
Di jalan raya, sebuah iring-iringan kendaraan bermotor dengan kapasitas besar melaju di kecepatan lebih dari 60 kilometer per jam.
Alseenio dan Tim Semfack sedang berjalan menuju restoran Kaepsi terdekat.
Abang MV dan kawan-kawan termasuk Alseenio belum sempat makan siang, dan Alseenio ingin mentraktir mereka makan atas perayaan keberhasilannya mencapai 100 ribu pelanggan dan satu juta penonton siaran langsung Instagrem.
Informasi mengenai channel-nya yang sudah menembus 100 ribu orang pelanggan diberitahukan oleh Lajar temannya Abang MV yang ikut diboncengkan oleh temannya, Lajar menjadi kameraman Abang MV untuk hari ini.
Sesungguhnya, Alseenio tidak menyangka mencapai angka 100 ribu pelanggan hanya dalam tiga hari saja. Peningkatan ini sangat tinggi dan drastis, pencapaian yang sulit dicapai.
Perasaannya sangat senang setelah mengetahui bahwa channel miliknya telah mencapai sebegitu banyaknya, hal ini membuat Alseenio secara langsung mendapatkan hadiah dari Sistem lebih baik lagi.
Dihitung dari tanggal munculnya misi menjadi Motovlogger, tinggal tersisa 4 hari lagi kesempatan Alseenio untuk menyelesaikan misi dengan maksimal.
Tanggal 15 pagi hari misi sudah dianggap selesai oleh Sistemnya.
Dengan kata lain, waktu Alseenio sangat terbatas dan ia harus menggunakan waktu ini dengan baik.
Alseenio menentukan tujuan kecil dari sekarang, yaitu paling tidak ia mendapatkan 500 ribu orang pelanggan channel Yitub dalam misi ini.
[Ding! Misi Sampingan Telah Selesai!]
[Selamat Kepada Tuan Rumah Anda Telah Mendapatkan Kemampuan Mengetik 10 Jari Level Tinggi!]
[Selamat Kepada Tuan Rumah Anda Telah Mendapatkan Panjang Joni +4 cm!]
Tepat ketika Alseenio sampai di depan tempat parkir, ia mendengar suara Sistem di kepalanya.
[Ding! Apakah Anda ingin mengintegrasikan semua hadiah?]
[Iya/Iya]
Alseenio yang masih duduk di atas jok sepeda motor dan belum turun dari sepeda motornya itu tampak bingung.
“Kamu memaksaku untuk mengintegrasikan kemampuan di tengah banyak orang, Sistem?“ tanya Alseenio dalam hati.
Di tempat parkir banyak sekali orang yang datang dan lalu lalang, entah hanya untuk mengambil sepeda motor atau pun mencuri.
Pupil mata Alseenio bergerak ke sekelilingnya, ia melihat Abang MV dan Tim Semfack sedang memarkirkan sepeda motornya masing-masing dan orang lain pun tidak memerhatikan dirinya.
Mereka terlihat belum ingin menghampirinya, biasanya Abang MV mendekati Alseenio untuk sekadar mengobrol, ini kesempatan Alseenio untuk mengintegrasikan semua kemampuan yang telah ia dapatkan.
“Iya, terima semua kemampuan yang sebelumnya dan sekarang!“ ucap Alseenio dengan tegas dalam hatinya.
[Ding! Mulai proses ….]
Dalam sekejap sebuah perubahan terjadi di sekujur tubuh Alseenio.
Sejumlah energi yang terasa hangat dan sedikit rasa sakit masuk ke dalam tubuhnya dan menjalar ke setiap inci pada tubuhnya, bersamaan dengan itu sebuah pengetahuan ilmu bela diri Taekwondo dimasukkan ke dalam otaknya dan Alseenio dapat memahami itu semua.
Tubuh Alseenio meringkuk pada tangki bensin sepeda motornya, beberapa kali Alseenio tidak dapat menahan getaran pada tubuhnya, lama kelamaan ia bisa menahan reaksi alami tubuhnya dan diam tak bergerak sampai proses selesai.
Kurang dari tiga menit proses integrasi berakhir dengan baik, dan semua kemampuan menyatu pada tubuh dan otak Alseenio tanpa kegagalan atau cacat sedikitpun.
Alseenio yang menopang tubuh atasnya pada tangki sepeda motor itu akhirnya mulai bergerak, tangannya yang melipat di atas tangki terlepas dan perlahan mendorong tubuh atasnya untuk bangkit. Alseenio kini duduk dengan normal di atas sepeda motornya.
