SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 117: Rencana Meminta Maaf


__ADS_3

Fara tertegun sesaat, kemudian berkata, “Ke pelaminan? Mengapa kita memakai baju ini? Sama sekali tidak cocok untuk ke pelaminan, Sayang.“


“Tidak sekarang kita ke pelaminannya, kita pasti pergi ke pelaminan apabila kamu sudah siap jadi ibu. Hari ini aku ingin mengajak kamu pergi ke rumah temanku yang ada di Bandung,” ucap Alseenio tersenyum sambil mengusap jari-jari Fara yang sedang memeluk punggungnya supaya tidak jauh dari sepeda motor, padahal tempat duduk yang diduduki Fara sangat aman karena bentuknya seperti kursi bersandar.


“Aku sudah siap jadi ibu dari anak-anak kita, Sayang. Tunggu apa lagi?“


Nada suara Fara sangat bersemangat seakan-akan ia tidak sabar untuk mengikat perjanjian dengan Alseenio. Bahkan ia bilang sudah siap jadi seorang ibu.


Dengan senyum di wajah, Alseenio berkata lembut sambil melihat jalan, “Menjadi orang tua tidak semudah apa yang kamu bayangkan, kita berdua harus memiliki ilmu mendidik dan merawat anak. Aku tahu kamu tidak sabar untuk begitu-begitu, tahan sebentar, kita belajar sama-sama cara mengasuh anak yang baik dan benar.“


“Enak saja! Kamu yang tak sabar ingin begitu-begitu, bukan aku, huh!“ dengus Fara yang tak senang dengan satu kalimat yang diucapkan Alseenio.


“Bukannya kamu juga ingin begitu-begitu?“ Alseenio tersenyum dan mulai menggoda Fara.


“Umm … mau, tetapi aku masih sabar, tidak sepertimu yang tak sabaran, kamu sering kali menyentuh bagian tubuhku yang sebenarnya tidak boleh di sentuh ketika ciuman, huft!“ Fara sedikit marah, ia melepaskan tangannya yang memeluk punggung Alseenio dan melipat tangannya sambil melihat keramaian di jalan.


Alseenio menggaruk-garuk kepalanya dan tersenyum kaku. “Aku kelepasan, Sayang.“


“Kelepasan tidak seperti itu, kamu sering melakukannya, ada-ada saja.“


“Anu, itu ….“ Alseenio bingung mencari alasan tentang perbuatannya yang kerap dilakukan ketika adu bibir dengan Fara. Segera Alseenio mengetahui kalimat untuk membalikkan keadaannya yang terpojok. “Tampaknya saat itu kamu juga menikmatinya?“


“Eh, ummm ….“ Pipi mulus Fara makin merah merang dan kemudian ia mencubit pinggang Alseenio dengan pelan. “Sudah jangan bahas itu!“


“Oke, tetapi apa yang aku bicarakan tentang menjadi orang tua itu benar, kan?“


“Benar, Sayang. Jadi, kita sepertinya harus ikut les mengasuh anak,” kata Fara setelah berpikir.


“Iya, sepertinya kita harus belajar tentang ilmu mengasuh anak, nanti aku akan cari gurunya.“ Alseenio juga berpikir sama, mereka harus mengikuti les.


Namun, di Indonesia tidak banyak yang membuka les atau guru mengasuh anak, ia akan mencarinya di internet.


Setelah itu, mereka berdua menikmati pemandangan yang ada di sisi jalan, perjalanan menuju Bandung menggunakan sepeda motor perasaannya sangat berbeda.


Lebih terasa bepergiannya ketimbang naik mobil, sebab langsung terkena angin di jalan.


“Sayang, apa Niara masih mengirim pesan dan telepon denganmu? Aku mengirim pesan kepadanya, tetapi tidak dibalas “ Tiba-tiba Fara teringat tentang Niara.


Alseenio menggelengkan kepalanya. “Masih, tetapi semenjak pertemuan di mall itu Niara jarang mengirim pesan dan membalas pesan, terlihat seperti orang yang sedang menjaga jarak, setiap aku buka media sosial, aku sering kali melihat akunnya aktif, sayangnya pesan dariku lama sekali dibalas, bahkan tidak dibalas sampai hari berikutnya.“


“Apakah dia marah padamu?“ Fara kembali merasa bersalah atas kejadian waktu itu.


