SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 69: Wanita Mahal


__ADS_3

“Ehh … apa maksudnya ini?“


Seketika, Alseenio tersadar dari godaan tatapan Tiara, kepala Alseenio penuh tanda tanya seperti bayi yang tidak tahu apa-apa.


Ia menatap Tiara dengan mata yang polos dan tidak mengerti apa yang dimaksud Tiara.


“Wanita di depanku ini ingin mengandung anakku? Sial! Apa yang terjadi di sini?!“ Alseenio berteriak di dalam hatinya dengan matanya yang masih melirik tatapan Tiara yang serius dan menggoda.


“Nio ... izinkan aku mengandung anakmu—jadikan aku alat pemuasmu ….“ Tiara memandang mata Alseenio dengan serius dan wajahnya tersipu merah bagai apel yang matang.


Namun, Alseenio sempat melihat pupil mata Tiara yang bergetar saat berbicara, ditambah nadanya terdengar sedikit gamang, membuat Tiara terlihat ragu dan takut dengan pilihannya.


Alseenio memperhatikan ini dan menyadarinya, ada sesuatu yang salah dengan wanita ini.


Alih-alih menjawab, Alseenio mengangkat Tiara ke atas, ia memegangi pinggang ramping Tiara dengan kedua tangannya, memindahkannya dari pangkuan.


Apabila Tiara duduk terlalu lama di pangkuannya, adik kecilnya akan bangun dan menjadi dewasa dalam sekejap, ia harus memindahkan Tiara ke tempat lain.


Tiara tidak bereaksi ketika Alseenio mengangkatnya dengan sangat mudah, kemudian Tiara berdiri di depan Alseenio dengan sorot mata yang bingung. Ia tidak mengerti tindakan Alseenio.


“Kenapa aku dipindahkan? Apakah pesonaku begitu buruk di matanya? Apa aku tidak cantik lagi?“ Tiara bergumam dan bertanya-tanya dalam hatinya.


Alseenio bangun dari kursi begitu dirinya memindahkan Tiara ke sebelah meja makan, ia berdiri memandangi Tiara dengan wajah yang tidak senang.


“Jelaskan masalahmu, jangan seperti ini, aku sangat tidak suka kamu bertindak seperti tadi,” kata Alseenio dengan nada yang sedikit marah. Matanya melirik gusar pada wajah Tiara yang perlahan berubah.


“Anu, aku …” Tiara menundukkan kepalanya tampak bersalah, ia tidak berani melihat Alseenio secara langsung.


Bruk!


Tiba-tiba Tiara jatuh ke lantai dan ia bersujud di depan Alseenio sambil merintih, “Maafkan aku … Nio.“ Setetes air mata keluar dari kedua matanya, tetes demi tetes, air mata jatuh ke lantai.


“Maaf …. Aku se–sebenarnya tidak berni–niat untuk melakukan hal itu ke–kepadamu.“ Suaranya gemetar karena dadanya yang terasa sesak. “Aku terpaksa harus melakukan ini demi ibuku, Aku—”


Tiara yang menangis sedih dan belum selesai berbicara langsung terpotong oleh gerakan Alseenio. Uluran tangan Alseenio mencengkeram bahu Tiara dengan lembut, tubuhnya ditopang oleh Alseenio hingga Tiara berdiri.


“Duduklah! Jangan bersujud, juga jelaskan semua apa yang terjadi dengan ibumu dan kamu.“ Alseenio kembali duduk di kursi makan, menunjuk ke kursi yang lain menyuruh Tiara untuk duduk. Suara Alseenio terdengar dingin, tampaknya ia sudah marah karena tindakan Tiara.


Sesuai dengan perintah Alseenio yang mendominasi, Tiara duduk di kursi dengan pandangan tertunduk ke bawah. Keduanya tangannya saling meremas, wanita ini kelihatan sangat bersalah, takut, dan menyesal karena perbuatannya barusan.


Alseenio menghembuskan napas panjang, ia mencoba menenangkan diri dan tidak bertindak kasar melalui suaranya. Jujur saja, ia merasa kesal ketika melihat Tiara yang tiba-tiba bersujud di depannya dan meminta maaf tanpa memberikan alasannya. Ini membuatnya bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Mulai dari Tiara yang menggodanya tanpa sebab dan sekarang menangis meminta maaf, fluktuasi hati Alseenio berubah-ubah dalam waktu yang sesingkat itu.


Amarahnya terpancing ketika Tiara mengatakan bahwa yang dia lakukan ialah demi ibunya.


Apakah Tiara dipaksa menjadi seorang ****** oleh ibunya? Alseenio tak mengerti ini.


