SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 67: Kuliah?


__ADS_3

“Pernah?“ Fandick menatap Alseenio tidak sabaran ingin mendengar jawabannya.


Alseenio menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, jawabannya adalah sama sekali belum pernah.


Tidak mungkin dirinya memohon dan membayangkan menjadi tampan apabila dirinya pernah berpacaran. Dalam kehidupan yang ada di Bumi dan di dunia paralel ini, ia belum pernah melaksanakan sebuah hubungan dengan wanita.


Ketika Tim Jaya Exford dan Tim Bang Luffi melihat respons Alseenio, mereka memiliki reaksi yang yang sama. Semuanya tidak percaya Alseenio tak pernah memiliki hubungan dengan seorang wanita.


“Tidak pernah?!“ Fandick berseru terkejut setelah melihat jawaban Alseenio. “Sungguhan?“


“Ya, benar. Aku belum pernah menjalin hubungan dengan satu wanita pun.“ Alseenio mengangguk tanpa adanya keraguan.


Mendengar ini, Gheska menyenggol Lafhel dengan sikutnya, ia memberi kode kepada Lafhel bahwa masih ada kesempatan untuk mendapatkan Alseenio.


Lafhel pun peka dengan gerakan Gheska, kepalanya tertunduk malu sambil mencuri pandangan ke arah Alseenio.


“Kalian dengar itu? Bang Nio yang tampan maksimal seperti ini saja tidak punya pacar, kalian yang berwajah biasa saja sudah berlagak layaknya punya harem. Selain itu, kalian yang bertampang mirip dengan pantat panci suka merusak anak orang sembarangan, suka main-main dengan hati wanita ….“


Bang Luffi memberi ceramah kepada penonton bayangannya, ia terus menyindir penonton dan berbicara ke depan kamera.


Tim Jaya Exford dan Alseenio tertawa kecil ketika mendengar celotehan sindiran yang keluar dari mulut Bang Luffi.


“Oh, iya. Kami semua diberi hadiah oleh Bang Nio. Nanti kita akan buka hadiah khusus yang dikasih Bang Nio kepadaku termasuk milik Diya di video terpisah, video unboxing.“ Bang Luffi memiliki rencana untuk membuka laptop serta ponsel yang dihadiahkan kepadanya dan istrinya dari Alseenio.


Mumpung ada peluang untuk cuan, ini tak boleh disia-siakan.


Alseenio adalah sumber cuan, dia sekarang tengah panas di internet, banyak sekali media Indonesia yang memberitakan dirinya, bahkan di stasiun televisi yang memberitakan masalah mengenai selebriti besar mulai mengambil keuntungan dari terkenalnya Alseenio.


Acara televisi tersebut menanyakan kepada selebriti lain tentang Alseenio, padahal para selebriti tanah air tidak tahu-menahu tentang Alseenio, mereka belum pernah melihat dan bertemu Alseenio secara langsung maupun virtual.


“Asli, aku sangat penasaran dengan sumber uangmu, Bang Nio. Seperti yang kita tahu, kamu ke sini saja membawa Ferrari 812 Superfast, harganya jangan disebutkan, kita sudah pasti tahu mobil Ferrari itu mahal. Jadi, apakah kamu berbisnis? Atau?“ Fandick bertanya kepada Alseenio dengan wajah yang sangat ingin tahu.


Mereka semua duduk di sofa yang panjang membentuk huruf “U” kotak yang membuat nyaman ketika mengobrol satu sama lain.


Posisi Alseenio ada di bagian kanan sofa, duduk bersama Candy dan Bang Windi, sedangkan Bang Luffi ada depannya, yaitu di bagian kiri sofa, jadi mereka saling berhadap-hadapan, bagian tengah diisi oleh para wanita.


Semuanya mengalihkan pandangan mereka ke Alseenio, mereka sangat penasaran, tetapi Tim Jaya Exford sudah tahu sebagian dari sumber uang yang dihasilkan oleh Alseenio.


“Saham, aku memiliki saham di berbagai perusahaan,” jawab Alseenio dengan tenang sambil menatap wajah mereka yang menghadap ke arah dirinya.


Setelah mendengar ini, mereka menatap Alseenio dengan mimik wajah yang terpana, matanya sedikit melotot dan tubuh mereka agak tersentak.


“Berbagai? Itu artinya banyak, kan?“ Kali ini Bang Luffi yang bertanya kepada Alseenio. Ia ikut terinfeksi rasa penasaran Fandick.


Mulut Alseenio melengkung dan ia mengangguk. “Intinya lebih dari satu.“


“Salah satunya perusahaan apa?“ Fandick terlihat agresif ia dengan cepat melontarkan pertanyaan ke Alseenio.