“Tidak tahu, aku sudah meminta maaf kepadanya karena aku juga merasa bersalah, tetapi dia bilang aku tidak memiliki kesalahan apa pun, juga dia berkata bahwa kamu tidak punya salah kepadanya, Sayang.“

__ADS_1


Sejak peristiwa bertemu Niara di mall seminggu yang lalu, Niara berubah 180 derajat, pesannya di akun media sosial tidak langsung dijawab, sangat lama, tak seperti sebelumnya yang selalu direspons cepat.


Selain itu juga, terasa sekali Niara menjadi dingin dan cuek, dari ketikannya bisa dilihat perbedaan Niara kepada Alseenio.


Tidak ada yang bisa dilakukan Alseenio, ia ingin mengajak bertemu untuk meminta maaf secara tatap muka itu ditolak oleh Niara, Niara terus menekankan bahwa Alseenio tidak punya salah kepada dirinya sedikit pun, menyuruhnya berhenti untuk meminta maaf.


Dengan demikian, Alseenio tidak mengirim pesan lagi ke Niara, takut membuat Niara terganggu.


“Tidak perlu risau, dia baik-baik saja.“ Alseenio mencoba meringankan perasaan bersalah pada Fara. “Di media sosial dia menunjukkan bahwa dirinya tidak mengapa, tak ada yang harus dipikirkan.“


“Namun, mengapa dia tidak mengirim balasan pesan kepadaku?“ Fara merasa sedih, ia seperti sedang dihindari dan dimusuhi oleh Niara.


Beberapa hari setelah kejadian tersebut, Alseenio memberi nomor telepon Niara ke Fara, lantaran Fara selalu kepikiran mengenai Niara, Fara terus-menerus menyalahkan dirinya, dan ia memutuskan untuk meminta maaf melalui telepon dan pesan.


Akan tetapi, pesan permintaan maaf Fara tidak dibalas oleh Niara, dibaca pun tidak. Sampai sekarang rasa bersalah itu masih bersemayam di hatinya.


“Mungkin pesanmu tertimpa oleh pesan yang lain di ponselnya,” Alseenio berkata sambil mengelus paha Fara, mengambil kesempatan dalam segala keadaan.


Merasakan tangan Alseenio yang mengusap paha kirinya, Fara dengan cepat mencubit tangan nakal Alseenio.


Dipikir-pikir lagi, kemungkinan bisa seperti apa yang Alseenio bilang, pesannya tertimpa oleh pesan dari teman Niara atau yang lain.


“Tunggu, katamu Niara itu tinggal di Bandung, kan? Bagaimana kalau kita ke sana sehabis dari rumah temanmu?“


“Iya, aku mau meminta maaf secara langsung!“ Fara mengangguk tegas, niatnya sudah bulat untuk meminta maaf kepada Niara.


“Baiklah,” jawab Alseenio yang menuruti keinginan Fara, “aku juga ingin meminta maaf.“


Menurut Alseenio sendiri, ia tampaknya telah membuat kesalahan kepada Niara, ia salah karena terlalu dekat dengan Niara sampai-sampai seperti orang yang memberi harapan, padahal Alseenio sendiri sudah bilang bahwa mereka berdua adalah teman.


Alseenio rasa Niara tidak menganggap yang sama dengannya, ia sadar akan hal ini.


Beberapa jam kemudian, Alseenio dan Fara tiba di rumah Bang Luffi dengan selamat tanpa ada yang terluka.


Kemampuan mengendalikan sepeda motor Alseenio tak perlu diragukan, pasti aman dan nyaman saat berboncengan dengan Alseenio.


Begitu mereka berdua masuk ke dalam rumah Bang Luffi dan memarkirkan sepeda motornya, Bang Luffi serta yang lain terkejut dengan kedatangan Fara.


Pasalnya, Alseenio tidak memberi tahu tentang dirinya akan ke sini bersama wanita.


Di sana mereka berkenalan, Kak Diya dan Fara seketika menjadi akrab karena prianya juga saling dekat.


