
“Pasti berbeda, di sini sedang musim dingin, tidak bersalju seperti yang ada di Jepang.“ Alseenio menoleh ke Fara yang ada di sebelahnya dan mengusap dengan lembut rambut Fara. “Thailand memiliki tiga musim, musim panas, musim dingin, dan musim hujan.“
Fara mengangguk mengerti setelah mendengar ucapan Alseenio, ia jadi tahu tentang iklim di Thailand.
Pada saat ini, mereka berempat tengah berdiri dan menunggu mobil sewa yang telah dipesan Sugi datang.
Sugi sudah menyiapkan semua akomodasi perjalanan selama 5 hari di Thailand, performa kerja Sugi sangat bagus sebagai asisten pribadi dalam bidang keperluan sehari-hari Alseenio yang bersangkutan dengan keuangan.
Meskipun begitu, Fara juga bagus dalam menjalani pekerjaannya sebagai asisten pribadi yang sedikit berbeda tugasnya, Fara selalu menyiapkan makanan dan hal yang dibutuhkan oleh Alseenio, bahkan ia selalu siap untuk memanjakan pria miliknya ini.
Terkadang Fara bersikap seperti gadis kecil, tetapi ia juga bisa bersikap layaknya seorang ibu yang galak. Saat mode galak, Alseenio biasanya pura-pura takut dan menuruti perintah Fara, melihat Fara yang galak sekaligus perhatian, secara tidak langsung membuatnya mengingat masa-masa mereka berdua kecil.
Setelah menunggu hampir 10 menit lamanya, akhirnya sebuah mobil sedan datang dan berhenti di depan mereka berempat.
Mereka segera masuk ke dalam mobil dan dibantu oleh supir untuk meletakkan barang bawaan mereka berempat, kemudian mobil tersebut melaju meninggalkan orang-orang di bandara.
Sejak awal mereka menunggu di depan bandara, banyak orang yang melihat mereka, tidak terkecuali para turis yang datang bersamaan dengan Alseenio.
Di mana pun Alseenio dan Fara berada, mereka mengambil perhatian mereka semua yang kebetulan melihat mereka.
Melihat cuaca masih cerah dan termasuk waktu pagi, mereka melakukan sarapan begitu tiba di hotel yang Sugi pesan.
Dari Jepang mereka berangkat di malam hari setelah Alseenio pulang dari perusahaan HoleLife, mereka sampai di Thailand di pagi hari selanjutnya.
Alseenio dan beberapa pria di pesawat sempat mengobrol lama, Bang Luffi dan pria yang lain tidur terlambat, sedangkan Alseenio tidak tidur dan sibuk mengedit video yang telah direkam saat liburan ke Jepang.
Tak lupa juga untuk mengunggah foto Sasaki di akun Instagrem khusus Misi Spesial Fotografer.
Hotel yang dipesan oleh Sugi berada di Kota Bangkok, lebih tepatnya dekat dengan kawasan Central World.
Daerah Central World merupakan kompleks atau bagian daerah bangkok yang menjadi pusat barang dengan merek-merek terkenal berada di sini, mencakup mall, kantor, dan hotel mewah.
Mereka berempat membereskan barang-barangnya di kamar masing-masing, Alseenio dan Sugo di kamar yang sama, berlaku dengan Fara dan Fani, mereka berempat memesan 2 kamar yang dipakai 4 orang.
Tentunya Sugi memesan 2 presidential suite untuk mereka tempati.
Sampai saat ini Alseenio puas dengan kamarnya, cukup nyaman untuk dijadikan tempat singgah 5 hari ke depan.
Jatah waktu yang Alseenio atur untuk dirinya pergi ke sebuah negara dan singgah di sana adalah selama 5 hari saja.
Sengaja ia kelola seperti itu supaya waktu yang diberikan misi cukup untuk diselesaikan dan tentunya tepat waktu.
Setelah makan siang di hotel, mereka berempat pergi ke salah satu tempat wisata terdekat, yaitu Bangkok Art and Culture Centre.
Jaraknya tidak jauh dari hotel mereka berada, cukup dekat untuk mereka berjalan menuju lokasi tempat wisata tersebut.
Mereka melewati beberapa tangga dan jembatan untuk bisa menuju gedung seni tersebut, banyak orang yang searah dengan mereka, padahal hari ini adalah hari kerja.
Setibanya di BACC, mereka segera masuk dan melihat-lihat lukisan yang terpanjang di sekitar dinding. Tempat wisata seni di sini gratis, tidak dipungut biaya, sangat cocok untuk pecinta seni yang ingin menghemat bujet liburan.
Dikarenakan gedung galeri seni ini memiliki banyak tingkat, Alseenio dan yang lainnya naik ke lantai teratas. Mereka menikmati setiap seni dimulai dari lantai paling atas.
Desain gedung ini melengkung dan di tengah gedung ini kosong dan dijadikan jalur eskalator untuk naik ke tiap-tiap lantai, mirip dengan gedung mall di Jakarta.
Jadi, mereka bisa melihat orang yang sedang berjalan di lantai yang ada di bawahnya.