“Perusahaan ojek online, Bang Fandick. Bang Nio sempat memberi tahu sumber uang yang diberikan ke Candy agar Candy tidak takut dan bahwa uangnya bukan hasil dari tindakan yang ilegal,” Rizal membantu menjawab pertanyaan yang dilempar ke Alseenio.


Candy pun menambahkan, “Benar, aplikasi ojek daring yang sering kita pakai, bahkan tadi kita pakai untuk membeli makanan. Bang Nio punya bagian persen saham yang besar di sana.“


Bang Luffi dan yang lainnya menatap Alseenio dengan sorot mata yang kagum dan takjub.


Mereka benar-benar menganggap Alseenio sebagai orang yang sukses dan luar biasa.


“Oh, ya. Aku tidak tahu umur Bang Nio. Berapa umurnya sekarang?“


Bang Luffi atau bahkan Bang Windi dan yang lainnya tidak tahu sama sekali tentang umur Alseenio, pasalnya mereka tidak begitu memperhatikan umur satu sama lain.


“20 tahun, bulan Agustus aku ulang tahun.“


“20 tahun? Sukses di umur 20 tahun?!“


Fandick pusing memikirkan betapa suksesnya Alseenio, dirinya sendiri yang lebih tua beberapa tahun dari Alseenio masih begini saja, belum sukses sama sekali.


Melihat Fandick yang menggelengkan kepala sambil memijat dahi, Bang Luffi tersenyum menahan tawa. “Kenapa, Fandick? Lagi migrain?“


“Tiba-tiba pusing, Bang,” Fandick menjawab


“Kenapa memangnya?“

__ADS_1


“Pusing memikirkan nasib, begini banget nasibku, Bang.“


“Pftt—”


“Hahaha!“


Semuanya yang mendengar jawaban Fandick langsung tertawa. Jawaban Fandick sangat lucu, terlebih wajahnya yang sangat ekspresif, sangat menambah kesan mengocok usus.


“Jangan dipikirkan makanya, percuma.“ Bang Luffi menepuk pundak Fandick.


“Apa Bang Nio sekarang kuliah?“ Teman Bang Luffi yang satunya lagi yang bernama Lapi.


Alseenio merespons dengan gelengan kepala. “Tidak, aku tidak kuliah.“


“Hah?“ Lapi terkejut dengan jawaban Alseenio, ia kira Alseenio kuliah, sebab umurnya sudah memasuki masa kuliah.


“Untuk apa kuliah, Bro? Bang Nio sudah sukses,” kata Fandick kepada Lapi, “tidak kuliah juga Bang Nio akan terus punya uang, toh, Bang Nio adalah bosnya. Berbeda dengan kita yang adalah pekerja, pasti butuh namanya kuliah agar bisa masuk ke suatu perusahaan.“


“Benar itu. Zaman sekarang ambil ilmu sudah sangat mudah, ada Yitub dan platform belajar yang lain. Tidak perlu les privat kalau memang hanya ingin mengambil ilmunya, kecuali memang mengincar sertifikat, harus les dan kuliah,” tambah Bang Luffi.


Mendengar ini Tim Jaya Exford dan yang lainnya mengangguk. Ada benarnya juga perkataan Bang Luffi dan Fandick ini.


Kebanyakan orang kuliah hanya mengincar ijazah sarjana supaya mudah untuk mendapatkan pekerjaan dan lolos seleksi wawancara.


Namun, itu tidak semua, hanya sebagian saja. Buktinya masih banyak mahasiswa yang memakai joki untuk menyelesaikan tugas.


Semalaman ini mereka membuat konten sambil mengobrol santai layaknya berada di sebuah tongkrongan lingkaran pertemanan.


Alseenio dan Tim Jaya Exford tidur di rumah Bang Luffi, Alseenio tidur di atas sofa bersama dengan pemuda-pemuda tim Bang Luffi, sedangkan untuk wanitanya, mereka tidur di kamar.


Kamar di sini tidak begitu banyak, tetapi ada beberapa kamar yang kosong. Jadi, Alseenio tidur di sana, untungnya ada sofa.


Keesokan harinya, Alseenio bersama Tim Jaya Exford pergi ke sebuah perumahan Setra Duta Bandung. Bang Luffi serta istrinya dan juga Tim-nya ikut Alseenio ke sana.


“Bukannya Bang Nio ingin bertemu dengan teman wanita?“ tanya Candy yang duduk di dalam mobil Alseenio.


Candy masih ingat sekali perkataan Alseenio yang bilang ingin bertemu teman di Bandung.


“Bukankah itu perumahan elite? Tinggalnya di sana?“ Candy penasaran dengan teman Alseenio.


