SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 57: Pemuda Tidak Biasa


__ADS_3

Sebuah sepeda motor mewah bergaung sangat keras melalui knalpotnya yang mahal. Suaranya begitu galak bak suara raungan singa yang marah. Sepeda motor ini berhenti di sebuah bangunan yang tercantum nama Prestide dan di dalamnya berisikan mobil-mobil mahal yang harganya di atas 1 miliar rupiah.


Alseenio datang ke tempat bangunan pameran mobil milik Yudi Salam lagi untuk mengambil sebuah mobil. Baru saja Yudi Salam meneleponnya dan mengatakan bahwa sebuah mobil atas nama Alseenio sudah ada di tempatnya, kemungkinan besar itu adalah mobil dari hadiah sistem.


Dengan gegas Alseenio berangkat ke sini bersama dengan sepeda motor Kawasaki H2 Full Carbon yang baru didapatkan, juga pria kepala botak, yaitu Yogafit, yang pernah Alseenio bantu kemarin beberapa hari yang lalu, ia ikut datang dengan ojek daring ke tempat ini.


Di bawah tatapan Yudi Salam yang penasaran, Alseenio melepas helm, masker helm, dan sarung tangan, kemudian ia berjalan mendekati Yudi Salam bersama dengan Yoga.


Begitu sampai di sini, Yoga bersalaman pertemuan dengan Alseenio sesaat, keduanya bersama pergi ke Yudi Salam yang berdiri di dekat sebuah mobil berwarna hitam yang sangat keren dan elegan.


Yudi Salam saat melihat ternyata yang datang adalah Alseenio, ia berinisiatif juga untuk mendekat, senyum ramah dipampang ketika berjalan ke arah Alseenio.


“Ternyata itu Tuan Alseenio,” Yudi Salam berkata sambil berjabat tangan dengan Alseenio dan Yoga.


“Apakah ini mobilku?“ tanya Alseenio sambil melirik mobil yang ada di balik sosok Yudi.


Setelah mendengar pertanyaan Alseenio, Yudi buru-buru mengangguk. “Iya, ini mobil Anda, Tuan Alseenio. Sebaiknya, kita melihat mobil ini lebih dekat!“


Dengan ajakan Yudi, mereka bertiga berjalan ke mobil ini ditempatkan.


Alseenio dan Yoga bisa melihat jelas sosok mobil ini yang sangat luar biasa. Yoga tanpa basa-basi lagi mengambil gambar dirinya yang berdiri di depan mobil, ia mengambil foto selfie dengan latar belakangnya mobil Alseenio dan Alseenio sendiri.


Tampilan luar mobil ini sangat memesona dan keren, terlebih warna hitam dan ada sedikit aksen ungu di tubuh mobil membuat Alseenio makin menyukai mobil ini. Kaca spion dan lampu depan ini cukup menawan, pemuda ini suka dengan desain mobilnya.


“Bahan yang digunakan pada mobil ini adalah paduan khusus dari bahan karbon dan Titanium, sudah pasti kokoh, massa totalnya 1.246 kilogram,” terang Yudi yang berdiri di sebelah Alseenio, menjelaskan dengan singkat dan mudah dipahami.


Puas dengan visual luarnya, Alseenio berpindah ke interior mobil, segera ia membuka mobil dan masuk ke dalamnya.


“Mobil ini tipe coupe atau hanya ada dua bangku. Tentang keselamatan, mobil ini termasuk yang sangat baik dalam perlengkapan keselamatan, lampu depan adalah lampe LED yang memberi penerangan sangat jelas.


“Memiliki mesin Mercedes-AMG V12 twin-turbocharged 6.000 CC yang mampu memuntahkan 827 hp dan torsi 1.100 nm. Sanggup berakselerasi dari 0-100 kilometer per jam hanya dalam 2,8 detik dan kecepatan maksimal 383 kilometer per jam.“


Sepanjang Alseenio mengeksplorasi bagian dalam mobil ini, Yudi Salam menjelaskan spesifikasi yang diterapkan pada mobil ini. Alseenio puas dengan mobil, terlebih bahan yang dipakai setir dan kursi sangat nyaman.


“Aku sangat puas dengan mobil ini, apakah aku boleh membawanya pulang sekarang?“ kata Alseenio kepada Yudi.


Kepala Yudi Salam mengangguk cepat, dan ia menjawab, “Tentu saja, ini sudah menjadi mobil Anda.“


“Ini berkas-berkas pentingnya,” sambung Yudi sambil menyerahkan sebuah kertas-kertas yang ada di map dokumen.


Tangan Alseenio mengambil berkas ini dan membacanya saat itu juga.


