
“Matamu picek!“
“Keterlaluan wanita ini!“
“Dua miliar ganti rugi?“
“Wanita ini tidak tahu malu! Material sekali!“
“Padahal yang menabrak adalah dia.“
Orang-orang yang mendengar harga ganti rugi wanita ini langsung berkomentar dengan isinya yang sangat tidak setuju.
“Ganti rugi dua miliar?“ kata Alseenio mengulangi jawaban Wanita tersebut. “Kerugian apa yang bernilai dua miliar dari kejadian ini?“
Wanita yang memiliki riasan wajah yang heboh sejagat raya ini menanggapi jawaban Alseenio dengan tersenyum, senyuman ini terlihat menyebalkan, banyak orang yang sudah mengepalkan tangannya, mereka menahan diri agar tidak memukul wanita ini kuat-kuat.
“Kamu tahu? Barang-barang yang aku bawa di tas belanjaan ini dan juga yang aku pakai sangat mahal harganya, dan pembantumu ini membuatku terjatuh hingga barang belanjaan yang aku beli terlempar,” terang wanita ini.
“Lalu? Apakah ada kerusakan? Aku lihat barangmu hanya ada tas Cucci, benda karet yang panjang, dan cambuk, apakah itu bernilai dua miliar?“ kata Alseenio menatap Wanita yang tidak cantik di matanya dengan mata yang main-main.
“Karet panjang dan cambuk?“
“Sepertinya aku familiar dengan dua benda terakhir yang disebutkan oleh pria ini tadi.“
“Apakah itu alat yang disenangi wanita yang kesepian?“
“Benda yang mencurigakan.“
Dalam sekejap, wanita tersebut memerah, entah memerah karena malu atau marah.
Ia membeli barang itu memang untuk keperluannya, sialnya itu dilihat oleh Alseenio ketika membereskan barangnya yang berjatuhan.
Fara tidak mengerti dengan benda itu dan ia juga tidak melihat benda yang dimaksud Alseenio. Jadi, ia hanya bisa menonton wanita ini dengan sedikit takut.
Tangan wanita tersebut memegang erat tas belanjaan yang berisi benda karet yang panjang dan cambuk, dan kemudian ia melototi Alseenio hingga matanya ingin keluar.
“Barang belanjaan itu tidak begitu mahal, melainkan barang yang aku pakai yang mahal!“ Wanita ini berkata dengan nada yang tinggi.
“Lihat! Jam tanganku tidak berfungsi setelah ditabrak pembantumu!“ Wanita ini menunjukkan jam tangannya ke arah Alseenio, secara tidak langsung itu dilihat oleh orang-orang.
Jam tangan wanita ini terlihat cantik, sebab terdapat pola kelopak bunga di dalam jam tangannya, tepatnya di jarum jam berputar, tetapi jarum jam tersebut sudah tidak berfungsi dan tidak bergerak lagi, memang sepertinya rusak.
“Kalian orang miskin dan orang yang baru kaya pastinya kamu tidak tahu merek dan harga jam tangan ini!” kata Wanita tersebut dengan nada yang meremehkan.
Perkataan yang arogan didengar oleh orang-orang dan ini memancing emosi kerumunan yang makin bertambah banyak.
Alseenio yang mendengar ini, hanya memilih diam dan menyaksikan wanita ini pamer dengan gaya.
“Dikarenakan aku orang yang baik dan cantik, aku akan memberi tahu kalian semua tentang jam ini. Jam ini adalah memiliki merek Christophe Claret dengan nama jenisnya Margot, harga yang aku beli hampir menyentuh dua miliar rupiah,” jelas Wanita ini dengan wajah yang bangga. “Sekarang jam tangan ini rusak dan aku ingin meminta ganti rugi!“
Mendesis!
Kepala semua orang kesemutan setelah mendengar harga jam tangan ini. Orang-orang yang mendengar ini segera mundur dan tidak berada di pihak Alseenio lagi, mendengar harga jam tangan ini sangatlah mahal bahkan rumah mereka tidak semahal itu.
“Apakah kamu yakin?“
Tiba-tiba, seorang suara pria terdengar dari kerumunan yang sedikit menjauh.
Semua orang menoleh untuk melihat orang berbicara tersebut.
Alseenio dapat melihat sesosok pria yang mengenakan jas sepertinya hanya berbeda warna Alseenio memakai jas hitam dan sosok pria ini memakai jas biru, juga pria ini memakai kacamata hitam yang persis dengan Alseenio.
