SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 73: Masalah Tiara Selesai


__ADS_3

“Habisi dia!“


Pria besar ini langsung memerintahkan kelima temannya untuk memberi pelajaran kepada Alseenio.


Mereka berenam dengan beraninya menyerang Alseenio secara bersamaan.


Melihat banyak kepalan tangan yang terbang ke arahnya, Alseenio dengan cepat menghindar dan menangkis serangan yang datang.


Dalam gang ini mereka bertarung dengan serius, tetapi dengan medan yang terbatas dan sempit, mereka berlima sulit untuk melepaskan serangan ke arah Alseenio, sebab gerakan Alseenio sangat licin, hampir semua serangan tak mengenai tubuh Alseenio.


Pukulan, tendangan, dan cakaran telah mereka semua keluarkan demi melukai Alseenio.


Namun, ada beberapa serbuan yang berhasil menyentuh tubuh Alseenio, pada bagian punggung dan bahunya. Alseenio sengaja untuk melukai dirinya sendiri, luka yang didapatkannya bisa menjadi senjata yang akan membuat keenam orang ini jera.


Saat ini, sebuah pukulan mengarah ke sisi kiri tubuh Alseenio bagian iga, mata Alseenio telah memperhatikan serangan yang berbahaya ini.


Sikut kiri Alseenio turun ke bawah dan menangkis kepala tangan dengan kuat, belum sempat orang yang memukul ini bereaksi, Alseenio sudah merobohkan orang tersebut dengan hantaman di rahang menggunakan tangan kanannya.


Melihat salah satu temannya jatuh di tengah gang, kelima orang yang tersisa menjadi lebih marah dan mereka makin agresif dalam menghajar Alseenio.


“Sialan! Makan ini!“


Orang yang berbadan besar sangat marah begitu melihat temannya kalah, bergerak menuju Alseenio dan menerobos teman-temannya yang ragu untuk menyerang kembali Alseenio.


Tanpa basa-basi, orang berbadan besar ini melontarkan pukulan keras membidik wajah Alseenio sambil dirinya berteriak untuk melampiaskan kemarahan di hatinya.


Tepat ketika kepalan tangan itu hendak membentur wajah Alseenio, ujung sikut tangan muncul di depan kepalan, dan kemudian beradu kuat.


Kepalan tangan itu seketika terdistorsi karena ujung sikut tangan lebih kuat dibandingkan kepalan tangan. Setelahnya, tangan yang memukul itu patah dan suara jeritan kesakitan terdengar ke seluruh ruang yang ada di dalam gang, termasuk rumah Tiara.


“Arrgghhh!!!“


Saat ini, di rumah Tiara, Bella yang sedang duduk memandang paman Tiara tengah mencoba mengancam Tiara dan ibunya mendengar suara tangisan keras dari luar rumah.


Dengan cekatan, Bella keluar dari rumah untuk melihat kondisi di luar.


Begitu keluar dari rumah dan melihat ke gang, Bella dapat menemukan empat orang yang bengis berdiri di depan sesosok pria, dan ada dua pria yang tergeletak tak jauh dari sosok pria yang dihalangi oleh empat pria ini.


Bella sangat jelas mengenali pria yang sedang dikeroyok itu, dan ia berkata tanpa sadar, “Tuan Alseenio?“


Melihat kondisi Alseenio yang aneh karena dikelilingi orang-orang yang tampak jahat, Bella berlari menuju Alseenio.


Namun, saat Bella ingin melewati keempat pria itu, pria-pria ini berbalik dan tersenyum penuh makna ke arahnya. Mereka berniat menjadikan Bella sebagai umpan untuk mengalahkan Alseenio.


Sayang sekali, mereka salah mengambil langkah dan salah memilih orang.


“Hati-hati!“


Di detik berikutnya, Bella langsung bergerak dengan sangat cepat, pria yang ingin menjangkaunya langsung ditepis menggunakan tangan kanannya, kemudian tangan kirinya secepat kilat menyambar sekaligus memegang wajah pria tersebut lalu membanting kepalanya ke belakang hingga jatuh ke bawah, dan diakhiri dengan pukulan di bawah rahang.


Dalam sekejap orang tersebut pingsan tak sadarkan diri.


Seakan itu belum cukup, Bella melanjutkan serangannya, kedua tangannya sangat cepat saat menepuk bagian bawah rahang orang-orang ini dan melumpuhkannya hanya dalam dua sampai tiga gerakan saja.