“Hah … hah ….“
Suara hembusan napas yang keluar dari mulut Alseenio terdengar oleh telinganya sendiri. Keringat yang muncul di dahinya secara otomatis menghilang karena ada busa di dalam helm yang bisa menyerapnya, masker helmnya pun berkontribusi dalam penyerapan keringat harum Alseenio.
Proses integrasi ini sedikit menyakitkan Alseenio rasakan apabila dibandingkan proses yang sebelumnya. Meskipun demikian, rasa sakit ini memang sulit ditahan untuk orang normal.
Rasa sakitnya seperti ditusuk-tusuk oleh ratusan jarum di seluruh bagian anggota tubuhnya dan itu berlangsung selama beberapa menit.
Alseenio yakin orang dengan tubuh yang normal atau rata-rata manusia tidak akan kuat menanggung rasa sakit ini.
“Apakah aku sudah menjadi seorang master bela diri Taekwondo?“ Alseenio bertanya kepada diri sendiri.
Ilmu pengetahuan yang masuk ke dalam otaknya sebagian besarnya mengenai jurus Taekwondo, seperti Taeguk 1 sampai 8, Koryo, Geumgang, dan Taebak. Jurus itu semua sudah Alseenio pahami dan kuasai dengan baik.
[Ding! Sekarang Anda menguasai seni bela diri Taekwondo tingkat tinggi yang setara dengan tingkat sabuk hitam strip 3 atau dikenal dengan Sam DAN (DAN III).]
[Sabuk Taekwondo telah diletakkan di Apartemen!]
Mendengar informasi dari Sistem, Alseenio mengangguk puas dengan kemampuan satu ini.
Rencananya untuk belajar seni bela diri dibatalkan karena sekarang dia telah menjadi seorang master pemula Taekwondo.
Saat ini Alseenio tidak takut lagi dengan orang-orang, terlebih dengan orang yang bertato dan berbadan besar yang kerap kali mengintimidasi orang kecil yang lemah tak berdaya.
Selain itu, Alseenio dapat merasakan bahwa tubuhnya menjadi lebih kuat dari sebelumnya, seluruh badannya terasa fleksibel terlebih di bagian kedua kakinya dan jari-jari tangannya.
Alseenio rasa ia sendiri bisa melakukan split dengan mudah dan dapat menendang dengan sangat tinggi.
Namun, jari-jarinya ikut menjadi fleksibel seakan-akan ia sering berolahraga lima jari. Hal ini membuat Alseenio bingung, apakah kemampuan yang satunya tersebut berkaitan dengan kegiatan mengocok sesuatu.
[Ding! Diharap Tuan Rumah tidak berpikiran negatif dan mesum. Kemampuan Mengetik 10 Jari merupakan kemampuan yang memudahkan Anda dalam mengetik pada papan ketik yang ada pada laptop atau komputer.]
Suara Sistem datang dan segera memberi tahu informasi kemampuan yang lainnya.
“Hehe …” Alseenio tersenyum canggung dan menggaruk kepalanya. “Aku mengerti, Sistem.“
“Bang!“
Suara Abang MV terdengar di belakangnya, sontak Alseenio menoleh ke belakang seraya turun dari sepeda motornya.
“Kenapa diam di situ? Ayo kita masuk ke dalam.“ Abang MV berhenti berjalan dan berdiri di dekat sepeda motor Alseenio yang telah terparkir.
Alseenio tidak langsung menjawab ucapan Abang MV, ia melepaskan helm dan masker terlebih dahulu, tidak lupa untuk mematikan kamera dan mencopot dari moncong helm.
__ADS_1
“Tidak, hanya ingin duduk sebentar untuk istirahat,” kata Alseenio sambil tersenyum. “Ayo, pergi ke dalam.“
Setelah meletakkan helm di atas jok, Alseenio melangkah untuk pergi ke dalam restoran Kaepsi.
“Tunggu, Bang Nio,” ucap Abang MV.
Kaki Alseenio berhenti pada langkah kedua. “Ada apa?“
“Ini helmnya tidak apa-apa ditaruh di atas sepeda motor?“ tanya Abang MV yang khawatir.
“Kita akan makan di area luar, helm akan aman karena kita pantau.“
“Okelah kalau seperti itu.“
Abang MV merasa lega setelah Alseenio mengucapkan kalimat tersebut, ia tidak perlu khawatir dengan helmnya.
“Santai saja, Bang Asep MV. Kaepsi jarang ada kasus pencurian, tetapi banyak kasus pembunuhan,” celetuk Bang Amir yang mendekati keduanya.
Di belakang Bang Amir ada Tim Semfack yang ikut berkumpul di Alseenio.
