
Alseenio menatap sosok wanita ini dengan wajah yang bingung dan penasaran.
Kemungkinan besar wanita ini adalah Fara karena suaranya terdengar hampir sama. Namun, Alseenio tidak yakin dengan dugaannya, sebab ia sudah lama tidak bertemu Fara, Fara adalah temannya dahulu saat Alseenio mengeyam pendidikan dari SD sampai SMP.
Waktu Alseenio masih SD hingga SMP, Alseenio begitu dekat dengan Fara dan sering kali bermain bersama, tidak ada hubungan romantis antara keduanya, Alseenio pun menganggap Fara hanya sebagai seorang teman.
Fara Nisa adalah nama lengkapnya, teman Alseenio yang paling dekat dan bisa dibilang satu-satunya, wajah Alseenio yang jelek membuat dirinya saat di sekolah dijauhi oleh orang-orang, tidak ada teman yang tulus dengan Alseenio, sekalipun ada itu hanya sekadar memanfaatkan.
Wanita ini memang paling berkesan di hidup Alseenio karena Fara adalah teman yang menemaninya ketika dirinya kesepian.
Alseenio sangat berterima kasih dengan Fara, tetapi begitu Alseenio ingin mengucapkan rasa terima kasihnya … Fara sudah lebih dahulu pergi dari kehidupan Alseenio setelah masa SMP (Sekolah Menengah Pertama) berakhir.
Pergi tanpa pemberitahuan dan tanpa izinnya terlebih dahulu. Ketika Alseenio ingin bermain dengannya dan berkunjung ke rumah Fara yang cukup dekat dari rumahnya, ternyata rumah Fara sudah sepi dan kosong, rumah itu sudah ditinggal oleh Fara.
Setelah kejadian itu, kehidupan Alseenio seketika berubah menjadi sunyi dan sepi, rasanya seperti ada sesuatu yang kurang dan hilang dalam hidupnya, tetapi Alseenio berusaha untuk terus jalan dan melanjutkan hidupnya meskipun tidak ada dia yang menemaninya.
Namun, setelah sekolah menengah atas atau SMA usai, sesuatu yang tidak ingin dialaminya ternyata terjadi, yakni orang tuanya meninggal di sebuah perjalanan, dan itu membuat Alseenio menjadi lebih terpuruk lagi.
Semua kejadian tersebut dialami oleh Alseenio yang ada di Bumi dan di Dunia Paralel, hanya saja Alseenio yang jiwanya berasal dari Bumi memiliki ketangguhan hidup yang lebih baik hingga berhasil bertahan meskipun ia tetap meninggal.
Pasalnya Alseenio tahu bahwa dunia akan tetap terus berjalan, tidak peduli dengan dirinya yang ingin menyerah, selalu sedih, merasa paling sial, dan yang lainnya.
Dunia akan tetap terus bergerak meskipun Alseenio tidak ada, pada kalimat tersebut memiliki makna bahwa tidak ada artinya jika ia terus merasa sedih atau mengakhiri hidup sendiri, lebih baik dia berjuang untuk bisa hidup.
Alseenio berdiri diam sembari memandang wanita ini yang terus mengetuk pintu rumah lamanya, ia ragu-ragu apakah harus memanggil wanita ini untuk memastikan dugaannya atau menunda rencananya.
Namun sayangnya, ketika Alseenio merenung diam, wanita itu menyadari akan kehadiran Alseenio yang sedang berdiri tidak bergerak menghadap dirinya.
Aneh dengan sosok Alseenio yang tidak bergerak sedikitpun dan hanya berdiri tanpa jelas, wanita tersebut menghampiri Alseenio dan hendak memeriksa apakah baik-baik saja.
Alseenio pulih dari renungannya ketika mendengar suara langkah kaki yang perlahan mendekatinya.
Pupil mata Alseenio bergerak dan ia melihat sosok wanita yang berjalan ingin mendatangi dirinya.
Alseenio bisa melihat tampilan wanita ini dengan tanpa ada yang ditutupi.
Wanita ini mengenakan pakaian sederhana yang terdiri dari kaus lengan panjang belang-belang dan rok panjang hitam, lalu rambut hitamnya dikuncir kuda dan membawa tas wanita berukuran kecil di bahu kirinya, sedangkan wajahnya tidak cantik, bahkan di bawah rata-rata, tetapi itu tidak penting bagi Alseenio, sebab wajah ini menyiratkan bahwa wanita ini adalah Fara.
Dalam sekejap, tubuh Alseenio membeku dan menatap kosong wajah dari wanita ini.
“Halo! Kamu kenapa diam di sini?“ Wanita ini bertanya sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk melambaikan telapak tangannya di depan wajah Alseenio.
