SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 106: Niara Menangis


__ADS_3

“Hei! Pelan-pelan!“ teriak Niara yang ketakutan sambil memegang dudukan kursi.


Posenya sangat panas, dua buah dada yang berukuran besar itu bergoyang ke sana kemari, sebuah guncangan hebat dan sangat kenyal.


Dikarenakan kecepatan mobil yang sangat tinggi dan tidak begitu stabil, menyebabkan ketakutan pada Niara, mobil yang sedang melaju secara tidak langsung menggerakkan bola-bola itu.


Pria ini sesekali melirik Niara dan ia tersenyum melihat wanita ini ketakutan, lantaran sebelumnya Niara cukup menyebalkan, pertama kali bertemu saja sudah bertingkah keras kepala.


“Tolong jangan cepat-cepat!“ Niara berteriak, tetapi teriakan ini terdengar berbeda, seperti orang yang putus asa.


Mendengar ada yang salah dengan Niara, Pria tersebut menormalkan laju mobilnya dan tidak lagi cepat. Setelah itu, ia menoleh untuk melihat Niara.


Begitu melihat Niara, senyum pria itu menghilang dan ia menjadi panik serta khawatir, lantaran Niara saat ini menangis diam sambil menangkupkan wajahnya.


Pria ini memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, sebagai pria yang baik, ia harus bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Niara.


“Maaf karena bercandaku berlebihan, bisakah kamu berhenti menangis?“ Pria ini bingung harus bagaimana, jadi ia bertanya dengan kikuk.


Niara merespons, ia menggelengkan kepalanya dan masih terisak-isak.


Respons Niara makin membuat Pria tersebut bingung, sebab ia belum pernah menangisi wanita dewasa, ia hanya pernah menangisi gadis kecil ketika masih kecil, dan cara ia membuat gadis kecil berhenti menangis dengan mengelus rambutnya.


Namun, kasus ini berbeda, bukan gadis kecil targetnya, melainkan wanita dewasa dan besar. Melihat Niara yang belum berhenti menangis, Pria ini berpikir, “Apa aku harus mengelus-elus rambutnya? Hmm … mungkin aku harus mencoba cara itu.“


Melirik Niara yang belum memiliki tanda-tanda ingin berhenti menangis, Pria ini berpikir untuk mencoba caranya sekarang.


Mengulurkan tangan kirinya perlahan, secara lambat telapak tangan pria itu mendarat di atas kepala Niara.


Pria ini merasa lega karena ia berhasil menyentuh rambut kepala Niara dan tidak ada reaksi penolakan dari Niara, kemudian dengan hati-hati menggerakkan tangannya ke kiri-kanan dengan lembut.


Gerakan Pria ini sedikit kaku pada awalnya, lantaran mata Pria ini mengawasi sosok Niara.


Lambat-laun tangisan Niara mengecil seiring Pria tersebut mengelus penuh kelembutan, tak lama berselang Niara berhenti memangis, tetapi ia tetap menutup wajahnya.


Melihat Niara sudah tidak menangis, Pria ini mengeluarkan napas lega, dan berniat untuk memberhentikan tangannya yang mengelus-elus rambut dan kepala Niara.


Tepat ketika Pria ini mengangkat tangannya dari kepala Niara, tiba-tiba Niara berkata, “Jangan berhenti.“


Pria ini terkejut sesaat, kemudian ia meletakkan kembali telapak tangan kirinya ke atas kepala Niara dan mengelus-elus lagi.


Di balik tangan Niara terdapat wajah yang merah. Niara merasa nyaman dielus-elus seperti ini oleh Pria yang membuatnya kesal ini, tetapi dalam waktu bersamaan dirinya malu karena ini pertama kalinya ia merasakan telapak tangan yang hangat membelai kepala dan rambutnya.


Bahkan saat bersama Alseenio, ia belum pernah diperlakukan olehnya seperti saat ini. Alseenio sangat menjaga jarak, bahkan mereka minim berkontak tubuh secara langsung.


Mulai merasakan kenyamanan yang tak terhingga, Niara bergumam di hati, “Sentuhan ini mengingatkan aku dengan seseorang, tetapi mengapa tubuhku merasa tenteram disentuh olehnya? Aku benar-benar tidak bisa menolak sentuhan ini. Ada apa dengan tubuhku?“


Hampir 10 menit mereka diam berdua di dalam mobil dan Pria itu akhirnya berhenti mengelus rambut dan kepala Niara karena merasa pegal.


“Maafkan perbuatanku tadi yang membuatmu menangis.“ Pria ini menatap Niara dengan ekspresi yang bersalah dan meminta maaf sungguh-sungguh.

__ADS_1


Niara tengah membersihkan bekas air mata di wajahnya, mendengar ini ia langsung tersenyum dan mengangguk, “Aku sudah memaafkanmu, lain kali jangan seperti itu, aku sangat takut.“


“Baik, aku tidak akan mengulanginya lagi,” Pria ini mengangguk tegas dan berjanji pada dirinya sendiri.


“Terima kasih untuk yang tadi.“ Niara tersenyum manis dan menawan ke arah Pria tampan satu ini.


Melihat senyuman Niara, Pria ini terpana beberapa detik lalu mengangguk.


“Omong-omong, namamu siapa? Aku sudah menanyakan hal ini dari awal.“


Pria ini tersenyum, mengeluarkan tangan kanannya ke Niara, “Aku Ryan Laryse.“


“Aku Hani Kiara. Salam kenal, Ryan.“ Niara mengambil tangan Ryan dengan lembut dan masih tersenyum sambil memiringkan kepalanya.


