
“Tunggu, sepertinya aku pernah lihat orang ini,” kata Bang Windi yang ingat dengan wajah Pria Jepang di depannya.
“Di mana?“ tanya Bang Luffi, “di Yutub dia?“
“Iya, aku pernah nonton videonya yang ada pria ini.“ Bang Windi mengangguk, ia memegang dagunya dan mengingat lagi.
Mendengar ini, Alseenio segera bertanya kepada pria ini untuk memastikan, “Apa kamu pernah ikut buat video bersama dia?“
“Benar, aku pernah beberapa kali ikut di video Derome.“ Pria jepang ini mengangguk satu kali.
Setelah mengatakan itu, Pria Jepang ini menunjukkan lagi sebuah video yang ada gambar dirinya.
Temannya dari Indonesia yang bekerja sebagai Yituber tersebut adalah Derome Palin, Alseenio tahu saluran Yitub ini, beberapa kali pernah melihat video-video dari Derome.
“Nah, benar, kan?“ Bang Windi tersenyum dan mengangkat alisnya.
Meskipun tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Pria Jepang ini, mereka semua paham dari gerakan tubuh Pria ini.
Setelah itu, Alseenio bertanya tentang nama pemuda tersebut. Pria Jepang ini bernama Sasaki, teman kuliah Derome jurusan tata busana.
Wajar saja apabila pakaian yang dikenakan Sasaki sangat cocok dan terlihat keren.
Sasaki berpamitan untuk pergi, ada urusan yabg harus ia selesaikan.
Melihat punggung Sasaki yang perlahan menghilang dan dihalangi orang-orang, mereka semua melanjutkan perjalanan lagi menuju hotel.
Mereka makan malam bersama di lobi hotel sebelum pergi tidur di kamarnya masing-masing.
Di sana, mereka mengobrol mengenai tempat wisata apa yang akan dikunjungi besok lusa.
Untuk besok, mereka sudah menentukan ingin pergi ke mana.
“Besok lusa sepertinya aku tidak bisa ikut bersama kalian, aku harus pergi ke suatu tempat untuk bertemu seseorang,” Alseenio berkata kepada mereka dengan tatapan yang santai.
“Ya, tidak apa-apa, Bang Nio. Semoga urusannya lancar.“
“Baiklah, tidak mengapa. Hati-hati di sana, Bang Nio.
“…”
Mereka semua sudah memaklumi apabila Alseenio banyak urusan, seseorang yang memiliki perusahaan dan memiliki banyak saham pastilah sibuk.
Makan malam selesai, mereka kembali ke kamar masing-masing dan pergi tidur beberapa jam kemudian.
Di pagi hari berikutnya, Alseenio dan yang lain pergi naik kereta menuju tempat yang terkenal di Kota Tokyo.
Banyak orang yang memerhatikan Alseenio dan rombongan, sebab Bang Luffi dan Bang Birand membuat konten vlog sehingga ia membawa kamera sambil berinteraksi di depan kamera.
Alseenio juga membuat konten, tetapi tidak intens, ia merekam sesekali saja apabila ada sesuatu yang menarik dan perlu direkam.
Banyak pandangan orang terfokus pada Alseenio dan Fara semuanya, tampilan keduanya memang berbeda, terlihat dari aura yang terpancar dari sosok mereka berdua, sangat menarik mata dan perhatian.
Meskipun mereka berdua memakai masker, itu tidak menutupi penampilan mereka yang indah.
Pandangan-pandangan ini sudah disikapi biasa oleh keduanya, mereka tahu bahwa orang lain penasaran dengan keduanya, Alseenio pun sudah memperingatkan kepada Fara untuk bersikap biasa saja apabila dilihat orang lain, terpenting pakaian Fara tidak membentuk keseluruhan tubuh. Maka dari itu, Alseenio selalu meminta Fara memakai pakaian yang kebesaran.
Beberapa saat di kereta, mereka akhirnya sampai di tujuan atau destinasi hari ini, yakni Disniyland Tokyo.
Ternyata di tempat ini cukup ramai, salju belum begitu banyak di dalam Disniyland, orang-orang senang karena tempat wisata tidak tertutupi oleh salju, dan beberapa wahana masih bisa diakses.
Berbagai wahana mereka semua coba, Fara dan wanita lainnya tersenyum setelah mencoba wahananya, terlebih wahana yang bertema gadis kecil, sedangkan Alseenio dan para pria lebih fokus kepada makanan yang dijual di sini, sangat enak.
__ADS_1
“Ukiwah Bun lumayan enak, isinya juga padat,” Birand bergumam sambil mengunyah sebuah makanan yang terbuat dari roti.