Usai psikologis Alseenio mulai tenang, ia menatap sosok Tiara yang masih terisak tangis dengan tubuhnya yang sesekali tersentak. Ekspresi wajah Alseenio tidak sedingin sebelumnya, kini mencair, seperti es batu di tengah padang pasir.


“Tiara, bisakah kamu menjelaskan masalahmu yang sedang dialami sekarang?“ Alseenio mengubah nada suaranya, kelembutan terdengar jelas dari nadanya saat bertanya.


Mendengar pertanyaan Alseenio yang dibalut suara magnetis dan kelembutan tiada tara, keraguan Tiara untuk menerangkan masalahnya seketika lenyap. Kepalanya yang tertunduk, pelan-pelan terangkat.


Alseenio melihat jelas wajah Tiara yang menghadap ke arahnya. Ada bekas jalur air mata di kedua pipi Tiara, matanya berkaca-kaca dengan sedikit kemerah-merahan, secara keseluruhan tampak sedih dan depresi.


Selain itu, Alseenio pun baru sadar bahwa terdapat kantong mata di wajah Tiara. Terlihat wanita ini kelelahan.


“Bisa, tetapi—”


“Ambil tisu ini, hapus air matamu terlebih dahulu.“ Alseenio memberikan kotak tisu yang ada di atas meja ke tangan Tiara.


Segera, Tiara menyeka air matanya yang bersemayam di pipi dan juga di bawah matanya, kemudian ia mengambil beberapa lembar tisu sebelum meletakkan kembali kotak tisu ke atas meja makan.


Setelah wajahnya bersih, juga berhasil menstabilkan hatinya saat membersihkan wajahnya, Tiara sudah menyiapkan diri untuk menjelaskan masalah yang sedang dihadapinya ke Alseenio.


“Aku akan menjelaskan semuanya dari awal, apakah tidak apa-apa?“ Tiara bertanya dengan pandangan mata yang tertunduk ke bawah, ia masih takut dengan Alseenio, takut pria di depannya ini bersikap dingin lagi.


“Ya, beri tahu aku semua masalahmu yang mengakibatkan kamu berani bertindak gegabah seperti tadi,” jawab Alseenio dengan tenang, suaranya secara tidak langsung membantu Tiara menentramkan hatinya. “Jujur, jangan ada pernyataan sedikit pun yang ditutupi.“


Kejujuran sangat dibutuhkan, Alseenio tidak ingin dibohongi oleh orang yang meminta bantuan kepadanya.

__ADS_1


Tiara mengangguk kecil dan mencoba memberanikan diri untuk melihat wajah Alseenio sebelum memulai memberi tahu secara detail masalahnya.


“Aku tidak akan marah, tenang saja. Aku akan diam selagi kamu menjelaskan semuanya,” Alseenio berbicara saat melihat pandangan mata Tiara yang sedikit takut ke arahnya.


Dengan lampu hijau yang diberikan oleh Alseenio, Tiara dengan mantap menjelaskan semuanya dari asal-muasal masalahnya terjadi.


“Pada awalnya, keluargaku adalah keluarga yang bisa dikatakan sebagai keluarga yang cukup. Membeli kebutuhan untuk makan sehari-hari atau kebutuhan primer, bahkan keluargaku bisa membeli barang yang cukup mahal, seperti mobil dan semacamnya.


“Namun, semuanya berubah ketika Ayah pergi karena sebuah kecelakaan maut dalam perjalanan menuju ke tempat kerja di Jakarta.


“Perlahan keuangan dan tabungan menipis karena dimakan olehku dan keluarga, sebenarnya uang yang Ayah simpan masih bisa bertahan belasan tahun atau sampai aku lulus kuliah.


“Semua ini gara-gara satu orang, orang itu yang menggerogoti uang Ayah yang seharusnya untukku dan keluargaku. Orang itu adalah adik dari Ayahku sendiri, yaitu Pamanku! Tidak, orang itu tidak layak disebut sebagai seorang paman.“


Mata Tiara memerah ketika menyebut kata “Paman” pada penjelasannya, tampak wanita ini sangat kecewa dengan orang tersebut. Dengan sangat jelas ia menekan kata “Paman” tersebut.


Alseenio duduk dengan tenang sembari menyimak penjelasan dari Tiara.


“Orang itu memiliki teman yang terkenal preman di daerahku, otomatis dia dipengaruhi oleh teman-temannya yang tidak benar. Berjudi, mabok, dan bersenang-senang dia lakukan bersama temannya, semua itu dibiayai oleh orang brengsek itu dengan memakai uang Ayah.“ Tangan Tiara mengepal kuat saat mengucapkan kalimat itu. Ia benar-benar marah dengan perilaku buruk dari pamannya.


Perasaan kesal dirasakan juga oleh Alseenio begitu mendengar penjelasan Tiara satu ini.


