
Bunyi ketukan pintu terus berbunyi makin intens, tatapan Alseenio masih terfokus pada pintu ini, ia ragu ingin membukanya, panggilannya masih dijawab oleh seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.
Alseenio terdiam, ia berpikir tentang ini, lebih baik membuka pintu atau biarkan saja.
Namun, ketika ia merenung untuk mengambil keputusan, suara ketukan yang keras itu menghilang seketika.
Mendengar suara bising yang secara mendadak lenyap, Alseenio terkejut dan ia mempertajam pandangannya ke arah pintu kamar.
Rasa ingin tahu Alseenio makin menjadi-jadi, bahkan perasaan ketakutannya perlahan menghilang, dikalahkan oleh keingintahuan yang besar.
Saat ini, Alseenio sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi pada dunia. Alseenio tak menemukan orang, bahkan orang terdekat saja hilang, ditambah Sistem tidak merespons panggilannya seakan tidak berfungsi lagi.
Di dunia ini, seolah-olah hanya ada dirinya saja sendiri, terasa ditinggal pergi oleh manusia ke planet lain.
Akan tetapi, Alseenio masih memiliki semua kemampuan yang diberikan oleh Sistem. Lambat-laun Alseenio tidak takut dengan sesuatu yang mengetuk pintunya ini. Ia memiliki teknik bela diri, dan itu memiliki tingkatan yang tinggi.
Namun, suara itu tidak lagi muncul yang membuat Alseenio makin waspada dan penasaran ingin membuka pintu.
Jikalau ada lubang pada pintu untuk melihat pemandangan di luar seperti pintu di kamar hotel, ia sudah bisa tahu siapa yang mengetuk pintunya dengan mengintip.
Suasana menjadi hening usai menghilangnya suara ketukan pintu.
Dengan keberanian yang diakumulasikan sejak awal dan rasa penasaran yang makin besar, Alseenio memutuskan untuk mencoba membuka pintu.
Langkah kaki Alseenio tampak sangat hati-hati, pandangan matanya masih tetap ditaruh di pintu, ia benar-benar waspada dan berhati-hati, takut jika tiba-tiba ada sesuatu yang menyerangnya.
Perlahan jari tangan kanan Alseenio memegang kenop pintu, terlihat dari mata Alseenio bahwa dirinya masih memiliki sedikit keraguan, tetapi sorot mata Alseenio berubah beberapa detik kemudian. Bertekad dan sudah yakin dengan pilihannya, ia akan membuka pintu kamar.
Di detik berikutnya, Alseenio membuka pintu dan menariknya ke belakang, pandangan mata Alseenio dengan cepat melihat ke arah depan.
Namun, ketika ia melihat ke depan kamar, ia sama sekali tidak menemukan orang yang mengetuk pintunya barusan.
Alseenio makin bingung dan sedikit menjadi takut, ia melihat di sekitar lorong di lantai 2 tak ada jejak kaki atau suara langkah seseorang, ini benar-benar kosong.
Pada saat Alseenio kebingungan dan menoleh ke kiri dan kanan, tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang berdiri di belakangnya tepat ada di dalam kamar.
Perasaan ini makin jelas, ia benar-benar yakin ada orang di belakangnya.
Dengan ini, Alseenio menjadi takut, ia benar-benar takut sekarang. Dalam pikirannya sesosok di belakangnya pasti bukan orang, tak mungkin orang bisa mengalahkan kecepatan refleks tubuhnya, padahal dia adalah orang yang memiliki kekuatan fisik berkali-kali lipat dari tubuh manusia biasa.
Tak ada orang di dekatnya yang luput dari kewaspadaannya.
Pikiran Alseenio yang merasa dirinya dipermainkan menjadi senjata untuk Alseenio. Ia sungguh sudah malas menjadi penakut seperti ini. Dengan demikian, Alseenio membulatkan keputusannya diiringi oleh keberaniannya yang menyala.
__ADS_1
Ia akan menghadapi sesosok yang ada di belakangnya.
Tubuh Alseenio sangat cepat membalikkan arah menghadap ke belakang, gerakannya memiliki kecepatan yang seharusnya tidak bisa didahului oleh orang biasa.
Begitu memalingkan tubuhnya, sekali lagi ia tidak menemukan apa-apa di dalam kamar. Ia berdiri di depan pintu kamar dengan ekspresi yang serius dan sedikit amarah.
Rasanya seperti sedang dipermainkan oleh sesuatu, Alseenio sangat tidak suka perasaan ini.
“Siapa sebenarnya kamu?! Tolong tunjukkan sosokmu dan hadapi aku!“ Alseenio benar-benar dipenuhi amarah. Ia tidak akan kagi menjadi seorang pecundang yang takut akan sesuatu, dirinya bukan dirinya yang dahulu.
Di detik selanjutnya setelah kata-kata Alseenio keluar, sebuah cahaya putih memenuhi dalam kamar Alseenio.
Kilauan cahaya ini terlalu terang, membuat Alseenio harus menghalangi sebagian cahaya yang menyorot ke arah wajahnya.
Untuk beberapa detik, sinar masih menyinari ruang kamar Alseenio.
Merasakan kilauan yang mengganggu penglihatannya menghilang, Alseenio menggerakkan matanya untuk melihat sesosok yang ada di dalam kamar.
Sesosok wanita mengenakan gaun serba putih terlihat oleh kedua matanya, wajah wanita ini sangat cantik, bahkan melebihi kecantikan wajah Fara.