Wisata ini memiliki banyak lukisan, seni 3 dimensi patung, seni abstrak yang indah, barang antik, perpustakaan seni, dan masih banyak seni kontemporer yang indah.
Seni di sini banyak variasinya, kebanyakan seni yang ada itu memiliki makna memperkenalkan budaya dan adat istiadat tradisional Thailand. Alseenio dan yang lainnya mendapatkan beberapa pengetahuan tentang budaya Thailand dari tempat ini.
__ADS_1
Tiap-tiap seni umumnya disediakan penjelasan yang memakai bahasa Inggris, mempermudah mereka untuk memahami kandungan yang tersirat dalam seni.
Namun, Alseenio tidak boleh sembarang menyentuh seni-seni tersebut karena ada yang diizinkan dipegang dan ada yang tidak diperbolehkan.
Bahkan Alseenio tidak boleh mengganggu orang lain yang tengah menikmati seni di gedung ini. Dengan demikian, Alseenio mengurungkan niatnya untuk mencari target misi di sini.
Tidak hanya itu, Alseenio tidak boleh memperjualbelikan foto atau hasil jepretan lukisan seni yang terdapat di sini, dilarang untuk penggunaan komersial.
Hampir 5 jam mereka berempat melihat-lihat seni di gedung seni ini. Alseenio perhatikan, banyak sekali pelajaran Thailand yang berkunjung ke tempat seni ini, mereka kemari secara beramai-ramai, mungkin satu kelas.
Selain pelajar, banyak sekali turis yang mengunjungi tempat ini, turis dari berbagai negara. Pada dasarnya, tempat ini ramai sekali oleh pengunjung, mau itu lokal ataupun turis.
Puas memandangi dan menyaksikan seni indah dan penuh akan arti, mereka berempat pergi ke mall terkenal yang dekat dari gedung seni ini. Mereka berjalan lagi untuk bisa sampai ke sana.
Kemudian mereka mencari kedai kopi untuk bersantai sambil menunggu malam hari tiba.
Sehabis istirahat sambil bersantai dan memakan camilan kecil, Alseenio, Fara, Sugi, dan Fani berangkat menuju tempat wisata terkenal yang lain dan dekat dari tempat mereka berada sekarang.
Wisata selanjutnya adalah Mahanakhon Sky Walk. Sebuah tempat wisata yang akan memanjakan mata dan memberikan pengalaman yang menakjubkan.
Harga tiket masuk wisata kali ini berkisar 880 baht per orang, sangat sebanding dengan pengalaman yang akan diberikan.
Ketika masuk, Alseenio dan yang lainnya difoto oleh petugas di sini. Uniknya, Alseenio di foto dengan latar belakang tembok, nanti latar belakang tembok tersebut diubah dengan pemandangan yang berbeda, dan itu tidak diberitahukan pemandangan apa yang dijadikan latar belakang fotonya.
Hasil dari foto tersebut akan diberikan ketika ingin pulang dari sini, tentunya diberikan gratis.
Setelah mengambil foto, mereka langsung masuk ke dalam lift.
Lift ini sangat bagus karena memiliki layar layaknya televisi di seluruh sisi yang dapat menampilkan sebuah gambar pemandangan seolah-olah saat naik ke lantai atas mereka sedang terbang di atas langit dengan banyak pemandangan yang berbeda, tujuan adanya fitur tersebut pada lift ialah supaya tidak bosan menunggu sampai ke lantai atas.
Sebelum ke lantai teratas, mereka harus berhenti di lantai 74 untuk bisa sampai ke lantai 78 yang paling atas.
Di lantai 74 ini memiliki pemandangan Kota Bangkok yang sangat menakjubkan, terlebih di malam hari seperti saat ini, Alseenio bisa melihat banyak lampu neon warna-warni yang terpancar di setiap sudut Kota Bangkok.
Kebetulan Alseenio memiliki beberapa uang koin 20 baht, kemudian ia memasukan koin tersebut ke alat teropong agar bisa melihat dengan jelas pemandangan malam hari Kota Bangkok.
Fara, Sugi, dan Fani pun diberi kesempatan oleh Alseenio untuk melihat pemandangan indah.
Setelahnya, mereka berjalan menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai 78, sebelum ke lift, mereka diberi pelindung sepatu yang bertujuan untuk tidak menggores lantai kaca atau sky walk yang ada di lantai 78.
“Sayang, aku takut. Aku tidak mau ke sana!“ Melihat lantai kaca yang transparan yang ada di bawah kaki Alseenio, Fara seketika merasa takut, ini berbeda dengan di lantai 74, meskipun ia tetap merasa ngeri saat melihat ke bawah kota melalui kaca dinding.
Alseenio tersenyum, kemudian ia berjalan perlahan dan beranjak dari lantai transparan. “Tidak perlu takut, ada aku yang menjagamu. Pegang tanganku, kita akan difoto oleh Sugi.“
“Umm, aku masih takut, Sayang.“ Fara tanpa sadar memegang tangan kanan Alseenio, tetapi ia masih ragu untuk berdiri di atas lantai kaca.