Gerakan Bella memiliki kecepatan yang tinggi, hanya dalam waktu kurang dari setengah menit, keempat orang itu jatuh ke tanah tak bergerak, masing-masing dari mereka tak bisa bangkit lagi untuk melawan, bahkan dua di antaranya pingsan.


Alseenio terpana untuk beberapa saat setelah melihat aksi yang ditampilkan oleh Bella di depan matanya. Setelah itu, ia bertepuk tangan atas penampilan Bella yang luar biasa.


“Hebat!“ Alseenio tersenyum sambil bertepuk tangan beberapa kali. Pantas menjadi pengawalnya yang hebat, ia dengan mudah melumpuhkan musuh dalam puluhan detik saja.


“Kamu tidak apa-apa, Tuan?“ Berdiri di depan Alseenio, Bella bertanya sembari memeriksa tubuh Alseenio.


Mulut Alseenio perlahan membentuk kurva, ia merasa senang atas perlakuan Bella terhadapnya, hatinya terasa hangat karena perhatian yang diberikan oleh Bella. Sudah lama sekali ia tidak diperhatikan seperti ini secara langsung.


Alseenio memandang Bella dan menjawab sambil tersenyum lembut, “Aku baik-baik saja.“


“Benarkah?“


“Iya.“ Alseenio mengangguk yakin kepada Bella sambil menahan rasa sakit yang timbul dari luka hantaman di punggung dan bahunya.


Tidak begitu sakit lukanya, tetapi tetap saja terasa nyeri.


“Syukurlah ….“


Bella menghembuskan napas lega setelah mendengar konfirmasi dari Alseenio. Ia sangat khawatir Alseenio terluka parah akibat dikepung oleh orang-orang jahat tadi.


Sebelumnya, Bella sempat melihat orang yang terbaring di atas tanah ini saat paman Tiara masuk ke dalam rumah Tiara, mereka datang bersama. Namun, orang-orang ini tidak ikut masuk ke dalam rumah karena terlalu sempit dan memilih untuk menunggu di luar.


Mata Bella sangat tajam, ia dapat mengetahui pandangan orang-orang ini ketika melihat sosoknya, ditambah mereka bersiul dan berucap kata-kata yang terkesan mesum kepadanya.


Pria-pria ini bukanlah orang yang baik.


“Pak Alseenio!“


Seseorang tiba-tiba memanggil Alseenio, suaranya muncul dari arah belakang keduanya.


“Pak Bambang?“

__ADS_1


Begitu berbalik, Alseenio melihat Pak Bambang Pimpinan Kepolisian Pasar Minggu berjalan keluar dari rumah Tiara bersama dengan delapan orang di belakangnya, dua di antara mereka sedang memegangi seorang pria yang diborgol tangannya.


“Ini?“ Alseenio memandang orang yang sedang diborgol sekilas lalu menatap Pak Bambang


Bapak Bambang tersenyum dan kemudian ia berkata, “Ini Paman Tiara yang tersangka pelaku pengancaman dan pemaksaan, sesuai dengan laporan Anda waktu itu, kami juga sudah mengumpulkan bukti dibantu dengan ibu dan Tiara langsung, dia akan terjerat banyak pasal berlapis, kami menduga orang ini tidak hanya melakukan tindakan itu saja.“


Tidak disangka, Bapak Bambang dan tim polisinya sudah ada dan bergerak secara diam-diam untuk membekuk paman Tiara.


“Jangan lupa keenam orang ini ikut dibawa ke kantor polisi, mereka baru saja melukaiku, bukti kejadian ada di kamera ini dan bukti luka ada di tubuhku ….“


Alseenio sekaligus melaporkan keenam orang yang tergeletak di tanah ini, dan memberi bukti.


Tas selempang kecil di depan dadanya ditaruh kamera Yopro sehingga peristiwa yang terjadi sebelumnya terekam dengan jelas tanpa ada halangan, mungkin agak tidak jelas di sesi saat Alseenio bergerak untuk melawan dan membela diri.


Dengan demikian, keenam rekan paman Tiara diborgol oleh anak buah kepolisian setempat.


Selain ada Pimpinan Polisi Pasar Minggu, ternyata Pimpinan Kepolisian Depok ikut serta menyelesaikan masalah ini.


Setelah semuanya dibawa ke Polres Metro Kota Depok. Tiara dan ibunya pun dimintai keterangan atas terjadinya peristiwa pemerasan dari awal.


