SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 53: Mengantarkan Pulang Tiara


__ADS_3

Di atas sepeda motor, Alseenio dan Tiara sesekali mengobrol membahas sesuatu yang acak atau manasuka mereka berdua.


Tiara duduk tidak menopang tubuhnya dengan memegang tangki sepeda motor, melainkan memeluk Alseenio dengan erat.


Mulanya Tiara canggung untuk melakukan ini, tetapi karena Alseenio membawa sepeda motor dengan ekstrim dan kecepatan yang tinggi, mau tidak mau ia memeluk Alseenio daripada menopang ke tangki sepeda motor.


Di sepanjang jalan, Tiara menahan pikirannya untuk tetap waras, wangi alami tubuh Alseenio terhirup oleh hidungnya. Wangi maskulin, manis, dan segar langsung masuk ke hidung Tiara begitu ia menarik napas.


Perut Alseenio yang bagaikan seperti roti sobek premium pun samar-samar teraba oleh tangan Tiara.


Dalam perjalanan ini, wajah Tiara memerah tersipu dan sedikit mengepul mengeluarkan asap.


Omong-omong mengenai perjalanan, mereka berdua pergi menuju rumah Tiara, Alseenio tidak mungkin membawa wanita yang baru dikenalnya ke apartemen, ia bukan seorang pecinta wanita yang mengawini jutaan wanita, Alseenio adalah pria yang disukai banyak wanita.


“Rumahmu benar di Depok?“ tanya Alseenio sembari mengendalikan sepeda motornya.


Mendengar pertanyaan Alseenio, Tiara yang menyandarkan tubuh depannya ke punggung Alseenio itu mengangguk pelan. “Ya, rumahku ada di sana.“


“Jauh sekali,” seru Alseenio terkejut. “Kamu biasanya naik transportasi apa untuk berangkat kerja?“


“Tidak begitu jauh, masih banyak yang lebih jauh daripada aku. Aku biasanya naik kereta rel listrik atau KRL,” jawab Tiara sambil menikmati momen langka ini.


Alseenio seketika bingung, dan ia berpikir di dalam hatinya, “Bukankah halte bus dekat Bundaran HI lumayan jauh dari tempat stasiun kereta berada?“


Ketika Alseenio memikirkan hal ini, ia segera bertanya kepada Tiara daripada bingung sendirian, “Memangnya di mana tempat kerjanya?“


“Aku kerja di sebuah restoran yang ada di jalan Wisma Sendiri, Kecamatan Menteng,” jawab Tiara dengan jujur tanpa ada yang ditutupi.


Alseenio menahan diri untuk tidak terkejut setelah mendengar jawaban Tiara, kemudian ia bertanya, “Di sana bukannya lebih dekat dengan salah satu stasiun kereta? Kenapa kamu ke Bundaran HI?“


“Benar, memang ada stasiun di dekat sana, biasanya aku juga kalau pulang langsung pergi ke stasiun itu, tetapi hari ini aku mendadak ingin melihat Bundaran HI selagi aku bisa pulang jam 5 sore,” jelas Tiara dengan hati yang mulai terbiasa merasakan kehangatan tubuh Alseenio.


“Jalan yang banyak sekali orang luar yang terdampar itu, kan?“


“Itu benar, terkadang aku merasa ngeri ketika lewat jalan itu, tiba-tiba ada orang luar yang mendekatiku dan meminta uang dengan alasan tidak bisa pulang ke negaranya.“ Tiara merasa takut ketika memikirkan hal ini.


“Di sana memang tempatnya, hati-hati bila kamu lewat jalan itu. Selain banyak orang luar, di sana juga banyak sekali orang yang pecinta sesama jenis.“


“Benar, kah?“ Tiara terkejut mendengar ini seketika tubuhnya bergetar.


