
Alseenio terpesona mendengar suara indah dari wanita ini, juga bingung dengan apa yang dikatakannya.
Dengan wajah yang bingung, Alseenio bertanya, "Apa yang kamu bicarakan?"
"Alseenio, suamiku. Kamu tampaknya belum mengingat aku," ucap wanita tersebut dengan belaian tangan yang mendarat di dagu Alseenio.
Sebelum Alseenio sempat bereaksi, sebuah ciuman lembut datang di bibirnya, wanita seksi dengan bola besar tersebut menyerangnya tanpa menjawab pertanyaan Alseenio.
Dalam sekejap, Alseenio terbuai oleh ciuman panas ini, kedua tangannya bergerak untuk memainkan dua melon matang yang sangat besar.
Ukuran dari buah melon ini melebihi ukuran L, mungkin ukuran M atau N.
Pada intinya, kelembutan, kekenyalan, bentuk, dan ukurannya mengalahkan milik Fara.
Hal ini bisa diketahui karena keduanya telah Alseenio rasakan secara langsung.
Perlahan sepotong ingatan terbuka di kepala Alseenio, seketika ia mengingat siapa wanita super cantik yang menciumnya tanpa izin terlebih dahulu.
Dewi Gaia, wanita ini adalah seorang Dewi ilahi yang kuat dan luar biasa. Sebuah peristiwa telah mereka berdua lalui, Alseenio mengingat peristiwa tersebut, yaitu Dewi Gaia memberikan kue apem miliknya kepada Alseenio, mirip sekali apa yang telah ia lakukan bersama Fara sebelum tiba ke tempat aneh ini.
Kedua tangan wanita itu mendorong tubuh Alseenio hingga jatuh ke atas tempat tidur.
Berikutnya, Dewi Gaia menaiki tubuh Alseenio secara perlahan, salah satu tangannya membuka celananya dan mengeluarkan senjata besar yang dapat mengalahkan semua wanita.
Dengan gerakan yang hati-hati, tubuh Dewi Gaia sedikit turun sembari menerima tusukan senjata Alseenio ke dalam tubuhnya, menusuk lubang di kue apem yang tampak lezat.
Merasakan kehangatan dan rasa sempit ini, Alseenio terkejut dengan matanya membesar melihat Dewi Gaia yang memakan senjatanya.
Keperjakaan Alseenio menghilang dan diambil oleh Dewi Gaia, makhluk luar biasa yang berbeda dengan manusia atau makhluk lainnya. Tingkatannya jauh lebih tinggi dari manusia.
Wajah Dewi Gaia memerah, ekspresinya terlihat sangat malu.
"Milikmu tidak ada tandingannya, Suamiku."
Mendengar ucapan Dewi Gaia, Alseenio tambah tercengang lagi.
Kaya "Suami" terngiang-ngiang di dalam kepalanya.
'Suami? Aku suami Dewi Gaia?' gumam Alseenio dalam hati sambil menahan rasa nikmat yang luar biasa dari gerakan Dewi Gaia.
"Benar, kamu suamiku yang pertama dan terakhir untuk selamanya, dan aku adalah istri kamu yang takkan pernah meninggalkanmu walau kamu terhapus dari seluruh dunia yang telah diciptakan," kata Dewi Gaia kepada Alseenio dengan senyuman manis di wajahnya.
Ternyata Dewi Gaia bisa mendengar suara hatinya seperti di dalam sinetron.
__ADS_1
Pinggul Dewi Gaia terus bergerak secara intens, perasaan yang luar biasa benar-benar membuat Alseenio menikmati kehidupan.
"Si–siapa aku sebenarnya ... dan bagaimana aku bisa menjadi suami ka–kamu?" tanya Alseenio dengan suara yang terbata-bata karena sensasi nikmat pada senjatanya.
Dewi Gaia juga lebih merasakan kenikmatan dari kegiatan ini, wajahnya menampilkan ekspresi penuh kenikmatan, tidak terlihat seperti seorang Dewi yang anggun, tetapi lebih ke seperti wanita yang menyukai kegiatan pertempuran seperti ini.
Berusaha membuka mulutnya, Dewi Gaia menjawab, "Aku tidak bisa menjawabnya, aku di sini untuk memberi ta–tahu kamu tentang sesuatu .... Suamiku, cepatlah menikahi Fara, aku membutuhkanmu karena waktu terus sedikit."
"Apa maksudnya waktu makin sedikit?" Alseenio bertanya lagi dengan rasa penasaran yang tinggi.
Kedua tangan Alseenio begitu jujur, dia terus-menerus memainkan dua buah melon matang yang enak untuk dimakan.
Dewi Gaia tidak langsung menjawab, melainkan dia terdiam sesaat dan lebih memilih untuk fokus dengan kegiatannya sekarang.
