
“Hei, ke mana mata kalian melihat?!“
“Babe, kamu sedang lihat apa?!“
Wanita-wanita yang melihat para pria sedang memandangi pelayan berkostum mirip kucing ini, mereka langsung menegur dan bertanya dengan wajah yang garang dan marah.
Sontak para pria mengalihkan pandangannya dan menjawab dengan ekspresi seolah-olah tidak melakukan hal yang salah.
“Kami sedang lihat kucing oranye yang menggemaskan.“
“Kucing di sini sangat menggemaskan, kami tidak tahan untuk melihat.“
“Benar, kucing-kucingnya lucu semua.“
“…”
Sorot mata tajam dari masing-masing para wanita perlahan melemah, mereka masih tidak percaya prianya ini melihat kucing, sebab mereka dengan jelas melirik pelayan toko kucing ini.
Ucapan pria sulit dipercaya.
Dengan begitu, para wanita sepakat untuk tidak berlama-lama di kafe kucing ini, mereka menarik prianya untuk pergi dari sini dan menuju ke tempat yang lain.
“Sayang, kamu tadi lihat pelayan itu, ya?“
Di jalan trotoar yang tertutup oleh salju, mereka berempat berjalan menuju tempat perbelanjaan di Shibuya.
Fara tiba-tiba bertanya kepada Alseenio perihal tadi dan memastikan apakah Alseenio juga ikut melihat pelayan berkostum kucing atau tidak.
Padahal Fara sudah tahu jawaban Alseenio dari pertanyaannya, ia hanya ingin mengonfirmasi kejujuran Alseenio.
Mendengar pertanyaan Fara, kepala Alseenio bergerak ke kiri dan ke kanan, kemudian ia menjawab, “Tidak, aku sama sekali tidak melihat pelayan itu, aku malah melihat dirimu, Sayang. Kamu makin cantik setiap menitnya sehingga membuatku tidak tahan untuk tak melihat kecantikan dan keindahanmu selalu.“
“Humm, mulut yang manis.“
Begitu mendengar perkataan Alseenio yang terselip pujian untuknya, Fara merasa sangat bahagia dan berbunga-bunga di hatinya. Walaupun Fara sering dipuji oleh Alseenio, itu masih membuatnya tersipu malu dan merasa senang, tak peduli berapa sering calon suaminya memuji, perasaan Fara secara alami akan tetap merasa gembira yang tak terlukiskan.
Tangan Fara memeluk tangan Alseenio, Fara makin dekat dengan Alseenio, bahkan sekarang ia tidak malu-malu lagi jika ingin bermesra manja dengan Alseenio walaupun di tempat yang agak umum.
“Sayang, apa kamu suka jika aku memakai kostum kucing seperti pelayan di kafe kucing tadi?“
Sambil berjalan dan bergandengan tangan dengan Alseenio, tiba-tiba Fara bertanya dengan kepala yang sedikit terangkat.
“Cosplay maksudnya?“ Alseenio menundukkan kepalanya dan menatap sepasang mata indah Fara.
Seketika Fara mengangguk cepat. “Iya, cosplay jadi kucing, apa kamu suka apabila setelah kita nikah nanti aku memakai kostum itu di malam saat bulan madu?“
“Mengapa tidak memilih untuk mengenakan kostum sapi? Menurutku cocok denganmu.“
“Kostum sapi?“ Fara menatap Alseenio dengan aneh. “Sapi tidak lucu seperti kucing, Sayang.“
“Tetapi sapi mirip denganmu, Sayang.“
“Mirip? Maksudnya bagaimana? Aku tidak mengerti.“ Fara belum mengerti apa yang dimaksud oleh Alseenio.
__ADS_1
Menurutnya, kucing lebih lucu dari sapi, ia ingin memakai kostum yang lucu di depan Alseenio nanti.
“Anu, itu karena sama-sama memiliki bagian tubuh yang menyimpan susu, ukurannya juga sama-sama besar,” ucap Alseenio dengan perlahan dan hati-hati.
Setelah mendengar kalimat jawaban Alseenio, pipi Fara menjadi merah merang. “Sayang, kamu mesum!“
Fara berlari melepaskan tangan Alseenio dan bergabung dengan para wanita yang berjalan di depannya.
Melihat kepergian Fara, Alseenio tersenyum di balik maskernya, wanitanya memiliki tingkah lucu saat dijahili dan digoda.
Jujur saja, mengetahui Fara ingin memakai kostum hewan, Alseenio ingin cepat-cepat menikah dengan Fara.
Namun, Alseenio masih berpikir bahwa terlalu dini untuk menikah di umur 20 tahun.
Kemungkinan 2 tahun kemudian ia akan menikah dengan Fara, Alseenio berharap Fara menjadi istrinya dan dalam selama 2 tahun tidak ada masalah yang membuat mereka membatalkan niat untuk menikah.
“Woah! Pochiti! Manusia gergaji, aku mau ambil mainan ini!“
“Aya Forget! Lucu sekali!“
“Mainan dari Satu Potongan sangat seksi, aku harus membelinya walau hanya satu buah.“
Hari kedua ini, mereka berjalan-jalan di Kota Tokyo saja, di hari berikutnya mereka pergi ke daerah lain yang masih di kawasan Jepang untuk liburan.
Pada kesempatan hari ini, cukup untuk menjelajahi Kota Tokyo.
Bang Luffi dan yang lainnya dengan semangat membeli mainan karakter anime kesukaannya, Alseenio pun mengambil beberapa mainan pajangan untuk di ruang studionya.
