SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 84: Keluarga Fara yang Bermasalah


__ADS_3

“Membantu? Membantu untuk apa, Fara? Apa ada masalah yang sedang menimpamu?“ Alseenio berkata dengan suara yang terdengar sedikit khawatir.


Pasalnya, nada suara Fara terdengar bergetar seakan sedang takut dengan sesuatu di sana, terlebih lagi di sana ramai oleh banyak suara sehingga dari lubang suara teleponnya begitu bising.


“Ak–aku ingin ju–jujur kepadamu, Nio.“ Suara Fara dari ponsel sudah menangis dan bicaranya terputus.


“Fara, tenangkan dirimu, jangan menangis seperti itu. Pelan-pelan kondisikan hatimu agar sedikit tenang dan tidak panik ….“ Alseenio benar-benar khawatir dengan keadaan Fara, ia mencoba untuk menenangkan batin hati Fara.


“Ba–baik, Nio.“ Fara menarik napas dan mengatur hatinya sambil menghapus jejak air matanya walaupun air mata tetap turun sedikit demi sedikit.


“Nio …” Panggilan Fara pada Alseenio begitu lirih. “Sebenarnya, keluargaku terbelit sebuah masalah besar dari aku kecil, masalah itu juga yang membuat kita berpisah saat kita masih kecil. Maaf … aku tidak memberi tahu masalah itu ke–kepadamu, aku … tidak ingin merepotkanmu—membuatmu terikat dengan masalah keluargaku.“


Kalimat yang diucapkan Fara tersendat-sendat karena napas yang tertahan oleh tangisannya , ia kembali menangis saat dirinya berbicara makin lama dan panjang.


Fara masih melanjutkan, “Hanya saja, kali ini aku benar-benar tidak bisa menyimpan masalah ini lebih lama lagi, aku takut orang tuaku kenapa-kenapa.


“Aku saat ini … sangat lelah, aku bingung harus melakukan apa lagi. Seperti yang kamu tahu, aku bekerja, aku melakukannya karena masalah itu, dengan tujuan agar masalah bisa selesai meskipun hanya sececah gula.“


Perubahan suasana hati Fara bisa dirasakan oleh Alseenio dari setiap kata yang dilontarkan oleh Fara, kali ini ucapan Fara seperti yang marah dan muak dengan masalah yang menghantam dirinya dan keluarga.


Begitu mendengar kata-kata Fara, Alseenio menjadi lebih khawatir, baru kali ini ia bisa mendengar Fara menjadi sangat sedih bukan karenanya.


“Tetap tenang, Fara. Jelaskan masalahnya perlahan,” Alseenio berkata dengan suara yang lembut dan magnetis, berharap ucapannya membantu Fara menenangkan hatinya.


Ketika mendengar suara Alseenio dari ponsel, Fara perlahan tersenyum walau sedikit, tanpa sadar tubuhnya terasa rileks, tidak setegang tadi.


“Masalahnya diawali oleh Ayah yang meminjam uang ke salah satu orang yang terkenal akan meminjamkan uang ke orang lain, aku sudah menceritakan kepadamu bahwa Ayah di-PHK, dampaknya keluarga membutuhkan uang sehingga dia terpaksa meminjam uang ke orang lain. Ayah bilang orang itu baik, tidak ada catatan buruk selama ia meminjamkan uang, Ibu setuju saja sebab ia selalu percaya dengan Ayah, tetapi … Ayah salah mengambil jalan.


“Ayah salah, orang itu ternyata berbanding terbalik, setelah Ayah meminjam uang, bunga pinjaman menjadi sangat besar, saat Ayah ingin melunasi, bunganya dibesarkan sehingga kami masih dianggap berhutang, sampai saat ini, bunga dan utang kami menumpuk … aku sungguh tidak tahu harus bagaimana lagi untuk melunasi utang ini.“


Usai mendengar dan menyimak penjelasan masalah yang datang kepada keluarga Fara, wajah Alseenio menekuk dan alisnya bertaut, matanya melotot tanpa sadar, keseluruhan terlihat marah besar hingga urat-urat di dahinya muncul di permukaan.