Alseenio dan Bella juga ikut dimintai keterangan mengenai masalah keenam rekan pamannya Tiara yang melakukan tindak kekerasan dan pengancaman.


“Nio, terima kasih sudah membantuku. Aku senang sekali masalah ini berakhir, aku tidak perlu takut lagi setiap harinya, aku ….“


Di luar kantor polisi, Tiara mengucapkan terima kasihnya kepada Alseenio karena telah banyak membantunya dalam menyelesaikan masalah yang menggerogotinya ini.


“Namun, sekarang aku menjadi bimbang, aku tidak tahu harus senang atau sedih. Katakan padaku, apa aku berdosa telah memenjarakan saudara sendiri? Apa aku orang yang jah—”


“Sudah-sudah, kamu tidak jahat. Jangan dibicarakan hal itu lagi, tenangkan hatimu dan jauhkan pikiran yang mengganggu. Kamu sudah aman, jangan bersedih.“ Alseenio langsung memeluk Tiara sesekali mengusap punggung Tiara, ia mencoba untuk meredakan kesedihannya.


Saat berbicara tadi, mata Tiara perlahan memerah hendak menangis, Alseenio memperhatikan ini dan segera memeluknya. Ia tidak ingin melihat Tiara sedih.


Melihat Alseenio yang sedang memeluk Tiara dengan lembut, Bella dan ibu Tiara tersenyum tanpa sadar, pemandangan ini sangat manis dan hangat.


“Tuan memang orang yang baik,” gumam Bella dengan senyuman.


Ibu Tiara yang mendengar ini, wajahnya tertegun selama sedetik dan kemudian menatap Bella dengan mata yang curiga. Tampaknya ibu Tiara tahu tentang sesuatu dari identitas Pria yang memeluk anaknya.


“Lebih baik kita pergi berjalan-jalan, mumpung masih ada waktu luang, aku akan mengajakmu ke suatu tempat, bagaimana?“ Alseenio menatap wajah Tiara yang terlihat begitu sedih dan terdapat jalur air mata yang mengering.


Setelah berpikir sejenak, Tiara menatap Alseenio dan mengangguk, “Umm … boleh.“


“Hapus air matamu dahulu,” Alseenio menyarankan Tiara untuk menyeka air matanya sambil memberi dua lembar tisu dari tasnya.


Tiara menuruti perintah Alseenio dan ia mengelap bekas air mata yang ada di wajahnya.


Alseenio memakai ZX-10RR dan memboncengkan Tiara di belakang, adapun Bella, ia mengendarai sepeda motor barunya, yakni YZF-R1M dan ia membawa ibu Tiara.


Mereka malaju menuju sebuah tempat wisata yang ada di Depok.


Satu jam kemudian, mereka semua sampai di sebuah cagar alam yang terkenal di Depok. Suasana di sini sangat asri, sejuk, nyaman, damai, dan tenang.


Tiara yang hatinya sedang kacau, seketika menjadi tentram, ia berdiri sambil memejamkan mata untuk menikmati kesegaran dan irama suara alami yang dihasilkan dari pohon-pohon tinggi di sini.


Alseenio dan yang lainnya berdiri di sebelah Tiara dan menunggu Tiara yang menikmati suasana tenang di cagar alam ini. Mereka semua tersenyum setelah melihat Tiara yang sudah tenang tak lagi bersedih dan bimbing tidak karuan.


“Sudah tenang? Apakah itu membantumu melepas beban yang ada di pikiranmu?“ Alseenio melontarkan beberapa pertanyaan dengan suara yang lembut.


Tiara mengangguk, dan menjawab dengan senyum yang tulus, “Ya, aku merasa lebih baik dari sebelumnya.“


“Syukurlah kalau itu membantumu.“


Mereka bertiga senang melihat Tiara yang sudah baik-baik saja.


Selanjutnya, mereka berjalan lebih dalam lagi dari cagar alam ini. Selama dua jam mereka berjalan-jalan di Cagar Alam Tahura, di sana mereka mengalami perasaan yang begitu menenangkan, terlebih mendengar ocehan burung-burung yang bersiul secara bersamaan dan juga kelakuan fauna yang hidup di sini, sangat menenangkan.


Usai berjalan-jalan, Alseenio dan Bella mengantarkan kembali Tiara dan ibunya ke rumah.


