
Fara tersenyum manis di balik masker, kemudian ia memeluk erat Alseenio dari belakang. Ia sangat bahagia mendengar jawaban Alseenio. Hari-harinya makin indah ketika terus bersama Alseenio.
Tujuannya sekarang adalah tempat jajanan kaki lima yang ada di belakang Mall GI.
Melihat sore yang makin pekat dan langit makin gelap, memang sudah waktunya mereka berdua ke sana untuk mencari target.
Lebih dari 10 menit mereka di perjalanan, akhirnya Alseenio dan Fara tiba di tempat jajanan belakang Mall GI.
Sepeda motornya diparkirkan di perkampungan dekat mall, tidak jauh dari lokasi orang berjualan makanan.
Di sana Alseenio dan Fara berjalan sambil melihat-lihat suasana tempat berkumpulnya pedagang kaki lima. Suasananya sangat ramai, banyak orang yang datang dan membeli makanan, sampai-sampai jalanan sekitar macet dan sulit melintas.
Hampir setengah jam Alseenio dan Fara berjalan mengelilingi trotoar jalan sekitar luar mall, mereka tidak menemukan orang yang tepat. Mereka berdua belum memiliki pikiran yang sama untuk memilih orang tersebut.
Pada saat Alseenio dan Fara hendak berkeliling lagi, ia melihat tiga anak kecil yang mengobrol satu sama lain sambil membawa karung di punggungnya, ketiganya tidak jauh dari tempat Alseenio dan Fara berdiri.
Secara bersamaan, keduanya saling memandang, Alseenio dan Fara memiliki pikiran yang sama, mereka langsung memilih ketiga anak ini menjadi target misi.
Dengan gegas, Alseenio berjalan berjalan dan menghampiri mereka bertiga, dan berhenti di depan ketiganya.
Di dalam penglihatan Alseenio dan Fara, ketiga anak kecil ini tampak kotor, terlebih bajunya sangat kucel dan kotor, wajah ketiga anak tersebut memiliki noda hitam dari debu dan tanah, penampilan mereka sangat tidak terawat.
Melihat kedatangan sosok Alseenio dan Fara, ketiga anak tersebut bingung dan menatap keduanya dengan pandangan yang tidak mengerti.
“Halo, Anak-anak!“ Alseenio menyapa mereka dengan senyuman di balik maskernya, diiringi dengan tempramen lembut yang membuat mereka merasa aman.
Biasanya anak-anak merasakan tanda bahaya terhadap orang-orang sekitar, terlebih terhadap orang yang berpenampilan garang.
Namun, penampilan Alseenio tidak garang, melainkan enak dipandang. Merasakan aura lembut dari tubuh Alseenio, membuat mereka bertiga tidak mengaktifkan mode pertahanan diri.
Menurutnya, Alseenio tidak berbahaya dan bukan orang yang jahat kepada anak kecil. Bisa dilihat dari pupil mata Alseenio yang cerah.
Ketiga anak kecil ini terdiri dari 2 anak perempuan dan 1 laki-laki, anak yang paling besar adalah anak laki-laki di antara mereka bertiga.
Anak laki-laki ini berani dan ia menyapa balik Alseenio, “Halo, Bang!“
“Kalian habis ke mana?“ tanya Alseenio dengan sorot mata yang ramah.
“Kita habis kerja, hehe. Ambil botol plastik dan sejenisnya, Bang,” Anak laki-laki yang masih kecil tersebut menjawab dengan jujur dan polos.
“Eh?“ Fara menutup mulutnya begitu mendengar jawaban dari anak laki-laki kecil. Fara mengetahui apa pekerjaan yang diucapkan anak kecil ini.
Pantas saja, mereka membawa karung di punggungnya, terlebih karung yang diangkat oleh anak kecil berjenis laki-laki ini memiliki ukuran yang lebih besar dari karung yang dibawa kedua gadis kecil.
“Boleh abang lihat?“ Alseenio penasaran dengan isi karung yang digendong oleh laki-laki kecil ini.
“Boleh.“ Anak kecil tersebut mengizinkan dan mengungkapkan isi yang ada di dalam karung.
Isinya adalah botol plastik dan benda plastik lainnya, seperti gelas minuman plastik, galon, dan semacamnya.
Tercium aroma tidak sedap dari dalam karung, Alseenio menebak bahwa mereka mencari barang-barang tersebut dari tempat penyimpanan sampah-sampah.