“Mochi hijau ini juga enak!“ Bang Luffi membeli tiga buah mochi hijau yang lucu.
Begitu digigit itu terasa jelas kekenyalan dan kelembutan mochinya, isi di dalamnya adalah cokelat.
Alseenio dan yang lainnya juga mencicipi makanan unik yang dijual di Disniyland ini. Soal harga, makanannya cukup murah, tidak terlalu mahal, masih bisa dijangkau oleh para turis dan pengunjung.
Mereka menikmati banyak wahana sampai malam tiba, banyak momen-momen seru mereka yang diabadikan melalui foto.
Liburan kali ini memang sangat seru, mereka semua tanpa sadar tersenyum.
Banyak oleh-oleh dari Disniyland yang mereka beli, kebanyakan adalah aksesoris kecil.
Hari berikutnya, sesuai dengan apa yang Alseenio beri tahu kemarin malam, dia pergi dengan Fara dan Sugi serta pacarnya menuju suatu daerah di Jepang, jaraknya lumayan jauh, memakan waktu 4 jam lebih untuk sampai ke sana dari Kota Tokyo menggunakan mobil.
Setelah mengendarai mobil dalam waktu beberapa jam, akhirnya Alseenio dan yang lainnya sampai di tempat parkir dari sebuah gedung bertingkat.
Setibanya di pintu masuk gedung, Alseenio disambut langsung oleh Presiden Akia Toyida dan beberapa orang yang menjabat di bagian penting perusahaan Toyita.
Pada hari ini, Alseenio berniat untuk mengunjungi sebuah perusahaan yang ia pegang sahamnya sebesar 10%. Selagi ada kesempatan, ia pergi ke sini karena ingin bertemu langsung dengan Presiden atau Ceo Toyita, keduanya sudah akrab, bahkan berbicara menggunakan bahasa Jepang, layaknya teman sebangsa.
Pak Akia menjelaskan dengan detail apa saja yang ada di dalam gedung ini, kemudian ia menerangkan semua struktur organisasi perusahaan.
Alseenio dibantu oleh Sugi untuk melihat laporan keuangan, hasilnya tidak ada saluran yang aneh, semua pengeluaran sangat jelas dan terperinci.
Namun, begitu Alseenio melihat para pegawai yang bekerja, ia dapat merasakan kelelahan pada wajah mereka semua.
“Apa saya boleh memberi saran, Pak Akia?“ Alseenio menoleh dan berkata kepada Seorang Pria di sebelahnya.
“Boleh, silakan saja, Pak Nio.“ Pak Akia mengangguk.
CEO Bapak Akia memandang Alseenio dengan sungguh-sungguh, lantaran ia melihat Alseenio bagaikan melihat pangeran suatu kerajaan yang perintahnya tidak boleh ditentang.
Setelah mendengar saran Alseenio, Bapak Akia mengangguk dan menjawab penuh kesopanan, “Baik, akan terus kami lakukan, Pak Nio. Dahulu memang terjadi sebuah kecelakaan akibat adanya pelecehan kekuasaan, aku akan mengawasi dan menghukum orang-orang yang seperti itu, tidak akan aku biarkan orang-orang tersebut bekerja di sini.“
“Terima kasih, Pak Akia. Aku harap perusahaan terus berkembang menjadi lebih baik, aku percayakan kepada Anda.“ Alseenio sedikit membungkuk.
Melihat ini, Bapak Akia pun membungkuk. “Aku akan berjuang, tidak perlu khawatir, Pak Nio!“
Usai berbincang sambil melihat kegiatan para karyawan, Alseenio dan yang lainnya diajak oleh Bapak Akia untuk makan siang dan malam.
Di sana Alseenio banyak sekali mengobrol dengan Bapak Akia, Fara dan yang lain pun hanya bisa menyaksikan.
Meskipun demikian, Alseenio tetap perhatian pada Fara, bahkan sambil mengobrol pun Alseenio membelai jari-jari Fara dengan lembut.
Gerakan kecil Alseenio ini berdampak besar bagi Fara, ia makin sayang dan nyaman kepada Alseenio.
Sehabis berpamitan dengan Bapak Akia serta jajaran pengurus perusahaan, mereka berempat pulang di malam hari dan kembali ke hotel yang ada di Tokyo.
Setibanya di hotel, itu sudah jam 1 malam, Bang Luffi, Bang Windi, dan lainnya sudah tidur di kamarnya masing-masing.
Alseenio, Fara, Sugi, dan Fani langsung pergi tidur sesampainya di hotel.
Terlalu melelahkan bagi ketiganya naik mobil selama 4 jam lebih, Alseenio tidak merasakan lelah, ia tidur hanya memenuhi kebutuhan psikologis.