Mainan kecil saja hampir menyentuh 1 juta rupiah, sedangkan mainan yang berukuran besar dengan detail desain yang keren dan memukau, harganya lebih dari 1 juta, bahkan ada beberapa mainan yang harganya lebih dari belasan juta.
Wanita-wanita juga membeli mainan walaupun tidak sebanyak pria, mereka lebih banyak membeli pakaian di sini.
Mereka berjalan-jalan di Kota Tokyo diselingi dengan makan-makan atau membeli jajanan, banyak makanan yang sudah mereka beli, di antaranya crepes seafood, sushi, takoyaki, cumi bakar, ramen, dan yang lainnya.
Selepas mereka puas berbelanja di pusat perbelanjaan Kota Tokyo, mereka kembali ke hotel dengan berjalan kaki sambil melihat-lihat suasana malam Kota Tokyo, mereka juga melewati persimpangan Shibuya yang ramai dengan orang-orang menyeberang jalan.
Namun, ketika di jalan, Alseenio tiba-tiba mengajak berbincang dengan seorang pria asing di Jepang, kemudian ia menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan sebuah akun Instagrem.
Akun tersebut adalah akun yang Alseenio buat untuk misi kali ini, sudah ada beberapa foto yang keren dan bagus yang terdapat di sana, bahkan ada fotonya dan foto Bang Windi serta yang lainnya.
Alseenio mengambil foto dengan kamera Canon EOS 750D yang didapatkan dari hadiah misi. Hasil jepretannya sangat bagus karena diambil dengan kemampuan foto level tinggi.
Pengaturan ISO, white balance, pencahayaan, aperture, sudut pengambilan gambar, dan teknik yang lainnya sudah Alseenio kuasai dan cukup andal. Meskipun tidak terlalu master dalam fotografi.
Hasilnya tentu saja bagus, bahkan pria Jepang ini mau untuk difoto oleh Alseenio.
Begitu melihat hasilnya, pria ini mengangguk puas dan minta untuk dikirimkan fotonya ke akun media sosialnya.
Alasan mengapa Alseenio ingin memotret pria asing ini, sebab gaya pakaiannya sangat bagus dan keren, cocok untuk dijadikan sebagai target misi.
[Misi Spesial dalam proses penyelesaian!]
Judul Misi : Menjadi Fotografer yang lihai.
__ADS_1
Misi : Foto beberapa orang dari negara yang berbeda selama 1 bulan.
Syarat : 6 Orang dari 6 negara (2/6), puas dengan hasil foto.
Waktu : 25 hari 4 jam 18 menit tersisa.
Hadiah : Kotak Misteri Spesial.
Hukuman : Fungsi mata dan telinga hilang selamanya.
[Misi telah diterima!]
Setelah mengambil foto dari pria Jepang tersebut, misi telah diperbarui statusnya, sudah ada 2 dari 6 orang yang berhasil diambil gambar dirinya.
Selain pria Jepang, Alseenio sudah memotret orang Indonesia dan itu termasuk ke dalam target misi.
Misi ini merepotkan karena Alseenio harus pergi ke negara yang berbeda. Tentunya memakan banyak waktu.
Di Jepang juga Alseenio hanya tinggal selama 5 hari saja, setelah itu ia pergi ke negara selanjutnya, belum ditentukan ingin beranjak ke negara apa, tetapi Alseenio sudah menargetkan ke negara yang terdekat.
“Omong-omong, kalian berasal dari mana?“ Pria Jepang ini bertanya kepada Alseenio dan yang lainnya. “
“Kami dari Indonesia,” jawab Bang Luffi sambil memakan mochi dingin, ia menjawab dengan bahasa Indonesia
“Indonesia?“ Pria ini terkejut sambil menyebutkan nama Indonesia dalam aksen Jepang.
“Iya, kami semua dari Indonesia,” Alseenio mengonfirmasi dan berkata memakai bahasa Jepang.
“Kamu juga?“ Pria ini menunjuk Alseenio.
“Iya, termasuk aku.“ Alseenio mengangguk satu kali.
“Aku tidak percaya kamu orang Indonesia, berbahasa Jepangnya sangat bagus, sama seperti temanku yang berasal dari Indonesia,” ujar Pria tersebut pada Alseenio.
Pelafalan bahasa Jepang Alseenio memang sangat bagus, layaknya orang asli Jepang, semua itu karena kemampuan bahasa Jepang dari Sistem.
“Kamu punya teman dari Indonesia?“ Alseenio lebih memperhatikan kalimat Pria satu ini yang katanya memiliki teman dari Indonesia.
“Iya, temanku ada yang orang Indonesia dan cukup terkenal di Indonesia.“
Bang Windi dan yang lainnya tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Alseenio dan Pria Jepang tersebut, mereka hanya menonton dengan saksama.
“Siapa namanya?“ Alseenio bertanya dengan penasaran.
Pria ini tidak langsung merespons, ia mengambil ponsel dari jaket tebalnya dan mengetik sesuatu di layar ponselnya.
“Ini, kamu tahu dia?“ Pria ini menunjukkan layar ponselnya ke Alseenio yang ditampilkan sebuah akun Instagrem yang memiliki banyak pengikut.
Melihat nama akunnya, Alseenio tahu teman dari orang Jepang ini, memang benar terkenal di Indonesia karena seorang Yituber terpopuler.
“Bukannya itu si ahli matematika, Bang Nio? Mengapa dia menunjukkan akun dia?“ Bang Luffi yang ada di sebelah Alseenio pun melihat layar ponsel milik pria Jepang.
“Orang ini adalah temannya.“
__ADS_1