Wanita ini kira Alseenio orang yang tidak bisa melihat.
Alseenio langsung tersadar kembali setelah melihat benda yang bergerak-gerak di depan matanya, ia langsung memegang kepalanya setelah sadar dan sedikit menggelengkan kepala, dan berkata dalam hati, “Apakah wanita ini Fara temanku saat di SMP dan SD dahulu?“
Mata Alseenio di balik kacamata memerhatikan setiap inci dari wajah wanita ini dan mencoba mencocokkan dengan wajah Fara saat kecil.
Setelah beberapa saat menyinkronkan wajah ini, Alseenio bertambah yakin bahwa wanita ini adalah Fara.
“Halo? Kenapa kamu diam seperti ini? Kamu sakit kepala?“ Wanita ini berkata sedikit khawatir kepada Alseenio.
Alseenio menggelengkan kepalanya dan menjawab, “Tidak, aku baik-baik saja.“
“Oh, syukurlah. Aku kira kamu sedang sakit atau semacamnya, soalnya kamu sedari tadi hanya diam tak bergerak sama sekali.“ Wanita ini menghembuskan napas lega begitu mendengar jawaban Alseenio.
“Haha, iya.“ Alseenio menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Oh, iya. Aku ingin bertanya, kamu tahu orang dari pemilik rumah itu?“ tanya Wanita tersebut sambil menunjuk rumah Alseenio.
“Ada apa, mbak?“ Alseenio bertanya sebagai pengganti jawaban.
“Begini, rumah ini dahulunya milik teman aku, tetapi dari tadi aku memanggil tidak ada satu orang pun yang menjawab,” terang Wanita tersebut.
Sontak Alseenio terkejut, dan kemudian ia kembali bertanya lagi, “Tunggu, mbaknya namanya siapa, ya?“
“Namaku Fara. Kenapa memangnya, mas?“
Di detik berikutnya, Alseenio merasa kakinya lemas, jantungnya berdetak kencang, dan matanya menatap wajah ini dengan tatapan yang sangat-sangat tidak percaya.
“Mbaknya enggak bohong, kan?“ tanya Alseenio dengan rasa tidak percaya.
“Bohong? Untuk apa aku bohong,” kata Wanita tersebut dengan heran. “Sebentar, aku sepertinya kenal dengan nada suaramu ….“
Wajah wanita tersebut berubah, tampak sadar akan satu hal. “Jangan-jangan, kamu adalah … Alseenio?!“
Reaksi Wanita ini berubah dan ia memandang Alseenio dengan ekspresi terpana, dan tangannya menutup mulutnya dengan mata yang terpaku pada wajah Alseenio yang ditutupi kacamata.
Tanpa sadar kakinya perlahan melangkah mundur ke belakang.
Mendengar ucapan ini, Alseenio segera mengangguk.
__ADS_1
“Tunggu! Kamu sungguhan Alseenio? Kamu Alseenio temanku waktu SMP, kan? Kamu tidak berbohong?“
Mulut Alseenio melengkung, mengangguk dan berkata, “Ya, ini aku, Alseenio Asep.“
Langkah kaki wanita ini berhenti, dan matanya melebar.
Di detik berikutnya, wanita yang ternyata adalah Fara itu langsung memeluk Alseenio secara mendadak.
Wajah lembut Alseenio berubah sesaat dan ia tersenyum sembari memeluk Fara.
“Ak–aku … ma–maafkan aku, Nio!“ Fara berteriak ketika memeluk Alseenio dan secara bertahap suara keras tersebut menjadi melemah dan berubah menjadi isak tangis. “Ma–maafkan aku su–sudah meninggalkanmu tanpa pamit, maafkan kesalahanku yang pernah aku buat dahulu, hiks~”
Tangisan terdengar dari mulut Fara, dan ia mengungkapkan kesalahannya karena meninggalkan Alseenio dahulu dan kesalahan yang pernah ia lakukan kepada Alseenio, entah kesalahan apa itu.
“Sudah-sudah, tidak baik menangis di sini, takut terdapat fitnah yang terlontar dari tetangga, ayo kita masuk.“ Alseenio mengusap punggung Fara dan mencoba menenangkannya.
Sejujurnya Alseenio ingin menangis sekarang, tetapi malu dengan seekor kucing yang sejak awal menyaksikan pertemuan dramatis mereka.
“Miaw!“
Fara belum merespons ajakan Alseenio dan masih menangis di pelukan Alseenio.
“Tuh Fara kamu diledek sama kucing, kata kucingnya kamu cengeng, malu dong sama kucing,“ canda Alseenio.