Mulut seksi Dewi Gaia yang begitu sempurna terbuka kembali, dan membalas pertanyaan Alseenio, "Kamu akan tahu nanti. Pada intinya ... ingat selalu pesanku barusan. Omong-omong, aku melakukan ini untuk memenuhi keinginan kamu. Aku tidak mau suamiku melakukan itu dengan tangannya sendiri."
"Eh?"
Alseenio tercengang, Dewi Gaia memperhatikan kebersihan dan kesuciannya.
Perjanjian dan prinsipnya membuat Alseenio menahan untuk tidak melakukan itu dengan Fara sebelum mereka berdua menikah.
Tidak heran, sekarang dia disebut sebagai suaminya. Hal ini masih menjadi sebuah pertanyaan di kepala Alseenio.
Alseenio harus bersabar agar mengetahui semuanya tentang hubungannya bersama Dewi Gaia.
Hanya waktu yang bisa mengungkapkan semuanya.
Setalah obrolan tersebut, pertempuran berjalan begitu panas dan liar.
Pada akhirnya, Dewi Gaia kalah dengan tubuh yang terasa lemah, sementara Alseenio masih segar bugar, dan tidak mengeluarkan air pamungkasnya sama sekali.
Ciuman lembut mendarat sekali lagi di bibir Alseenio, rasanya begitu manis dan teksturnya begitu halus serta basah.
Alseenio bisa merasakan bahwa air yang keluar dari Dewi Gaia membasahi seluruh senjatanya, tubuhnya jatuh ke dalam pelukan dan bergetar hebat.
Pikiran Alseenio menjadi terbuka, dan dia tersadar akan sesuatu.
Apakah seorang Dewi masih membutuhkan kegiatan yang sangat primitif ini? Sangat aneh.
"Meski aku seorang Dewi, tubuhku ini dalam bentuk manusia, beberapa sifat manusia aku pertahankan, salah satunya adalah ini. Aku tidak menyesal, aku sangat bersyukur bisa merasakan kegiatan tersebut. Apalagi itu dilakukan olehmu, Suamiku," Dewi Gaia menjawab, bahkan sebelum Alseenio berkata di dalam hatinya.
"Minum ini, akan membantu tubuhmu menjadi lebih kuat."
__ADS_1
Dewi Gaia mengeluarkan air pada pucuk buah melonnya, itu ada air susu untuk bayi dan Alseenio disuruh untuk meminumnya.
Tanpa banyak berpikir, Alseenio meminum air tersebut dan menelannya hampir satu gelas.
Senyum lebar bahagia terbentuk di wajah Dewi Gaia, kemudian dia mencium bibir Alseenio lagi.
"Waktu kamu di sini akan habis beberapa detik lagi. Ingat dengan pesanku sebelumnya. Aku menunggu kamu di sini."
Alseenio mengangguk mengerti sebagai tanggapannya.
Tak lama kemudian, mata Alseenio menjadi gelap dan kesadarannya berpindah kembali ke dunia nyata.
Ketika matanya terbuka, Alseenio melihat bahwa di depannya ada kue apem berwarna merah muda yang lebih ke warna merah.
Pupil mata Alseenio membesar melihat keindahan ini.
Sebelum Alseenio bereaksi, air menyembur ke wajahnya.
"Aaah ...."
Suara Fara terdengar di telinga Alseenio, itu terdengar seperti seorang wanita yang puas dengan kegiatan tertentu.
Lagi-lagi ketika Alseenio tercengang, tangan Fara mendorong belakang kepala Alseenio untuk mencium kue apem ini.
Tubuh Fara bergetar tidak karuan disertai dengan suara lantang yang menggoda.
Setelahnya, Alseenio mengetahui sesuatu dengan apa yang terjadi di dunia nyata ketika kesadarannya ada di suatu tempat yang terdapat Dewi Gaia.
Tubuhnya masih menjilati dan memainkan kue apem meski kesadarannya sudah dialihkan.
Untungnya, Alseenio tidak lebih dari itu, bahkan mencolok saja tidak.
Jika itu dicolok, Fara kehilangan kesempitannya sebelum menikah.
Batasnya sampai di sini, dan tidak boleh berlebihan dari ini.
Mereka berdua membersihkan kekacauan ini, kemudian Fara meminta Alseenio untuk tidur di dalam kamarnya di malam hari ini.
Awalnya Alseenio menolak. Akan tetapi, mengetahui bahwa Fara ini sangat penting bagi Dewi Gaia, Alseenio menuruti keinginannya.
Dia tidur bersama Fara semalaman, tanpa melakukan kegiatan aneh-aneh, hanya berpelukan sampai fajar sadboi tiba.
Sarapan pagi mereka lakukan bersama seperti biasa, Alseenio masih mengingat tentang ucapan Dewi Gaia, yaitu dia harus cepat menikahi Fara.
__ADS_1
"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan sekarang? Makanan kamu akan dingin jika didiamkan tidak dimakan."