SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 138: Fandick Tidak Bisa Pulang


__ADS_3

“Sutt! Jangan bercanda seperti itu, Fandick.“ Sugi menepuk pundak Fandick, dan mengingatkannya.


“Maaf-maaf, keceplosan,” ucap Fandick sambil tersenyum dengan canggung.


Alseenio menggelengkan kepalanya, kemudian ia berkata dengan tatapan serius, “Hati-hati, Bang Fandick. Di sini negara yang ketat, jangan asal nyerocos, apalagi kata-katanya mengandung penghinaan yang samar-samar, mungkin Bang Fandick dilarang pergi ke sini lagi, alias terblokir, dan lebih parahnya Bang Fandick tidak bisa pulang lagi ke Indonesia.“


“Jangan menakuti aku, Bang Nio. Aku janji tidak akan bilang kata-kata seperti itu di sini,” ucap Fandick dengan wajah yang ketakutan.


“Baiklah, kalau sudah berada di Indonesia Bang Fandick boleh berbicara apa saja.“


“Oke-oke, aku mengerti Bang Nio.“ Fandick mengangguk dnegan cepat. Ia benar-benar takut saat ini.


Setelah mengobrol di depan bandara, mobil yang Sugi sewa datang beberapa menit kemudian.


Mobil yang Sugi pilih tidak begitu mewah, juga tidak terlalu mewah, terpenting muat untuk mereka semua.


Sugi menyewa mobil BMW X5 yang muat untuk mereka berlima.


Supir mobil menginjak pedal gas dan melajukan mobil ke jalur yang akan membawanya ke suatu hotel.


Hotel yang dipesankan oleh Sugi adalah hotel bintang 5 yang berlokasi di jajaran Menara Oriental Pearl yang terkenal, atau kota baru. Tentunya memiliki ulasan yang baik. Alseenio sudah memberi pesan kepada Sugi untuk mencari hotel dengan ulasan yang bagus lantaran pengalaman orang yang pernah menginap di hotel tersebut adalah sesuatu yang bisa dipegang.


Alasan mengapa memilih hotel yang ada di daerah itu karena lebih dekat ke mana-mana. Selain itu, memiliki pemandangan malam yang indah.


Terdapat 3 kamar yang dipesan oleh sugi, ketiga kamar memiliki fasilitas yang mewah, yaitu 2 kamar deluxe 2 kasur terpisah dan 1 kamar 1 kasur.


Kamar twin bed atau 2 kasur tersebut diisi oleh dua orang di setiap masing-masing kamar.


Fara dan Fani di kamar 2 kasur, dan kamar jenis sama yang lainnya diisi oleh Fandick dan Sugi, sedangkan Alseenio tidur di kamar yang memiliki 1 kasur saja.


Biasanya, Alseenio bergabung dengan pria lain dalam 1 kamar, tetapi saat ini ia ingin sendiri.


Bukan tanpa alasan, sebab ini adalah penyelesaian terakhir dari misi yang merepotkan ini.


Tak lama begitu mereka sampai di kamar masing-masing, malam hari akhirnya tiba dan pemandangan indah kota Shanghai diperlihatkan dengan jelas dari jendela kamar.


Alseenio dan yang lainnya menatap kagum dengan keindahan Kota Shanghai, ia mengambil gambar pemandangan indah dari jendela kamarnya masing-masing.


Mereka sama-sama pergi ke lobi hotel untuk makan malam sebelum tidur.


Selama makan malam itu, mereka berbincang dan berdiskusi mengenai tempat apa yang akan dikunjungi oleh mereka besok.


Mereka sepakat untuk pergi ke Nanjing Road untuk melihat-lihat sambil berbelanja di sana.


Setelah makan malam dan mengobrol untuk beberapa saat, mereka pergi ke kamar masing-masing dan tidur dengan nyenyak.


Malam hari menghilang, matahari mulai muncul dan menerangi kota. Mereka semua terbangun dari tidurnya masing-masing.


Tanpa berlama-lama lagi, mereka membersihkan diri untuk bersiap-siap ke luar hotel.