Sementara itu, Yoga dan Yudi mengobrol di luar mobil sambil menunggu Alseenio selesai membaca dokumen kepemilikan dan surat kelengkapan.


“Omong-omong, harga mobil ini berapa?“ tanya Yoga yang penasaran seraya melirik tampilan depan mobil Pagani milik Alseenio.


Yoga tahu mobil ini, ia termasuk orang yang menyukai sebuah mobil, tetapi ia ingin tahu berapa harga mobil ini dijual.


Yudi hanya merespons pertanyaan Yoga dengan mengangkat sepuluh jarinya dan menunjukkan 9 jari saja, satu jari lagi ditekuk.


Tanda yang Yudi berikan dimengerti oleh Yoga, yakni 9 jari Yudi bermakna nominal harga mobil.


“Harganya 9 miliar?“ tanya Yoga yang terkejut dengan harga mobil.


“Bukan, harganya bukan sebesar itu,” kata Yudi menggelengkan kepalanya begitu mendengar jawaban salah Yoga.


“Jadi, berapa harganya?“ Yoga menatap Yudi dengan penasaran.


“Sembilan pu—”


“Sembilan belas?“


“Sembilan puluh miliar rupiah,” kata Yudi tanpa ragu dan nada yang serius.


Ucapan Yudi bagaikan petir yang menyambar di siang hari, membuat Yoga terperangah dengan mulutnya yang terbuka lebar.


“Sem–sembilan puluh mi–miliar?!“ Tubuh Yoga tersentak kaget hingga mundur beberapa langkah.


Kakinya yang sering dilatih kini terasa lemah seperti jeli, ia benar-benar tak menyangka harga mobil ini sangat besar dan tinggi.


Mata Yoga saat melihat mobil Alseenio memiliki pandangan yang berbeda, ini merupakan harta karun.


Namun, bukan itu yang membuat Yoga lebih tercengang, melainkan orang yang memiliki mobil ini, tidak lain tidak bukan adalah Alseenio sang teman yang tak sengaja menjadi seorang teman.

__ADS_1


Pemuda lajang kenalan di pinggir jalan tidak sengaja dan direncana ini ternyata seorang anak kaya yang bahkan kekayaannya tak bisa Yoga bayangkan. Mulanya ia kira Alseenio adalah anak orang kaya yang biasa, yang suka bermain-main, dan kekayaannya pun tidak begitu tinggi seperti pengusaha dan pebisnis besar.


Saat ini, sosok Alseenio dalam pandangan Yoga berbeda, ini bukan pemuda biasa, ini generasi muda yang luar biasa.


“Jangan terkejut, ini mungkin bukan apa-apa baginya, aku sering melihat dan berteman orang-orang yang kaya dengan jumlah kekayaannya yang menakjubkan. Pemuda ini bukan semata-mata pemuda kaya, aku duga pemuda ini memiliki kekayaan yang tak kalah banyak dari orang kaya yang pernah aku temui.“ Yudi menepuk pundak Yoga, menghembuskan napas berat, dan tersenyum pasrah.


Tampak Yudi mengagumi Alseenio, sekaligus ia meratapi nasibnya, di pikirannya terlintas pemikiran perbandingan antara dirinya sendiri dengan Alseenio, ia merasa rendah sekarang jika dihadapkan di depan Alseenio.


Tampilan orang kayanya seolah ditekan oleh aura kekayaan Alseenio, terasa ada dirinya di bawah Alseenio yang beberapa tahun lebih muda umurnya.


“Dokumen sudah lengkap, semuanya sudah benar, aku puas sekali dengan mobil ini.“ Alseenio tersenyum puas setelah melihat-lihat mobil ini serta kelengkapan suratnya.


“Syukurlah kalau Anda puas,” ucap Yudi yang merasa lega dan juga ikut puas karena pelanggannya puas dengan barang titipan ini. “Omong-omong, beberapa bulan yang lalu banyak sekali mobil yang dititipkan langsung di sini tanpa diberitahukan terlebih dahulu pemiliknya, jangan-jangan itu semua milik Tuan Alseenio?“


“Tidak tahu, mungkin iya dan mungkin tidak,” balas Alseenio yang juga tidak tahu.


Itu bukan masalahnya, terpenting sekarang mobilnya sudah diambil dan sudah saatnya pulang.


“Bang Yoga, tolong bantu aku membawa sepeda motor milikku,” panggil Alseenio sembari melemparkan kunci sepeda motor Kawasaki H2 kepada Yoga.


Reaksi Yoga cukup bagus, ia dengan tanggap menangkap kunci sepeda motor Alseenio.


