SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 46: Misi Sampingan Lanjutan


__ADS_3

Wajah tampan yang mempesona ditunjukkan oleh Alseenio kepada kedua perempuan ini.


Senyuman yang menawan terpampang di wajah Alseenio ketika membuka helmnya, bahkan sedikit mengeluarkan aura lembut dan maskulinitas.


Sontak kedua perempuan yang sedang berinteraksi dengan Dua Secoli ini terpana dan matanya yang melebar terpaku pada wajah Alseenio.


Pipi keduanya perlahan berubah warna menjadi merah dan segera mereka menjerit kegirangan.


“Aaa …! Nio!“


Mereka berteriak keras sehingga orang yang sedang berkendara dan orang yang ada di sekitarnya menoleh ke arah Alseenio dan Dua Secoli yang tengah memberhentikan dua perempuan ini.


Dua Secoli bahkan menutup telinganya supaya tidak sakit akibat suara nyaring dua perempuan ini. Pandil dan Bima tidak menyangka bahwa wajah Alseenio begitu tampan saat dilihat secara langsung.


Sejujurnya, pria pun merasa iri dan tak percaya diri ketika melihat orang lain lebih tampan dari diri sendiri, Pandil dan Bima pun sama, tetapi mereka memiliki pikiran bahwa mereka sendiri pun tidaklah buruk sehingga keduanya dengan cepat menjadi normal dan percaya diri kembali.


Melihat mereka berteriak, dengan sigapnya Alseenio memberi isyarat kepada mereka untuk tidak berteriak, takut akan ada sesuatu tuduhan yang tidak-tidak menimpa mereka bertiga.


Dalam sekejap kedua perempuan ini menutup mulutnya dan mengangguk ke arah Alseenio, sebenarnya keduanya tampak cantik dan imut, tetapi penampilan mereka masih di bawah angka 80 poin menurut apa yang Alseenio lihat dari kemampuan Sexeyes.


Dalam pandangan Dua Secoli, dua perempuan yang masih sekolah ini termasuk yang licin.


Meskipun kedua perempuan yang masih di bawah umur ini tidaklah murni 100% mereka pernah melakukan hal yang membuat kemurniannya di bawah seratus poin.


“Kak Nio, boleh minta foto enggak?“ tanya Salah satu perempuan tersebut.


Mendengar permintaan dua perempuan yang dilontarkan dan melihat wajah mereka yang tersipu, dua secoli hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menyaksikan Alseenio berinteraksi dengan kedua perempuan yang ternyata penggemar Alseenio.


“Boleh,” jawab Alseenio tanpa berpikir.


Kedua perempuan ini mengambil foto bersama dengan Alseenio beberapa kali pengambilan, bukan hanya Alseenio saja Dua Secoli juga di ajak untuk ikut berfoto bersama, mereka harus pindah terlebih dahulu ke pinggir jalan yang lebar sebelum mengambil foto.


“Seumur-umur kita diajak foto berdua sama perempuan, Dils.“ Bima terharu karena telah diajak berfoto bersama.


“Benar, Bim. Ini baru pertama kali kita berdua diajak foto,” kata Pandil dengan hatinya yang berbunga.


Setelah kedua perempuan ini berfoto bersama dengan Dua Secoli dan Alseenio, mereka dibegal oleh Dua Secoli untuk memberitahukan nama Instagremnya masing-masing.


Dikarenakan hal itu, Alseenio mau tidak mau mengikuti akun kedua perempuan ini untuk menghargai karena telah bertemu langsung, keduanya meminta Alseenio untuk mengikuti kembali akun mereka.


Tepat ketika Alseenio hendak pergi mengikuti Dua Secoli ini meninggalkan tempat mereka berfoto, tiba-tiba suara mekanis khas sistem muncul di kepalanya dengan membawa pemberitahuan.


[Ding! Misi Sampingan Terselesaikan dan Dapatkan Kemampuan Fotografi Level Menengah, Kamera Canon EOS 750D!]


[Ding! Misi Sampingan Lanjutan Terdeteksi!]


Misi : Berfoto bersama dengan anak sekolah SMA.


