
Mereka menaiki pesawat terbang ekonomi yang terjangkau, Alseenio ingin menaiki pesawat yang biasanya orang pakai, tetapi tetap terjamin keselamatannya, setidaknya pesawat terbangnya aman dan layak dipakai.
Pelayanan dan fasilitas pesawat yang baik, meskipun terjangkau, tetap nyaman dan aman.
Naik pesawat bukan hanya untuk sekadar mencari yang aman, tetapi juga aman walaupun naik pesawat memiliki risiko yang besar.
Di dalam pesawat, Alseenio dan Fara saling menghabiskan waktu dengan menonton film yang ada di laptop, tidak memakai internet, Alseenio sudah mengunduh filmnya, tak masalah jika tidak menggunakan data internet.
Beberapa jam berlalu tanpa disadari oleh semuanya, kru pesawat memberi tahu bahwa pesawat akan sampai sebentar lagi di Bandar Udara Soekarno-Hatta.
Tak lama kemudian pesawat berhasil mendarat di lapangan bandara. Para pengunjung turun secara rapi dan disiplin, tidak ada yang arogan.
Melihat bahwa langit masih gelap, mereka langsung pergi ke mansion milik Alseenio, Fandick juga ikut, ia akan tidur di mansion Alseenio sampai pagi hari muncul.
Kedatangan Alseenio dan lainnya di pagi hari sudah ditunggu oleh satpam, mereka tidak terkejut dan segera membukakan gerbang mansion.
Ketika berada di dalam rumah, orang-orang rumah sudah tertidur, hanya ada 2 pembantu yang bangun dan menyiapkan beberapa makanan kecil untuk kedatangan mereka semua.
Namun, Alseenio menyuruh mereka untuk tidur, tak perlu menunggu mereka selesai makan, Alseenio dan lainnya akan membersihkan bekas makannya masing-masing.
Usai makan makanan ringan dan minum air, mereka masuk ke dalam kamar masing-masing. Khusus Fani dan Fandick, keduanya tidur di kamar tamu dan terpisah.
Secara bertahap, langit hitam yang gelap berubah, cahaya matahari mulai menelan kegelapan dan menjalankan tugasnya untuk menyinari setengah dunia.
Pada pagi hari menjelang siang, Alseenio terbangun dari tidurnya.
Ia bisa melihat sinar mentari telah menembus jendelanya dan membuat gorden yang menutupi jendela menyala.
Bangun meninggalkan kasur, Alseenio membuka semua gorden jendela dan membiarkan cahaya matahari masuk, kemudian ia duduk di atas kasur untuk mengumpulkan nyawanya.
Penampilan Alseenio sehabis tidur sama sekali tidak berkurang, ia masih tampan dengan wajah putih tanpa ada cacat pada kulitnya.
Alseenio memeriksa antarmuka sistem dan misi belum dirilis oleh Sistem. Tampaknya misi sampingan menjadi jarang dikeluarkan oleh Sistem. Ia berharap misi sampingan muncul, Alseenio ingin sekali menjahili Fara.
Saat memeriksa jam, ternyata ini sudah jam 11 siang, ia bangun sangat terlambat. Seingatnya, ia tidur di jam 4 malam, wajar kalau bangun siang seperti ini.
Merasakan lengket pada tubuhnya, Alseenio pergi ke kamar mandi untuk mencuci diri dari kotoran dan keringat.
Sebelum keluar dari kamar, ada hal yang harus ia lakukan, yaitu memeriksa akun media sosialnya, takut ada kabar dan berita yang penting.
Begitu ia membuka akun Instagrem miliknya yang sudah mencapai 36 juta pengikut, banyak pesan masuk yang tak sempat ia baca, pesan-pesan ini dikirim oleh para penggemarnya, ia biasanya membalas beberapa pesan, tidak mungkin semua pesan dijawab olehnya. Ada lebih dari jutaan pesan, mustahil untuk meresponsnya satu-satu.
Jadi, ia hanya melihat dan membaca beberapa pesan terbaru yang masuk ke dalam kotak masuk.