Alseenio tidak sadar bahwa leluconnya saat kecil muncul kembali.
“Pftt—” Suara tangisan Fara berhenti dan bunyi Fara sedang menahan tawa muncul.
Fara melepaskan pelukan dan menggosok matanya yang telah berhenti, lalu Fara menghentakkan kakinya tampak marah. “Ih kamu mah! Kamu enggak ada bedanya, masih sama kayak dulu!“
Wajah marah Fara terlihat tidak serius dan terlebih seperti sedang marah bercanda.
Benar saja, wajah marah Fara berubah seperti sedang menahan tawa dan akhirnya tertawa.
“Kamu jangan senyum gitu, aku merasa selalu ingin tertawa kalau kamu seperti itu, hahaha.“
Fara tertawa lepas setelah menangis tadi, lantaran Alseenio tersenyum meledek ketika melihatnya marah.
“Sudah-sudah, ayo kita ke dalam rumah, lebih baik kita mengobrol di sana,” saran Alseenio kepada Fara.
“Baiklah,” jawab Fara yang selesai tertawa.
Kemudian keduanya masuk ke dalam rumah meninggalkan kucing yang menonton mereka berdua berinteraksi.
Mereka saling memandang satu sama lain di kursi khusus tamu tanpa ada yang mau berbicara terlebih dahulu.
“Kamu benar Alseenio, kan?“ Fara membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang sudah pernah dikeluarkan.
Alseenio segera menjawab dengan wajah yang sabar, “Iya, ini aku Alseenio Asep, temanmu di SMP dahulu.“
“Tetapi, rasanya kamu berbeda, kamu sekarang tinggi sekali, padahal yang aku tahu kamu tidak setinggi seperti sekarang ini, hanya sedikit lebih tinggi dariku,” kata Fara yang bingung, “juga kamu tidak seputih saat ini, kulitmu agak kecokelatan sedikit walaupun aku tahu kamu aslinya memang putih.“
“Kamu tahu karena kita saat SD pernah mandi bersama, kan?“ Alseenio berkata dengan menyeringai.
“Eh, i–iya, kamu dahulu belang-belang kulitnya seperti bajuku sekarang,” Fara membalas sambil menunjuk bajunya dengan malu-malu.
Ketika Alseenio melihat baju Fara, pupil matanya membesar, dan ia langsung tersadar bahwa bola yang menyentuh perutnya saat Fara memeluknya tadi adalah boba milik Fara.
Alseenio berpikir dalam hati, “Waktu kecil … aku ingat Fara tidak ada bobanya, bahkan belum tumbuh, tetapi di SMP memang sudah ada, aku tidak menyangka bisa sebesar ini saat dewasa.“
Pada saat Alseenio berpikir, pandangannya masih tertuju pada dua tonjolan besar di dada Fara.
“Nio!“ Fara menggeram dengan tangannya yang mengepal kuat sampai-sampai mengeluarkan bunyi.
Wajah Fara memerah terasa seperti sedang marah sekaligus malu.
Sedari tadi Fara memerhatikan sorot mata Alseenio, dan Alseenio tiba-tiba memandangi boba miliknya.
Alseenio langsung tersadar dan bergidik. “Eh! Maaf aku tidak sengaja, aku sedang memikirkan sesuatu tadi.“
Hawa dingin menjalar ke punggungnya dan Alseenio panik mencoba menenangkan Fara.
Dahulu waktu kecil, Alseenio sering ditindas dalam konteks candaan oleh Fara, sampai SMP pun Fara tidak segan-segan untuk memukul dan memarahi Alseenio ketika berbuat salah.
Wanita ini terkadang pendiam dan kadang pemarah.
Amarah Fara menurun ketika melihat Alseenio mencoba menenangkannya.
Di dalam hatinya Fara bergumam, “Ini memang Alseenio, tingkah lakunya persis sama ketika dirinya masih kecil, syukurlah aku bisa bertemu dengan Alseenio lagi.“
Setelah amarah menghilang, Fara memperingati Alseenio untuk tidak berbuat itu lagi, dan Alseenio menuruti peringatan Fara.
__ADS_1
“Benar, dahulu kamu itu belang-belang kulitnya, aku masih ingat jelas.“ Fara mengembalikan topik awal.
Pada saat SD kulit Alseenio memang belang-belang, setengah tangannya cokelat dan putih susu. Namun, saat memasuki pendidikan SMP, tubuh Alseenio sepenuhnya cokelat sawo matang, itu dikarenakan oleh Alseenio yang sering bermain panas-panasan bersama Fara.