Syarat : Ajak Dua Secoli, Foto bersama 30 siswa perempuan sekolah SMA (0/30), tidak boleh meminta foto secara langsung, hanya boleh berfoto karena inisiatif dari anak sekolah.


Waktu : 30 menit.


Hadiah : 1x Kotak Misteri.


Hukuman : Rambut rontok selamanya.


[Misi otomatis diterima!]


Sebelum Alseenio bisa menanggapi sebaris informasi yang muncul di depan wajahnya, kepala Alseenio tiba-tiba mati rasa selama satu menit lamanya dan bersamaan dengan itu sebuah pengetahuan baru ditanam di otaknya.


Bima dan Pandil sadar dengan keanehan dari gerakan Alseenio dan mereka segera berhenti tidak jauh dari tempat mereka sempat berfoto bersama tadi.


“Bims, itu kenapa Bang Nio diam di pinggir jalan?“ tanya Pandil yang melihat Alseenio diam mematung dengan postur tubuh yang sedang ingin berbelok masuk jalur jalan.


“Eh kayaknya ada yang salah dengan Bang Nio! Kita periksa, Dils!“ Bima tahu sepertinya ada yang tidak beres dengan Alseenio.


Segera, Bima turun dari motornya dan berjalan mendatangi Alseenio.


“Bang, kamu kenapa?” panggil Bima pelan sambil menepuk pundak Alseenio.


Mendengar panggilan ini, Alseenio langsung pulih dari proses integrasi yang dilakukan secara otomatis oleh Sistem.


Alseenio menggelengkan kepalanya beberapa kali dan mengangguk pada Bima, “Tidak kenapa-kenapa, hanya tiba-tiba ada pikiran yang datang di kepala.“


“Jangan memikirkan sesuatu sekarang, Bang. Berbahaya kalau kita lengah di jalan,” Bima menyarankan dan menasihati Alseenio.


Nasihat Bima diterima oleh Alseenio, lalu ia mengangguk. “Oke, terima kasih, Bang.“


“Bang Nio sudah baik-baik saja, kan? Ayo kita pergi dan melanjutkan perjalanan keliling Bogor.“


“Tunggu, aku punya saran,” tutur Alseenio kepada Bima.


“Apa itu, Bang?“ balas Bima yang penasaran.


“Kita di sini dahulu, melihat-lihat para siswa perempuan dan pura-pura kenal dengan salah satu siswa yang sekolah di sekolah itu, bagaimana?“ ungkap Alseenio yang memiliki saran karena ingin menyelesaikan misi sampingan yang unik.


Baru kali ini misi sampingan muncul dua kali berturut-turut tanpa jeda. Sebelumnya ia belum pernah mendapatkan misi yang serupa.


Terlebih misi ini sangat mendesak dan cukup sulit, banyak sekali persyaratan yang harus dipenuhi agar misi dianggap selesai oleh sistem.


“Sebentar, aku tanya Pandil lebih dahulu.“


Bima menyebutkan ulang apa yang dikatakan Alseenio kepada Pandil, dan respon Pandil setuju dengan saran Alseenio.


“Oke, ayo kita ke gerbang sekolah yang tadi, Bang!“ seru Bima penuh semangat.


“Ayo!“

__ADS_1


Alseenio segera melaju mendekati Pandil dan menunggu Bima menaiki sepeda motornya sendiri.


Mereka bertiga beriringan menuju sekolah yang dilewati. Ternyata di sana masih banyak anak sekolah yang belum pulang ke rumah dan sedang jajan di depan sekolah.


Selain itu, masih banyak anak sekolah yang keluar dari gerbang sekolah, kelihatannya belum semua kelas telah selesai belajar.


Alseenio dan Dua Secoli berhenti di dekat gerbang sekolah yang penuh oleh para siswa perempuan yang tengah berdiri entah menunggu siapa.


Tanpa basa-basi, Dua Secoli bergerak sesuai dengan operasi yang sudah dibicarakan oleh mereka bertiga sebelum berangkat kembali ke sekolahan.


“Maaf, mau tanya,” kata Bima yang cekatan dalam masalah berkenalan dengan perempuan.


Para siswa perempuan ini tidak mengerti kenapa ada tiga pria asing yang tiba-tiba datang menghampirinya, sontak sebagian dari mereka pun waspada dan berjaga-jaga.


