SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 50: Pergi Menikmati Kota


__ADS_3

Sebuah motor sport melaju kencang di jalan raya bagaikan kuda yang berpacu di arena balap. Ketika ada jalan yang kosong, sepeda motor berwarna hitam dan ungu ini berakselerasi dengan sangat cepat, sehingga orang-orang yang tengah berjalan di atas trotoar mengalihkan pandangannya untuk melihat bayangan hitam yang melintas cepat.


Dengan deru angin yang kencang menabrak kaca helm, Alseenio sang pengendara sepeda motor tersebut dapat mendengar suara gesekan yang sayup-sayup dari helmnya.


Bukan karena helm miliknya yang murah, melainkan kelima indranya telah ditingkatkan walaupun hanya sedikit, dan itu mengakibatkan tubuhnya memiliki penglihatan, penciuman, pendengaran, pengecap, dan peraba yang ada di atas rata-rata manusia.


Pengoptimalan gen dasar memang sekuat itu.


Pada sore hari ini, Alseenio sedang mengendarai sepeda motornya melaju ke sebuah tempat yang ramai di Jakarta Pusat, tidak tahu kenapa Alseenio ingin ke sana.


Seperti biasanya jalanan kota Jakarta sangat padat, tetapi sore hari ini tampaknya ia sedang beruntung karena jalanan Jakarta tidak begitu padat hingga tak bisa maju sedikit pun.


Di jalan, Alseenio berinteraksi dengan kamera, sekarang ia tengah membuat rekaman sekali lagi untuk video terakhir sebelum misi spesial ini berakhir.


“Halo, gaes! Apa kabar semuanya? Semoga kalian semua baik-baik saja. Pada kesempatan kali ini dan pada sore hari ini, aku ingin berkendara sore ke sebuah tempat yang mungkin sebagian besar dari kalian sudah tahu, yaitu aku akan pergi ke Bundaran HI untuk menikmati suasana kota yang ramai.


“Setelah sunmori barusan, aku tiba-tiba ingin lebih menikmati pemandangan kota di Jakarta walaupun itu banyak polusi kendaraan. Namun itu bukan malah bagiku, mungkin video kali ini aku akan berbincang-bincang dengan kalian. Jadi, tetap tonton, ya, sampai habis!“


Ketika merenung di balkon apartemen tadi, Alseenio tiba-tiba memiliki ide untuk berjalan-jalan ke tempat beradanya patung selamat datang di Jakarta Pusat. Selain itu juga ia memiliki tujuan lain untuk ke sini, di belakang salah satu Mall mewah di dekat Bundaran HI terdapat jajanan dan makanan jalanan yang tak kalah enak dengan makanan yang ada di restoran.


Rencananya ia akan berjalan sebentar, lalu pergi ke tempat jajanan tersebut untuk membeli makanan makan malam nanti.


Ketika menonton video di Yitub kemarin, ia melihat Yituber makanan sedang mereview atau memperkenalkan dan meninjau jajanan enak di sini, kebetulan Alseenio tertarik dan ingin mencobanya langsung.


Kebetulan sore hari ini ia sangat bebas dan tak ada kegiatan. Ketika waktu dan keinginan yang tepat bertemu itu akan menjadi kebahagiaan yang tak bisa diganggu.


Tak perlu waktu yang lama untuk sampai di Bundara HI, sepeda motor Alseenio ditempatkan di parkiran liar dekat Mall Saibu.


Begitu Alseenio datang, banyak orang-orang yang memusatkan pandangannya ke arah Alseenio lantaran bunyi sepeda motornya yang sangat garang dan keren.


Mungkin di telinga sebagian orang suara ini cukup mengganggu, sebab Alseenio melihat beberapa dari orang yang lalu lalang di sini menatap Rai dengan sorot mata yang tidak ramah.


Alseenio turun dari sepeda motornya perlahan, lalu ia tak langsung membuka helmnya, melainkan membiarkannya terpasang di kepalanya, hanya sarung tangan yang dilepas dan diletakkan di dalam tasnya.


“Bang, saya parkir di sini sebentar, tolong dijaga,” ujar Alseenio memberi pesan kepada Juru parkir yang masih muda.