Tampak jelas bahwa orang ini sangat berbeda dengan orang di sekitarnya, hampir sama dengan Alseenio, apabila ditaruh di keramaian akan terlihat perbedaannya dan mudah ditemukan.
“Kamu yakin dengan jam tangan itu yang berharga dua miliar?“
Pria tersebut berjalan dengan aura wibawanya menuju Wanita yang membuat masalah dengan Alseenio dan Fara.
“Siapa kamu? Jangan ikut campur dengan masalahku!“ Melihat pria yang datang kepadanya, Wanita ini menjawab dengan nada yang marah dan arogan.
Wanita ini tidak memandang bulu, bahkan orang lain terkena imbas amarahnya.
“Perkenalkan, aku pengamat jam tangan dan juga seorang kolektor jam.“
Pria tersebut berhenti di tengah-tengah antara Alseenio dan wanita yang ingin memanfaatkannya.
Sebuah kartu nama dikeluarkan dari saku jasnya dan ditunjukkan kepada wanita ini. “Kamu bisa lihat kartu namaku dan sertifikat sebagai pengamat jam tangan mewah.“
Tangan wanita tersebut terulur, kartu itu diambil dan dibaca olehnya.
“Ryan Laryse seorang penilai jam tangan dan barang mewah?“ Wanita itu membaca pelan apa yang ada di kartu nama yang ada di tangannya.
Wajah Wanita ini sedikit berbeda, ia sepertinya pernah mendengar nama ini, tetapi tidak tahu di mana.
__ADS_1
Kartu nama itu dikembalikan lagi kepada pria tersebut, dan Wanita ini menengadahkan kepalanya sedikit untuk melihat wajah dari pria yang datang tidak diundang.
Tinggi pria ini termasuk orang yang tinggi, masih kalah tingginya oleh Alseenio.
“Lalu? Apa masalahmu?!“ Wanita tetap berkata dengan emosional.
Raut wajah pria ini masih sangat santai dan tidak terpancing emosi, dengan hati yang sabar pria ini berkata, “Aku melihat kejanggalan di jam tanganmu. Apakah aku boleh memeriksanya?“
“Janggal? Kamu menuduh jam tanganku palsu?“ Wanita ini menunjuk wajah Pria yang bernama Ryan Laryse.
“Tidak, aku hanya penasaran dengan jam tanganmu.“ Ryan Laryse menggelengkan kepalanya. “Bisakah aku memeriksanya?“
Wanita ini menatap Ryan dengan tajam, dan dia tidak langsung menjawab pertanyaan Ryan.
Melihat ini, banyak orang-orang yang skeptis dengan jam tangan dari wanita ini, kemudian satu per satu orang-orang mendesak wanita tersebut untuk diperiksa jam tangannya.
Di awal wanita ini enggan untuk menyerahkan jam tangannya untuk diperiksa, lama kelamaan wanita itu menyerah dan membiarkan jam tangannya diperiksa.
Ryan mengambil jam tangan wanita ini dan mulai memeriksanya.
Namun, ada yang aneh dengan Pria yang bernama Ryan ini, ia tetap mengenakan kacamatanya dalam proses pemeriksaan.
Orang-orang menjadi penasaran dengan hasil dari pemeriksaan ini, Alseenio dan Fara pun termasuk orang yang ingin tahu dengan hasil pemeriksaan ini.
“Kaca jam tangan berwarna hijau yang berarti ini terbuat dari kristal,” kata Ryan sambil memeriksa.
Wanita ini langsung tersenyum ketika mendengar ucapan Ryan terhadap jam tangannya. Ia merasa bangga dan sombong. Wajahnya yang rata-rata dan lenggak-lenggok wanita itu kembali membuat orang kesal.
Tidak sedikit orang yang ingin maju dari kerumunan untuk menghantam wajah ini.
Ryan terus mengamati dan menilai jam tangan ini, hingga ia mengeluarkan ponsel iPon 14 untuk mengecek nomor seri.
“Terdapat nomor seri ….“
Wanita ini tersenyum makin lebar begitu mendengar perkataan Ryan.
Namun, di detik berikutnya wajah jelek wanita tersebut berubah dan senyumnya memudar.
“Jam tangan memiliki berat yang ringan, tali kurang presisi dan mengeluarkan bunyi, logo tidak rapi dan terdapat goresan di gambar kelopak bunga, cat ada yang terkelupas dan nomor seri ini palsu artinya tidak tercantum di situs asli pabrik pembuatnya.“ Ryan memasukkan kembali ponselnya di saku jas dan mengembalikan jam tangan kepada Wanita tersebut.
