
Ketika tiba di mansion, keluarga Fara terkejut tidak percaya apa yang dilihatnya sekarang.
Sebuah rumah besar bak sebuah istana ada di depan mereka, itu sangat besar bahkan mereka harus menengadahkan kepalanya untuk melihat keseluruhan rumah.
“Ayo masuk!“ Alseenio mengajak mereka semua untuk masuk ke dalam rumah.
Sudah 1 menit Fara dan orang tuanya berdiri di depan rumah, mereka pasti lelah akibat perjalanan.
Mendengar ajakan Alseenio, keluarga Fara berjalan mengikuti Alseenio dengan langkah kaki yang ragu dan takut.
“Anu … Nio. Apakah rumah ini adalah rumahmu?“ Fara bertanya dengan hati-hati sambil berjalan di sebelah Alseenio.
Alseenio langsung mengangguk dan menjawab dengan nada yang lembut, “Ya, benar. Kamu bersama orang tuamu akan tinggal di sini.“
“Benarkah?“ Mata Fara membelalak. “Terus, rumahku di sana bagaimana?“
“Iya, itu benar. Rumahmu di Sukabumi? Sepertinya kita harus bicarakan lagi masalah ini bersama ayah dan ibu Fara di rumah nanti."
Alseenio belum tahu ingin diapakan rumah Fara yang ada di kampung daerah Kota Sukabumi.
“Baiklah.“
Di dalam rumah, mereka disuguhkan banyak makanan oleh 7 pembantu, pemandangan saat mereka menyajikan makanan begitu menakjubkan, perlakuan seperti ini sama sekali belum pernah keluarga Fara dapatkan selama hidupnya, mereka hanya bisa melihat di film di televisi.
Melihat makanan-makanan yang diletakkan di atas meja yang tampak lezat, mereka tidak sabar untuk langsung memakan, tetapi mereka tidak lancang, menunggu Alseenio makan terlebih dahulu.
Sehabis makan, Alseenio mengajak mereka untuk memilih kamar, di mansion miliknya memiliki banyak kamar dengan berbagai pemandangan dan tata letak yang berbeda.
Setelah beberapa saat melihat kamar-kamar, Fara memilih kamar yang ada di dekat kamar utama, yaitu dekat kamar Alseenio.
Sementara itu, orang tua Fara memilih 1 kamar di lantai 1, ruangan yang lumayan luas dengan pemandangan taman belakang, cocok untuk mereka berdua tempati.
Kemudian mereka membereskan barang bawaannya dibantu oleh Alseenio, Bella, dan beberapa pembantu supaya lebih cepat.
Fara dan kedua orang tuanya benar-benar tidak memahami Alseenio memiliki kemewahan ini, terlebih ketika ke basemen yang ada di bawah, mereka terkejut karena banyak mobil dan sepeda motor mewah.
Terutama Ayah Fara yang ternyata suka dengan mobil juga, ia sangat tercengang dan bahkan ragu-ragu ketika ingin menyentuh mobil-mobil Alseenio.
Fara dan Ibu Fara tidak tahu-menahu tentang mobil, jadi keduanya bereaksi normal dan tidak berlebihan.
Kemewahan ini masih sedang dicerna oleh ketiganya, mereka harus beradaptasi dengan apa yang ada di rumah ini.
Pada saat ini, mereka semua duduk di sofa ruang tamu di depan mereka terdapat meja yang di atasnya tersaji makanan ringan, seperti kue dan minuman manis.
Tepat ketika waktu menunjukkan pukul jam 11 siang, Alseenio mulai berbicara kepada keluarga Fara.
“Mulai hari ini, Fara, Ibu Fara, dan Ayah Fara boleh tinggal di sini sampai kapan saja, itu terserah, semua pilihan ada di Fara dan orang tua Fara. Jangan malu atau takut apabila memiliki keinginan atau bantuan, bilang saja padaku.“
Suara Alseenio sangat sopan dan nyaman di dengar telinga, tempramen lembut Alseenio sangat berguna, membuat mereka semua menangkap ucapan Alseenio tanpa ada tolakan sedikit pun.
__ADS_1
Mendengar ini, mereka bertiga mengangguk mengerti.
“Tentang masalah rumah di kampung, aku tidak memiliki hak untuk memilih ingin diapakan rumahnya. Oleh karena itu, kita akan membicarakan ini.“ Alseenio memandang orang tua Fara dengan tatapan yang sopan.
Selama pembicaraan ini, Alseenio memberikan banyak pilihan kepada orang tua Fara, misalnya membuat rumah itu menjadi kontrakan rumah atau usaha baru.
Namun, setelah banyak pertimbangan yang dipikirkan oleh orang tua Fara, mereka memilih untuk menggunakan rumah itu sebagai usaha kecil-kecilan, yaitu sewa lapak usaha.
Jadi, orang tua Fara ingin menjadikan rumah mereka ini sebagai sewaan lapak usaha untuk seseorang yang ingin membuka usaha.
Hampir sama dengan kontrakan rumah, tetapi dengan konsep yang berbeda.
Jadi, Alseenio menawarkan mereka untuk merenovasi rumah yang ada di kampung itu menjadi lebih baik agar pelanggan yang ingin menyewa menjadi tertarik.
Alseenio pikir juga di kampung itu cukup strategis, tidak jauh dari kota, terlebih rumah Fara berada di pinggir jalan yang cukup strategis.
Bukan suatu masalah untuk Alseenio memberi modal usaha kepada orang tua Fara, meskipun sudah tua, mereka masih memilik niat untuk bekerja.
