiba tubuhnya bergidik dan air matanya menetes perlahan.
Sebenernya, Papah Fara sudah lelah, akibat perbuatannya dahulu membuat keluarganya sekarang menderita.
“Simpan barang yang diberikan Alseenio, meskipun kita sedang susah kita tidak boleh menjual barang dari pemberian orang lain,” Mamah Fara berpesan kepada Fara.
“Aku mengerti.“ Fara mengangguk mengerti.
Andai saja mereka tidak memiliki prinsip tersebut, seharusnya mereka bisa meringankan beban masalahnya dengan cara menjual kalung emas dari Alseenio.
Namun sayangnya, hal tersebut bertentangan dengan prinsip keluarga mereka.
Butuh beberapa jam hingga akhirnya Alseenio sampai di apartemennya dengan membawa mobil Bang Windi.
Alseenio tidak langsung ke rumah Bang Windi untuk menukar kembali mobil, sebab kata Bang Windi mobilnya sedang dipakai untuk acara.
Tentu Alseenio mengizinkan asalkan sesuai dengan perjanjian nanti sore mobil dikembalikan.
Di hari sabtu yang cerah ini, Alseenio ingin membuat motovlog dan pergi bersama dua orang Yituber Bogor yang mereka itu sangat lucu konten videonya dan kocak, mereka berdua disebut Dua Secoli.
Kolaborasi dadakan setelah semalam Alseenio berinisiatif mengontak mereka berdua melalui Instagrem.
Sepeda motor yang dibawa ialah R6 black yang harganya hampir mencapai 500 juta, pasalnya ini penuh modifikasi dengan komponen tingkat atas.
Alseenio sudah janjian dengan dua orang tersebut di Kota Bogor dan ia harus ke sana.
Vroom!
__ADS_1
Suara raungan sepeda motor berbunyi di tempat parkir apartemen dan sosok hitam keluar dari apartemen dengan cepat.