
Suara magnetis yang mengandung kelembutan dan rasa nyaman terdengar oleh wanita ini, dengan respons yang cepat wanita ini menoleh ke arah Alseenio.
“Memang benar. Eh, kamu siapa?“
Wanita ini segera sedikit menjauh dari Alseenio, dan mengambil satu langkah ke samping. Wajahnya terlukis rasa takut dan waspada.
Di dalam penglihatan Alseenio, samping wajah wanita ini muncul sebaris tulisan, sebuah informasi dasar dari wanita ini ditampilkan dengan jelas.
[Informasi Dasar.]
Nama : Tiara Lani.
Kelamin : Wanita.
Umur : 22 tahun.
Tinggi : 162 cm.
Penampilan : 84 poin.
Kemurnian : 98 poin.
Pemain : 0 orang.
[Wanita yang cukup cantik, tetapi memiliki masalah yang sedang dihadapi.]
Setelah melihat informasi ini, Alseenio menatap wajah cantik dari wanita yang bernama Tiara ini. Bisa dilihat dari pertama kali memandang, wajah Tiara tampak muram dan kelelahan, kantung mata samar-samar terbentuk di bawah matanya.
Apa yang ditampilkan oleh sistem sepertinya memiliki keakuratan data yang mendekati kebenaran.
Begitu melihat ekspresi wajah wanita ini yang mengkhawatirkan akan membuat misinya gagal diselesaikan, segera Alseenio menenangkan Tiara dengan suara magnetis dan tempramen lembutnya.
“Maaf, aku tidak bermaksud mengejutkanmu,” ucap Alseenio dengan nada yang bersalah.
Begitu Tiara mendengar suara Alseenio, ia merasa suara Alseenio begitu nyaman dan lembut ketika masuk ke telinganya, seperti sutra lembut yang menyelimuti gendang telinganya sehingga membuat nyaman.
Tanpa disadari oleh Tiara sendiri, sikap kewaspadaannya menurun dan ketakutannya kepada Alseenio yang muncul tiba-tiba di sampingnya lambat laun menghilang.
“Tidak apa-apa, aku yang salah karena tidak memperhatikan orang sekitar,” Tiara menggelengkan kepalanya dan berkata seolah dirinya yang salah.
Melihat sikap Tiara yang berubah, tidak lagi takut dengan kehadirannya yang tiba-tiba, Alseenio tersenyum dan menatap Tiara dengan sorot mata yang lembut.
Tiara kebetulan melihat sepasang mata Alseenio, seketika ia merasa malu dan segera memalingkan pandangannya ke pemandangan Bundara HI di malam hari.
“Omong-omong, kamu sendirian di sini?“
Dikarenakan kondisi sudah terkendali, Alseenio mulai melanjutkan langkahnya dalam menyelesaikan misi, yaitu mencari topik pembicaraan.
“Ya, aku sendiri ke sini setelah pulang dari kerja.“ Tiara mengangguk dan memandangi patung monumen selamat datang dengan tatapan yang berbeda.
“Kerja?“ ucap Alseenio tanpa sadar.
“Iya, apakah ada yang salah?“ tanya Tiara dan menoleh kepada Alseenio.
Dengan cepat, Alseenio menggelengkan kepalanya, dan berkata, “Tidak, hanya saja aku terkejut mendengar wanita cantik seperti kamu adalah seorang pekerja, aku kira kamu wanita yang sedang kuliah di universitas.“
“Haha, terima kasih pujiannya,” kata Tiara tersenyum manis.
Senyuman di wajah wanita ini tidak kalah dengan manisnya senyuman Niara dan Fara, mungkin ketika pria lain disenyumi oleh wanita ini akan jatuh cinta di detik itu juga.
“Sama-sama,” balas Alseenio dengan ramah.
Tiara kembali memindahkan pandangannya ke depan, menghembuskan napas, dan berkata, “Apa yang kamu duga tidak sepenuhnya salah, aku memang wanita yang berkuliah, tetapi tahun ini sampai tahun depan aku cuti kuliah.“
“Oh, seperti itu.“ Alseenio mengangguk mengerti. “Omong-omong, kita belum berkenalan. Boleh aku berkenalan denganmu?“
Mendengar pertanyaan aneh Alseenio, wanita itu menoleh sambil tersenyum kecil. “Pertanyaanmu aneh, tidak ada yang melarang untuk berkenalan.“
“Jadi, apakah boleh?“ tanya Alseenio dengan tatapan yang tak sengaja terlihat sedikit seduktif.
__ADS_1
Melihat mata Alseenio yang sedikit genit, pipi Tiara perlahan memerah dan ia mengangguk pelan, tampak imut sekali.