“Iya, dia tinggal di sana.“ Alseenio fokus menyetir, ia memegang setir dengan dua tangan, misi sudah selesai saat sampai di rumah Luffi.


“Sepertinya anak orang kaya, Bang Nio. Perumahan di sana sangat mahal, harganya miliaran rupiah.“


Kedua bahu Alseenio terangkat. “Mungkin, aku juga tidak tahu.


Setelah itu, Candy diam dan fokus melihat jalan raya yang agak ramai.


Setengah jam berlalu, akhirnya rombongan Alseenio sampai di depan gerbang sebuah rumah yang cukup besar dan megah.


Ketika ketiga mobil berhenti di depan gerbang, dua orang petugas sekuriti keluar dari dalam gerbang dan menghampiri mobil Alseenio.


Sekuriti ini tidak menegur rombongan Alseenio, tetapi sebaliknya, dua pria yang berbadan cukup besar ini memberi hormat kepada Alseenio pada saat ia keluar dari dalam mobil.


“Selamat datang dan selamat pagi, Tuan!“


“Ya, selamat pagi.“ Alseenio tersenyum melihat sikap keduanya yang sopan, kemudian ia menepuk pundak keduanya. “Bagaimana rumahnya? Apakah sudah dibersihkan?“


“Sudah, Tuan. Kepala asisten bersama asisten rumah tangga yang lain sudah selesai membersihkan seluruh ruangan rumah kemarin, sekarang mereka sudah menunggu Tuan di dalam,” kata Mukhlis Nana yang adalah nama dari salah satu sekuriti. Ia sangat hormat pada Alseenio.


Sejujurnya, Alseenio tidak begitu nyaman diperlakukan seperti ini. Oleh karena itu, ia segera menegur halus kedua sekuriti ini, “Jangan terlalu formal denganku, santai saja.“


“Baik, Tuan.“ Lagi-lagi mereka masih bersikap sangat sopan dengannya.


Alseenio menggelengkan kepalanya lalu menoleh ke arah Bang Windi dan yang lainnya.


“Ayo masuk!“ Alseenio mengajak mereka untuk ke dalam rumah yang besar dan mewah ini.


Begitu mendengar ini, mereka semua tersadar dari keterkejutannya terhadap apa yang terjadi.


Berikutnya, mereka memasukkan mobil ke dalam garasi yang luas di rumah ini.

__ADS_1


“Ini? Ini rumahmu, Bang Nio?!“ Fandick bertanya dengan wajah yang terpana, matanya membesar seraya melihat ke sekeliling halaman depan rumah besar ini. Sangat mewah.


Tanggapan Alseenio adalah anggukan kepala. Ini adalah rumahnya di Bandung.


Rumah ini merupakan salah satu hadiah yang didapatkan dari kotak misteri atas misi mengendarai mobil dengan satu tangan dan satu mata. Rumah elit di sebuah kawasan perumahan yang cukup nyaman. Memiliki 3 lantai, 1 basemen dan 2 tingkat lantai. Sistem melaporkan bahwa rumah ini seharga 50 miliar rupiah. Sangat mahal.


Basemen yang terdiri dari garasi yang luas, muat untuk belasan mobil dan ruang khusus para asisten rumah, di sana ada ruang kumpul asisten yang mirip dengan ruang keluarga, fasilitas seperti televisi, meja makan, bahkan alat masak khusus asisten ada di basemen in. Selain itu, terdapat tiga kamar asisten, dapur besar khusus asisten, juga dua toilet khusus. Semua ruangan asisten ada di dalam basemen ini.


Bang Luffi bahkan sampai ternganga saat melihat ruangan yang ada di dalam basemen rumah ini. Bahkan rumahnya tidak semewah ruangan khusus asisten di sini.


“Aku juga mau jadi pembantu di sini. Fasilitas yang ada sangat lengkap ketimbang kosanku,” Fandick berkata dengan wajah yang sedih.


Setelah mereka puas mengunjungi basemen, Alseenio mengajak mereka untuk memasuki rumah melalui pintu depan.


Di depan rumah ini terdapat lahan untup tempat parkir juga, lebih lagi di samping lahan ada taman yang luas.


“Selamat datang, Tuan!“


Tepat ketika Alseenio dan yang lainnya masuk ke dalam rumah, mereka disambut oleh lima orang wanita yang cukup berumur. Lima wanita ini adalah asisten rumah tangga di sini.


Dengan luas tanah 2500 m² dan luas bangunan 1900 m² jika tidak ada asisten, siapa yang ingin membersihkan dan merawatnya? Pasti dibutuhkan asisten rumah tangga untuk memelihara kebersihan rumah, bukan satu orang, tetapi lebih dari tiga orang.


