SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 160: Ibu Rekrutmen


__ADS_3

Mendengar pria ini dengan cepat berubah pikiran, semua orang yang hadir bingung harus tertawa atau takut.


Alseenio menatap pria satu ini dengan sorot mata yang kasihan. Seharusnya, dia dapat ditempatkan di cabang yang dekat dengan domisili.


Namun, Pak Wandi berkata bahwa cabang Kebun Jeruk tidak kekurangan orang. Mala dari itu, pria tersebut ditaruh di cabang sana.


Tidak ada yang bisa pria itu lakukan, tak ada cara untuk menolak, dia hanya bisa menerima semuanya dalam diam.


Setelah semuanya sudah diberikan informasi tentang tempat mereka akan bekerja. Pak Wandi membeberkan bahwa mereka akan bekerja mulai di hari Senin nanti.


Sekarang hari Jum'at, butuh 2 hari untuk mereka bersiap-siap bekerja. Waktu sesingkat itu bisa digunakan untuk berpamitan atau menikmati waktu luang tanpa kerja. Puaskan waktu kosong dengan melakukan kegiatan yang tak bisa dilakukan ketika telah aktif bekerja.


Semuanya sudah selesai, Alseenio dan lainnya diperbolehkan oleh Pak Wandi untuk pulang.


Begitu Alseenio ingin pulang, tiba-tiba ia dipanggil oleh Pak Wandi untuk ikut bersamanya ke kantor Ibu HRD berada.


Alseenio dan Pak Wandi berjalan melalui lorong kantor hingga sampai di sebuah ruangan yang menunjukkan nama ruangan khusus HRD.


Tangan Alseenio menggenggam pegangan pintu dan ia membuka pintu secara perlahan.


“Permisi,” ucap Alseenio seraya berjalan masuk ke dalam ruangan.


Saat dirinya masuk dan melihat ke dalam ruang kantor, Alseenio melihat seorang wanita yang duduk di tengah ruangan. Wanita ini memakai seragam yang rapi, kemeja putih, jas hitam, dan rok hitam.


Mata Alseenio bergerak melihat wajah wanita ini, dan pupil mata Alseenio membesar seketika.


“Rara?!“ kata Alseenio tanpa sadar dan ia membuka masker mulutnya sehingga secara tidak sengaja mengungkap wajahnya pada wanita ini


“Ternyata benar dugaanku, Alseenio Asep itu adalah kamu.“


Wanita ini ternyata Rara, orang yang dikenal oleh Alseenio karena pernah menjadi penumpang ojek daring 2 bulan yang lalu. Pertama kali ia mendapatkan misi menjadi ojek, ia mendapatkan penumpang awal, dan itu adalah Rara.


Mereka masih berhubungan melalui WA, dan tak pernah sempat untuk bertemu karena Rara sangat sibuk. Keduanya tak pernah menemukan waktu yang cocok untuk keduanya bertemu.


“Sudah lama kita tidak bertemu lagi setelah kamu mengantarkan aku ke gedung kantor yang lama.“


“Haha, iya. Sudah lama sekali, ya.“ Alseenio menggaruk kepalanya sekilas dan ia tersenyum.


“Duduk, Alseenio. Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu.“


Alseenio duduk di kursi yang ada di depan meja Rara. Mereka berdua mulai mengobrol membahas sesuatu yang telah terjadi dua bulan yang lalu.


Ada sebuah cerita yang Rara beri tahu kepada Alseenio. Ia bingung pada awalnya, setelah melihat sebuah lamaran dengan nama yang sama dengan Alseenio.

__ADS_1


Sulit dipercaya dan mustahil untuk terwujud Alseenio yang terkenal ini melamar bekerja. Dengan demikian, Rara berspekulasi bahwa lamaran ini dari orang yang namanya kebetulan sama dengan Alseenio, tetapi orangnya bukan Alseenio yang ia tahu.


Mengetahui bahwa karyawan baru yang bernama seperti Alseenio ini hadir, Rara meminta Pak Wandi untuk membawa Alseenio ke kantor, ia ingin memastikannya sendiri.


Pertama ia lihat Rara tak mengetahui orang yang datang ke kantornya ini, tetapi ketika orang ini menyebut namanya, Rara jadi yakin orang tersebut adalah Alseenio.


Benar saja, waktu masker itu terlepas, wajah Alseenio yang dia kenal terungkap di depan matanya.


Rara menginformasikan apa yang terjadi padanya setelah bertemu Alseenio. Banyak yang telah terjadi, kebanyakan adalah masalah pekerjaan yang kerap membuatnya pusing.


Ingin rasanya ia menceritakan tentang masalahnya untuk meringankan beban pikiran. Namun, ia tidak tahu ke siapa dirinya harus curhat dan berbagi cerita.


Di saat kondisi sedih melanda, ia selalu memiliki pikiran dan ingin bertemu Alseenio. Sayang sekali, waktu tak memberikan kesempatan kepadanya untuk merealisasikan keinginannya.


Sekarang, ia akhirnya bertemu dengan orang yang selalu Rara ingin jumpai.


Alseenio mendengarkan dengan baik apa yang dibicarakan oleh Rara, ternyata masalahnya bukan karena pekerjaan, melainkan dari orang tua yang selalu mendesaknya untuk menikah lebih muda.


Padahal, dirinya barus berumur 24 tahun, tahun 2023 di bulan Oktober nanti usianya 25 tahun. Baginya, umur 24 tahun itu masih muda, masih ada waktu untuk dirinya meningkatkan kualitas diri dan menambah posisi ekonominya agar lebih stabil.