Penampilan Tiara Alseenio akui memang cantik, wanita ini memakai cardy rajut berwarna biru tua dan celana kulot oranye, rambut hitam panjangnya diikat dengan model kuncir kuda sehingga leher jenjang dan bentuk oval wajah Tiara terlihat jelas.
Secara keseluruhan penampilannya memang cantik, layak ada di angka setinggi itu poin penampilannya.
“Tentu saja,” jawab Tiara sambil tersenyum malu.
Setelah Tiara mengatakan itu, Alseenio mengulur tangan kanannya ke arah Tiara, dan berkata, “Namaku Alseenio.“
Melihat tangan kanan Alseenio yang ada di depannya, Tiara membalikkan tubuhnya menghadap Alseenio yang ada di samping kirinya.
Tiara mengambil tangan Alseenio perlahan. “Aku Tiara, salam kenal.“
“Salam kenal juga.“
Setelah berjabat tangan, Alseenio segera melepaskan tangan Tiara supaya mereka berdua tidak terlalu lama berjabat tangan dan mencegah menimbulkan rasa jijik dari kesan Tiara kepadanya.
Tepat ketika Alseenio melepaskan tangannya, suara sistem muncul di benaknya.
[Ding! Misi Berkenalan dengan Wanita Terselesaikan dan Dapatkan Kemampuan Impersonate Suara Level Tinggi, Rilex Date Just 31 Emas Putih!]
Saat berikutnya, Alseenio merasa tenggorokan dan kerongkongannya menjadi sejuk seolah-olah dirinya tengah meminum minuman yang dingin.
Proses integrasi kali ini sangat singkat hanya belasan detik dan setelah itu menghilang, tetapi Alseenio merasakan ada sesuatu yang berbeda di pita suaranya.
“Eh, namamu terdengar mirip dengan Selebgrem yang sedang panas satu minggu ini,” celetuk Tiara yang sehabis mendengar nama Alseenio.
Alseenio tidak langsung menjawab perkataan Tiara, ia bersandar di pagar pembatas lantai 2 halte sambil memandangi pemandangan malam air mancur Bundaran HI yang indah.
“Kamu tahu orang itu?“ Alseenio bertanya kembali ke Tiara.
Tiara ikut memandang apa yang Alseenio lihat, dan ia pun menjawab, “Tahu, kebetulan aku menonton siaran langsungnya beberapa hari yang lalu yang berhasil memecahkan rekornya sendiri.“
“Bagaimana menurutmu orang itu?“
“Emm … kenapa kamu menanyakan itu?“ Tiara sedikit aneh dengan pertanyaan Alseenio.
“Menurutku Alseenio ini pintar bernyanyi dan bermain gitar, suaranya bagus, dan punya selera humor. Secara keseluruhan, pria ini memiliki nilai yang tinggi dibanding pria lain,” Tiara menerangkan tanggapannya terhadap Alseenio sendiri.
Ketika mendengarkan pujian dari Tiara, Alseenio merasa sedikit malu untuk beberapa saat. Ini pertama kalinya Alseenio mendengar pujian dari wanita secara langsung yang tidak memuji ketampanannya, tetapi melihat aspek lain, yaitu kemampuan bernyanyi dan bermain gitarnya. Kebanyakan wanita memuji ketampanannya terlebih dahulu, kemudian memuji keahliannya.
Alseenio bertanya lagi setelah hening beberapa detik, “Lalu, apakah kamu suka pria itu?“
“Aku hanya kagum saja dengan kemampuannya dalam bernyanyi,” Tiara menggelengkan kepalanya sambil menjawab pertanyaan Alseenio.
“Kamu suka bernyanyi?“
Mendengar pertanyaan Alseenio, Tiara mengangguk kejam. “Kebetulan aku suka bernyanyi, maka dari itu aku senang menonton siaran langsung Alseenio.“
“Lagu apa yang kamu suka?“ Alseenio bertanya lagi.
“Emm … aku suka lagu 'Ghost' dari Jastin Bibir,” ucap Tiara sambil tersenyum.
“Kebetulan juga aku suka lagu ini,” kata Alseenio dengan jujur.
“Kenapa bisa sama?“
“Entahlah, aku pun tak tahu,” Alseenio berkata dengan suara yang mirip salah satu karakter dari sebuah kartun.
“Ih! Kok suara kamu mirip si Upil?“ Tiara terkejut begitu mendengar suara Alseenio yang mirip Upil dari serial kartun anak-anak yang biasa tayang di televisi.
Kemampuan yang didapatkan oleh Alseenio adalah kemampuan untuk meniru suara dari orang lain, entah itu karakter kartun, film, dan orang yang asli.