Umunya, pekerjaan yang mengumpulkan botol plastik itu memungut dari tempat sampah rumahan atau di sekitar jalan.
Tidak heran apabila karung tersebut mengeluarkan bau yang tidak enak dicium.
Reaksi Alseenio begitu mencium ini adalah biasa saja, ia seperti tidak mencium bau busuk tersebut.
__ADS_1
Tak etis apabila Alseenio menutup hidungnya di depan anak-anak, sama saja menghina mereka secara tidak langsung.
Melihat banyak orang yang menatap Alseenio dan Fara, Alseenio dengan cepat memberi tahu maksudnya menghampiri anak kecil.
“Kalian mau uang tidak?“ Alseenio berjongkok sambil bertanya dengan nada yang ramah.
“Uang?“ Anak laki-laki yang masih kecil memiringkan kepalanya. “Tentu, aku mau uang. Memangnya Abang mau kasih uang?“
Alseenio mengangguk pelan. “Iya, Abang lagi ada uang, mau kasih uang ke kalian bertiga, apa kalian mau?“
“Bukan uang yang aneh, kan?“ Anak kecil ini sangat pintar, ia takut dengab sesuatu yang tidak baik.
Tidak seperti tikus berdasi, uang ilegal pun diambil dan dinikmati, bahkan anak-anaknya memamerkan barang hasil dari uang ilegal.
“Bukan, dong. Uang ini hasil jerih payah Abang, tentunya uang baik.“ Alseenio menggelengkan kepalanya dan memandang ketiga anak kecil di depannya.
Ketika mendengar ini, mereka bertiga berdiskusi satu sama lain sebelum memutuskan untuk menerima uang.
“Kami bertiga mau, Bang.“
Setelah mengatakan itu, laki-laki kecil ini mengulurkan tangan kanannya seraya berkata, “Mana uangnya, Bang?“
“Tunggu dahulu, kalian harus memenuhi syaratnya untuk bisa menerima uang dari Abang. Kalian harus mengikuti gerakan pria ini.“
Alseenio mengulurkan tangannya dan memperlihatkan kepada mereka video Penaldo melakukan selebrasi setelah puluhan kali diputar.
“Penaldo? Aku harus bergerak seperti Penaldo di dalam video?“ Pria kecil tersebut bertanya sambil memastikan kebenaran dari syarat yang diajukan Alseenio.
Kepala Alseenio bergerak naik turun sambil tersenyum. “Bagaimana? Kalian masih mau?“
Pria kecil mengangguk kejam dan diikuti oleh kedua gadis kecil di belakangnya dengan sorot mata yang penuh tekad.
“Jangan lupa mengucapkan kata 'siu', Nak,“ Alseenio mengingatkan ketiga anak kecil tersebut yang sudah siap melakukan selebrasi gol Penaldo secara bersamaan.
“Siap!“
Pria kecil tersebut terlalu bersemangat, ia menjawab dengan suara yang lantang.
Selanjutnya, secara serempak mereka melompat di atas trotoar dan melakukan selebrasi gol ala Penaldo dengan baik.
Hampir bersamaan meraka mengatakan kata “siu” dengan nada suara yang keras. Suara kedua gadis kecil terdengar lebih kecil dibanding dengan pria kecil yang sangat bersemangat ini.
Tanpa sadar Alseenio, Fara, dan orang yang kebetulan lewat jalan trotoar yang sama tersenyum sambil melihat aksi mereka yang lucu.
Gerakan mereka menarik perhatian orang-orang di jalan sehingga banyak orang yang mengerumuni ketiga anak ini.
Melihat kondisi tidak kondusif lagi, Alseenio mengajak mereka untuk membeli makanan sebelum diberikan uang.
Pada saat ini, di tempat parkir, Alseenio tengah berbicara dengan mimik wajah yang serius.
“Bawa tas ini, isinya adalah uang yang sudah Abang janjikan. Simpan baik-baik, dan gunakan dengan bijak.“
Alseenio menyerahkan tas selempang yang berisikan uang 30 juta rupiah yang tersisa kepada ketiga anak ini.
Begitu mereka membuka ritsleting tas, mata masing-masing dari anak ini melebar.
Benar saja, tas selempang yang diberikan oleh Alseenio memang berisi banyak uang kertas berwarna merah.
__ADS_1
Baru pertama kali ketiganya melihat uang sebanyak ini, tangan pria kecil yang memegang tas perlahan gemetar, ia ketakutan.
