SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 172: Latihan Bela Diri dan Fandick


__ADS_3

“Gaia, benar saja itu dia.“


Tulisan baru pada selembar daun memberi informasi lain, tetapi tetap dengan maksud yang, yaitu dia disuruh mempercepat sesuatu. Di bawah informasi ada tulisan nama Gaia.


Merenung dan menundukkan kepalanya, pikiran Alseenio sedang mengolah informasi ini dan mencari tahu tujuannya.


Begitu memikirkan hal ini, tulisan di selembar kertas berubah lagi, huruf-huruf itu bergerak membentuk sebuah tulisan baru.


“Cinta?“ ucap Alseenio mengulangi bacaan pada tulisan di atas selembar daun yang hijau.


Hanya ada satu kata, yaitu cinta.


Dengan begini, Alseenio merenungkan diri dan berpikir lagi. “Mempercepat cinta? Apa maksudnya ini?“


Setelah dia menggabungkan tulisan tadi dengan inti dari tulisan sebelumnya, itu memiliki arti mempercepat cinta. Namun, Alseenio masih tidak tahu maksudnya.


Saat ini Alseenio terus berpikir sambil memegang daun yang masih menampilkan sebuah tulisan kata “cinta” dengan huruf yang menyala atau bersinar cahaya putih.


Usai beberapa menit berpikir, mata Alseenio yang terlihat serius langsung melebar.


Tubuhnya yang agak membungkuk sedang menyangga dagunya dengan tangannya menjadi tegak seketika. “Aku tahu!“


Alseenio tahu arti dari informasi yang diberikan oleh Dewi Gaia kepadanya.


Dia tersenyum dan melihat daun yang ada di atas telapak tangan kanannya.


“Rencana sepertinya harus diubah,” ucap pelan Alseenio sambil memandangi daun hijau berubah menjadi abu hitam yang berterbangan. Daun itu menghilang seakan ada yang membakarnya menjadi abu.


Pandangan mata Alseenio bergerak dia melirik ke layar ponsel yang ada di sebelah laptop yang memperlihatkan gambar layar kunci ponsel yang adalah Fara. Sebuah senyuman lebar terbentuk perlahan di wajahnya.


Hari baru datang, di hari ini Alseenio tidak bekerja dikarenakan libur, sudah jatahnya dia libur di hari ini.


Sudah ditakdirkan hari ini adalah hari untuk bersantai dan beristirahat Alseenio. Akan tetapi, Alseenio ingat bahwa dia harus mengajarkan ilmu seni bela diri kepada Fara.


Oleh karena itu, di pagi hari Alseenio dan Fara datang ke taman untuk memulai latihan atau pengajaran ilmu bela diri.


“Tendang burung mereka dengan gerakan ini, lihat baik-baik gerakan aku, sayang.“ Alseenio menoleh kepada Fara yang berdiri tenang dan menatapnya.


Fara mengangguk menurut dan memasang matanya dengan baik-baik, menyimak gerakan tubuh Alseenio.


Setelah itu, Alseenio bergerak dengan mengangkat kakinya dan menendang angin dengan tubuh yang sedikit dimiringkan. “Setelah menendang, kamu juga pakai kaki yang ada di udara ini untuk mendorong tubuh pelaku kejahatan tersebut, diusahakan harus dengan gerakan yang cepat, jika tidak, kamu malah membuka peluang kejahatan ini.“


“Aku mengerti.“ Fara paham dengan gerakan Alseenio.


“Kalau begitu, ayo praktikkan gerakannya kepadaku!“


“Ya!“


Keduanya bergerak saling berhadapan, dia berpura-pura menjadi penjahat alat vital yang selalu memburu kenikmatan dunia.


Alseenio memasang ekspresi wajah yang cabul dan mulai mendekati sosok Fara. Kedua tangannya terbuka lebar hendak memeluk Fara.


Sebelum Alseenio bisa memeluk tubuh Fara, sebuah tendangan kaki muncul di antara kedua kaki Alseenio dan itu ingin menghantamnya dengan kuat.


Reaksi tubuh Alseenio jauh lebih cepat dengan tendangan ini, dia menggunakan tangan kirinya untuk menggenggam pergelangan kaki Fara.


Begitu kakinya dipegang oleh Fara, tubuh Fara tidak seimbang dan hendak jatuh, melihat ini, tangan kanan Alseenio memeluk tubuh Fara dan menahannya agar tidak terjatuh.