Namun, sebelum pamit ke apartemen, Alseenio memberikan modal usaha kepada Tiara sebesar 500 juta rupiah ke rekening milik Tiara.


Alseenio menitip pesan pada Tiara untuk memakai uang ini dengan bijak, serta hati-hati dalam memilih bisnis, usahakan memilih jenis bisnis yang diminati atau memang sudah lihai dalam melakukan bisnis tersebut.


Mendengar ini, Tiara langsung memiliki ide usaha untuk membuka usaha Laundry atau jasa cuci pakaian kiloan. Pasalnya, ibunya kerap kali menjadi tukang cuci rumah tangga sebelum ia lulus dan mulai bekerja.


Bagi Alseenio, ide yang diberitahukan oleh Tiara cukup bagus, tak ada masalah dan keberatan bagu Alseenio, tetapi Alseenio menyarankan agar mengalokasikan uang yang tersisa ke bisnis lain, seperti bisnis yang bergerak di bidang kuliner.


“Jangan gunakan semua uangnya untuk bisnis jasa cuci pakaian yang kamu pikirkan, kamu harus membuat bisnis sampingan yang menguntungkan. Mumpung kamu lagi bekerja di sebuah restoran, kamu manfaatkan kesempatan itu untuk mempelajari dan menyerap ilmu memasak di sana, entah itu bumbu dan teknik memasaknya, kemudian aplikasikan ilmu tersebut ke usaha yang ingin kamu bangun ….“


Alseenio memberi banyak saran kepada Tiara sebelum menggunakan uang yang ia berikan.


Sebab, uang ini termasuk besar bagi kebanyakan orang, sangat disayangkan apabila uang ini tidak digunakan untuk sesuatu yang menguntungkan, malah digunakan untuk sesuatu yang tidak jelas hasilnya.


“Baik, Nio. Aku akan mendengarkan saranmu. Emmm … mungkin aku akan berkonsultasi denganmu nanti, begitu rencana bisnis yang aku dan ibu buat.“ Tiara paham apa yang dikatakan oleh Alseenio dan ia pasti mengikuti apa yang disarankan oleh pria yang sudah menolong hidup dan keluarganya ini .


“Boleh, bicarakan saja jika kamu butuh bimbingan seputar bisnis. Bella juga sebenarnya bisa membantumu juga, jangan sungkan untuk bertanya kepadanya.“


“Omong-omong, apakah Bella ini saudarimu? Tampaknya tidak mirip.“ Tiara melihat ke antara wajah Alseenio dan Bella, mereka berdua sama sekali tidak mirip.

__ADS_1


Wajah Alseenio berubah dan ia bingung ingin menjawab apa.


Melihat Alseenio yang kebingungan, Tiara merasa bersalah dan ia berkata, “Maaf, aku sudah bertanya hal yang tidak perlu, lupakan pertanyaan tadi.“


“Bukan masalah. Jika kamu memang ingin tahu, aku akan memberi tahu tentang Bella, dia memang saudariku, lebih tepatnya saudari jauh, dia juga sudah memiliki suami.“


Mendengar pernyataan Alseenio, dugaan yang bersemayam di pikiran ibu Tiara menghilang.


“Benarkah? Kelihatannya masih sangat muda.“ Tiara melihat Bella yang berdiri di sebelah Alseenio dengan takjub.


Tampilan wajah Bella memang masih muda, tidak terlihat seperti ibu-ibu yang berumur 30 tahun ke atas. Apalagi sosoknya yang masih melengkung seksi, menambah kesan seperti wanita muda.


“Benar, aku memang sudah memiliki suami,“ Bella mengkonfirmasi ucapan Alseenio dan tersenyum manis ke arah Tiara.


“Sangat keren, bisakah kamu memberi tahu cara awet muda setelah menikah?“ Tiara menjadi tertarik dengan pembicaraan ini dan ia ingin tahu cara Bella mengatasi penuaan. Ibunya pun penasaran dengan hal ini. Sebagai seorang wanita, pastinya menjadi awet muda adalah sebuah cita-cita yang sangat ingin digapai.


Alih-alih menjawab, Bella memberi nomor teleponnya kepada Tiara. “Aku akan memberi tahu triknya kepadamu di obrolan pesan. Tentunya, trik itu bukan Childfree, tidak ada hubungannya antara tidak punya anak dan awet muda.“


“Benar, aku pikir juga Childfree atau tanpa anak bukan faktor yang memengaruhi awet mudanya seseorang. Jika alasannya karena tidak punya anak berarti tidak bangun malam-malam untuk menenangkan anak yang menangis, dan tidur bisa delapan jam sehari, itu sangat konyol. Padahal masih banyak faktor yang membuat diri kita terlihat tua.