__ADS_1


Namun, sebelum keluar dari hotel mereka harus sarapan pagi terlebih dahulu. Ada baiknya jika melakukan sarapan sebelum menjalani aktivitas harian.


Jujur saja, Kota Shanghai memang indah, memiliki pemandangan kota yang modern, ditambah dengan Sungai Huangpu yang menambah kesan yang luar biasa keren dan indah.


Nanjing Road atau Jalan Nanjing ada di seberang sungai, tidak satu wilayah dengan lokasi hotel yang mereka tempati. Mereka harus naik mobil ke seberang yang jaraknya beberapa kilometer untuk sampai di Jalan Nanjing.


Namun, rencana mereka begitu berada di seberang, mereka turun dari mobil dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan menuju Nanjing Road. Mereka sama sekali tidak ada masalah dengan ini, hitung-hitung olahraga meskipun memang melelahkan bagi Fandick dan yang lain kecuali Alseenio.


Jadi, mereka sempat berhenti di jalan dan turun dari mobil lalu berjalan kaki sampai ke Nanjing Road atau Jalan Nanjinglu.


Bukan karena mereka bodoh atau bosan, melainkan mereka ingin menikmati pemandangan Sungai Huangpu dari segala arah sudut, tidak hanya dari tempat hotel mereka berada. Akan bosan jika senantiasa memandang sesuatu dari satu sudut pandangan saja, tak ada variasi sama sekali.


Dengan begitu, mereka berjalan sambil sesekali mengambil foto yang berlatar belakang Sungai Huangpu.


Pakaian yang mereka kenakan tentu saja baju tebal, seperti jaket tebal, pakaian serba panjang dan tebal, tak lupa selendang yang menutupi leher.


Penampilan mereka berlima cukup keren, terlebih Alseenio yang tinggi dan tampan, ia sangat cocok menggunakan gaya baju apa saja, bahkan tanpa baju pun sangat bagus.


Tepat ketika mereka tengah mengobrol santai di pagi hari sambil melihat keindahan sungai, terjadi sebuah kericuhan kecil di trotoar jalan.


Seorang pemuda muda tiba-tiba mendorong seorang wanita paruh baya hingga tersungkur ke tanah.


“Apa, sih! Ibu jangan ke sini, bikin malu saja!“ Mata pemuda itu melototi Wanita yang terjatuh.


“Nak, ibu menyusul kamu untuk memberi bekal buat kamu nanti siang.“ Wanita paruh baya ini kuat, dia bangun dari tanah dan menatap ke Pemuda di depannya dengan wajah khawatir.


“Lebih baik ibu kembali bekerja saja! Aku ingatkan, kalau mau bertemu aku, jangan pakai seragam kerja petugas kebersihan jalan, Bu! Aku malu!“


“Maka dari itu, lebih baik ibu pergi bekerja saja!“


“…”


Orang-orang yang kebetulan melihat ini langsung merasa gusar dengan perlakuan pemuda ini ke orang yang ke lebih tua. Bahkan wajah orang-orang yang lewat memiliki warna yang berbeda, mata mereka menatap Pemuda tersebut dengan pandangan yang tajam dan jijik.


Tidak terkecuali dengan Alseenio dan rombongannya.


Pemuda itu terus-menerus mengomeli Wanita paruh baya dengan tampang yang jelek.


Namun, Wanita tua itu tetap berdiri di sana sambil membawa sebuah kantung tas berisikan bekal milik pemuda tersebut.


Merasa kesal dengan ini, tangan Pemuda ini bergerak lagi dan terulur ke arah wanita tua dan rapuh.


Tangan itu bergerak di udara dan hendak menyentuh tubuh wanita tua di depannya.


Tepat ketika ujung jari itu ingin menyentuh, sebuah tubuh yang berbeda muncul di depan tangan itu dan kemudian tangan pemuda tersebut menabrak sosok tubuh tersebut yang muncul secara tiba-tiba.


“???“


Wajah itu dipenuhi tanda tanya, perlahan kepalanya mendongak dan melihat pemilik tubuh yang disentuhnya.