“Jam tangan ini teridentifikasi sebagai barang palsu. Harga yang kamu sebutkan tidak sesuai dengan harga pasar jam tangan ini sekarang yang sudah ada di harga 5 miliar, dan bukan 2 miliar. Bahkan harga perilisan lebih dari 2 miliar. Kamu bisa melihat harga resmi di Internet untuk buktinya.“
Ucapan Ryan begitu jelas dan tegas, tidak ada sedikitpun keraguan di dalam ucapannya.
“Dua miliar matamu bintil!“
“Pantas saja mudah rusak, ternyata barang kw!“
“Badut ini sok kaya sekali!“
“Lebih baik menjadi orang biasa saja daripada menjadi orang yang berpura-pura kaya.“
Wajah wanita itu langsung stagnan, matanya bergetar begitu menatap jam tangannya.
Mendengar bukti-bukti yang Ryan berikan ia tidak bisa menyangkal ataupun menyanggahnya, semua bukti tepat sasaran dan sesuai fakta yang ada.
“Sebentar, aku sepertinya pernah melihatmu di suatu tempat,” ujar Ryan kepada Wanita pemilik jam tangan palsu. “Kamu adalah wanita pak Boras, kan?“
Mendengar pertanyaan ini, ekspresi wanita tersebut berubah bingung karena bagaimana orang ini tahu Sugar Daddy atau Ayah Gula-nya.
“Kenapa kamu bisa tahu?!“ kata Wanita itu dengan terkejut.
“Ternyata itu benar. Aku pernah melihatmu berjalan bersama pak Boras di gedung perusahaan yang aku pimpin. Omong-omong, pak Boras sudah aku pecat tiga bulan yang lalu karena sudah melakukan penggelapan,” ucap Ryan dengan tenang dan dingin.
Jdarr!
Kalimat ini membuat Wanita ini terkejut setengah mati, bagaikan petir yang menyambar di siang hari bolong.
Pantas saja pria tua itu sulit sekali dihubunginya beberapa minggu ini, ternyata dia dipecat oleh orang ini.
“Ka-kamu siapa?!“ Wanita ini bertanya dengan wajah yang ketakutan.
Ryan menunjukkan lagi kartu nama yang sama, tetapi ia menunjukkan tampilan belakang kartu namanya. “Aku Ryan Laryse seorang CEO perusahaan Laryse group dan juga merangkap sebagai anak dari pemilik perusahaan Laryse Group.“
Setelah mendengar jawaban ini, wanita tersebut merasa sangat lemas hingga ia tidak kuat untuk menopang kakinya dan akhirnya duduk di lantai dengan pandangan matanya yang kosong seperti tidak ada jiwa.
Ternyata orang yang berhadapan saat ini adalah anak dari perusahaan yang sedang naik daun dan terkenal.
Semua orang terkejut dan terpana setelah tahu identitas pria satu ini.
Orang yang sempat berdiri di sebelah Ryan di kerumunan tadi langsung merasa bahagia dan senang.
“Orang itu ternyata anak bos perusahaan? Mimpi apa aku semalam!“
__ADS_1
Ia berniat untuk tidak mencuci bajunya yang bergesekan dengan jas biru Ryan.
Selepas menunjukkan identitasnya dan melihat sesaat wanita yang duduk di lantai, ia berbalik dan berjalan ke arah Alseenio.
“Semuanya selesai, kalian berdua boleh pergi, biar aku yang urus wanita ini,” ujar Ryan kepada Alseenio dan Fara.
“Ambil ini,” kata Ryan dan memberikan kartu namanya kepada Alseenio. “Omong-omong, aku suka dengan jam tanganmu.“
Belum sempat Alseenio menjawab, Ryan telah berbalik lebih dahulu dan berjalan lagi mendekati wanita yang berurusan dengan Fara ini.
Sosok Ryan sedang menelepon seseorang dan terlihat sibuk, tampaknya ia sedang menghubungi seseorang untuk mengurus wanita satu ini.
Alis Alseenio naik dan ia melihat kartu nama ekslusif dari pria ini dan kemudian ia melihat jam tangan Panteq Philips yang Alseenio pakai sekarang.
“Kalau begitu, ayo kita pergi.“
“Baik.“
Alseenio berjalan melewati kerumunan bersama Fara.
Di jalan lantai tiga mall, Alseenio berbincang dengan Fara dengan asyik, mereka sedang mengobrol mengenai masalah yang menimpa mereka tadi.