“Berapa total utangnya sampai hari ini?!“ Alseenio bertanya dengan intonasi suara yang sedikit keras.


“Bunga 20% per harinya, selama empat tahun ini utang keluarga kami berjumlah lebih dari … sepuluh miliar.“


Alseenio terkejut setelah mendengar total utang keluarga Fara, jumlah utang itu terlalu besar untuk keluarga yang sederhana.


“Orang yang memberi pinjaman uang ilegal memang bajingan! Ia bahkan lebih jahat dari penjahat yang ada di film! Sialan itu harus ditumbangkan!“ Alseenio berkata di dalam hatinya dan terus mengutuk.


“Apakah kamu bisa menjelaskan dengan lebih jelas mengenai uang yang sebenarnya dipinjam oleh ayahmu?“ Alseenio harus mengetahui lebih lanjut asal-usul masalah ini.


“Tu–tunggu, di depan rumah, masih ada mereka yang sedang menagih uang pinjaman bulanan,“ Fara berkata dengan nada yang gamang dan ketakutan.


“Pastikan dirimu baik-baik di sana, aku akan pergi ke rumahmu, jangan matikan telepon.“ Alseenio langsung bersiap-siap untuk pergi ke Sukabumi tempat Fara tinggal.


Jika ia terus di sini dan mendengarkan perkataan Fara yang terkesan sedih, ia takut Fara disakiti oleh mereka.


“Ba–baik, hati-hati di jalan, Nio.“


“Kamu juga, kamu lebih penting,“ Alseenio berkata tanpa sadar dan dengan gerakan cepat merapikan pakaiannya dan mengambil beberapa barang.


“Umm … iya, Nio~”


Alseenio tidak menyadari bahwa suara Fara berbeda, terdengar sedang malu dan tersipu.


“Aku pergi sekarang, tetap terhubung, jangan dimatikan panggilannya.“ Alseenio berjalan keluar mansion bersama Bella.


“Iya, aku akan terus terhubung.“


Keduanya langsung bergegas pergi menggunakan mobil Ferrari termurah dari semua mobil yang ada di garasi bawah tanah, kemudian melaju cepat menuju Sukabumi.


Selama di perjalanan, Fara terus mengabari kondisi terkini di rumahnya, beruntungnya penagih utang tersebut pergi, tetapi meninggalkan ancaman, Alseenio belum diberi tahu oleh Fara isi dari ancaman mereka, Fara akan memberi tahu informasi tersebut ketika Alseenio sudah sampai di rumah.

__ADS_1


Lebih dari 3 jam Alseenio menempuh perjalanan akhirnya ia sampai di rumah Fara.


Setibanya di sana, ia melihat orang tua Fara yang duduk diam termenung sambil memegangi kepalanya, mereka berdua pusing dengan masalah ini.


Dikarenakan Alseenio berangkat di sore hari karena habis pulang dari acara cosplay, mereka berdua sampai di rumah Fara pada malam hari sekitar jam 9 malam.


Orang tua Fara, terlebih ayahnya benar-benar terlihat sedih, bingung, rumit, dan putus asa.


Ibu Fara di sebelahnya terus menyemangatinya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, Alseenio juga membantu meringankan kerumitan yang sedang dipikirkan oleh ayah Fara.


“Bisakah Ayah Fara memberi tahu uang pokok yang dipinjam dari mereka?“ Setelah tenang, Alseenio berkata dengan sopan dan lembut ke ayah Fara.


Ayah Fara bernama Lukman Maja yang berusia 51 tahun. Memang sudah tua, apalagi jika dilihat sosoknya, sesuai dengan umurnya, tetapi masih bisa tampak sisi mudanya, Alseenio masih ingat jelas ayah Fara ketika dirinya masih anak kecil.