Fara terkejut dengan ini, dia kira itu akan berhasil dan menendang adik kecil Alseenio, ternyata tidak berhasil dan juga dia tidak tahu kapan tiba-tiba wajah Alseenio yang tampan muncul di depan wajahnya.


Melihat wajah ini, Fara tidak tahan untuk tidak mengecup bibir Alseenio dengan penuh kelembutan.


Muach!


Suara ciuman terdengar di taman, Alseenio dan Fara berciuman dengan gaya yang terlihat indah. Fara berbaring di tangan Alseenio dan menciumi bibinya menghadap ke atas, sedangkan Alseenio menciumi Fara sambil menundukkan kepalanya dan menopang tubuh Fara.


Butuh lebih dari 5 menit untuk mereka menyelesaikan sesi berciuman mereka berdua dan kembali melanjutkan latihan dan pengajaran.


Kali ini Alseenio serius dan membiarkan Fara menendang adik kecilnya, dia mungkin akan menghindar agar tidak terkena begitu fatal.


Swooshh!


Sebuah tendangan terbang ke arah tempat adik kecil Alseenio bertengger, kaki itu dengan sukses menghantam adik kecil Alseenio.

__ADS_1


“Ugh!“


Alseenio yang merasakan hantaman keras dari tendangan ini menunjukkan sebuah senyuman yang memilik makna lain, seperti orang yang sedang menahan sakit dan tetap tersenyum.


Melihat Alseenio seperti ini, Fara menjadi panik dan dia langsung memeriksa tubuh Alseenio.


“Sayang, kamu tidak apa-apa, kan?“ Fara memegang tubuh Alseenio dan melihat ke arah bawah tubuh Alseenio dengan mata yang cemas.


Senyuman Alseenio masih terlihat dan dia mengangguk sebagai respons. Dia tidak berbicara untuk menjawab pertanyaan Fara.


Tanggapan Alseenio membuat Fara menjadi makin khawatir dia sampai-sampai memegang celana Alseenio untuk melihat kondisi adik kecil secara langsung.


Gerakan Fara membuat terkejut Alseenio dan dia segera menahan tangan Fara.


“Mau apa?“ Alseenio bertanya sambil menatap wajah Fara.


“Anu, aku ingin memeriksanya, apakah itu terluka atau tidak,” jawab Fara dengan wajah yang perlahan berubah menjadi merah.


Mendengar ini, Alseenio menjadi tertegun dan dia menatap Fara dengan pandangan yang berbeda.


“Kurasa kita harus istirahat terlebih dahulu,” kata Alseenio kepada Fara.


Fara bingung dan dia menatap Alseenio dengan wajah yang tidak paham. “Kita baru saja memulai latihannya, Sayang.“


“Tidak apa-apa.“ Alseenio tersenyum penuh arti kepada Fara.


Saat ini, di kursi taman, mereka berdua duduk bersama dalam posisi yang ambigu.


Di atas pangkuan Alseenio ada Fara yang sedang duduk, mereka berdua saling menghadap satu sama lain.


Ada sesuatu yang aneh dari gerakan keduanya, kepala Alseenio bergerak ke sesuatu pada bagian tubuh atas Fara. Selain itu, Fara kerap kali mengangkat kepalanya ke atas dengan tangan melingkar di leher Alseenio.


“Mmmhhh!“


Suara aneh keluar dari mulut Fara, dia menengadahkan kepalanya ke atas mata yang berkedip-kedip.


Sebuah perasaan nikmat dirasakan oleh Fara lantaran bola besarnya sedang dimainkan oleh Alseenio.


Dengan lahap menjilat dan mencium bola-bola besar ini.


Sensasi dan perasaan nikmat dan geli bercampur membuat tubuh Fara merasa keenakan. Meskipun geli, itu bukan membuat Fara tidak ingin merasakannya lagi, melainkan ingin terus merasakan kenikmatan ini.


Tidak tahu kenapa, Alseenio makin candu dengan bola Fara, ini terlalu besar dan tampilannya pun menggoda. Setelah mencoba merasakan kekenyalan serta perasaan saat menikmati bola-bola besar ini, sifat kecanduan Alseenio muncul dan berkembang sampai pagi hari ini.


Alseenio tidak merasa bosan meski telah bermain selama setengah jam lebih.


Usai mereka melakukan kegiatan tersebut selama 45 menit lamanya, mereka berdua merapikan baju dan kembali untuk melanjutkan lagi latihan mereka berdua.


Namun, Alseenio tak sengaja melihat bahwa celana panjang Fara telah basah, basah oleh cairan sesuatu yang muncul dari bagian tubuh di antara kedua kaki Fara.