Mentalnya butuh istirahat, sedangkan tubuhnya tak merasakan lelah karena peningkatan gen.
“Bagaimana di sana, Bang Nio? Lancar urusannya?“ Bang Luffi bertanya sambil melahap sarapannya.
“Lancar, beruntungnya tidak ada badai salju di perjalanan, cukup aman,” jawab Alseenio sembari mengambil udang goreng di piring.
__ADS_1
“Apakah kamu pergi untuk urusan bisnis, Bang Nio?“ Bang Windi penasaran dengan Alseenio pergi kemarin.
Respons Alseenio dengan anggukan kepala dan berkata, “Ya, aku bertemu CEO sebuah perusahaan, kebetulan aku memiliki beberapa saham di perusahaan Jepang.“
“Wow!“
“Sugoi!“
Mereka semua tercengang dengan ucapan Alseenio, mereka tak menyangka Alseenio memiliki saham di perusahaan luar negeri.
Mereka kira Alseenio hanya mempunyai saham di perusahaan yang berdiri di dalam negeri, seperti GoTe, ternyata dugaan mereka salah.
Alseenio malas mengungkapkan kekayaan, jadi ia tidak melanjutkan lagi obrolan mengenai saham.
Selepas sarapan pagi bersama mereka semua pergi ke sebuah tempat yang terkenal dan menjadi lokasi atau latar belakang dari anime.
Tempat itu beberapa ada di Tokyo, mereka penasaran dan ingin melihat tempat aslinya.
“Mitsuba dan Taka lewat tangga ini? Seperti berbeda.“
Mereka sampai di salah satu tempat terkenal pada sebuah anime, yaitu anime Me Name yang di mana 2 tokoh utama dari anime itu pernah ke sini, bagian anime yang epik berlokasi di sini.
“Berbeda, Bang Birand. Itu karena salju menutupi anak tangga,” ucap Bang Luffi sambil mengambil beberapa foto pada tangga ini.
Alseenio dan Fara mengambil foto bersama di atas tangga ini, mereka berdua sempat menonton animenya, jadi mereka familiar dengan tempat ini.
Puas mengunjungi beberapa tempat yang ada pada anime.
Mereka semua pergi ke Bandara Internasional Tokyo setelah makan siang.
Hari kelima adalah hari terakhir dan mereka harus pulang.
Pesawat milik Alseenio sudah siap untuk terbang, bahan bakar serta keamanan sudah diperiksa, semuanya aman dan kemungkinan besar akan selamat sampai tujuan.
Barang bawaan mereka bertambah karena oleh-oleh yang mereka beli di Tokyo dan Osaka.
Alseenio tidak pergi ke Osaka karena di hari keempat atau kemarin karena ia pergi ke kantor pusat Toyita.
Bahkan Alseenio pun tidak mengunjungi semua tempat yang ada di dalam Anime lantaran Alseenio dan Fara pergi ke kantor pusat HoleLife di Tokyo, tidak jauh dan Alseenio pun cuma sebentar berkunjung. Sekadar melihat-lihat dan berbincang dengan CEO perusahaan.
“Bang Nio tidak langsung pulang?“ Bang Luffi bertanya dan memastikan apa yang sudah dikatakan oleh Alseenio.
“Iya, aku, Fara, Sugi, dan Fani akan berlibur di Thailand dahulu selama beberapa hari.“ Alseenio mengangguk tegas.
“Terus, oleh-oleh kamu dan yang lain bagaimana?“
“Masalah itu, oleh-oleh akan dibawa oleh Bella begitu pesawat ini mendarat di Indonesia, aku menitip oleh-oleh kami kepada kalian, maaf sudah merepotkan kalian.“
“Tidak perlu seperti itu, Bang Nio. Kami ini teman, aku akan memastikan barang oleh-oleh kalian sampai di tangan Kak Bella,” kata Bang Luffi dengan lembut dan ramah.
“Benar, kami adalah teman dan harus membantu. Nanti aku akan bawakan oleh-oleh Bang Nio dan yang lain sampai ke rumah apabila Kak Bella tidak datang.“ Bang Windi tersenyum.
“Terima kasih, Semuanya.“ Alseenio mengangguk dan melempar senyuman.
Segera, pesawat berhasil mendarat di Bandar Udara Internasional Suvarnabhumi dengan aman.
Alseenio, Fara, Sugi, dan Fani keluar dari pesawat dan berjalan ke dalam bandar udara
Tak lama kemudian, sekitar 1 jam sehabis mendarat, pesawat Alseenio lepas landas kembali setelah melakukan komunikasi dengan pihak Bandara.
“Sangat berbeda suasananya dengan di Jepang.“
__ADS_1