Tiba-tiba Alseenio mencium kening mulus Fara di depan banyak orang, dan dia tersenyum di balik maskernya. “Bagaimana sekarang? Apa kamu masih merasa takut?“
Merasakan kecupan kening dari Alseenio, rasa takut Fara menghilang seketika dan digantikan rasa malu dan tersipu yang tak tertahankan.
Sambil memukul pelan dada Alseenio, Fara berkata, “Umm, sudah tidak takut lagi, tetapi aku malu dilihat oleh banyak orang, Sayang.“
Fara menatap Alseenio dengan wajah yang memerah. Ia merasakan banyak tatapan orang-orang terfokus kepada mereka berdua. Gerakan Alseenio saat membuka masker dan mencium dahi Alseenio disaksikan banyak orang.
Orang-orang yang kebetulan melihat wajah Alseenio dalam sekilas itu terkejut dan makin penasaran dengan Alseenio. Bahkan turis wanita banyak yang melirik Alseenio.
Wajah Alseenio membuat hati wanita yang ada di sini terpikat.
“Kalau begitu, ayo kita foto bersama!“
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Alseenio menarik lembut tangan Fara dan mengajaknya ke atas lantai kaca yang di bawahnya memiliki pemandangan kota yang memukau.
Melihat mereka berdua membuat pose di atas sky walk di ketinggian lebih dari 300 meter, Sugi menggunakan kamera Alseenio dan mengambil gambar keduanya.
Begitu melihat hasil jepretan, terlihat jelas sepasang mata Fara yang ketakutan sedang berpegangan tangan dengan Alseenio.
Fara pasrah melihat hasil fotonya, ia tidak bisa tampil berani di depan kamera dan tidak ingin berdiri di atas sky walk lagi.
Meskipun tampak ketakutan, Fara masih tetap kelihatan cantik nan menawan.
Usai sesi Alseenio, kini gantian Alseenio yang memotret Sugi bersama pacarnya.
Mereka berempat akhirnya pulang ke hotel setelah diberi tahu bahwa sky walk akan ditutup, mereka terlalu malam datang ke sini sehingga mereka tidak bisa menikmati pemandangan malam hari lebih lama lagi.
Sesampainya di hotel, mereka makan malam dan langsung pergi tidur.
Keesokan paginya, mereka pergi ke sebuah taman, yaitu Taman Lumpini.
Pagi hari adalah waktu yang tepat untuk menikmati suasana alam.
“Sayang, rencananya kamu ingin mengambil foto siapa?“ Fara menoleh dan bertanya kepada Alseenio di sebelahnya.
Di kursi taman, Alseenio dan Fara duduk bersama sambil memakan makanan kecil, mereka menatap ke arah depan yang terdapat sebuah danau yang luas.
“Entah, aku juga masih mencari seseorang yang cocok aku jadikan model foto, “ Alseenio menjawab sembari mengunyah permen cokelat.
“Bagaimana dengan wanita itu? Sepertinya bagus,“ celetuk Fara yang tiba-tiba.
“Wanita?“ Dengan cepat Alseenio menengok dan melihat Fara. “Siapa?“
“Itu, wanita yang pernah masuk ke siaran langsung kamu di Tiktod, Sayang.“
“Siaran langsung Tiktod?“
Alseenio merenung dan mencoba mengingat wanita yang pernah siaran langsung bersamanya di Tiktod.
Segera ia teringat dengan wajah cantik seseorang.
“Maksud kamu Yochilin, Sayang?“ tanya Alseenio memastikan.
“Iya, itu. Dia cantik, seharusnya cocok untuk dijadikan objek foto.“ Fara mengangguk cepat.
“Apakah tidak apa-apa aku mengajak wanita ke sini?“ Alseenio memandang wajah Fara dengan sorot mata yang serius.
“Tidak apa-apa, lagi pula aku sudah tahu dia itu bukan wanita asli.“ Fara tersenyum manis kepada Alseenio.
“Emmm, kalau begitu … aku akan memintanya bertemu di sini.“
Melihat Fara yang tidak keberatan, Alseenio mencoba mengirim pesan kepada Yochilin melalui Tiktod.
Selang beberapa detik pesan itu terkirim, Yochilin membalas pesan Alseenio dan bilang bahwa ia akan ke Taman Lumpini sebentar lagi.
“Bagaimana? Apa dia mau bertemu kita berdua?“ Fara melirik Alseenio dengan penasaran.
Sugi dan Fani tidak duduk bersama mereka berdua, keduanya berjalan-jalan menelusuri taman.
Alseenio menganggukkan kepalanya. “Iya, dia akan ke sini, kita tunggu saja.“
“Baiklah.“ Fara mengambil cermin dari tasnya dan bercermin. “Sayang, kamu jangan bersikap aneh-aneh dengan dia nanti.“
__ADS_1
“Iya, Sayang. Aku masih normal dan suka lubang yang asli, kok.“ Alseenio membelai rambut hitam panjang Fara.
“Sayang! Jangan bahas tentang itu, huft!“ Pipi Fara memerah ketika bercermin, ia tersipu dengan kata-kata Alseenio.