“Awalnya aku hanya meminjam uang lima juta rupiah, kemudian kami pernah menunggak akibat pendapatan yang tidak mencukupi dan tak menentu, hingga akhirnya kami meminjam lagi dengan total dua puluh juta rupiah.


“Bunganya juga berganda setiap harinya, mereka pasti mengancam apabila kami tidak membayar, ingin sekali kami melaporkan hal ini ke kantor polisi setempat tetapi kami tidak berani, anak buah orang itu banyak sekali, bahkan aku curiga mereka sedang mengawasi kita semua sekarang.“


Alseenio menatap Bella setelah mendengar jawaban Pak Lukman, ayah Fara.


Melihat pandangan Alseenio, Bella tahu apa artinya dan ia mengangguk.


Memang benar semenjak kedatangannya ke rumah Fara, mereka berdua sudah diawasi oleh beberapa orang. Orang ini mengawasi dari berbagai tempat tersembunyi, bahkan tetangga Fara merupakan mata-mata orang tersebut.


Bella bisa tahu lokasi mata-mata karena ketajaman insting bertarung dan teknik persembunyian yang dikuasi sejak menjadi pengawal teratas di seluruh dunia. Tidak ada yang mengenali Bella dan Gondals, sebab saat mereka beroperasi tidak pernah menunjukkan wajahnya sama sekali, mereka selalu memakai topeng atau masker.


“Oke, aku mengerti, Ayah Fara.“ Alseenio mengangguk menunjukkan pemahamannya tentang masalah yang dihadapi oleh Keluarga Fara. “Aku akan membantu, besok aku akan mengirimkan sepuluh orang untuk berjaga-jaga di sini, mungkin Ayah Fara tidak tahu siapa saja orangnya, tetapi yakinlah kalian semua tidak akan terluka oleh orang-orang yang mengancam itu.“


Alseenio berencana untuk mengirimkan beberapa pengawal ke rumah Fara, pengawal yang dilatih khusus oleh Gondals selama satu minggu, pengawal-pengawal itu merupakan pensiunan TNI kualitasnya bisa dijamin.


Kemungkinan besar, setelah malam ini para mata-mata akan memberi tahu bosnya tentang kedatangan Alseenio.


Soalnya, mereka datang tadi sore pun karena tahu bahwa Fara memiliki teman orang kaya, mereka memaksa Fara untuk membayar utang yang sebetulnya tidak bisa dibilang utang.


Alseenio tersenyum ke arah mereka bertiga, senyumannya begitu hangat, seolah-olah semua masalah akan terselesaikan dengan adanya senyum Alseenio.


Begitu mendengar kata-kata Alseenio, Ayah Fara tiba-tiba terjatuh dari tempat duduk dan hendak bersujud di bawah kaki Alseenio yang tengah duduk.


Melihat gerakan Ayah Fara, dengan refleks tubuh Alseenio yang cepat, Alseenio menopang dada Ayah Fara dengan kedua tangannya, dan membatalkan gerakannya yang ingin bersujud di kakinya.


Ibu Fara dan Fara langsung teriak begitu melihat tindakan Ayah Fara yang tiba-tiba, kemudian mereka berdua menangis.


“Tidak perlu bersujud, tidak boleh, aku bukanlah Tuhan. Anggap saja ini balas budiku terhadap apa yang kalian semua lakukan kepadaku saat kecil. Jangan khawatir semuanya akan aman.“ Alseenio mengusap punggung kokoh Ayah Fara dan ia tersenyum ke arah mereka semua.


Sosok Alseenio begitu menenangkan, hanya dengan hadirnya dia di rumah ini, semuanya seakan terkendali, perasaan hati mereka begitu damai dan tentram.


“Jangan menangis lagi, semuanya baik-baik saja. Lebih baik kita makan malam bersama, kebetulan aku sudah membawa makanan.“ Alseenio meletakkan makanannya yang ia bawa ke atas kursi, di rumah ini ruang tamunya tidak diadakan meja.