“Pembunuhan?“ Abang MV dan yang lainnya berekspresi terkejut dan terheran.
Alseenio pun terkejut dan ingin tahu kasus pembunuhan apa yang sering terjadi.
“Ya, kasus pembunuhan,” ujar Bang Amir dengan serius, “pembunuhan ribuan ayam.“
“Dikira kasus pembunuhan semut.“
“Wah, minta digoreng ini mah.“
“Acumalaka!“
“Oh, begini rasanya ketika serius malah dibuat candaan. Sakit juga.“
“Habis ini ada kasus orang hilang kayanya.“
Tim Semfack yang serius mendengar jawaban Bang Amir seketika menjadi kecewa dan juga terhibur.
Mereka kira kasus pembunuhan brutal, ternyata itu kasus pembunuhan ayam Kaepsi.
“Benar, kan? Ayam itu harus dibunuh sebelum dijadikan makanan, hahaha,“ tutur Bang Amir dengan tertawa.
“Terserah Bang Amir saja, kita mau makan.“
Tim Semfack bersama-sama berjalan menuju pintu masuk restoran dan meninggalkan Bang Amir di belakang.
Alseenio menggelengkan kepalanya dan ikut berjalan.
“Hei, tunggu!“ Bang Amir berlari mengikuti mereka sambil berteriak.
Di restoran Alseenio memberi tahu mereka untuk pesan apa yang mereka mau di menu Kaepsi ini. Sebagian Tim Semfack mengajukan pertanyaan yang sama, yakni apakah boleh memesan untuk dibungkus dan dibawa ke rumah, Alseenio memperbolehkan mereka, bahkan menganjurkan mereka untuk memesan yang banyak.
Alseenio dari kecil memang tidak suka dengan rokok, entah kenapa dirinya merasa tidak nyaman ketika hidungnya mencium asap rokok.
“Bang, tahu enggak?“ Abang MV yang duduk satu meja dengan Alseenio tiba-tiba bertanya.
“Tahu apa?“ jawab Alseenio sambil memakan kentang goreng.
“Tahu Yituber yang terkenal itu enggak? Namanya Windu Batuakik,” kata Abang MV.
Alseenio mengalihkan pandangannya dari makanannya ke Abang MV dan alisnya terangkat. “Windi maksudnya? Aku tahu, ada apa?“
“Iya, rumahnya dekat daerah sini katanya, aku juga kurang tahu, ini cuma informasi saja, soalnya Bang Nio punya hubungan dengan Candy yang juga temannya si Windi.“
Setelah mengatakan kalimat itu Abang MV mengigit burger terakhirnya.
“Oh, begitu. Aku kira kenapa. Terima kasih informasinya, min.“
Alseenio melanjutkan lagi kegiatan makannya, hanya tinggal satu potong ayam yang tersisa dan ia siap untuk memakannya.
Begitu tangan Alseenio mengambil potongan ayam gireng krispi yang tampak lezat itu dan mengarahkannya ke depan mulutnya, suara prompt Sistem berbunyi dan ekspresi Alseenio berubah.
[Ding! Misi Terdeteksi!]
Misi : Beri makanan untuk Windi dan teman-teman, berteman baik dengan mereka.
Syarat : Harga total makanan (Rp 1 Juta), Tim Jaya Exford.
Waktu : Sekarang - 9 Malam.
Hadiah : 1x Kotak Misteri.
Hukuman : Pulang dengan berjongkok secara paksa.
[Ding! Misi otomatis diterima!]
Ayam goreng di tangan Alseenio terlepas begitu saja dan jatuh di atas meja.
Bam!
Raut wajah Alseenio tercengang sambil menatap ke arah ayam.
“Maaf-maaf, tidak sengaja terlepas,” Alseenio meminta maaf kepada Abang MV dan temannya yang semeja dengannya.
“Hati-hati, Bang. Sayang kalau jatuh ke lantai, kalau tidak mau mending kasih aku saja,” ujar Lajar yang selesai memakan makanannya.
Tanpa banyak omong, Alseenio langsung mendorong ayam gorengnya ke depan Lajar. “Ambil saja, aku sudah kenyang.“
“Terima kasih, Bang!“
__ADS_1
Dengan cekatan Lajar mengambil ayam goreng milik Alseenio dan memakannya dengan lahap.
Alseenio segera membuka ponselnya dan mengirim pesan kepada Candy melalui Instagrem.
Pesannya menanyakan alamat rumah Bang Windi dan alamat rumah Candy, tanpa basa-basi Alseenio bilang bahwa dia ingin ke sana sebentar lagi.