“Tanya apa?“ sahut salah satu Perempuan.


“Ini Sekolah Bima Sakti Andromeda, ya?“ tanya Bima yang isi pertanyaannya yang aneh.


“Bukan,” jawab Perempuan ini seraya menggelengkan kepalanya.


Melihat interaksi keduanya, banyak siswi atau siswa perempuan yang menonton Bima dan satu perempuan ini.


Alseenio dan Pandil pun diam dan membiarkan Bima menjalankan aksinya.


“Lalu, ini sekolah apa namanya?“


“Ini Sekolah Bina Rakyat,” balas Perempuan tersebut dengan polos.


“Tahu di mana letak sekolah Bima Sakti Andromeda?“ Pandil bertanya dengan mata yang serius.


Kini Pandil yang bergerak dan bergabung dengan obrolan mereka berdua.


Sementara itu, Alseenio bersiap-siap untuk gilirannya, sepeda motornya dimatikan setelah terparkir di dekat gerbang sekolah, lebih tepatnya di belakang sepeda motor Dua Secoli yang sedang mengobrol dengan siswa perempuan, tentu ia tidak menghalangi jalan keluar para siswa-siswi sekolah ini.


“Aku enggak tahu, Aa,” jawab Perempuan itu dengan polos.


“Memangnya kenapa, Aa?“


Teman perempuan ini satu per satu ikut menjawab dsn membantu temannya yang sedang ditanya oleh Dua Secoli.


“Oh begitu, ternyata kalian tidak tahu, tetapi kalian tahu dia enggak?“ Bima bertanya lagi dengan ekspresi misterius.


“Siapa?“


Para siswi perempuan ini bertanya hampir sama dan wajah mereka semua penasaran.


Pandil dan Bima menunjuk ke arah Alseenio yang ada di belakang mereka berdua. “Itu, kalian tahu dia?“


Mata para perempuan berseragam SMA ini teralihkan dan bergerak menatap sosok Alseenio yang tengah berjalan menuju mereka semua.


Alseenio berjalan menghampiri mereka sambil perlahan membuka helm dan masker helmnya.


“Aaaa!!“


“Alseenio!“


“Tampan sekali!“


“Sayang aku!!“


Mereka semua berseru dan mendatangi Alseenio dengan cepat. Ada puluhan siswa yang berlari ingin dekat dengan Alseenio dan berkesempatan untuk memeluknya.


Namun, satpam sekolah bertindak cepat setelah mengetahui ada kerumunan yang terbentuk secara tiba-tiba.


Pandil dan Bima pun terpana, mereka tidak menyangkal akan seheboh ini reaksi para siswa di sini.


Segera, Pandil dan Bima pun membantu mengamankan Alseenio dari dorongan para perempuan ini, mereka pun tidak rugi membantu Alseenio sebab mereka juga disentuh-sentuh oleh perempuan-perempuan di sini.


“Hai~” Alseenio menyapa mereka dengan senyuman yang ramah dan lambaian tangan.


Bagi siswa perempuan di sini, senyuman Alseenio sangatlah candu dan menawan dan membuat mereka merasa akan terbang ke angkasa.


“Aaa … senyumannya tampan sekali, aku ingin melihatnya setiap detik!“


“Semoga yang jadi jodohku adalah kamu!“


“Siapa dia?! Kenapa tampan sekali!“


“Kak Alseenio aku minta foto!“


Dengan adanya Alseenio di depan sekolah ini, kemacetan jalan terjadi karena banyak anak sekolah yang keluar dari dalam sekolah dan yang sedang jajan berdatangan untuk melihat wajah Alseenio.


Tidak mengira bahwa di Bogor pun banyak yang tahu siapa Alseenio, terlebih anak muda yang masih bersekolah ini, sebagian besar dari mereka mengetahui Alseenio seorang artis Instagrem yang sedang naik daun.


Dikarenakan oleh tinggi tubuhnya, Alseenio dapat dilihat dari kejauhan, sebab sedikit orang yang tingginya menyamai Alseenio sehingga tidak banyak yang bisa menghalangi wajah Alseenio.