“Siap, aku laksanakan!“ sahut Yoga yang bertingkah seperti seorang tentara yang melakukan hormat. “Hehe, akhirnya keinginanku tercapai menunggangi apartemen berjalan.“


Yoga berbalik dan berjalan dengan memegang kunci sepeda motor menuju sepeda motor Alseenio yang terparkir, wajah Yoga terlihat senang bagaikan dirinya mendapatkan istri baru.


“Terima kasih mobilnya, kami berdua pamit dahulu,“ Alseenio berpamitan dengan Yudi sebelum dirinya pulang.


“Aku juga pamit dahulu, Banyak Yudi,“ pamit Yoga yang siap berangkat.


“Kalian berdua hati-hati di jalan,” jawab Yudi dengan tersenyum sopan.


“Kami pergi.“


Alseenio dan Yoga mengangguk, kemudian mereka berdua melajukan kendaraannya masing-masing dan meninggalkan daerah pameran mobil Yudi Salam.


Vroom! Bruumm!


Dua suara yang mengaum keras bak suara raungan macan terdengar jelas sebelum akhirnya sosok kecil dan besar menghilang di ujung jalan.


Keduanya melaju tempat apartemen Alseenio untuk pulang.


Di sepanjang jalan, banyak pengendara yang mengalihkan perhatiannya ke arah mobil Alseenio. Mereka belum pernah melihat mobil ini melaju di jalan daerah mereka sebelumnya. Wajar saja, mobil mewah satu ini terlihat memesona dan keren ketika dilihat, sangat disayangkan untuk dilewatkan.


Alseenio merasa sangat nyaman menyetir sambil mendengarkan musik, ia merasa dirinya sedang berada di puncak kehidupan, seakan ia merasa bahwa kehidupan seperti inilah arti hidup yang sebenarnya, tak ada beban dan hanya bersenang-senang.


Namun, ketika Alseenio fokus mengendalikan setir mobil, ia melihat seorang wanita yang sedang berdiri bermain ponsel di pinggir trotoar di kejauhan.


Ini menarik perhatiannya karena Alseenio merasa pernah melihat wanita ini sebelumnya, tetapi ia tidak tahu di mana dirinya melihat sosok wanita tersebut.


Dengan rasa keingintahuannya yang makin banyak dan rasa penasarannya yang melonjak, Alseenio memutuskan untuk berhenti dan melihatnya secara langsung.


Bruum!


Suara knalpot yang garang disertai percikan api yang keluar, mobil Pagani Alseenio berhenti di depan wanita ini.


Segera, wanita ini melihat mobil Alseenio dengan ekspresi yang aneh dan bingung. Wanita ini tak mengerti apa yang terjadi.


Sebelum wanita tersebut bereaksi, Alseenio keluar dari mobil dengan memakai masker ajaib, perlahan berjalan menuju wanita ini.


Saat dilihat dari dekat, Alseenio langsung yakin bahwa wanita ini pernah ia lihat sebelumnya di media sosial, tetapi ia lupa namanya.


Agar tidak canggung dan aneh, Alseenio mengeluarkan jurusnya yang membuat orang menjadi nyaman.


Aura kelembutan terpancar keluar dari tubuh Alseenio, wanita ini merasa aman dan nyaman dalam sekejap seiring Alseenio mendekat.


Pandangan mata wanita ini tak lepas melihat sepasang mata Alseenio yang menawan saat Alseenio berjalan ke arahnya.


Tampaknya wanita ini tanpa sadar terpesona dengan ketampanan Alseenio yang hampir mendekati kesempurnaan.


“Halo,” Alseenio menyapa wanita ini dengan suara magnetis yang terkontrol.


Tiba-tiba, wanita ini mengedipkan matanya dengan cepat beberapa kali, kemudian mengubah arah matanya ke bawah, tak lagi menatap secara langsung mata Alseenio.

__ADS_1


Alseenio sempat melihat pipi putih wanita ini menjadi merah dengan waktu yang cepat, dirinya sudah tahu wanita ini kenapa, tetapi Alseenio masih penasaran dengan wanita ini.


“Halo, apa kamu baik-baik saja?“ tanya Alseenio dengan lembut.


Setelah Alseenio bertanya, wanita ini bereaksi dan perlahan mengangkat kepalanya untuk melihat Alseenio.


“Anu … aku tidak apa-apa,” Wanita itu tersenyum terpaksa dan sedikit menggelengkan kepalanya.


Kedatangan Alseenio membuat wanita ini kikuk dan malu-malu. Terlihat dari kedua tangannya yang saling bersentuhan, menunjukkan bahwa dirinya grogi.


Alseenio merasa dirinya seperti penjahat, membuat orang seperti sedang ketakutan.


Peka dengan hal ini, Alseenio terus melanjutkan pendekatannya dengan lebih intens.