Tidak lama pesan itu terkirim, Candy membalas pesan Alseenio dan mengirimkan alamat Bang Windi, kebetulan Candy ada di sana.
Setelah itu, Alseenio menutup ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam kantong celananya.
Alseenio menunggu semua Tim Semfack makan dan membayar semua tagihannya.
Untuk misi ini, Alseenio memesan paket 9 potong ayam jumlah tiga pesanan dan beberapa burger, totalnya berkisar 600.000 Rupiah.
Ditambah dengan total tagihan makan Tim Semfack yang hampir menyentuh tiga juta rupiah, masing-masing dari mereka memesan beberapa makanan untuk dibungkus.
“Terima kasih, Bang.“
“Terima kasih atas makanannya, Bang!“
“Keluarga pasti senang ini kalau makan enak seperti ini.“
Tim Semfack mengucapkan terima kasih kepada Alseenio sebelum mereka pamit pulang ke rumahnya masing-masing.
“Bang Nio memang sultan, baik banget.“
“Wajarlah, Bang Nio juga tinggalnya di apartemen mewah, punya satu mobil sport dan tiga motor sport.“
“Intinya kita tidak boleh memanfaatkan Bang Nio, kalau bisa kita bantu kalau lagi kesusahan. Sesama Motovlogger harus saling membantu.“
“Benar-benar.“
Mereka membicarakan Alseenio ketika sedang bersiap untuk pulang.
Tanggapan Alseenio cukuo dengan tersenyum, dirinya ikut merasa senang apabila orang lain juga senang.
Mereka satu per satu berpamitan dengan Alseenio dan pergi meninggalkan parkiran restoran Kaepsi.
Melihat mereka pergi, Alseenio hanya tinggal menunggu Gokar yang datang untuk mengangkut makanan menuju rumah Windi.
Alseenio telah memesan beberapa pizza di restoran sebelah yang sangat dekat dengan Kaepsi.
Semua makanan yang dibungkus ditaruh di atas meja yang ada di area luar restoran. Petugas dan karyawan Kaepsi mengizinkan dirinya untuk menyimpan makanan ini sampai Gokar sampai ke sini.
Butuh belasan menit untuk Gokar datang ke tempat Alseenio makan.
Segera Alseenio, supir Gokar, dan pekerja Kaepsi memasukkan makanan ke dalam mobil.
Kurang dari 5 menit berselang, semua makanan berhasil diletakkan di dalam mobil.
Setelah semuanya selesai, selembar uang kertas berwarna merah ia berikan kepada pekerja Kaepsi yang membantunya, lalu Alseenio dan mobil Gokar berangkat menuju lokasi rumah Windi.
Ting-ting!
“Permisi!“ Alseenio mengetuk pagar besi sebuah rumah sambil memanggil pemilik rumah.
Ceklek!
Pintu yang tertutup tersebut mengeluarkan bunyi dan pintu itu ditarik.
Seorang pria yang cukup tinggi dan memiliki pipi yang besar terlihat setelah pintu rumah tersebut dibuka.
“Eh, Bang Nio!“
“Halo, Bang Windi.“
Bang Windi membuka pagar rumah dan berjabat tangan dengan Alseenio.
Tinggi Alseenio dan Bang Windi berbeda, masih tinggi Alseenio beberapa sentimeter.
Di belakang Bang Windi keluar dua sosok pria dan dua wanita.
“Wih! Bang Nio!“ Candy segera menghampiri Alseenio dan berjabat tangan penuh semangat.
Dua wanita dan satu pria yang lainnya juga berjabat tangan dengan Alseenio.
Satu pria tersebut bernama Mac dan dua wanita itu bernama Geshka dan Agnis pacar Bang Windi.
“Ini ada makanan yang aku bawa, boleh ditempatkan ke dalam rumah Bang Windi?“ tanya Alseenio.
“Tentu boleh! Ambil saja.“
“Makanannya ada di dalam mobil.“
Bang Windi menunjuk ke mobil Gokar. “Mobil ini?“
“Iya, butuh bantuan yang lain untuk mengambilnya karena terlalu banyak.“ Alseenio mengangguk.
“Oke. Ayo, Candy, Mac, kita ambil makanannya,” Bang Windi mengajak dua temannya.
“Ayo!“
Mereka berempat dengan tambahan dua wanita dan satu supir Gokar memindahkan makanan ke dalam rumah Windi.
Lebih dari 10 menit mereka habiskan hanya untuk memindahkan barang.
Setelah semuanya selesai, Alseenio sudah membayar Gokar dan memberi tip lebih, mereka masuk ke dalam rumah.
“Ini enggak salah, kan?"
__ADS_1