Apakah paman seperti itu benar ada di dunia nyata?


“Tunggu, aku ingin bertanya. Berapa umur pamanmu?“ potong Alseenio dengan sopan dan ia bertanya penasaran.


Tiara menjawab dengan cepat, “Tiga puluh dua tahun.“


“Ternyata sudah tua. Punya istri dan anak?“


“Tidak, dia masih melajang sampai sekarang.“


“Apa dia bekerja?“


“Tidak sama sekali. Maka dari itu, ia meminta uang kepada ibu dan aku, apabila tidak diberi, dia akan mengancam akan melukai kami berdua, mengingat dia memiliki relasi dengan orang yang berbahaya, kami tidak bisa berbuat apa-apa.“ Tiara menundukkan kepalanya kembali dan tubuhnya mulai bergetar ingin menangis.


“Kamu sudah mencoba untuk melapor ke pihak kepolisian?“ Alseenio terus bertanya untuk memastikan. Meskipun cerita Tiara sangat suram, tetapi ia tidak tahu kebenarannya.


Harus terus diulik antara masalah dengan solusi yang pernah dicoba oleh Tiara.


“Ti–tidak! Ib–ibuku ada di rumah dan itu terus dipantau oleh di–dia dan teman-temannya. Aku sangat bingung! Dan tidak tahu harus berbuat apa, selain menuruti permintaannya.“ Air mata mengucur keluar dari kelopak mata Tiara, suaranya terdengar sangat depresi dan putus asa. Sedari awal ia menjawab pertanyaan Alseenio, tangannya bergidik hebat.


Alseenio mendekatkan kursinya ke Tiara dan ia memegang tangan Tiara yang dingin.


“Tenang, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan membantumu dalam menyelesaikan masalah ini.“ Nada suara yang penuh ketenangan dan kelembutan keluarga dari mulut Alseenio, berkata sambil menatap sepasang mata Tiara yang berair.


Mata Tiara melebar dan cahaya harapan terlintas di pupil matanya. “Sungguh? Kamu mau membantuku?“


“Ya, aku bersedia membantumu, tetapi ada syaratnya.“ Alseenio mengangguk menampilkan ketegasannya.


Air mata Tiara berhenti keluar dan ia lekas membersihkan pipi dan kelopak matanya, mendengar ini dirinya penasaran dan ia bertanya dengan cemas, “Apa itu? Apakah itu aku harus membuat ana—”


“Sutt! Jangan membicarakan hal itu,” sela Alseenio dengan cepat. Kalimat Tiara sudah pasti menjurus ke hal itu.


“Syaratnya adalah kamu jangan mudah memberikan kehormatanmu dan miliki prinsip bahwa kehormatan yang kamu punya akan diberikan kepada suamimu kelak. Jadilah wanita mahal.“ Alseenio melirik serius ke arah Tiara, aura kedewasaannya terpancar keluar begitu ia berbicara.


Seakan pukulan mendarat di dadanya, Tiara merasa dirinya sangat bersalah, ia sama sekali tidak menghargai dirinya sendiri dan menjual murah kepada Alseenio.


Namun, dipikir-pikir lagi, itu merupakan hal yang bagus memberikan kehormatan kepada Alseenio. Lihatlah profil Alseenio yang sangat elite, memiliki kekayaan yang banyak dan fisik tubuh yang sangat bagus, pasti bahagia hidup bersama Alseenio.


Begitu memikirkan hal ini, pipi Tiara memerah dan ia menggosokkan kedua kakinya tanpa sadar.


Melihat Tiara yang tiba-tiba menunduk lagi dan tampak malu, Alseenio tidak memahami apa yang terjadi di dalam pikiran Tiara.


Alseenio menghembuskan napas dan berkata, “Apa kamu sanggup memenuhi syarat yang aku ajukan?“


“Iya, aku akan melakukannya.“ Tiara menerima syarat Alseenio setelah dipikir lagi olehnya. Syarat Alseenio menguntungkan dirinya dan ia merasa terhormat karena syaratnya.


Mendengar jawaban Tiara, Alseenio mengangguk puas.


“Pertama-tama, kita berdua harus bereskan sampah dan piring di atas meja makan ini. Setelah itu, aku akan mengantarmu pulang,“ ujar Alseenio seraya bangkit dari kursi.

__ADS_1


Tiara setuju dengan saran Alseenio dan ia membantu membersihkan bekas makan malam mereka berdua.


Usai semuanya selesai dan meja makan sudah bersih seperti sedia kala. Alseenio siap-siap untuk mengantarkan Tiara pulang dari apartemennya.


Sebelum pulang, Alseenio memberitahukan apa yang dilakukan setelah Tiara pulang dari sini. Alseenio menginstruksikan Tiara untuk meletakkan kamera Yopro yang diberikan di dalam rumah yang strategis, sekiranya bisa merekam ketika pamannya datang ke rumah dan kembali mengancam meminta uang.