Ajakan Alseenio diterima, mereka semua berhenti menangis dan melupakan permasalahan tadi untuk sementara waktu.


Khusus Fara, ia menyeka air matanya, ia benar-benar tidak tega melihat Fara menangis di depan mata kepalanya sendiri.


Akan tetapi … Alseenio barus menyadari sesuatu begitu selesai menyeka bekas air mata Fara, sesuatu bedak dan riasan membekas di ujung ibu jarinya sangat tebal, juga begitu Alseenio melihat wajah Fara ketika setelah dibersihkan air matanya, jerawat di wajahnya beberapa ada yang menghilang, Alseenio bahkan melihat jejek bintik merah di lantai tempat Fara dan dirinya berdiri.


Sangat mencurigakan.


Selain itu, selama mereka semua makan malam bersama dengan ayam goreng dan beberapa makanan yang sedang tren yang Alseenio beli, wajah Fara terlihat berbeda, bagian area mata sangat berbeda sebelum ia menangis, kini terlihat sedikit cantik.


Ditambah lagi hal yang membuat Alseenio tambah curiga, yakni setelah Fara bercermin setelah makan malam, ia tiba-tiba meminta izin kepada mereka semua untuk ke kamar terlebih dahulu.


Saat kembali, Fara kembali seperti biasanya atau sedia kala, sosoknya sama dengan sebelum ia menangis.


Alseenio dan Bella menginap di sini, terlalu larut jika mereka pulang setelah jam makan malam.

__ADS_1


Bella tidak masalah dengan tidur di rumah Fara yang kecil dan rusak ini, ia juga lebih sering tidur di tempat seperti ini ketika bertugas.


Keesokan harinya, Alseenio menunggu diam-diam rentenir yang mengancam keluarga Fara untuk membayar utang.


Namun, setelah ia tunggu sampai sore lagi, rentenir itu tak kunjung datang, tidak tahu mengapa rentenir itu tidak datang.


Mungkinkah mereka tahu identitas Alseenio?


Alseenio tidak yakin mereka tahu identitasnya, sebab ia ketika keluar memakai masker ajaib, mustahil untuk mereka mengetahui sosoknya.


“Sepuluh orang yang datang ke kampung ini dengan sembunyi-sembunyi itu akan menjaga kalian supaya tetap aman. Untuk beberapa hari, kalian di sini dahulu, memancing mereka datang menagih dan mengancam kembali, jangan lupa untuk menyalakan kamera saat mereka tiba di sini, pancing mereka hingga masuk ke dalam bidikan kamera. Fara, tolong lakukan dengan baik.“ Alseenio memberikan banyak instruksi dan informasi kepada mereka bertiga, menyelesaikan masalah ini butuh kontribusi mereka bertiga agar rencana berjalan dengan baik.


“Aku mengerti, Nio. Terima kasih banyak sudah membantu kami, aku sungguh tidak tahu harus membalas kebaikanmu dengan cara apa, aku bersyukur bisa bertemu denganmu lagi.“


Saat Fara berbicara, Alseenio memeluk Fara dan mengusap rambut panjangnya yang tergerai ke belakang. “Sudah menjadi kewajibanku. Apabila kamu sudah lelah bekerja, kamu hubungi aku saja, kebetulan aku ada lowongan kerja untukmu.“


Mendengar ucapan Alseenio, Fara yang tengah menikmati kenyamanan pelukan Alseenio langsung mengangkat kepalanya untuk melihat Alseenio dan bertanya, “Benarkah?“


“Ya, benar. Setelah masalah ini selesai kamu akan aku masukkan ke dalam sebuah pekerjaan,“ Alseenio tersenyum manis ke arah Fara dan mengangguk pelan.


“Yeay!“ Fara berseru dengan semangat dan wajahnya ceria layaknya seorang anak kecil yang diberi es krim yang besar dan panjang.