Tanpa banyak bertanya, Alseenio langsung menggendong Fara menggunakan gaya bridal, dia mengangkut Fara ke dalam rumah sampai ke depan kamar Fara.


“Alseenio, ada apa dengan Fara? Mengapa digendong seperti itu?“


Bella yang melihat Alseenio melintas melewati dapur sambil menggendong Fara langsung bertanya tentang keadaan Fara.


Alseenio menjawab dengan kaki yang terus berjalan ke dalam mansion, “Fara tidak sengaja menginjak kotoran burung di luar.“


Mendengar jawaban Alseenio, Bella menggelengkan kepalanya dan tidak menjawab. Ada-ada saja pasangan muda ini. Hanya menginjak kotoran burung mereka harus menggendong dengan gaya romantis itu.


Fara tidak mengerti dengan apa yang terjadi, tetapi dia diam dan membebaskan Alseenio membawa dan menggendong tubuhnya.


“Sayang, kamu mengapa menggendong aku tiba-tiba, apa ada yang salah denganku?“ tanya Fara setelah diturunkan di depan kamarnya.


Alih-alih menjawab, Alseenio menunjuk ke arah bawah tubuh Fara.


Pandangan Fara mengikuti arah yang ditunjuk Alseenio yang membidik ke bagian pada tubuhnya, itu ternyata ke arah kakinya.


Mata Fara membesar ketika melihat kedua kakinya, ia melihat celana olahraga berwarna pink tersebut terdapat garis pink gelap, yang menjalar ke bawah, dan Fara baru sadar bahwa di bagian tertentu pada tubuhnya telah basah.


“Anu, Sayang. Aku ke dalam dahulu.“


Setelah mengatakan itu, Fara masuk ke dalam kamar dengan terburu-buru.

__ADS_1


Alseenio melihat wajah Fara sangat merah saat tahu apa yang terjadi pada tubuhnya.


Selepas melihat pintu kamar Fara ditutup, Alseenio berjalan pergi ke bawah untuk menunggunya di ruang keluarga.


Mereka berdua meneruskan latihan mereka belajar seni bela diri di taman sampai jam 11 siang kurang 30 menit. Hari sudah terasa panas, mau tidak mau harus berhenti dan mengakhiri sesi pelatihan.


Dari pelatihan ini, kemampuan Fara dalam bertarung dan membela diri sudah cukup baik dari hari sebelumnya.


Setidaknya, gerakannya lebih cepat dan lancar, tidak ada keraguan saat bergerak. Alseenio senang dengan hasil pelatihan ini.


Jika Fara seperti ini terus, tidak akan lama untuk Fara menguasai teknik bela diri dasar tersebut dengan cakap dan lihai.


Alseenio tidak akan memberikan gerakan teknik lain lantaran itu tidak terlalu penting. Tujuan Alseenio melatih dan mengajarkan Fara adalah untuk menjaga diri dan bukan bertarung. Semua gerakannya bersifat defensif dan sedikit menyerang.


Beberapa teknik yang tidak biasa dan sederhana juga Alseenio berikan kepada Fara, tetapi dia masih belum menguasainya.


Butuh waktu sekitar beberapa bulan untuk Fara menguasai semuanya, itu termasuk cepat.


Pada sore harinya, Alseenio kedatangan tamu dari Bandung, Fandick datang ke rumahnya menggunakan mobil, dia memilik mobil sedang yang tidak mahal, cukup digunakan untuk alat transportasi dirinya ke berbagai tempat.


Orang tua Fara, Bella, Gondal, dan Fara sendiri sudah diberi tahu tentang kedatangan Fandick. Mereka semua tahu tujuan Fandick datang ke mansion.


Dengan demikian, Fandick diberi nasihat oleh orang tua Fara, Bella, dan Gondals tentang cara bagaimana bisa diterima oleh orang tua pasangan.


Tips dan trik dari mereka sangat berguna bagi Fandick, beberapa poin dia catat dan ingat di dalam kepalanya. Beberapa nasihat dari mereka penting baginya.


“Kamu memang sudah memiliki rencana untuk menikah dengannya, Bang Fandick?“ Alseenio bertanya sambil mengunyah makanan yang disuapi oleh Fara.


Mereka bertiga sedang berada di ruang khusus kumpul teman-teman.


Ruangan ini ada televisi besar, gim kontrol, komputer, beberapa konsol gim yang bisa dibawa ke mana, seperti SteamDek, Nintenda, dan yang lainnya, tidak lupa disediakan proyektor agar pengalaman menonton menjadi lebih puas lagi, ada juga beberapa mainan manual, misalnya karambol, billiar, tenis meja, dan lainnya, terakhir ada alat untuk mereka bisa karaoke.