Pemuda itu mengangguk. “Siap, Bang!“


Mendengar jawaban pemuda ini, Alseenio berjalan keluar dari tempat parkir liar yang sempit dan ada di pinggir jalan besar ini, kemudian Alseenio pergi ke arah timur tempat di mana Bundaran HI berdiri.


Begitu Alseenio berjalan, ia sering kali ditatap oleh orang yang juga pengguna jalan sepertinya, mereka menunjukkan ekspresi aneh ketika melewatinya, mungkin mereka heran dan bingung melihat orang yang berjalan masih memakai helm di kepalanya, mereka sangka orang ini lupa untuk melepaskan helmnya.


Alseenio tak memedulikan hal ini dan terus berjalan. Tak lama kemudian, Alseenio sampai di trotoar tempat pejalan kaki seberang Bundara HI.

__ADS_1


Di depannya banyak sekali kendaraan mobil dan motor yang mengelilingi suatu Bundaran tempat air mancur dan patung dibuat ini. Selain Alseenio suka melihat keindahan tubuh seorang wanita, Alseenio juga suka melihat pemandangan kota dan alam.


Meskipun kota bukan tempat yang tepat untuk membuat mental dapat dipulihkan bagi sebagian orang, tetapi bagi Alseenio kota juga bisa menjadi tempat liburan, gedung-gedung megah dan suasana yang ramai inilah yang dipandang oleh Alseenio sebagai obat lelah, terlebih pemandangan alam yang menenangkan.


Tampaknya Alseenio memiliki kepribadian yang tidak rumit atau berbelit-belit, ia sama sekali tidak memiliki pantangan dalam hal selera, bahkan dalam selera tempat pemandangan pun ia tidak memilih-milih.


Biasanya orang memiliki kepribadian yang suka dengan tempat sepi dan tak suka dengan tempat yang ramai. Sebaliknya, ada juga orang yang suka tempat keramaian dan tak suka tempat yang sunyi. Namun, dalam kasus Alseenio, keduanya tetap masuk ke dalam tipenya.


Alseenio berdiri diam di pinggir trotoar, tatapannya terpaku pada patung monumen yang dikelilingi air mancur di depannya, dan tanpa disadari Alseenio sendiri, ia telah memasuki mode ketenangan dan kedamaian.


Usai beberapa saat menikmati pemandangan padatnya kota di sini, Alseenio tiba-tiba melihat sebuah tempat yang menarik perhatiannya yang letaknya tidak jauh dari tempat ia berdiri sekarang.


Tanpa berpikir panjang dan menimbang-nimbang, dengan gegas ia pergi ke sana.


Langkah kaki Alseenio mengarah ke sebuah tempat orang menunggu bus yang ada di dekat Bundaran HI.


“Aku ingat bulan kemarin tempat ini masih belum jadi, tetapi sekarang sudah digunakan oleh umum, cukup cepat pembangunannya,” puji Alseenio ketika melihat Halte di depannya.


Alseenio berniat untuk pergi ke Halte yang baru dibuka ini setelah 6 bulan lamanya ditutup karena ada renovasi besar-besaran.


Ternyata visual Halter yang sudah diperbaharui sangat bagus dan bahkan ada lantai 2 yang menjadi tempat orang-orang memandangi patung monumen selamat datang dengan sudut pandang yang indah.


Di internet banyak sekali orang yang berkomentar dengan menulis kalimat “Anos ngapain, sih?“ yang memiliki tujuan untuk menyindir pemerintahan atau pemimpin Kota Jakarta, padahal pemimpin ini sudah bagus, infrastruktur dibangun cukup cepat, tetapi Alseenio tidak tahu-menahu soal ini, dia bukan seorang politikus.


Untuk bisa sampai ke sana, Alseenio harus terlebih dahulu menunggu rambu lalu lintas menyalakan tanda untuk pejalan kaki diperbolehkan untuk menyebrang, barulah ia menyebrang dan tiba di Halte Transjakarta tersebut.