Terdapat ruang tamu bersama dengan meja makan dan sofa tamu di balik pintu depan, ruangan ini cukup luas untuk dikunjungi banyak tamu. Di atas meja makan sudah disiapkan berbagai makanan untuk Alseenio dan lainnya.


“Halo, semuanya.“ Alseenio bersalaman dengan kelima asisten ini, ia merasa terbantu dengan adanya mereka, kebetulan di rumah Bang Luffi mereka hanya makan sedikit karena terburu-buru pergi ke sini.


“Bagaimana? Apa semuanya aman?“


“Semuanya sudah kami bersihkan, Tuan Nio. Anda bisa memeriksanya,” jawab Kepala pelayan dengan sikap yang sopan dan ramah. Tubuhnya sedikit membungkuk hormat ketika berbicara.


Alseenio menatap mereka berlima, dan mengangguk puas. “Ini kalian yang masak?“


“Ya, kami siapkan untuk Anda sebagai ucapan selamat datang.“ Kepala pelayan mengangguk.


“Terima kasih sudah menyiapkan makanan ini. Kalian sudah makan? Kalau belum, kamu boleh membuat makanan untuk kalian sendiri dari bahan makanan yang ada, kalau kurang, belilah ke supermarket, ini uangnya.“ Alseenio menyerahkan 50 lembar uang berwarna merah ke tangan kepala pelayan yang terlihat lebih tua, tetapi berkarisma.


“Anu, bahan makanan di sini masih banyak, Tuan,” ucap Kepala pelayan dengan grogi, tangannya agak kaku ketika memegang uang ini.


“Simpan saja untuk kalian semua, anggap saja itu hadiah karena kita bertemu dan hadiah telah membersihkan rumah ini. Tenang saja, ini berbeda dengan gaji. Gaji akan dinaikkan 30%.“ Alseenio tersenyum kepada kelima wanita ini.


Mendengar ini, kelima asisten rumah ini tersenyum lebar, dan mereka berterima kasih kepada Alseenio. Beberapa kali mereka membungkuk untuk menyatakan terima kasihnya.


Setelah itu mereka pergi dari ruang tamu untuk memberikan ruang untuk para tamu Alseenio.


Dari awal, Bang Windi dan teman-temannya menyaksikan Alseenio yang berinteraksi dengan pembantu di sini. Mereka diam-diam memuji Alseenio karena sikapnya yang sangat dermawan. Semoga saja Alseenio seperti ini terus ke depannya.


Para wanita, terutama Lafhel, mereka memandang Alseenio dengan mata yang memancarkan cahaya hijau, Alseenio benar-benar Husband Material. Tampan, kaya, baik, semuanya sangat cocok untuk dijadikan seorang suami. Wanita mana yang tahan dengan pesona Alseenio, terlebih ketika tahu kekayaan Alseenio


“Kenapa diam? Ayo kita makan semuanya! Mumpung ada makanan,” ajak Alseenio kepada mereka semua yang diam berdiri di depan pintu.


Setelah mengatakan itu, mereka semua tersadar dan langsung duduk di kursi yang ada.


Mereka mengambil makanan dari atas meja dan duduk di tempat yang mereka mau.


“Tuan, kata Pak Mukhlis ada seorang wanita yang ingin bertemu Anda. Wanita itu kini sedang menunggu di ruang sekuriti.“


Tepat ketika makan, Alseenio dapat laporan bahwa ada seorang wanita yang ingin bertemu dengannya. Mengetahui hal ini, Alseenio tersenyum dan mengangguk. “Oke, aku akan ke sana. Terima kasih sudah memberi tahu.“


“Sudah tugasku, Tuan. Saya kembali ke dapur dahulu.“


“Ya, silakan.“


Alseenio berbincang beberapa patah kata kepada Tim Jaya Exford, ia memberi tahu bahwa temannya ada di sini.


Seketika, mereka antusias, terlebih para pria yang ikut ke sini. Mereka penasaran sekali dengan teman Alseenio.


Dengan gegas, Alseenio membenarkan pakaiannya, ia memakai jaket Levi's hitam dengan kaos dalam berwarna putih, celananya adalah jeans panjang hitam. Alseenio selangkah demi selangkah berjalan menuju tempat sekuriti menjaga.


Segera, di bidang penglihatannya, ia melihat sesosok wanita cantik yang familiar. Wanita ini berbusana rapi dan cantik, memakai kaus lengan panjang berwarna hitam dan rok ungu yang panjang sampai di bawah lutut. Kuncir kuda yang ada di kepalanya menambah pesona kecantikannya. Sosok wanita ini langsung berdiri ketika melihat Alseenio yang berjalan ke arahnya, kemudian ia ikut menghampiri Alseenio dengan berlari kecil.


“Akhirnya kita bertemu lagi~"

__ADS_1


__ADS_2