Alseenio merasakan reaksi Tiara dan tangan kirinya memegang salah satu tangan Tiara bertujuan untuk menenangkan. “Benar, kamu tidak perlu takut, kamu harus tetap waspada, apabila ada orang yang meminta tolong dengan permintaan yang aneh, lebih baik pergi.“


“Aku mengerti,” kata Tiara yang rasa takutnya perlahan reda karena sentuhan lembut tangan Alseenio.


Alseenio menarik kembali tangannya dan fokus menyetir sepeda motor, keduanya hampir sampai di dekat stasiun Depok.


“Kembali ke awal, secara kasar aku mengerti semuanya. Jadi, kamu tiba-tiba ingin pergi ke Bundaran HI untuk melihat pemandangan kota dan tanpa sengaja bertemu dengan idola-mu, ya?“


Tubuh Tiara yang bersandar pada punggung Alseenio tersentak, dan wanita ini menjawab pelan, “Emm … iya~”


Mendengar pernyataan Alseenio, Tiara kembali merasa malu, dan ia mengencangkan pelukannya pada tubuh Alseenio.


Merasakan lingkaran tangan Tiara makin erat dan dua buah Tiara jadi lebih menempel pada punggungnya, Alseenio langsung tersenyum, dan ia sangat menikmati perasaan yang enak ini.


Tanpa sadar senyum cabul perlahan terbentuk di wajah Alseenio.


Setelah percakapan tersebut, suasana di antara keduanya menjadi sepi kembali, Alseenio merasa bahwa mengendarai sepeda motor dengan perasaan yang sepi tidaklah mengenakkan. Karena itu, Alseenio lekas mencari topik pembicaraan untuk menghapus kesunyian dan suara klakson kendaraan.


“Kamu suka pemandangan kota?“ Alseenio bertanya tiba-tiba.


Tiara menganggukkan kepalanya pelan. “Ya, makanya aku pergi ke Bundaran HI untuk melihat macetnya kota, eh, maksud aku pemandangan kota.“


“Pfft — kukira kamu tidak memiliki selera humor, ternyata kamu bisa bercanda,” kata Alseenio yang sedikit terhibur karena ucapan Tiara.


“Eh, tadi aku hanya keceplosan bilang itu~” Tiara tahu apa yang salah dalam ucapannya dan ia berkata malu.


Wanita ini sangat pemalu di kondisi tertentu. Pelukan Tiara pada tubuhnya makin erat, bahkan Alseenio bisa merasakan dengan jelas dua buah yang agak besar menempel di punggung belakangnya.

__ADS_1


“Namun, aku lihat sosok kamu untuk pertama kali, kamu sepertinya sedang merenung, seperti orang yang sedang banyak masalah,” ucap Alseenio sambil membelokkan sepeda motor karena sedang ada di tikungan. “Kamu lagi banyak masalah, ya?“


Seketika, tangan Tiara yang memeluk tubuh Alseenio dari belakang sedikit bergetar sesaat, ada jeda beberapa detik sebelum Tiara menjawab. “Ti–tidak ada, aku hanya sedang lelah karena pekerjaan. Tujuanku melihat pemandangan untuk menghilangkan rasa penat.“


“Benar, kah?“


“Umm, ya.“ Tiara mengangguk dengan perasaan yang berat.


“Baiklah,” kata Alseenio begitu mendengar kalimat Tiara.


Dari ucapannya saja Alseenio bisa merasakan bahwa wanita ini sedang memiliki masalah yang sedang dihadapi, tetapi ia sungkan untuk memberitahukan kepadanya. Alseenio mengerti kenapa Tiara tidak akan memberi tahu dirinya terkait masalahnya, itu karena terlalu bersifat personal, tidak pantas jika ada orang lain atau asing tahu mengenai masalahnya.


“Kita sudah ada di daerah Stasiun Depok, kita habis ini ke mana?“


Alseenio melihat bahwa ia sudah sampai di daerah Stasiun Depok kereta api. Untuk itu, Alseenio tidak tahu ke mana mereka pergi selanjutnya.