Dalam ruangan ini sudah memiliki fasilitas untuk mereka bersenang-senang bersama. Alseenio buat ruangan ini agar mereka semua tidak terfokus pada ponsel masing-masing ketika berkumpul sehingga perasaan mereka berkumpul jadi tidak terasa impresif dan berkesan, malahan membosankan.


Pertanyaan Alseenio sedang dipikir oleh Fandick jawabannya. “Sebenarnya, aku ingin sekali menikahi dia—”


“Gas engga, sih?“ sela Alseenio kepada Fandick.


“Gas, dong!“ Fandick mengangguk dan bersemangat.


“Tunggu apa lagi? Nikahi dia dan beri dia benih.“ Alseenio tersenyum bercanda ke arah Fandick.


Fandick yang mendengar ini malah tertawa, sedangkan Fara hanya diam menahan rasa malu sebagai wanita.


Prianya ini memang tidak polos seperti yang dia kira dahulu. Dahulu kecil, ketika duduk di bangku SMP, Alseenio sama sekali tidak pernah membahas tentang hal jorok seperti itu, dia selalu berbicara yang baik dengannya. Jadi, dengan sikapnya yang polos dan culun itu memberinya sebuah tanggapan atau pandangan bahwa Alseenio itu orang yang tidak jorok, seperti pria lainnya.


Ternyata itu salah, Alseenio pun sama dengan pria lain yang memiliki pikiran jorok ketika bercanda, tetapi Fara tidak mempermasalahkan hal itu. Lagi pula, Alseenio bertindak jorok hanya dengannya saja.


Jika dengan wanita lain, itulah yang masalah.


“Tidak semudah itu, Bang Nio. Nikah butuh persiapan mental dan materi. Aku mental sudah siap meski umur baru dua puluh lima tahun. Dari segi materi yang belum memadai, aku masih bekerja sebagai karyawan dan sekaligus Yituber, penghasilan tidak besar.“


Fandick tahu tentang kekurangannya sendiri. Maka dari itu, dia tidak bisa dengan cepat memutuskan pilihan, lebih-lebih menyangkut suatu yang penting.


Alis Alseenio bertaut dan dia berkata, “Yitub kamu sudah berkembang, kan? Seharusnya, penghasilan kamu cukup untuk memenuhi kebutuhan sebulan.“


“Benar. Sayangnya, itu masih kurang. Cantika berasal dari keluarga yang elite, apakah tidak apa-apa penghasilan sebesar itu menikahi wanita yang berasal dari keluarga kaya?“ Fandick menatap Alseenio meminta jawaban.


Sebagai seorang wanita, Fara memiliki pendapatnya sendiri dan itu berdasarkan naluri sebagai wanita. “Menurutku, itu bisa. Jika penghasilan kamu lebih dari sepuluh juta, atau bahkan kurang dari sepuluh juta itu bukan masalah. Pada dasarnya, wanita yang mencintai kamu dengan tulus pasti menerima berapa pun gaji kamu. Mereka itu lebih memperhatikan tanggung jawab kamu, bukan lenih terfokus pada berapa besar gaji kamu.“


Mendengar pernyataan Fara, membuat Fandick kembali menundukkan kepalanya dan merenung.


“Benar juga, kalau yang lebih memperhatikan gaji, artinya dia sangat meterial dan realistis,” gumam Fandick sambil berpikir.


“Lebih tepatnya wanita yang terus mengeluh terhadap gaji kamu, padahal itu adalah gaji terbesar kamu, dia adalah wanita yang tidak bersyukur, kamu boleh memutuskan hubungan dengan wanita yang semacam itu. Pasalnya, wanita yang berjenis ini akan terus mencari pria yang lebih baik dari yang dia miliki, kemungkinan besar kamu akan dicurangi,” celetuk Alseenio sesuai dengan pikiran dan pendapatnya.


Apa yang dikatakan Alseenio dan Fara tidaklah salah, melainkan mendekati kebenaran akan fakta yang telah terjadi di dunia nyata.


Setelah berpikir sejenak, Fandick mengangguk. “Baik, aku mengerti. Aku akan mencobanya besok.“


“Kamu mau menikahi dia?“ tanya Alseenio.


“Tergantung, jika aku diterima oleh keluarganya, aku secepat mungkin datang untuk melamar dan menikahi dia.“

__ADS_1


__ADS_2