Apalah daya, apabila orang tua sudah berkata dan selalu mengingatkan untuk menikah, ia selalu memiliki pikiran tersebut.


Bukan apa-apa, ia belum memiliki pasangan yang cocok untuk dirinya sendiri. Banyak pria yang mencoba mendekati dirinya, tetapi ia tak suka dengan pria tersebut, sifatnya dan kepribadian orang tersebut tidak satu ragam dan satu jiwa dengan dirinya.


Semua ini karena pekerjaannya yang tak bisa ia tinggal. Saat ini, Rara sudah mulai berpindah hati dan menganggap Alseenio cinta lama atau orang yang pernah ia suka dan takkan pernah bisa didapatkan.


“Aku punya banyak teman, mungkin aku bisa mengenalkan kamu ke salah satu temanku, bagaimana?“ Alseenio mengeluarkan saran terhadap permasalahan uang dialami Rara.


Mendengar saran Alseenio, Rara tidak menanggapinya langsung, ia menundukkan kepalanya dengan dagunya bertumpu di atas kedua telapak tangan.


Pipi Rara yang agak tirus ini terpegang oleh jari-jari tangannya ketika sibuk berpikir dan menimbang-nimbang keputusan seputar saran Alseenio.


Setelah merenung sejenak, Rara memiliki keputusan di dalam hatinya, ia mengangguk dan berkata, “Boleh, aku ingin mencobanya.“


Menurutnya, teman-teman Alseenio pasti memiliki kualitas. Terpenting kepribadian pria itu dengannya cukup terhubung dan satu pikiran.


“Baiklah, nanti aku akan memberimu nomor temanku, kalau perlu nanti aku akan mengantarmu ke temanku secara langsung.“


“Iya, aku akan mencoba berinteraksi dengan teman kamu. Kalau memang diperlukan, aku akan bertemu langsung dengannya.“ Rara tersenyum dan mengangguk tegas.


Ia merasa bebannya yang ada di dalam diri terangkat sedikit. Agak lega setelah Alseenio memberikan saran.


Usai membahas ini, Rara memberi tahu tentang informasi perusahaan dan apa yang akan dikerjakan oleh Alseenio di hari senin.

__ADS_1


Rara ingin mengangkat Alseenio sebagai manajer secara instan, ia akan mengajukannya ke Direktur, tetapi Alseenio menolak dengan tegas.


Misinya bukan menjadi manajer, melainkan menjadi seorang pelayan. Jika dia menjadi manajer, misi tak bisa diselesaikan, bahkan dianggap gagal.


“Oke, aku akan memantau kamu. Jika ada kesulitan dan kamu butuh bantuan, beri tahu aku. Hubungi aku ke nomor Whatsupp biasa, jangan nomor bisnis yang aku hubungi semalam,” ucap Rara yang akan menjamin dan menjaga Alseenio selama bekerja.


Panggilan semalam yang Alseenio mengobrol dengan wanita, ternyata itu adalah Rara. Tidak heran Alseenio merasa familier dengan suara ini, Rara pun merasakan hal yang sama. Namun, keduanya sama-sama tidak yakin dengan tebakan dan dugaan masing-masing.


“Ya, terima kasih, Bu Rara.“ Alseenio menunjukkan senyuman yang memiliki arti lain. Tampak sedang bercanda.


“Jangan panggil aku seperti itu. Panggil Rara saja, kecuali memang sedang di jam kerja.“


“Oke-oke, aku harus pergi. Takut ada pikiran sesuatu di antara mereka terhadap kita karena di dalam kantor berduaan terlalu lama. Bisa-bisa identitasku ketahuan juga.“


Rara mengangguk mengerti apa yang dimaksud Alseenio. “Kamu boleh pergi. Hati-hati di jalan, dan jangan lupa hubungi aku ketika kamu masuk kerja di hari pertama nanti.“


“Baik, aku akan mengabari kamu,” kata Alseenio yang beranjak pergi dari kursi.


“Selamat tinggal, Rara.“


“Sampai jumpa, Nio.“


Alseenio membalikkan tubuhnya dan berjalan ke pintu masuk ruang kantor sambil mengenakan lagi maskernya. Meski terlihat tertutup maskernya, masker ini memiliki lubang udara yang baik sehingga dirinya tidak kesulitan mengambil oksigen.


Di jalan menuruni tangga, Alseenio bertemu lagi dengan Pak Wandi, sikapnya agak berubah setelah bertemu dirinya, tampaknya Pak Wandi sudah memiliki pikiran bahwa Alseenio ini bukan sembarang karyawan baru.


Ketika ingin sampai di tempat parkir, Alseenio melihat bahwa ada banyak orang yang menunggu di tempat ini.


Orang-orang ini bukanlah orang-orang yang bersamanya tadi, ini rombongan lain.


Melihat kedatangan Alseenio yang keluar dari tangga gedung, mereka semua menatap Alseenio dengan wajah yang memuji dan kagum.


Alseenio mengabaikan pandangan di antara banyak orang, kemudian ia menaikkan sepeda motornya dan memanaskan sesaat.


Raungan keras dari knalpot sepeda motor bergema di tempat parkir. Setelah itu, Alseenio berpamitan dengan satpam sekaligus mengambil KTP, dan melajukan sepeda motornya di bawah tatapan kekaguman orang-orang.


“Pria ini tampan sekali!“


“Apakah dia atasan kita nanti di tempat kerja?“


“Seragamnya sama seperti kita, jangan katakan dia sama seperti kita?“


“Sejak kapan ada karyawan baru membawa sepeda motor R6 mahal?

__ADS_1


__ADS_2