“Nio, sepertinya kita lupa tidak mengucapkan terima kasih kepada pria berkacamata tadi,” kata Fara kepada Alseenio.
Ketika mendengar pengingat Fara, laki Alseenio terhenti dan ia diam di tempat.
“Benar juga, apakah kita harus kembali lagi ke sana?“ tanya Alseenio yang bingung.
Fara memegang dagunya dan berpikir sejenak. “Emm … normalnya di kartu nama itu terdapat nomor kontak telepon. Benar, kan?“
“Benar! Tumben sekali kamu pintar!“ Mata Alseenio berbinar dan ia segera mengambil kartu nama dari kantong celananya.
“Enak saja bilang tumben, aku dari kecil memang sudah pintar tahu!“ Fara menggembungkan pipinya dan berkata.
Alseenio mengiakan kata-kata Fara dan fokus untuk menyimpan nomor telepon Pria tadi.
Ternyata nomor ini terdaftar di aplikasi Whatsupp, tanpa berpikir lagi ia segera memberikan pesan kepada pria tadi yang menolongnya dan mengucap terima kasih.
Melihat mereka berdua ada di tengah jalan, Fara menarik tangan Alseenio yang sedang mengetik dan membawanya ke pinggir jalan lantai, Fara dengan sabar menunggu Alseenio selesai mengobrol melalui pesan dengan Ryan.
Keduanya telah berkenalan satu sama lain, Ryan tidak begitu kaku dengan Alseenio, sebab Ryan sudah tahu mengenai identitas Alseenio sebagai seorang pebisnis dan pemegang saham, dalam sekejap mereka berteman.
Pria akan terus seperti pria, mereka akan cepat bergaul dan berteman.
Alseenio baru tahu bahwa ada sebuah perusahaan besar yang hampir menyamai besarnya perusahaan Alo Bibi yang ada di China, tetapi perusahaan ini berada di Indonesia.
Di Bumi Alseenio ingat tidak ada perusahaan dengan nama ini.
Apakah ada sesuatu yang berubah dengan dunia paralel?
Alseenio menggelengkan kepalanya dan menyisihkan pikiran tersebut dari otaknya, selagi itu tidak berhubungan dengannya Alseenio tidak peduli.
Pria bernama Ryan ini sedang mengurusi wanita ini, sebab wanita ini adalah seorang wanita atau pasangan dari pekerja yang melakukan penggelapan uang perusahaan, kemungkinan besar uang tersebut mengalir ke wanita ini.
Oleh karena itu, obrolan berhenti karena Alseenio dan Ryan memiliki urusan masing-masing.
“Kita mau ke mana, Nio?“ tanya Fara yang penasaran dengan tujuan mereka ke Mall.
Alseenio menoleh dan sedikit menunduk untuk bisa melihat wajah Fara. “Ke toko untuk membeli hadiah pertemuan buat anak-anak di sana. Menurutmu hadiah apa yang cocok?“
“Bagaimana kalau beli peralatan sekolah saja?“ kata Fara menatap kacamata Alseenio.
Mendengar pendapat Fara yang cocok dengannya, Alseenio mengangguk. “Oke, aku setuju.“
Keduanya pergi ke toko besar yang menjual alat tulis untuk kantor dan sekolah.
Di sana mereka langsung berbicara dengan kasir dan manajernya, Alseenio memesan 20 boks yang berisi 24 pak, dan ratusan lusin pulpen, penghapus, pensil, penyerut pensil.
Total yang yang dihabiskan oleh Alseenio untuk membeli barang itu semua adalah 30 juta, termasuk dengan pengiriman.
Panti Asuhan telah Alseenio pilih target yang ia bantu, alamatnya telah diserahkan oleh pihak manajer toko untuk mengirim pesanannya.
Usai membeli hadiah pertemuan, Alseenio membawa Fara ke sebuah toko, yaitu toko baju Canel.
“Nio, kenapa kita ke sini? Ini kan toko baju perempuan dan bukan toko pria,” tanya Fara yang tidak mengerti maksud Alseenio membawanya ke toko ini.
Alseenio tersenyum dan menjawab, “Memang bukan toko pria, kita ke sini untuk membeli baju sebelum kita pergi ke sana, kamu harus rapi.“
“Aku sudah rapi, Nio.“ Fara memperlihatkan baju belang-belang tanpa mereka dan rok hitam panjang yang terlihat murah.
“Tidak-tidak, kamu masih kurang rapi. Ayo ikut aku!“
Alseenio segera menarik tangan Fara dan membawanya ke dalam toko.
__ADS_1