“Boleh kita berkenalan?“ tanya Alseenio sambil memiringkan kepalanya.


Melihat ini, wanita tersebut mengangguk. “Emm … boleh ….“


Suara wanita ini sangat pelan, sungguh pemalu.


“Perkenalkan aku Alseenio.“ Tangan Alseenio terulur, mengajak berjabat tangan.


Wanita ini sekian detik menatap tangan Alseenio sebelum berjabat tangan.


“Aku Katisa, salam kenal,” ucap Wanita tersebut dengan lembut.


Tepat ketika mendengar nama wanita ini, sebuah ingatan muncul di kepala Alseenio, ia akhirnya ingat tentang wanita ini, ternyata wanita di depannya adalah Katisa seorang pemain gim seluler yang terkenal, selain itu wanita ini adalah seorang streamer, yituber, selebgrem, dan tiktoder.


“Katisa? Kamu yang pemain gim Mobel Lejen itu, kan?“ tanya Alseenio untuk memastikan.


“Iya, kamu kenal aku?“ jawab Katisa yang terkejut, ternyata pria tampan ini kenal dirinya, ia senang.


Alseenio kenal dengan wanita ini, ia pernah melihat sekilas video Yitub pendek tentang wanita ini. Alseenio mengangguk, dan menjawab, “Kenal, kebetulan aku pernah menonton video Yitub milikmu.“


“Kamu penontonku, ya?!“ Dalam sekejap sifat Katisa berubah.


“Enggak juga. Kebetulan aku pernah menonton salah satu videomu, juga mendengar beberapa isu mengenai dirimu di internet.“ Alseenio menggelengkan kepala.


“Oh … begitu. Intinya, kamu tahu aku?“


“Tahu, kamu Katisa si ketiak hitam, kan?“ Alseenio bertanya dengan wajahnya yang polos.


Ia tidak tahu bahwa dirinya menyinggung Katisa.


“Tidak! Ketiakku tidak hitam, lihat saja!“ Katisa dengan wajah blasteran Indonesia-Cina yang cantik ia mengangkat tangannya ke atas dan menunjukkan ketiaknya yang mulus.


Katisa mengenakan pakaian yang berupa kaus kutang atau biasa dikenal tank top berwarna hitam, dengan mudah ia menunjukkan ketiaknya kepada Alseenio tanpa malu.


Sifat asli Katisa muncul saat ini, Alseenio cukup terkejut dengan perubahan sifatnya, dari sifat pemalu ke sifat yang sedikit bobrok.


“Uhuk! Maaf, tolong turunkan tanganmu. Benar, ketiakmu tidak hitam, aku mengakuinya,” Alseenio berkata dengan canggung begitu diperlihatkan ketiak putih, bersih, tanpa noda.


“Kamu yang memulainya, enak saja bilang aku ketiak hitam,” Katisa menggembungkan pipinya dan berkata agak marah.


Alseenio menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan merasa kikuk karena pertanyaan yang dilontarkan spontan sebelumnya.


Segera, Alseenio mengubah topik agar tidak canggung di antara keduanya.


Alseenio melirik pakaian yang dikenakan Katisa, terlihat seperti ingin pergi keluar, tanpa banyak berpikir lagi, ia bertanya, “Kenapa kamu di sini? Kamu ingin pergi jalan-jalan?“


“Iya, aku ada acara kolaborasi dengan Lysia untuk kepentingan Yitub, aku ingin ke sana. Baru saja aku ingin memesan Gokar, tetapi kamu datang, jadinya tertunda,” terang Katisa dengan wajah yang masih terdapat noda merah ketika menatap sepasang mata Alseenio.


“Belum pesan Gokar?“


“Belum.“ Katisa menggelengkan kepalanya.


“Mau aku antarkan ke sana?“ Alseenio menawarkan bantuan kepada Katisa.


“Emm … boleh, deh.“ Setelah berpikir sejenak, Katisa menyetujui tawaran Alseenio.


“Ayo masuk!“ Alseenio membuka pintu Pagani dan mempersilakan Katisa masuk ke dalam.


Setelah itu, mereka berdua pergi meninggalkan trotoar pinggir jalan menuju Lysia berada.

__ADS_1


Di saat yang sama, Yoga tersesat dan sedang duduk menunggu di pinggir jalan sembari memakan ketoprak, ia menunggu Alseenio lewat, ia berpikir bahwa Alseenio tertinggal jauh di belakang karena dirinya membawa sepeda motor terlalu cepat barusan.


“Ke mana Alseenio? Kenapa belum lewat jalan ini?“ Yoga bertanya-tanya sambil mengunyah lontong ketoprak.


__ADS_2