Melihat keduanya seakan sedang bermesraan, orang tua Fara dan Bella hanya bisa meluangkan ruang untuk mereka berdua agar bisa makin dekat dan tak mengganggu keduanya.


Ibu Fara dan suaminya saling memandang dan tersenyum penuh makna. Ada sebuah pemikiran di antara keduanya. Entahlah mereka sedang berpikiran apa.


“Kalau begitu, aku pulang hari ini. Fara, tolong hubungi aku jika mereka datang, ya?“


“Baik! Aku akan menghubungimu nanti. Hati-hati di jalan, ya! Jangan sampai terluka!“


“Haha, oke!“


Alseenio tersenyum senang melihat Fara yang ceria kembali, tidak seperti saat ia datang, wajah Fara sangat murung dan gelap, hanya dipenuhi dengan kesedihan dan depresi.


“Kami pulang dahulu, Ibu Fara dan Ayah Fara.“


“Hati-hati, ya, Nak. Kamu sehat terus, ya. Jaga makan kamu, jangan bermain wanita, ayahmu dahulu terkenal pendiam, kamu harus mengikuti jejak ayahmu yang baik,“ Ibu Fara memberi nasihat kecil kepada Alseenio sambil memegang tangan Alseenio dan mengusap pundak Alseenio.


Senyum hangat muncul di wajah Alseenio dan ia sedikit mengangguk. “Baik, Ibu Fara.“


“Nio, kamu jangan nakal di luar sana, meskipun kamu banyak uang, kamu harus memiliki kualitas hidup yang baik, jangan karena banyak uang, kamu terlena dan terbuai dengan kenikmatan dunia, tetaplah menjadi orang baik,” imbuh Ayah Fara seraya menepuk pundak Alseenio.


“Terima kasih nasihatnya, aku pasti menjalankan semua nasihat yang kalian berikan.“ Hati Alseenio menjadi hangat begitu mendengar ucapan keduanya, ia merasa memiliki orang tua lagi.


Setelah berpamitan dengan mereka bertiga, Alseenio dan Bella meninggalkan perkampungan Fara dan pergi menuju mansion yang ada di Jakarta Selatan.


Alseenio memiliki acara untuk beberapa hari ke depan, acara ini sangat penting karena berhubungan dengan Misi Spesial Cosplay, tentunya sangat sayang untuk dilewatkan.


Ketika pulang dari rumah Fara, langit sudah mulai gelap gulita dan matahari telah menghilang dari pandangan orang, sesampainya di mansion, itu sudah jam 9 malam, cukup macet di perjalanan, sangat menyebalkan.


Hari ini tidak ada misi, kemarin pun hanya misi berfoto dengan ribuan wanita.


Jadi, Alseenio langsung perginya tidur setelah makan malam.


Hari berikutnya pun masih sama, setelah bangun dari tidur hingga ia tidur malam lagi, Alseenio belum mendapatkan Misi dari Sistem.


Dengan begitu, hari ini ia hanya menikmati waktu sambil mengobrol dengan Fara dan yang lainnya melakukan ponsel, hubungannya dengan Fara makin dekat, tidak seperti sahabat lagi.


Tidak ada berita tentang rentenir sialan itu, mereka belum datang untuk mengancam keluarga Fara.


Di hari selanjutnya, Alseenio berangkat ke rumah Bang Luffy untuk melakukan persiapan ke acara cosplay di Bandung. Sebenarnya, acaranya diadakan besok, tetapi Alseenio harus bersiap-siap di hari sebelumnya, ia ke sana sendiri dengan membawa mobil Gemera kesukaannya.


“Apa, tuh, kira-kira?“

__ADS_1


Begitu Bang Luffi melihat sosok Alseenio yang memakai kostum aneh, tiba-tiba ia berkata yang sama anehnya sambil berjongkok.


__ADS_2