“Saluran televisi berani mengundangku?“
__ADS_1
Dalam layar ponselnya, terdapat sebuah pesan undangan dari salah satu stasiun televisi yang terkenal di Indonesia, pesan ini berisikan undangan kepada Alseenio untuk menjadi bintang tamu di sebuah acara televisi.
Sebagai orang Indonesia, Alseenio tahu tentang acara televisi ini. Acara yang sering mengundang beberapa orang yang tengah trend atau diperbincangkan orang-orang.
Surat ini telah dikirim beberapa hari yang lalu saat dirinya masih liburan di Cina. Alseenio tidak langsung menjawab, ia merenung untuk memikirkan ini.
Pada surat tertulis apabila dirinya setuju, acara akan diselenggarakan secepatnya atau sesuai keinginan dirinya. Mungkin mereka tahu bahwa Alseenio bukan seorang yang hanya terkenal melainkan memiliki latar belakang ekonomi dan bisnis yang besar. Maka dari itu, mereka canggung jika menjadwalkan Alseenio.
“Kurasa aku harus menanyakan pendapat kepada Fara dan yang lain.“
Begitu memikirkan ini, Alseenio berdiri dan berjalan ke tempat cermin besar berada, ia ingin mengganti model rambutnya.
Kali ini rambutnya tidak dibentuk seperti seorang pangeran dengan model poni rambutnya yang dilempar ke belakang, tetapi rambutnya berubah menjadi warna hitam dan tak lagi pirang kekuning-kuningan dengan model side bangs, rambut ala CEO di film atau novel.
Dengan rambut ini, penampakan wajah Alseenio menjadi lebih jelas, hanya sisi kanan dahinya sedikit ditutupi oleh poni sedangkan dahi kirinya terekspos begitu saja. Tampak rapi dan maskulin, lebih jantan dan juga segar apabila dipandang.
Alseenio menyukai model rambut ini, kemudian ia keluar dari kamar dan pergi ke depan pintu Fara.
Tok! Tok! Tok!
Alseenio mengetuk pintu kamar Fara beberapa kali, tetapi belum ada yang menjawab, ia mengetuknya lagi sambil memanggil nama Fara, tetap saja Fara tidak keluar dan menyahuti panggilannya.
Ia berpikir bahwa Fara sudah bangun dan ada di lantai 1 mansion. Jadi, ia memutuskan untuk turun dan menemui Fara.
Akan tetapi, begitu ia sampai di mansion, Alseenio sama sekali tidak menemukan satu pun orang. Para pembantu bahkan tidak ada, seakan-akan ia sedang sendirian di mansion ini.
Tepat ketika ia keluar, Alseenio tidak siapa-siapa di sana, satpam gerbang sama sekali tidak ada. Semua orang yang ada di mansion benar-benar tidak ada.
Waktu ia memeriksa basemen mansion, para pembantu yang pasti ada di mansion, itu menghilang, bahkan Bella yang biasanya ada di mansion, sekarang dia tak ada di sini.
Alseenio sempat kembali ke kamar Fara dan mendobraknya, begitu pintu terbuka, ia tidak melihat Fara di dalamnya, masih ada ponsel Fara di atas kasur dan terdapat pesan yang masuk darinya.
Situasi makin aneh, bulu kuduk Alseenio berdiri, ia merasa semuanya aneh.
Dikarenakan rasa penasaran yang makin kuat dan perasaan aneh yang makin bertambah, Alseenio menaiki sepeda motornya dan melesat keluar dari gerbang mansion.
Ia membuka dan menutup gerbang secara mandiri, tidak ada satpam yang berjaga di mansion.
Sepeda motor H2 Ninja itu meluncur cepat menuju luar perumahan.
Saat di jalan ke arah luar perumahan, Alseenio tidak melihat ada satu pun orang yang lewat. Tampak sunyi dan sepi.
Alseenio tidak begitu memikirkan ini, mungkin orang-orang di rumah yang ada di wilayah perumahan sedang sibuk dan tidak ada yang keluar.