Alseenio menepuk pundak kecil anak laki-laki tersebut dan berkata, “Kamu sebagai pria harus menjadi pemimpin yang baik, gunakan uang tersebut dengan bijak, jangan gunakan untuk sesuatu yang tidak berguna dan tak bermanfaat, kesempatan tidak datang dua kali, dan kamu harus memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik.“
Mendengar nasihat Alseenio, mata anak kecil tersebut menyala, tangannya yang memegangi tas langsung mencengkeram kuat, jiwa kepimpinan dan rasa tegas membara di dalam tubuhnya.
“Baik, Bang! Aku pasti menjadi pemimpin yang baik, aku pastikan aku akan menjadi pria seperti Abang!“ ucap tegas Pria kecil tersebut sambil memandangi wajah Alseenio.
“Bagus, aku akan menunggu waktu itu.“ Alseenio tersenyum dan mengangguk puas.
“Mendekatlah, aku ingin memberi tahu rahasia kepadamu,” pinta Alseenio.
“Sebentar.“ Anak kecil ini mengoper tas selempang berisi uang kepada gadis kecil, kemudian ia berjalan mendekati Alseenio.
Alseenio berjongkok dan membisikkan sesuatu kepada pria kecil ini. Informasi tersebut perihal tas, tas yang digunakan sebagai tempat menyimpan uang itu lebih mahal harganya daripada nilai uang yang disimpan.
Tas selempang tersebut bermerek Luis Vuton dan harganya lebih dari 100 juta rupiah.
Mengetahui rahasia ini, pria kecil tersebut menoleh kaku ke tas yang dipegang oleh salah satu gadis kecil, ia melirik tas dengan sorot mata yang tidak percaya.
“Segera pulanglah, sudah malam.“
“Siap! Laksanakan!“ Pria kecil tersebut memberi hormat kepada Alseenio lalu berlari kecil ke kedua gadis kecil yang memegangi tas berisi uang.
Setelahnya, mereka bertiga berpamitan dan melambaikan tangan sebelum menghilang dari pandangan Alseenio dan Fara.
Senyum lebar muncul di wajah Fara, ia sangat suka anak kecil, terlebih melihat anak kecil yang memiliki budi yang baik dan sopan.
Ketiga anak kecil barusan memiliki sifat dan perilaku yang baik, berbeda dengan anak kecil yang suka bermain gim tembak-tembakan api gratis, merengek apabila tidak dibelikan diamond atau mata uang gim.
Terlebih lagi anak kecil tersebut menuruti apa katanya, membuat Fara ingin sekali memiliki seorang anak.
Sesudah itu, mereka berdua menyalakan sepeda motor dan pergi dari area parkiran sepeda motor.
Di tengah perjalanan, Fara masih teringat tentang ketiga anak kecil yang sebelumnya ia temui.
Entah mengapa dirinya merindukan sosok ketiga anak kecil tersebut.
“Sayang, anak kecil tadi sangat lucu, ya?“ Fara tiba-tiba bertanya kepada Alseenio.
“Iya, mereka bertiga terlihat lucu. kalau tidak salah, mereka baru berumur 7 tahun, tetapi aku kasihan dengan nasib mereka, sangat tidak beruntung.“ Alseenio begitu menyayangkan nasib ketiga anak kecil tadi, mereka tidak beruntung, syukurlah mereka sempat bertemu dirinya, Alseenio ingin membantu mereka bertiga.
“Benar, bagaimana kalau kita bertemu mereka lagi nanti?“ Fara memberi usulan kepada Alseenio.
“Boleh, nanti kita akan ke sana lagi untuk bertemu mereka.“
Alseenio setuju dengan usulan Fara. Ia juga menyukai ketiga anak kecil tersebut, pastinya akan bertemu mereka lagi dan memastikan kondisi mereka baik-baik saja.
“Omong-omong, apakah kamu suka anak kecil, Sayang?“ tanya Alseenio dengan seringai yang aneh.
“Iya, aku suka sekali anak kecil!“ Fara mengangguk dan mengonfirmasi.
“Ekhem-ekhem!“ Alseenio berdeham bener kali. “Bagaimana kalau kita bikin anak kecil yang lucu secepatnya, Sayang?“
“Bikin anak?“ Pipi Fara secara bertahap memerah dan samar-samar terdapat asap yang membumbung.
“Kamu kira buat anak itu mudah?“ Fara sedikit kesal, pipinya menggembung tampak menggemaskan. “Nanti kita akan buat kalau sudah menikah dan sah!"
__ADS_1