Fara tidak membuka masker, ia masih memakai jaket yang berukuran besar terlihat sangat besar, bagai orang yang gemuk, sampai akhirnya Kak Diya mengajak Fara untuk ke kamarnya dan membantu Fara meletakkan barang-barang, di sana Fara membuka masker dan jaketnya, seluruh penampilan Fara ditampilkan di depan Kak Diya.

__ADS_1


Melihat kecantikan Fara, Kak Diya langsung terpesona dan terdiam selama beberapa detik. Fara terlalu cantik sehingga Kak Diya tidak merasa cemburu karena Fara lebih cantik darinya, kecantikan Fara di luar level normal. Kak Diya merasa akan jatuh cinta dalam pandangan pertama kepada Fara jika dirinya seorang pria.


Tak hanya kecantikan yang kalah, Kak Diya dikalahkan dalam segi aset, aset Fara sangat besar, itu beberapa kali lebih besar dari yang dipunya Kak Diya.


Melihat Fara di depannya, Kak Diya berpikir, “Wanita yang unggul dalam segalanya, pantas saja Alseenio mau dengan Fara.“


Setelah barang-barang Fara untuk menginap dalam semalam di rumah Bang Luffi semuanya sudah diletakkan, keduanya pergi ke ruang tamu.


Fara masih memakai masker, bajunya juga sudah berganti, tetap mengenakan baju berukuran lebih besar dari ukuran tubuhnya.


Sudah terlalu sering berpakaian seperti ini, Fara lambat-laun terbiasa.


Beberapa orang dari tim Bang Luffi menjaga jarak dengan Fara, sebab mereka menghargai Alseenio sebagai teman, tidak boleh dekat-dekat dengan wanita orang lain, terlebih orang yang pernah membantu.


Di satu sisi, mereka penasaran dengan wajah Fara, tak terkecuali Bang Luffi, tetapi mereka tidak bisa bilang langsung kepada Fara.


Selama di rumah Bang Luffi, Alseenio dan yang lainnya membahas tentang liburan yang akan mereka lakukan.


Bang Luffi senang ketika Bang Windi ikut bersama mereka liburan ke Jepang, Bang Birand Pros juga ingin ikut.


Sementara itu, Tim Bang Luffi sendiri hanya 1 orang yang ikut, itu pun kameraman Bang Luffi.


Alseenio mengusulkan untuk mereka berangkat menggunakan jet pribadi miliknya yang kebetulan belum pernah Alseenio lihat sejak didapatkan.


Begitu mendengar ini, Bang Luffi menelan ludah dan menggelengkan kepalanya, tim dan istri Bang Luffi sudah tidak heran lagi dengan kekayaan Alseenio.


Di siang hari, mereka diam di rumah dan mengobrol bersama sambil memakan camilan.


Pada saat itu, wajah Fara terungkap, semua pria yang ada di dalam rumah Bang Luffi terkesima dan terpana hingga mereka membeku untuk beberapa saat begitu mereka melihat wajah cantik Fara yang melebihi kecantikan tokoh anime.


Namun, mereka perlahan bisa mengendalikan matanya untuk tidak menatap wajah Fara, membiasakan diri dengan kecantikan tiada tanding Fara.


Di sore hari, pria-pria asyik bermain gim, sedangkan Kak Diya dan Fara sibuk mempelajari masakan khas Bandung.


Tepat ketika Alseenio sedang menonton pertandingan bermain gim antara Bang Luffi dan Fandick, suara notifikasi pesan di ponselnya berbunyi dan sebuah pesan berhasil masuk.


Dengan rasa penasaran, Alseenio membuka ponsel dan melihat pesannya.


“Pesan dari Niara?“ Alseenio melihat pesan yang masuk tersebut berasal dari nomor Niara.


Tanpa berlama lagi, ia segera membukan isi pesan dan membacanya.


Pupil mata Alseenio yang bergerak untuk membaca pesan itu perlahan membesar, wajah Alseenio berubah secara lambat dan tampak tercengang.

__ADS_1


Pesannya sangat tidak disangka-sangka oleh Alseenio. “Apa pesan ini sungguhan?!“


__ADS_2