Instruksi yang diterangkan Alseenio didengar jelas oleh Tiara dan dipahami dengan baik. Ia akan melakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan Alseenio kepadanya.


Tepat ketika Alseenio hendak membuka pintu apartemen, ia merasa jaketnya ditarik oleh Tiara yang ada di belakangnya, kemudian ia berbalik dan melihat Tiara. “Kenapa, Tiara?“


“Ini sudah malam, Nio. Kupikir lebih baik aku menginap di sini saja,” kata Tiara dengan gugup.


“Kamu yakin?“


“Iya, aku yakin dengan pilihanku.“ Tiara dengan cepat mengangguk.


“Bagaimana dengan ibumu?“ Alseenio bertanya lagi. “Bukankah ibumu sendiri di rumah?“


“Ibu menginap di rumah tetangga, aku sudah bilang ke tetangga untuk menjaga Ibu satu malam ini.“


“Jangan bilang kamu sudah merencanakan ini sebelumnya?“ Alseenio baru sadar ketika mendengar jawaban tersebut dan ia menatap Tiara dengan tatapan yang tajam.


“An–anu, aku memang sudah me–merencanakan ini beberapa hari yang lalu.“ Tiara menundukkan kepalanya, tidak tahu karena bersalah atau malu.


Alseenio menggelengkan kepalanya, dan mengeluarkan napas panjang. “Baiklah, kamu boleh menginap di sini, tetapi ingat persyaratan yang aku bilang tadi.“


“Iya, aku akan ingat, aku tidak akan mengingkari janjiku.“ Wajah Tiara terlihat bersemangat seakan dirinya diberi hadiah yang menakjubkan.


“Oke, kamu boleh tidur di kamar kedua.“


“Terima kasih, Nio!“ Tiara langsung menyambar memegang kedua tangan Alseenio.


“Muach!“


Sebelum Alseenio sempat bereaksi, sebuah ciuman terlontarkan dari Tiara dan mendarat tepat di pipi kiri Alseenio.


Bekas lipstik yang samar tercetak di pipi kiri Alseenio.


Setelah melakukan itu, Tiara berlari ke arah kamar kedua dan meninggalkan Alseenio. “Itu hadiahku untukmu, semoga kamu menyukainya!“


“Ya … aku suka dengan hadiahnya,” jawab Alseenio tanpa sadar.


Malam ini adalah malam yang berkesan, Alseenio tidur dengan senyuman di wajahnya dalam semalaman, ciuman di pipi yang dilakukan oleh Tiara berdampak baik bagi kesehatan mental Alseenio. Malam ini mimpi indah terjadi.


Keesokan harinya, Tiara diantarkan oleh Alseenio ke tempat kerjanya. Ternyata Tiara mempersiapkan rencananya dengan matang, bahkan ia membawa sepasang baju ganti di dalam tas kerjanya.


Hari ini Tiara giliran masuk siang, jadi ada waktu untuk mempersiapkan diri sebelum bekerja.


Setelah Alseenio amati dan dianalisis lagi, Tiara bagus dalam mempersiapkan sebuah rencana, ia memikirkan waktu dengan baik.


Jikalau semalam benar terjadi hal yang seperti itu, ia masih tetap bisa bekerja karena masuk siang, terlebih lagi dia membawa alat kontrasepsi dan beberapa alat untuk meredakan sakit akibat gesekan berhubungan intim.


Alseenio tidak habis pikir terhadap wanita ini.


Sebenarnya, Alseenio mau-mau saja diajak seperti itu, tetapi ia tidak ingin memanfaatkan wanita ketika sedang memerlukan bantuan. Ia ingin berhubungan dengan wanita karena memang saling suka, lebih lagi Alseenio belum begitu menyukai Tiara.


Misi harus tetap dikerjakan, di hari ke-5 ini Alseenio tetap mengunggah video itu Tiktod dan Yitub, tak lupa juga mengunggah beberapa foto di Instagrem.


“Oke, Pak Pol. Terima kasih sudah membantu.“


“Sama-sama, sudah tugas kami untuk mengayomi masyarakat.“


“Semoga saja itu terus berlangsung. Kalau begitu, saya pamit dahulu, selamat siang, Pak Pol.“


“Selamat siang.“


Alseenio menatap layar ponsel dengan senyuman yang berarti. Masalah Tiara sebentar lagi akan terselesaikan.


Triring!


Sebuah panggilan datang lagi usai Alseenio berbicara dengan AKP Polisi Depok. Segera ia mengangkatnya.

__ADS_1


“Halo? Siapa ini?“


“Ini aku, saudaramu."


__ADS_2