Alseenio, mengajak mereka untuk pergi ke mall di jam 12 siang untuk membuat rekening baru yang berisikan modal usaha.
Di sana juga Alseenio membelikan baju mahal dan dua mobil sedan bermerek Mercedes Benz C-Class dan Honda Accord yang nantinya akan dipakai untuk Fara dan kedua orang tuanya.
Ketika ingin dibelikan, mereka semua tidak setuju dengan keputusan Alseenio. Menurut mereka, Alseenio tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk mereka karena modal usaha 1 miliar saja sudah lebih dari cukup.
Tidak ada yang bisa menahan kemauan Alseenio, akhirnya mereka kalah dan menerima barang pembelian Alseenio.
Uang modal usaha 1 miliar rupiah untuk kedua orang tua Fara dan 500 juta untuk Fara sebagai gajinya sebagai asisten pribadi yang mengurusi kehidupan Alseenio.
Di mana pun Alseenio berada, Fara akan ada di sana.
Di tempat parkir, mereka berdua berdiri di luar mobil, sedangkan orang tua Fara berada di dalam mobil tengah menunggu mereka masuk.
Bella belum masuk mobil, ia berdiri di mobil yang lain untuk menjaga mereka.
“Kamu tidak bercanda, kan?“
Setelah mendapatkan kabar itu, Fara benar-benar tidak menyangka ia diberikan pekerjaan seperti ini.
“Tidak, apa kamu tidak mau jadi asisten pribadiku?“ Alseenio menyeringai dan menaikkan alisnya.
“Itu, aku ….” Fara termenung sesaat, kemudian ia menghembuskan napas. “Baiklah, tetapi kamu harus berjanji.“
“Janji?“
“Kamu tidak boleh macam-macam kepadaku.“ Fara menatap tajam ke Alseenio.
“Macam-macam? Maksudnya?“ tanya Alseenio yang tidak mengerti.
Pipi Fara memerah dan ia berkata, “Seperti memegang hal yang tidak boleh dipegang dari tubuhku.“
__ADS_1
“Oh, itu ….” Alseenio melirik ke gundukan besar yang menempel di dada Fara, kemudian ia mengangguk. “Oke!“
“Hei! Dasar, Nio Mesum!“ Fara menyadari tatapan Alseenio yang mengarah ke mana, dengan cepat ia mencubit pinggang Alseenio sekuat tenaga.
“Aduh, sakit!“
Rasa perih dapat dirasakan jelas oleh Alseenio dan ia merintih kesakitan, melihat pinggang sekilas, terdapat bekas cubitan yang berwarna merah di pinggangnya, cubitan Fara sangat berbahaya.
Fara tidak peduli dengan suara kesakitan Alseenio, ia masih marah karena tindakan berani mata Alseenio yang menatap dadanya, dan ia mendengus kesal, “Huft!“
Setelah mendengus, Fara masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Alseenio sendirian.
“Masih tidak berubah, jika marah dia pasti mencubit,” gumam Alseenio kecil sambil tersenyum, kemudian ia melirik Bella dan mengangguk.
Mereka semua masuk telah menaiki mobil, siap berangkat menuju mansion. Hari sudah mulai sore, mereka harus pulang.
Mobil yang baru saja dibeli sedang diantar ke mansion, mungkin tak lama mereka sampai di mansion, mobil-mobil itu juga tiba di mansion beberapa menit setelahnya.
Kedua mobil itu dibeli menggunakan kartu hitam, tidak heran apabila itu langsung disiapkan saat itu juga setelah melakukan transaksi, mereka tahu betapa istimewa orang yang memegang kartu hitam.
“Sekarang, aku harus apa?“
Sesampainya kembali di rumah, Fara masuk ke dalam ruang studio bersama Alseenio.
Ia tidak tahu sama sekali tentang apa yang harus dilakukan olehnya.
“Aaa—”
Alih-alih menjawab, Alseenio langsung menarik tangan Fara menggendongnya dengan tiba-tiba ke dalam pangkuannya.
Duduk di atas kursi, Alseenio memangku Fara sambil menutup mulutnya.
“Fara,” Alseenio memanggil seraya menatap mata terkejut Fara dengan pandangan yang serius.
Tangan Alseenio perlahan melepaskan mulut Fara yang sempat ingin berteriak dan ia berkata, “Bisakah kamu jawab pertanyaanku dengan jujur?“
Mendengar ini, Fara mengangguk, ia grogi karena dipandang sangat serius oleh Alseenio, pasti pertanyaannya sangat penting.
Melihat tubuh Fara yang sedikit bergetar, Alseenio inisiatif untuk memegang pinggang ramping Fara.
Mata Fara melebar lalu ia menurunkan pandangannya karena malu.
Gerakan yang tiba-tiba ini membuat Fara makin tersipu dan ia langsung menundukkan wajahnya, tidak berani untuk menatap kembali mata Alseenio.
Tingkah malu Fara sangat lucu, dapat membuat Alseenio tersenyum tanpa sadar.
Melihat tubuh Fara tidak bergetar lagi dan tampak sudah beradaptasi dengan sentuhannya, ini waktu yang tepat untuk memberikan pertanyaan.
“Fara, tolong jawab pertanyaanku, jangan ada yang ditutupi, apa kamu bisa memenuhi permintaanku ini?“
__ADS_1
“Umm.“ Fara mengangkat kepalanya dan mengangguk kecil, ia masih tidak berani menatap balik mata Alseenio.
“Fara … apa wajahmu itu penuh oleh riasan?“