“Apabila tidak ingin terlihat tua, caranya adalah harus berolahraga rutin setiap hari dan makan makanan yang sehat dan teratur. Tidak sedikit orang tua yang awet muda bahkan sudah berusia lima puluh tahun ke atas, padahal sudah memiliki anak yang banyak. Baru berumur tiga puluh awal saja sudah bisa melontarkan pernyataan bahwa Childfree bisa awet muda, ada-ada saja.“


Alseenio mengeluarkan unek-unek yang ada di dalam hatinya, sepertinya ia kerasukan hantu gosip.


“Siapa yang bilang tanpa anak akan awet muda, Nio?“ Tiara menjadi penasaran dengan orang yang dibicarakan oleh Alseenio.


Alseenio melambaikan tangannya. “Tidak ada, itu hanya tetangga yang sempat berkata dan tak sengaja terdengar sampai ke telingaku.“


“Oh … seperti itu.“ Tiara mengangguk.


“Terima kasih Alseenio sudah banyak membantuku, aku benar-benar tidak tahu ingin membalas kebaikanmu dengan cara apa, aku sangat bersyukur bisa berkenalan denganmu.“


“Kita ini teman, aku akan membantumu jika kamu meminta bantuan kepadaku.“ Alseenio tersenyum sambil mengacak rambut panjang Tiara di depan ibunya.


“E–eh, iya, kita ini teman.“ Wajah Tiara tertegun sekilas dan ia membalas tersenyum kepada Alseenio.


“Baiklah, kalau begitu … kami berdua pamit dahulu, hari sudah sore.“ Alseenio melihat langit yang cahayanya mulai meredup.


“Hati-hati di jalan, Nio. Jangan cepat-cepat berkendara sepeda motornya, harus tetap aman.“


“Siap!“


Alseenio dan Bella berjalan menuju sepeda motor masing-masing dan bersiap untuk pergi.


“Sampai jumpa! Jaga baik-baik diri kalian!“


“Siap, Kak Bella!“


“Dadah!“


Dengan raungan mesin sepeda motor yang keras, kedua sosok itu menghilang di ujung jalan dekat gang rumah Tiara.


“Pria yang baik, ibu suka pria itu, coba saja kamu menikah dengannya,” gumam Ibu Tiara setelah melihat sosok Alseenio yang pergi.


Mendengar celotehan ibunya yang demikian, pipi Tiara memerah. “Ibu ada-ada saja, tidak mungkin Alseenio mau menikah denganku yang jelek ini.“


“Kamu tidak jelek, tetapi ibu lihat, sepertinya anak itu tertarik denganmu.“


“Itu perasaan ibu saja.“


“Kamu tidak mempercayai ibumu sendiri?“


“Bukan begitu maksudku, Ibu.“


“Lalu apa?“


“Lebih baik kita masuk ke dalam rumah dahulu, Bu. Di sini bau sekali.“


“Benar juga. Ayo kita pergi!“


….


“Bagaimana di sana, Gondals? Apakah perusahaan baik-baik saja? Karyawannya bagaimana?“


“Cukup baik, sayangnya karyawannya kurang terlatih.“


“Tadi kamu sudah melatih mereka?“


“Belum, besok aku akan melatih mereka, Pak Darga juga setuju, ia pun ingin ikut berlatih bersama.“


“Baguslah, aku harap proses latihan berjalan lancar.“


Setelah pulang dari rumah Tiara, Alseenio pergi bersama Bella ke Mall yang dekat dari apartemen, di sana keduanya membeli keperluan sehari-hari untuk mereka bertiga hidup. Dikarenakan ada dua orang tambahan kebutuhan pun otomatis bertambah.


Begitu pulang di jam enam sore, mereka berdua sudah disambut oleh Gondals yang sedang duduk membaca koran, kemudian Alseenio berbincang-bincang tentang perusahaan dengan Gondals.


“Oh, iya. Aku ingin memberitahukan satu informasi tentang perusahaan, kali ini Pak Darga yang menitipkan pesan, katanya penting.“

__ADS_1


“Apa itu?“


__ADS_2