“Kamu nanya?“ Alseenio mengubah suaranya menjadi Dylan 1945 yang terkena bom nuklir.
“Ih! Suaranya mirip banget!“
Tiara menatap Alseenio dengan terkejut sekaligus antusias, bahkan ia menepuk tangan kecil untuk Alseenio.
__ADS_1
“Coba suara Krajos, apa kamu bisa?“
“Krajos?“
“Ya!“ Tiara mengangguk cepat.
“Baiklah,” kata Alseenio yang menuruti permintaan Tiara.
Alseenio menyiapkan tenggorokannya terlebih dahulu sebelum meniru suara karakter Krajos.
Suara Krajos sangat berat, perlu sedikit usaha untuk Alseenio tiru.
“Eat, boy ….“
Nada suara yang berat dan maskulin yang dilapisi suatu daya tarik tersendiri keluar dari mulut Alseenio.
“Aaa! Keren!“ Tiara memuji Alseenio sambil bertepuk tangan kecil.
Wajahnya yang murung menghilang dan kini digantikan oleh senyum yang cerah. Terlihat sekali wanita ini butuh orang yang menghiburnya atau tidak sesuatu yang bisa membuatnya terhibur.
“Terima kasih atas pujiannya,” ucap Alseenio dengan suara aslinya.
“Wow! Suaranya mirip Alseenio, hebat!“
Sebuah tanda tanya melintas di benak Alseenio, ia tertegun sejenak begitu mendengar kalimat pujian dari Tiara.
Sejak awal Alseenio memakai suara yang sama, yakni suara normalnya.
“Suaraku memang seperti ini dari tadi, kamu tidak sadar?“
“Aku baru saja memperhatikan bahwa suara kamu mirip dengan suara Alseenio,” ucap Tiara menatap Alseenio dengan mata yang jujur. “Eh, apa jangan-jangan kamu adalah Alsee—”
“Aku lapar, kamu tahu makanan yang enak di belakang jalan Mall Saibu?“ potong Alseenio dengan mengajukan pertanyaan mendadak.
“Aku tahu, mau aku antarkan?“ Tiara menawarkan diri.
Alseenio mengangguk. “Boleh, mohon kerja samanya!“
“Haha, kamu mirip dengan orang Jepang kalau bergaya seperti itu,” Tiara sedikit tertawa melihat tingkah Alseenio yang tiba-tiba mirip dengan orang Jepang.
Alseenio tersenyum, kemudian mengajak Tiara keluar dari halte bus.
Mereka berdua berjalan keluar dari bus dan pergi menuju tempat banyak penjual makanan pinggir jalan yang ada di belakang mall Saibu.
Setelah sampai di sana, Tiara merekomendasikan berbagai macam makanan yang enak menurut seleranya.
Makanan enak menurut Tiara, seperti Steak daging ayam, cumi bakar, ayam penyet sambal hijau, dimsum murah, dan masih banyak lainnya.
Satu per satu Tiara membawa Alseenio ke tempat orang yang menjual makanan yang disukainya, dimulai dari tempat yang menjual steak daging ayam.
Alseenio dan Tiara harus mengantre hampir setengah jam untuk mendapatkan makanan satu ini, Alseenio membeli tiga steak ayam, dua untuknya dan satu untuk Tiara.
Tiara tidak ingin dibelikan oleh Alseenio pada awalnya, tetapi karena keras kepalanya Alseenio yang sulit dipecahkan, Tiara akhirnya menerima makanannya dibayarkan.
Selanjutnya, Tiara membawa Alseenio ke tempat yang berjualan cumi bakar.
Di sana, Alseenio membeli dua porsi cumi bakar, itu untuknya dan Tiara, kali ini Tiara tidak menolaknya.
Setelah mendapatkan makanan cumi bakar, Alseenio hendak berbalik keluar dari tempat cumi bakar, tetapi … suatu kejadian yang tak terduga terjadi.
“Aduh!“
Tak sengaja Alseenio menyenggol seorang pria yang tengah berdiri di belakangnya, pria tersebut tersungkur ke tanah dan bokongnya kesakitan.
Segera, Alseenio bantu berdiri sambil meminta maaf, “Maaf, aku tidak sengaja, kawan.“
Pria ini menepuk bokongnya yang terasa sedikit sakit. “Lain kali hati-hati, lihat dahulu ke belakang, lalu periksa apakah ada orang atau tidak.“
Begitu Alseenio melihat orang yang jatuh karenanya tadi, ia terkejut untuk sesaat.
__ADS_1
“Bukankah kamu seorang Yituber terkenal?“