Fara meskipun wajahnya tidak begitu cantik, ia memiliki kulit putih. Anehnya kulit wajah Fara tidak bagus dan banyak jerawat.
Alseenio hanya menanggapi dengan senyuman di wajahnya, dan tidak ingin berkomentar. Sebenarnya Alseenio sedang mencoba untuk menatap wajah Fara, dan berusaha untuk tidak menatap boba besar Fara.
“Nio, kenapa kamu memakai kacamata? Kamu sedang sakit mata?“ Fara yang mengamati wajah Alseenio sedikit heran, kacamata hitamnya dari awal tidak pernah dilepas.
“Tidak, mataku baik-baik saja.“
“Lalu, kenapa kamu tidak melepasnya? Tidak enak kalau berbicara denganmu seperti ini, rasanya seperti aku sedang berbicara dengan kacamatanya,” ucap Fara.
“Oh, oke.“
Setelah menyetujui permintaan Fara, Alseenio memegang kacamata dan langsung melepaskannya tanpa ada adegan dramatis atau adegan gerakan lambat.
Dalam sekejap, wajah tampan Alseenio ditampilkan tanpa ada bagian yang ditutupi.
Fara mengangkat tangannya untuk menghalau sinar yang muncul dari wajah Alseenio.
Sehabis cahaya menghilang, barulah Fara bisa melihat secara keseluruhan wajah Alseenio.
“Ternyata itu kamu?!“ Fara berdiri dari kursi dan menunjuk Alseenio dengan raut wajah yang terkejut.
“Aku? Ada apa denganku?“ tanya Alseenio yang bingung dengan Fara.
“Nio yang sedang panas di internet itu kamu, kan?!“
“Iya, itu aku!“ Alseenio menjawab tegas.
“Pantas saja aku familiar dengan wajahmu ketika kamu siaran langsung!“
“Lalu, kenapa?!“
“Tidak apa-apa!“
“Oh, oke!“
“Kamu kenapa ikut bernada tinggi juga?!“
“Maaf-maaf,” Alseenio meminta maaf karena telah keterusan berbicara dengan nada tinggi.
“Sepertinya kamu rindu dengan jeweranku, ya?“ Fara menunjukkan jari telunjuk dan ibu jarinya yang bergerak seperti capitan kepiting.
“Tidak, terima kasih.“ Alseenio menggelengkan kepala.
Mendengar ini Fara mendengus, “Huft!“
“Omong-omong, waktu kamu SMP menurutku kamu itu tampan, tetapi tidak setampan sekarang ini,” ujar Fara yang memandang wajah Alseenio tanpa tersipu malu, “jangan-jangan kamu memakai skincare, ya?“
“Skincare? Apa itu?“
“Kamu tidak tahu skincare? Perlengkapan untuk memutihkan dan merawat wajah?“ tanya Fara dengan aneh.
“Tidak, aku tidak memakai apa-apa, hanya air keran biasa,” jawab Alseenio dengan jujur.
“Masa sih? Aku tidak percaya.“
Alseenio mengangguk. “Benar, aku hanya menggunakan air keran atau air PAM.“
“Oke-oke,” Fara percaya Alseenio. “Kamu tidak apa-apa, 'kan? Semenjak papah sama mamah pergi?“
Begitu mendengar kata-kata Fara, Alseenio merasakan fluktuasi di hatinya, dan menjawab dengan senyum, “Tidak, aku baik-baik saja. Kamu bisa lihat aku sekarang aku masih sehat.“
“Kamu jangan sedih, ya. Kalau ada apa-apa bilang aku, nanti aku kasih nomorku.“ Fara menatap Alseenio dengan penuh kekhawatiran.
“Aku tidak apa-apa, di saat kamu pergi aku juga tidak ada masalah,” ucap Alseenio sambil tersenyum.
Seketika Fara tertegun, seketika rasa bersalah muncul di matanya yang bergetar.
“Maaf, Alseenio. Aku meminta maaf karena dahulu aku pergi tanpa memberi tahu kamu. Itu semua terjadi memang bukan karena aku, tetapi orang tua aku,” kata Fara sambil menundukkan kepalanya.
“Apakah sekarang kamu bisa menjelaskannya?“ tanya Alseenio dengan baik-baik.
Fara mengangkat kepalanya memandangi wajah serius Alseenio. “Kamu yakin ingin mendengarnya?“
“Ya, sejak kamu meninggalkanku begitu saja, aku selalu ingin tahu alasan kamu pergi tanpa pamit,” Alseenio mengangguk dan menjawab yakin.
Fara memandangi wajah Alseenio sejenak, menghela napas, dan siap menjelaskan.
__ADS_1
“Saat itu ….“