Namun, Alseenio masih memikirkan tentang ke mana perginya orang-orang di mansionnya. Semestinya, satpam dan pembantu tidak keluar dari mansion jika memang masih dalam waktu kerja.
__ADS_1
Pembantu mansion pun diizinkan oleh Alseenio untuk pulang, bahkan dia akan memberi ongkosnya, tidak dipotong gaji.
Untuk apa semua pembantunya kabur? Apakah gajinya yang lebih dari 25 juta per bulan itu kecil?
Semua yang terjadi sekarang sangat mustahil kejadian, ini sangat janggal.
Alseenio sudah menghubungi semua orang yang dikenal, tetapi tak ada satu pun yang membalasnya. Abang MV, Bang Windi, Bang Luffi, Yudi Salam, dan teman lainnya tak ada yang menjawab, bahkan Ryan dan Niara yang biasanya membalas pesannya, kini tak menjawab.
Dengan perasaan yang tidak pasti, Alseenio ingin memastikan bahwa dugaannya yang telah ia buat adalah sebuah kesalahan fan kebohongan.
Segera, sepeda motor Alseenio keluar dari perumahan dan masuk ke jalan raya.
Berikutnya, jalan raya yang selalu ramai, saat ini sepi, tak ada satu pun kendaraan yang lewat, mau itu mobil dan sepeda motor, tidak ada yang melaju di jalan, hanya ada Alseenio seorang.
Wajah Alseenio makin aneh, ia sungguh tidak mengerti apa yang terjadi.
Alseenio masih belum yakin, sepeda motornya meluncur ke arah tempat apartemen Bang Windi untuk memastikan lagi.
Setibanya di apartemen, ternyata tidak ada orang, petugas hotel yang sudah kenal dengannya tidak ada di sana.
Alseenio merasa semua orang menghilang dari dunia ini dan hanya dirinya ditinggal sendiri di dunia.
Menaiki sepeda motornya lagi, Alseenio mempercepat lajunya hingga mencapai batas maksimum kecepatan sepeda motor. Dalam waktu singkat dirinya kembali ke mansion dan ia masuk ke dalam kamar dan menguncinya.
Saat ini Alseenio sedang memegang ponselnya sedang mengetik sesuatu di pencarian internet, jari-jari Alseenio bergetar, telapak tangannya basah ketika memegang ponselnya.
Begitu ia mencari tentang berita yang terjadi sekarang di internet, tiba-tiba internet mati dan semua barang elektronik padam, termasuk lampu kamarnya yang sedang ia nyalakan.
Sontak, Alseenio berdiri, wajahnya yang pucat dan terlihat ngeri makin panik, ia sangat bingung, dirinya tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Tok! Tok! Tok
Tepat begitu Alseenio berdiri, ia mendengar sebuah ketukan pintu dari kamarnya.
Alseenio terkejut sekaligus ketakutan dengan suara ketukan pintu ini. Alseenio takut dengan sosok yang sedang mengetuk pintunya, lantaran ia sudah memastikan bahwa di luar tidak ada siapa-siapa.
Dengan rasa ingin tahu yang makin banyak, juga rasa ketakutan yang perlahan menghilang. Alseenio mengambil keputusan untuk membuka mulutnya untuk bertanya kepada seseorang yang mengetuk pintunya tanpa henti.
Benar, orang yang mengetuk pintunya tidak berhenti sejak awal mengetuk pintu, sama sekali tak ada jeda.
Dengan postur tubuh yang siap siaga dan keberanian yang penuh, Alseenio berkata, “Siapa itu?!“
Ceklek! Ceklek! Ceklek!
Alih-alih menjawab, orang yang mengetuk pintu ini mulai memainkan kenop pintu, kenop pintu tersebut bergerak ke bawah, terlihat ingin membuka pintu kamar Alseenio.
__ADS_1
Melihat gerakan ini, Alseenio makin merinding.
Mata Alseenio terkunci pada pintu dan bergumam di dalam hatinya, “Apa yang sebenarnya terjadi?!“