“Tinggal ikuti jalan besar ini, kemudian nanti belok kanan apabila ada lampu lalu lintas, seterusnya aku akan beri tahu lagi,” kata Tiara yang memberi tahu jalan ke rumahnya.


“Oke!“


Vroom!


Alseenio menarik gas, seketika mereka melesat menuju ke arah timur daerah Depok.


Beberapa menit berselang setelah mereka pergi dari jalan dekat Stasiun Depok, keduanya sampai di sebuah perkampungan yang letaknya agak di dalam pemukiman yang cukup padat.


Sepeda motor Alseenio menyisir banyak jalan kecil dan sedikit sempit untuk bisa sampai di depan sebuah gang kecil.


“Terima kasih untuk semuanya, semua makanan yang kamu berikan,” kata Tiara yang berterima kasih dengan tulus.


Alseenio tersenyum di balik helmnya, dan ia menggendong kembali tasnya.


“Sama-sama, terima kasih juga sudah merekomendasikan aku makanan yang enak dan membantuku dalam kolaborasi video tadi,” balas Alseenio dengan lembut dan ramah.


Tiara mengangguk kecil sambil tersenyum tulus kepada Alseenio.


“Oke, akan aku simpan.“ Tiara memberi tanda oke dengan memasang wajah yang lucu. “Memangnya kita akan berjalan-jalan seperti sekarang ini lagi?“


“Who knows,“ kata Alseenio dengan senyum dan mengangkat sedikit bahunya.


Tiara sedikit cemberut sesaat, dan kemudian berkata, “Ya, sudah. Ini jam 10 malam, lho. Nanti kamu kemalaman sampai di rumahnya.“


“Benar juga. Kalau begitu, aku pulang dahulu, ya,” jawab Alseenio seraya menyalakan mesin sepeda motornya.


“Hati-hati di jalan, oke?“


Alseenio membuat tanda “oke” dengan tangan kirinya.


“Nanti kita mengirim pesan di Instagrem, ya.”


“Siap,” Alseenio menjawab sambil sekali mengangguk.


“Selamat tinggal!“


“Selamat tinggal, Alseenio!“ Tiara melambaikan tangannya ke arah Alseenio.


Sebelum menarik gas, Alseenio membalas lambaian tangan, kemudian melesat keluar dari pemukiman yang tidak diketahui Alseenio ini.


Tiara berdiri di depan gang kecil sampai punggung Alseenio menghilang. Setelah itu, wanita ini berbalik badan dan hendak masuk ke dalam gang kecil.


“Siapa itu, Tiara?“ Sebuah suara yang keras dan seperti bapak-bapak terdengar di telinga Tiara.


Langkah kaki Tiara terhenti, dan ia menunda untuk masuk ke dalam gang. Tiara berbalik badan dan melihat ke orang yang bertanya itu dengan wajah yang tidak senang. “Kenapa?“


“Siapa pemuda tadi? Pacarmu?“


“Apa urusannya denganmu?“ tanya Tiara dengan wajah yang malas untuk memandang sosok yang bertanya ini.

__ADS_1


“Aku ini pamanmu, aku harus tahu siapa dia?!“


Sosok yang bertanya kepada Tiara ini ternyata adalah paman Tiara yang terlihat berumur tiga puluh tahun ke atas. Cukup tua.


“Paman?” Tiara mendecakkan lidahnya dan menatap hina kepada pria di depannya ini.


“Aku tidak sudi menyebut dirimu sebagai pamanku,“ kata Tiara dengan jelas.


Mendengar ini, wajah paman Tiara berubah menjadi merah karena amarahnya yang melonjak. Tangannya mengepal sampai mengeluarkan bunyi.


Dengan gegas, Tiara masuk ke dalam gang kecil tanpa melihat ke belakang, ia berlari menuju rumah untuk menghindari amukan Pamannya.


Di rumahnya, Tiara segera memberikan makanannya kepada ibunya dan ia langsung masuk ke dalam kamar.


Tak lama kemudian, pintu rumah Tiara diketuk dan ternyata itu adalah Pamannya yang bertemu di depan gang tadi.