Kerumunan bertambah banyak seiring bertambahnya menit, dan satpam pun mulai kewalahan menahan kerumunan ini, untungnya ada beberapa pelanggan channel Alseenio yang membantu mengamankan Alseenio dari dorongan orang-orang.


“Alseenio, aku cinta kamu!!“


“Sepertinya sekarang aku percaya dengan kalimat 'cinta dalam pandangan pertama', pria ini membuat hatiku berkedut!“


“Ya ampun, lihat itu, Gaes! Ada Alseenio Asep! Tampan sekali kalau lihat langsung!“


“Kalau aku tahu lebih dahulu bahwa orang itu Alseenio, aku pasti sudah culik Alseenio dan bawa ke rumah!“


Alseenio berusaha menenangkan mereka, tetapi butuh waktu yang tidak sebentar agar mereka akhirnya tenang dan tidak rusuh.

__ADS_1


“Jangan dorong-dorongan, ya. Harap tenang semuanya,” kata Alseenio dengan lantang.


Di dalam hatinya, Alseenio merasa masam dan kecut, tampaknya misi sampingan kali ini sulit diselesaikan, sebab ini sudah 20 menit sejak munculnya misi dan Alseenio belum berfoto bersama dengan satu siswi sekolah pun.


Mereka semua telah tenang dan tidak rusuh lagi, Dua Secoli dan orang yang mengamankan Alseenio dapat beristirahat sejenak dari hebohnya kedatangan Alseenio.


“Kak Alseenio, aku ingin foto bersama, apakah boleh?“


Tiba-tiba, siswa perempuan yang cukup dekat posisinya dengan Alseenio mengajukan permintaan.


Tentu saja Alseenio perbolehkan, pasalnya inilah yang ia tunggu-tunggu.


Alseenio yang memegangi ponsel milik siswi tersebut dan mengambil gambar bersama. Dikarenakan posisi siswi ini sulit sempit sampai sulit bergerak sehingga Alseenio yang memotret menggunakan ponsel siswi tersebut.


Usai berfoto dengan siswi satu ini, banyak sekali permintaan untuk berfoto bersama dengan Alseenio, pastinya itu tidak akan ditolak karena tujuan Alseenio memang untuk itu.


Keadaan sudah kondusif dan mereka ternyata menurut dengan apa yang dikatakan oleh Alseenio, Bapak Satpam pun tidak lagi mengamankan Alseenio begitu ekstra.


Satu per satu mereka berfoto dengan Alseenio secara pribadi, Alseenio mengizinkan mereka untuk mengunggah hasil mereka berfoto bersama.


Foto yang diambil oleh Alseenio sangat bagus, tidak ada yang gagal, itu karena kemampuan Fotografi Alseenio yang tinggi sehingga visi artistik yang dipunya oleh Alseenio berguna di momen seperti sekarang ini.


Bukan hanya Alseenio yang diajak berfoto, Dua Secoli pun dimintai foto selfie bersama oleh siswa perempuan di sini. Mereka berdua senang lantaran bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi artis yang sedang hits.


[Ding! Misi Sampingan Terselesaikan dan Dapatkan Kemampuan Berkendara Sepeda Motor Level Tinggi!]


Di jalan raya setelah meladeni para penggemarnya, Alseenio mendapatkan pemberitahuan telah menyelesaikan misi.


Dalam satu kedipan mata, kendali Alseenio terhadap sepeda motor menjadi lebih dalam lagi.


Jika dibandingkan dengan para pembalap MotoGP, mungkin Alseenio ada di bawahnya, yang jelas Alseenio masih belum di tingkat yang sama dengan Rossy juga kompetitornya.


Alseenio dan Dua Secoli terus berjalan mengelilingi Bogor sesekali berkenalan dengan wanita tak dikenal.


Namun sayang sekali, Alseenio tidak bisa mengelilingi Bogor bersama Dua Secoli karena waktu sudah menjelang sore, pasalnya ia memiliki urusan di sore hari.


Mereka bertiga sempat makan di sebuah restoran terdekat, Dua Secoli awalnya tidak ingin ke tempat yang mahal seperti ini, tetapi dipaksa oleh Alseenio dan diiming-imingi bahwa Alseenio yang traktir, pada akhirnya mereka berdua mau.


