
“Cantika?“ Alseenio berseru di dalam hatinya ketika melihat seseorang yang datang ke meja lantai 2 ini.
Alseenio masih ingat dengan jelas wajah Cantika, dan orang yang sedang berjalan di depannya bersama belasan orang di belakangnya adalah Cantika, pacar Fandick.
“Saya datang ke sini atas nama Bapak Dandi Mahalbet.“
“Bapak Dandi Mahalbet untuk dua puluh tiga orang ada di meja tiga puluh dua sampai tiga puluh delapan. Meja ada di sana.“ Bang Ilham mengantarkan mereka semua ke tempat meja yang mereka sudah pesan.
Ketika orang yang Alseenio duga sebagai Cantika ini berjalan dan sedikit lebih dekat dengannya, wajah cantik dari orang ini memang sangat mirip dengan Cantika.
Untuk memastikan lebih lanjut, Alseenio menjalankan tugasnya dengan baik dan fokus, seolah-olah tidak ada hal yang aneh dan mengherankan
Bang Ilham dan Alseenio dengan rapi dan bersih meletakkan semua makanan yang pelanggan pesan ke mejanya.
Setelah melihat cara kerja Alseenio, Ilham baru sadar bahwa pria satu ini tak menunjukkan satu keluhan apa pun. Selain itu juga, pria ini tak terlihat lelah, keringat tidak pernah Ilham lihat di dahi pria tampan satu ini.
Aroma wewangian dari tubuh pria ini masih sama dan tak ada yang berkurang, wanginya konsisten dan tak pudar.
Dia tahu sendiri bahwa pria tampan yang memiliki otot ini sangat cepat kerjanya, mengangkat makanan banyak pun tiada terlihat berat seolah sedang membawa benda yang ringan.
Karyawan baru ini, ia sangat kagum dan menghargai.
Alseenio tak tahu sedikit pun dengan pikiran Bang Ilham, ia hanya fokus menjalankan tugas sebagai pelayan dan juga memperhatikan sosok wanita yang mirip dengan Cantika.
Wanita yang Alseenio amati juga sama-sama melirik dirinya dan memperhatikan sosoknya yang beberapa kali lalu-lalang untuk mengantarkan makanan.
Dengan hasil pengamatan ini, Alseenio bisa memastikan bahwa ini memang Cantika. Dari segala sisi penjuru atau sudut pandang yang Alseenio lihat, wajah wanita ini sangat mirip dengan Cantika yang dia kenal.
Kesimpulannya juga diperkuat lagi oleh panggilan orang lain kepada wanita ini yang juga sama namanya, yaitu Cantika.
Orang yang datang bersama Cantika ini adalah keluarganya. Dilihat dari wajah orang-orang yang duduk bersama dengan Cantika banyak yang sudah berumur.
Suasana di antara mereka juga tidak sama dengan perkumpulan anak yang baru dewasa atau anak muda, jauh sekali. Perkumpulan ini tampak cenderung ke perkumpulan anggota keluarga, atau perkumpulan keluarga besar.
Di antara Cantika ada beberapa anak kecil dan remaja yang hadir dan ikut duduk serta makan bersama.
__ADS_1
Mengetahui ini, Alseenio berpikir selama dirinya bekerja dan melayani para pelanggan. Dia tidak diam di lantai 2, ia juga secara inisiatif membantu karyawan bagian depan yang ada di lantai 1. Hari ini benar-benar ramai, hari Rabu atau hari ketiga bekerja ini. Pelanggan makin banyak yang berdatangan dan katanya ini lebih ramai dari hari Rabu di bulan yang lalu.
Alseenio mengambil beberapa hidangan dari lift makanan sembari bergumam dalam hatinya, “Bukankah Cantika ada di Bandung bersama Fandick? Mengapa ada di sini?“
Kabar terbaru yang Alseenio dapatkan dari Fandick, bahwa dia sedang bahagia dan senang karena Cantika selalu bertemu dengannya dan hubungannya makin erat.
Informasi dari Fandick langsung ini valid lantaran disertai foto dan video mereka berdua bersama. Alseenio beberapa kali melihat unggahan foto bersama Fandick dan Cantika, mereka berdua terlihat bahagia dan ceria.
“Kamu serius dengan pria itu, Nak?“ Wanita sedikit tua yang duduk di samping Cantika bertanya dengan wajah yang serius.
Dugaan Alseenio benar, wanita ini adalah Cantika. Dia sedang bersama keluarganya karena ada sesuatu pembicaraan yang harus dihadiri oleh seluruh anggota keluarga.
Cantika tersenyum lembut menangapi pertanyaan wanita yang agak tua ini, ibunya sendiri. Dia berkata dengan senyum di wajahnya, “Aku sudah bulat pada keputusanku sendiri, Bu. Aku merasa sangat nyaman dengannya. Semua sifat dan sikap yang aku sukai ada di dirinya, dia juga orang yang pekerja keras, aku percaya kepadanya, Bu.“
Seorang pria sedikit tua yang ada di sebelah Cantika ikut tersenyum, dan berkata dengan lembut, “Ayah tidak bisa melarang kamu. Masalah percintaanmu, kami berdua tidak mau mengekang dan ikut campur terlalu dalam. Pasanganmu ditentukan olehmu sendiri, kami akan selalu mendukung kamu, Nak.“
“Meskipun begitu, kakak harus melihat pria kamu. Sebagai keluarga pastinya ingin anggota keluarganya baik-baik saja dan mendapatkan sesuatu yang baik.“ Salah satu wanita dewasa yang duduk bersama dengan Cantika melirik Cantika dengan matanya yang menunjukkan perasaan yang tidak main-main.