“Aku minta uang 100 ribu,” celetuk Paman Tiara dengan nada yang dingin.


Ibu Tiara yang tengah makan makanan yang diberikan Tiara langsung tersedak dan segera minum. “Uang? Bukannya aku sudah memberimu uang kemarin?“


“Tidak cukup, aku butuh uang lagi!“ Wajah Paman Tiara menekuk dan memandang Ibu Tiara yang ketakutan dengan ekspresi yang marah.


“Aku tidak punya uang lagi, kemarin uang yang ada sudah aku berikan kepadamu.“ Tangan Ibu Tiara bergetar ketika berbicara.


“Panggil anakmu, dan suruh dia berikan aku uang 100 ribu! Cepat!“ kata Paman Tiara dengan nada yang keras sambil menunjuk ke arah pintu kamar Tiara.


Namun, sebelum Ibu Tiara menuruti permintaan Paman ini, Tiara keluar dari kamar dan melemparkan selembar uang kertas 100 ribu.


“Keluar! Jangan marahi ibuku!“ Tiara berkata dengan lantang dan emosi yang membara, ia sangat benci dengan Pamannya yang seperti ini.


“Bagus, sekarang kamu mulai berani melawanku, ya?“ Paman Tiara menyeringai sambil perlahan berjalan mendekati Tiara.


Melihat ini, Tiara segera mengeluarkan pisau yang telah dia siapkan sebelum keluar dari kamar.


Tiara mendengar semua percakapan Ibu dan Pamannya dari dalam kamar. Oleh sebab itu, ia telah bersiap-siap sebelum bertindak.


Saat berikutnya, Paman Tiara berhenti berjalan dan ia perlahan mundur ke pintu rumah.


“Sepertinya kamu memang sudah berani denganku,” kata Paman Tiara menatap Tiara dengan wajah yang bengis. “Aku tidak akan berhenti untuk meminta uang kepada keluargamu, mungkin aku meminta uang kepada priamu nanti, hehe.“


Mendengar ini, Tiara mengencangkan pegangannya pada pisau dapur dan menghadap ke arah pria tua ini. Mata Tiara makin memerah menatap sosok Pamannya.


“Selamat tinggal! Dua ******!“


Brak!


Paman Tiara keluar dari rumah dan membanting pintu rumah Tiara yang sudah tua.


Di detik berikutnya, Tiara melepaskan pisau di tangannya dan jatuh ke lantai.


Tubuh Tiara merasa lemas dan tak terasa air matanya mengalir dari matanya.


Tiara berlutut di lantai dan menangis. Ibu Tiara yang ketakutan tersebut langsung memeluk Tiara.


“Ma–maaf, Nak. Sudah me–membuat hidup kita seperti ini,” Ibu Tiara berkata dengan lemah dengan suara yang gemetar.


“Ini bukan salah Ibu, semenjak ayah tidak ada, Paman langsung mengubah sifatnya dan memeras kita, kalau pun kita melaporkan kejadian ini, kita tidak punya uang dan bukti kuat, terlebih lagi kita diawasi oleh teman-teman Paman.“ Tiara mengepalkan tangannya sembari menangis, ia sangat membenci Pamannya.


“Semoga saja ada orang yang dapat membantu kita dari masalah ini,” ucap Ibu Tiara dengan lemah, ia sudah lelah dengan hidup ini.


Begitu mendengar ucapan ini, Tiara tersadar dan ia mengingat Alseenio yang baru saja memberinya kebahagiaan.


Isak tangis Tiara terhenti dan sebuah kilatan harapan terlintas di matanya. “Sepertinya kita bisa menyelesaikan masalah ini, Bu.“


Ibu Tiara tertegun sejenak, menyeka air matanya dan bertanya, “Bagaimana? Apa kamu yakin?“


Tiara tersenyum terpaksa dan menatap wajah Ibunya yang mulai keriput. “Ya, percayakan ini kepada anakmu.“

__ADS_1


__ADS_2