Siapa yang tidak ingin makanan gratis?


Kemudian mereka pergi lagi ke tempat yang mereka setujui.


“Terima kasih Bang Pandil dan Bima karena telah menyempatkan untuk melakukan kolaborasi,” kata Alseenio berterima kasih kepada Dua Secoli.


“Tidak perlu seperti itu, Bang Nio. Seharusnya kita yang berterima kasih karena telah diajak berkolaborasi. Asal tahu saja, kami berdua tidak menyangka diundang oleh Bang Nio untuk melakukan konten bersama, terlebih Abang Nio yang datang ke kita dari Jakarta yang jauh. Kami sangat tersanjung dan senang, Bang Nio,” jelas Pandil mengungkapkan rasa terima kasihnya yang paling jujur.


Mereka berdua memang tidak mengira akan diundang berkolaborasi bersama dengan Alseenio, ini merupakan kesempatan langka bagi mereka.


Alseenio tersenyum di balik masker helmnya dan mengangguk.


“Sebelum kita berpisah, bagaimana kalau kita foto bersama, mumpung kita berada di alun-alun kota Bogor,” celetuk Bima yang tidak ingin menyia-nyiakan momen.


Mereka sedang berada di alun-alun kota Bogor dekat dengan Stasiun Bogor, di sini cukup ramai terutama di waktu sore ini.


Tempat ini disarankan oleh Pandil karena di sini lebih dekat dari Jalan Raya Bogor untuk Alseenio pulang nantinya.


Begitu mendengar kata-kata Bima, Alseenio langsung setuju dengan tawaran Bima, ia tidak keberatan, ini kenang-kenangan bagi mereka.


Segera, Alseenio dan Dua Secoli berfoto bersama dan dipotret oleh orang random yang lewat dan bersedia mengambil gambar mereka.


Selepas berfoto bersama tanpa melepas helm, Alseenio memberikan uang 100 ribu kepada orang yang bersedia memberi waktunya untuk memfotokan mereka bertiga.


Mereka menaiki sepeda motor masing-masing, ketiganya siap untuk berpisah.


“Berangkat dahulu,” pamit Alseenio sembari melakukan fist bump dengan Dua Secoli.


“Hati-hati di jalan, Bang Nio,” balas Pandil.


“Kalian berdua juga, sampai jumpa!“


Alseenio menganggukkan kepalanya ke arah mereka berdua sebelum menarik gas.


Vroom!


Sepeda motor R6 membawa pergi Alseenio dengan cepat, dalam beberapa tarikan napas, punggung Alseenio menghilang di ujung jalan menuju Tugu Kujang.


“Asli, Bang Nio kece. Bukan tampan saja, ternyata orangnya baik,” puji Bima yang didengar oleh Pandil melalui interkom.


“Benar, Bims. Ingin sekali aku seperti, Bang Nio. Sudah rendah hati, kaya, tidak sombong, tampan, dan baik hati. Lihat saja orang tadi, dia diberi seratus ribu hanya karena membantu memfotokan kita, belum lagi satpam dan beberapa orang yang mengamankannya di sekolah, mereka diberi uang juga termasuk kita juga dikasih. Bang Nio memang loyal,” Pandil berkata menegaskan bahwa Bang Nio sesuai seperti apa yang dikatakan Bima.


“Suatu saat aku akan seperti Bang Nio, semoga saja,” Bima berharap.


Mendengar ini, Pandil segera tertawa dan berkata, “Kayaknya susah, Bims. Wajahmu saja beda sekali dengan Bang Nio, hahaha!“


“Sialan! Begini juga aku masih termasuk pria tampan,” Bima memuji dirinya sendiri.


“Kata siapa?“


“Kata ibuku, hehe …“ jawab Bima sambil terkekeh.


“Ibuku juga bilang aku tampan,” kata Pandil.


“Ya sudah, kita sama-sama tampan.“


Pandil mengangguk setuju. “Benar juga.“


“Mengapa kita mengurusi hal ini? Ayo kita pulang!“ ajak Bima.

__ADS_1


“Ayo! Gas!“


Mereka berdua melaju pergi meninggalkan alun-alun kota Bogor.


__ADS_2