“Salam kenal juga, Kiara.“


Jantung Ryan tiba-tiba berdebar lebih kencang begitu melihat wajah cantik dan senyuman indah Niara.


Mereka berdua bersalaman untuk waktu yang lama tanpa ingin melepaskan satu sama lain, sementara waktu suasana menjadi canggung.


“Itu, kita sepertinya harus pergi, sudah terlalu lama kita di pinggir jalan,“ Ryan berkata dengan canggung.


Segera, Niara dan Ryan melepaskan tangannya hampir berbarengan.


“Iya, benar katamu.“ Niara menundukkan kepalanya, ia malu atas kejadian yang baru saja terjadi.


“Kalau begitu … aku nyalakan lagi mobilnya, ya?“


Mereka sangat kikuk sekali, sama-sama bertingkah aneh.


Setelah itu, Ryan menghidupkan kembali dan menancapkan pedal gas.


Raungan mobil berbunyi, mobil hijau daun ini melaju kembali ke jalan raya.


Beberapa menit berselang, mobil hijau itu masuk ke dalam mansion besar di kompleks yang sama dengan Alseenio, hanya saja ukurannya lebih kecil dibanding milik Alseenio.


Niara dan Ryan telah sampai di mansion.


Pintu mobil terbuka, Ryan keluar dari mobil dan berjalan ke pintu mobil yang satunya, ia membukakan pintu untuk Niara.


“Terima kasih,” ucap Niara tanpa memandang wajah Ryan.


Ryan menutup pintu mobil dan menjawab, “Sama-sama.“


Berikutnya, Ryan memberikan arahan kepada sekuritinya untuk meletakkan mobil ini ke tempat khusus parkiran.


Sesudah itu ia mengajak Niara untuk masuk ke dalam mansionnya.


Sesampainya di dalam mansion, Niara melihat Ayah, Ibu, dan Tantenya sedang duduk berhadapan dengan orang tua Ryan.

__ADS_1


Mereka semua berhenti mengobrol begitu melihat Niara dan Ryan masuk ke dalam mansion.


“Akhirnya kamu tiba, Nak.“ Ibu Niara tersenyum dan kemudian berdiri menghampiri Niara.


Setelahnya, Niara bersalaman dengan orang tua Ryan, dan duduk bersama orang tua dan tantenya.


“Ini anakku, Hani Kiara. Kalian berdua masih ingat seharusnya masih ingat?“ Ayah Niara bertanya kepada kedua orang tua Ryan.


“Oh, aku ingat! Bukannya waktu anak ini kecil pernah dibawa olehmu saat pertemuan belasan tahun yang lalu, Ghani?“


Ayah Ryan masih ingat dengan anak kecil yang dahulu dibawa oleh Ghani, Ayah Niara ke pertemuan perusahaan beberapa tahun silam.


“Benar, kamu ternyata masih tahu, Lukas.“ Ayah Niara tersenyum dan mengangguk.


“Oh, aku ingat juga, Ghani. Kalau tidak salah Ryan pernah menangisi anakmu saat itu.“ Ibu Ryan masih ingat kejadian anaknya yang menangisi Niara ketika pertemuan yang diadakan beberapa tahun yang lalu berlangsung.


Ibu Niara pun ingat, kemudian menambahkan, “Benar, anakku menangis karena anakmu, tetapi aku masih jelas mengingat anak kita berbaikan dan bermain bersama setelah itu, sangat lucu. Namun, sekarang mereka sama sekali tidak lucu.“


“Anak-anak kalau sudah dewasa memang sudah tidak lucu lagi, Nadisha.“


“Benar, namanya juga anak-anak, mereka dan kita berbeda visinya.“


“….“


Para orang tua ini mengobrol dan membahas tentang masa lalu.


Mendengar percakapan mereka barusan, Ryan dan Niara sama-sama terkejut dan mereka memandang satu sama lain.


Ternyata yang mereka bicarakan tentang mereka berdua masih kecil, mereka pernah bertemu.


Tertegun sejenak, Ryan berpikir, “Jadi, gadis kecil yang aku tangisi waktu itu adalah dia?!“


“Ternyata anak kecil yang mengelus kepalaku itu sebenarnya Pria ini?!“ Niara juga bergumam di dalam hati, ia tercengan setelah tahu persoalan ini.


Orang tua keduanya masih mengobrol, mereka berempat adalah seorang teman dari mereka belum sukses hingga sekarang menjadi orang kaya.


Orang tua Niara juga orang kaya yang memiliki perusahaan besar, dan Orang tua Ryan ini memiliki saham juga di perusahaan yang sama.


Oleha karena itu, mereka memang telah memiliki niat untuk suatu saat menggabungkan perusahaan mereka dan menjadi keluarga.


Saat ini adalah waktu yang tepat untuk merealisasikan rencana mereka bersama.


Ayah Ryan, yaitu Lukas, ia tiba-tiba merangkul Ryan di sebelahnya dan bertanya, “Ryan, Ayah ingin menjodohkanmu, apa kamu bersedia?“


“Jodoh? Dijodohkan dengan siapa?“ Ryan terkejut dan menjawab tanpa sadar.


Orang tua Niara dan Ryan saling bertatapan, kemudian Ayah Ryan mengungkapkan, “Adik dari Ibu Hani Kiara.“


Segera, Ryan tercengang, dengan cepat ia menoleh untuk melihat seorang wanita cantik yang duduk di sebelah Ibu Niara, itu adalah Tante dari Hani Kiara.

__ADS_1


Tante Niara yang dari awal diam dan memandang Ryan dengan mata yang puas, seketika menundukkan kepalanya, malu dilihat oleh Ryan.


__ADS_2