Alseenio masuk ke dalam halte menggunakan kartu ATM yang ia miliki yang diberikan oleh mendiang Ayahnya, kebetulan kartu tersebut masih ada sisa saldo untuk bisa masuk ke dalam, setelah itu Alseenio pergi ke lantai 2 di bawah tatapan aneh dari orang-orang yang berdatangan ke halte ini.


Akan terkesan aneh apabila orang memakai helm sepeda motor untuk pergi ke halte.


Di pikiran orang-orang, Alseenio orang yang absurd dan aneh, ia sendiri tak peduli dengan pandangan orang lain.


Tepat ketika Alseenio sampai di atas lantai 2, sebuah pemandangan yang indah disajikan di depan matanya, ekspresi dingin Alseenio langsung berubah, ia memandang air mancur Bundaran HI dengan wajah yang gembira.


Ternyata di sini sangat Ramai, apalagi di waktu sore ini, banyak pengunjung yang berfoto ria bersama-sama, entah itu dengan keluarga, teman, dan pasangan.


Sekali lagi Alseenio dilihat aneh oleh semua orang yang ada di lantai dua ini, itu tetap tidak berpengaruh terhadap Alseenio yang sudah memiliki kekebalan dari pandangan orang-orang.


Pada saat Alseenio berdiam diri memandangi Bundaran HI di waktu senja ini, ia tiba-tiba mendengar suara sistem yang telah lama tidak muncul.


[Ding! Misi Telah Terdeteksi!]


Misi : Berkenalan dengan wanita.

__ADS_1


Syarat : Wanita dengan penampilan 80 poin ke atas. (0/1).


Waktu : 15 menit.


Hadiah : 1x Kotak Misteri.


Hukuman : Bulu kelamin memanjang 300 km.


[Misi otomatis diterima!]


Setelah Alseenio melihat isi misi yang muncul, wajahnya langsung terpana, dan dirinya sedikit tersentak.


“Sungguh? Hukumannya benar-benar seperti ini?“ tanya Alseenio di dalam hati dengan wajah yang masam.


[Ding! Tidak ada kesalahan dalam pemberian misi sistem.]


Mendengar jawaban pasti sistem, senyum kecut muncul di wajah Alseenio dan ia tidak bisa untuk tidak mengutuk sistem ribuan kali di hatinya.


Alseenio menyesal merindukan sistem kalau seperti ini.


Dengan rasa terpaksa, misi ini Alseenio segera selesaikan.


Mata Alseenio bergerak untuk mencari target misi, puluhan wanita yang hadir di sini Alseenio deteksi poin penampilannya menggunakan kemampuan Sexeyes miliknya.


Wanita-wanita yang ada di halte ini banyak sekali yang memiliki poin penampilan di angka 70 ke bawah, selain itu juga, Alseenio melihat bahwa wanita di halte ini kebanyakan tidak murni lagi alias kemurniannya telah dinodai, ada yang dipakai oleh 1 orang, dan yang lebih parah pernah dipakai oleh 9 orang.


Melihat wanita seperti itu, Alseenio tanpa sadar menjauh dan tidak ingin mendekati wanita yang layaknya mobil bekas yang dirental.


Kurang dari tiga menit Alseenio mencari dengan memandang diam-diam, akhirnya ia menemukan wanita yang cocok dengan target misi.


Mengingat waktu misi yang diberikan sangatlah singkat, dengan sigap Alseenio berjalan ke wanita yang menjadi target.


Wanita ini sedang berdiri memegangi pagar pembatas lantai 2 halte sembari melihat ke arah air mancur Bundaran HI.


Alseenio lihat-lihat wanita ini seperti diam termenung menatap gedung-gedung yang mulai menyala bersinar karena langit yang perlahan gelap. Wanita ini seolah-olah sedang meratapi hidupnya sendiri.


Sebagai pria yang lembut dan elegan, Alseenio segera melancarkan operasi perkenalannya.


Langkah demi langkah dilakukan, posisi Alseenio perlahan mendekat dengan wanita yang masih fokus memandangi padatnya kendaraan kota.


Setelah berada di sebelah wanita ini, Alseenio mulai meluncurkan serangan mematikan.


“Di Jakarta panas, ya?“

__ADS_1


__ADS_2