“Benar! Aku juga ingin melihat pacar Cantika, apakah itu baik atau tidak. Kalau baik, aku akan setuju dia menjadi kakak iparku!“ Seorang gadis remaja mengangguk setelah mendengar ucapan wanita dewasa tersebut.
“Kalau begitu, aku akan mengajak dia ke rumah secepatnya agar kalian semua mengenal dia secara langsung,” ucap Cantika dengan senyuman yang berbeda makna dan rasa.
“Ibu setuju, Ibu tak sabar ingin melihat dia.“
“Ayah tak keberatan, bawa saja dia ke rumah.“
“Boleh, Cantika. Jangan lama-lama mengajaknya.“
“…”
Percakapan mereka semua terdengar oleh gendang telinga Alseenio. Dari jarak belasan meter, Alseenio bisa mendengar suara dengan sangat jelas, termasuk suara dari perbincangan mereka ini.
Tindakan Alseenio bukannya tidak sopan, dia benar-benar tidak sengaja mendengar obrolan mereka ini. Meskipun Alseenio memiliki kendali, tetapi kemampuannya ini tidak sepenuhnya bisa Alseenio kontrol begitu saja.
Jarak mereka termasuk dekat. Bang Ilham saja bisa mendengar percakapan mereka apabila tidak ada suara aktivitas dari piring yang terbentur kecil oleh sendok dan teman-temannya, dan beberapa aktivitas lainnya.
__ADS_1
“Pacar Cantika itu Fandick, kan? Kalau masih, berarti mereka sedang membicarakan Fandick. Fandick diberi lampu hijau? Sangat beruntung.“
Begitu memikirkan ini di dalam hatinya, Alseenio merasa senang bahwa temannya direstui oleh orang tua dari pacar. Setidaknya, ada kemungkinan direstui, sebab keputusan besar ada di Cantika langsung.
Restu orang tua Cantika tergantung Fandick. Alseenio berharap Fandick bisa mengatasi rintangan ini dengan baik dan berhasil.
“Kamu mendengar apa yang diucapkan pelanggan tadi, Bang Asep?“
Setelah pelanggan yang adalah Cantika dan keluarganya ini pulang. Bang Ilham dan Alseenio sedang membersihkan meja dan mengantarkan piring kotor ke bawah melalui lift makanan.
“Tadi? Sepertinya aku mendengar sedikit” Alseenio menaikkan alisnya dan menatap Bang Ilham sambil memasukkan tumpukan piring kecil kotor ke dalam lift makanan.
Bang Ilham mengelompokkan piring-piring kotor agar mudah dan praktis dipindahkan ke lantai bawah. “Enak sekali jadi pria wanita itu. Dia sudah ada restu awal dari orang tua si wanita tersebut. Nasibnya berbeda sekali denganku ….“
Sesi curhat antarkaryawan terjadi. Alseenio mendengarkan curhat Bang Ilham sampai habis dan cuci bekas makan pelanggan pun selesai dibereskan. Tersisa membersihkan meja dan lantainya, biasanya ada beberapa butir nasi dan lauk makan yang jatuh, mereka berdua harus membersihkannya.
Dari sini tebakan Alseenio benar, Bang Ilham memang mendengarkan percakapan keluarga Cantika.
Jam berlalu begitu saja, Alseenio tidak sadar bahwa dirinya sudah menyelesaikan banyak tugasnya dengan baik. Cucian alat makan dan semua alat masak telah Alseenio bersihkan dengan baik dan cepat.
Semua tugas penutupan toko restoran sebagai seorang pelayan dan dishwasher sudah Alseenio tuntaskan semuanya sampai-sampai para karyawan bingung dengan Alseenio, mengapa karyawan baru ini lebih senior menyelesaikan pekerjaannya ketimbang mereka sendiri yang sudah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kerja di sini.
Usai toko ditutup, Alseenio berkumpul bersama dengan para karyawan untuk melakukan perpisahan untuk hari ini dan informasi singkat soal pendapatan yang mereka dapatkan hari ini.
Pendapatan di hari Rabu memiliki total uang 80 juta rupiah di mana ini rekor terbaru untuk restoran mendapatkan hasil penjualan sebesar ini.
Semua karyawan tersenyum mendengar laporan ini, kemungkinan besar mereka akan mendapatkan komisi tambahan dari perusahaan.
Setelah semuanya selesai, mereka berpamitan satu sama lain dan pergi ke rumah masing-masing.
Hari ini Alseenio sendiri, tidak pulang bersama Hilman karena perbedaan sesi kerja.
Namun, baru saja Alseenio menempuh setengah perjalanan pulang, ia mendapati ponselnya berbunyi.
Alseenio memberhentikan sepeda motor dan menepi. Tanpa berlama lagi menerima panggilan yang datang ini.
__ADS_1
“Bang Nio! Aku ada kabar Baik!"
"Apa, tuh, kira-kira?"