Seorang wanita ini berdiri dengan anggun menghadap Alseenio, sepasang matanya membidik Alseenio yang berdiri di depan pintu kamar.
Sebelum Alseenio bereaksi, sosok wanita ini sudah muncul di depannya secara singkat dan secepat kilat.
Wajah cantik wanita ini kelihatan senang ketika meraba keindahan wajah Alseenio.
“Akhirnya, aku bisa bertemu denganmu secara langsung, Kekasihku.“
Alseenio tercengang saat mendengar ucapan wanita di depannya ini. Dengan bingung, Alseenio bergumam di dalam hatinya, “Kekasih?“
“Kamu akan tahu siapa aku sebenarnya sebentar lagi, aku di sini hanya ingin melihatmu, Alseenio. Kamu masih seperti dahulu, bahkan kamu menjadi lebih tampan dari mereka semua.“
Ingin sekali Alseenio jawab, tetapi ia sama sekali tidak bisa mengeluarkan satu kata pun dari mulutnya. Ia merasa sangat terkejut dengan keindahan wanita ini.
“Tak menyangka kamu akan kembali lagi setelah sekian lamanya menghilang, aku sudah merindukanmu.“
“…”
Wanita ini terus menerus mengoceh tentang sesuatu yang sama sekali tidak dimengerti olehnya. Ia cuma bisa diam sambil mendengarkan ucapan wanita paling cantik ini.
“Kamu pasti bingung, itu wajar. Aku harap kamu sadar secepat mungkin, aku merindukanmu, aku akan selalu menunggumu.“ Tangan wanita ini berhenti membelai lekukan wajah Alseenio.
Mata dari wanita ini menjadi lebih lembut dari sebelumnya. Terlihat seperti ada sesuatu yang ingin diucapkan, tetapi belum saatnya diungkapkan.
__ADS_1
“Tolong jaga Fara. Jangan sampai dia tersakiti atau terluka, jaga baik-baik, Alseenio. Setidaknya, sampai kamu mengetahui semua yang terjadi denganmu. Tolong ingat pesanku setelah kamu keluar dari sini.“ Wanita ini menggenggam erat kedua tangan Alseenio, ia sangat serius saat ini.
“Maafkan aku telah membuatmu takut. Serius, kamu sangat lucu ketika dijahili, aku menyukainya,” ucap wanita ini dengan tertawa kecil.
Mendengar ini, Alseenio menjadi paham dengan apa yang terjadi, sosok inilah yang mengetuk pintunya tadi.
Ia menjadi makin penasaran dengan siapa wanita ini, tetapi wanita ini sudah berkata bahwa dia akan mengetahui tentang dia sebentar lagi.
Banyak pertanyaan yang ingin diungkapkan oleh Alseenio, tentang mengapa semuanya menghilang, dan di mana dirinya sebenarnya sekarang.
Sayang sekali, ia sedikit pun tak bisa berbicara, tubuhnya terasa seperti sedang disegel atau dikekang.
Menurutnya, ia terlalu terkejut sehingga tidak bisa bereaksi. Wanita ini sangat cantik, membuat tubuhnya membeku untuk pertama kali lihat.
Melihat ini yang kebingungan dan tidak berbicara sama sekali, wanita ini tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Alseenio.
Mata Alseenio membesar, ia tidak pernah menyangka wanita cantik ini mengambil inisiatif untuk menciumnya.
Merasakan ciuman dari wanita ini yang membuatnya nyaman, Alseenio membalas ciuman ini dengan perasaan yang sama.
Entah mengapa ketika berciuman, Alseenio merasa bahwa ciuman ini mirip dengan Fara. Mungkin hanya perasaannya saja yang merindukan Fara.
Hampir 20 menit mereka berciuman. Gaun rapi wanita ini sedikit kacau dan pipi mulus wanita di depannya telah memerah.
Air liur di antara keduanya terhubung, dan sepasang mata mereka saling memandang selama beberapa menit. Wanita ini memeluk Alseenio dengan erat dan ia melepaskan dengan wajah yang berbeda.
“Sudah saatnya kamu kembali. Ingat pesanku, jaga Fara jangan sampai ada yang menyakiti dia. Bukan tanpa alasan, Fara adalah seorang yang spesial karena dia adalah—”
Belum sempat Wanita ini menyelesaikan kalimatnya, sekejap Alseenio merasakan pusing yang tak terlukiskan di kepalanya, ia merasa tubuhnya lemas dan ingin jatuh.
Akan tetapi, wanita ini segera mendekapnya dan menahan dirinya terjatuh ke lantai.
Kesadaran Alseenio terasa runtuh, wajah cantik yang Alseenio lihat pelan-pelan menjadi bayang-bayang yang buram dan kegelapan akhirnya menenggelamkan kesadarannya sepenuhnya.
“Muthull! Teh tarik tiga!!“
Sebuah suara yang keras seketika datang di telinga Alseenio dan tak sengaja membangunkan dirinya yang hilang kesadaran selama beberapa saat.
Alseenio bangun, ia mendapati dirinya masih di atas kasur, rasa pusing samar-samar terasa di kepalanya. Ingatan tentang sebelumnya terjadi masih teringat jelas dalam pikirannya.
“Apa yang sebenarnya terjadi tadi? Siapa wanita itu?“
Setelah Alseenio mengatakan itu, Sistem yang ia panggil sejak lama, akhirnya muncul di dalam benaknya.
__ADS_1
[Ding! Selamat Kepada Tuan Rumah Anda Telah Bertemu Salah Satu Wujud Eksistensi Tingkat Tinggi!]