__ADS_1


Tubuh tersebut adalah tubuh Alseenio yang menghalangi tangan Pemuda ini bergerak untuk mendorong tubuh Wanita paruh baya.


Pemuda ini terkejut sekaligus merasa grogi dan takut saat melihat tatapan mata Alseenio yang tajam dan menusuk.


Rasanya seperti memandang seorang pemimpin sebuah kelompok bersenjata.


Kemudian masker yang dipakai Alseenio bergerak dan ia berkata dalam bahasa Inggris, “Sebaiknya, jangan terlalu gegabah.“


“Ak—”


Belum sempat pria ini berbicara, Alseenio mendahului Pemuda tersebut dan berkata dengan suara yang dalam, “Apakah seperti ini caramu berbakti kepada orang tua?“


“Anu, itu—”


“Ingatkah kamu saat kecil diurusi oleh siapa? Dan Kamu bisa sebesar ini karena siapa? Makananmu saat kecil sampai sekarang dibuat oleh siapa? Bajumu yang kotor dicuci siapa?“


Saat berbicara, mata Alseenio sudah memerah tampak sangat marah dan melototi Pemuda ini dengan sangat menohok.


“Siapa yang membesarkan dirimu dengan sehat hingga sebesar ini? Siapa yang mengajarimu berjalan dan berbicara saat kecil? Siapa yang memberimu asupan nutrisi ketika kecil? Siapa yang menyayangimu jika semua orang di dunia ini tidak ada lagi yang sayang padamu? Kutanyakan lagi kepadamu, siapa orang itu?!“


Suara Alseenio sangat dalam dan terdengar seperti petir yang menyambar membuat Pemuda di depannya gemetar dengan wajah yang pucat.


Aura menyeramkan yang berasal dari keahlian bertarung tak sengaja keluar dan menyentuh jiwa Pemuda tersebut.


Dalam pandangan Pria ini, Alseenio tampak seperti seorang pemimpin batalion dalam sebuah peperangan.


Pesona yang ditampilkan sangat menyeramkan sehingga orang ini hampir buang air kecil di celana.


Melihat Alseenio yang marah, Fara segera menarik Alseenio dan menenangkannya dengan pelukan tangan.


Tanpa sadar, amarah Alseenio yang naik perlahan turun dan reda, terapi ia masih menatap pemuda di depannya ini dengan dingin, seperti bisa membekukan orang.


Pemuda ini diam terpaku sambil menatap Alseenio dengan ekspresi yang ketakutan ekstrim.


Orang-orang sudah banyak yang berkumpul di area trotoar tempat kegaduhan terjadi.


Melihat suasana menjadi tidak kondusif, tiba-tiba wanita paruh baya datang dan berkata dalam bahasa Mandarin kepada Alseenio.


Pemuda yang ketakutan itu pun memberanikan diri untuk berbicara kepada Alseenio dalam bahasa Inggris.


Melihat keduanya yang aneh, Alseenio kebingungan dan tak mengerti apa yang terjadi.


Mengapa semuanya berubah? Mengapa Ibu dan Anak ini menghampiri dirinya? Bukankah mereka tadi sedang cekcok? Alseenio melirik keduanya dengan wajah yang tak mengerti.


Pemuda yang memakai jas kantor mendekati Alseenio dan berkata dengan hati-hati, “Maaf karena telah membuatmu ma–marah, peristiwa ta–tadi bukan su–sungguhan, tenangkan dirimu, Teman.“


Setelah mengatakan itu, Wanita paruh baya yang dihardik oleh Pemuda tersebut mengangguk membenarkan ucapan Pemuda di sampingnya.


Alseenio yang bingung dan belum mengerti memandang di antara keduanya dengan cepat. “Apa maksudnya? Aku tidak paham dengan apa yang sebenarnya terjadi saat ini.“

__ADS_1


Segera, pria muda dan wanita paruh baya menjelaskan kepada Alseenio tentang apa yang sesungguhnya terjadi pada peristiwa yang mengundang kegaduhan tersebut.


__ADS_2