SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 45: Konten Adik Gemas


__ADS_3

Siluet hitam melaju cepat melewati banyaknya kendaraan yang melaju pelan di depannya, diiringi dengan suara garang yang seakan membuat takut orang.


Sosok itu adalah sepeda motor berwarna hitam yang melaju dengan kecepatan yang tinggi di jalan raya, orang yang mengendalikan sepeda motor ini begitu lihai sehingga di jalan yang sedikit ramai masih bisa meluncur licin tanpa terhambat.


Kecepatannya melebihi 120 kilometer per jam dan konstan minim pengurangan kecepatan, bahkan sesekali meningkatkan lajunya.


Orang yang mengendarai sepeda motor ini tampak sedang terburu-buru di mata orang lain, padahal kenyataannya tidak sama sekali.


“Sudah lama aku tidak memakai sepeda motor R6 ini, hanya dipanaskan setiap hari dengan singkat, rasanya masih sama dengan pertama kali dipakai.“


Pengendara sepeda motor yang cepat ini tidak lain dan tidak bukan adalah Alseenio bersama dengan R6 miliknya.


Di pagi hari ini, usai sampai dari Sukabumi perkampungan Fara, Alseenio langsung bersiap-siap untuk pergi menuju tempat pertemuan dengan teman kolaborasi yang sama-sama seorang Motovlogger.


Bukan Tim Semfack, tetapi dua orang yang dikenal dengan nama Dua Secoli ini masih memiliki hubungan dengan salah satu anggota Tim Semfack.


Alseenio berteman dengan Dua Secoli ini juga dikarenakan salah satu anggota Tim Semfack yang sempat mengirim pesan dengannya.


Pada kesempatan kali ini, Alseenio membawa R6 yang telah lama tidak dipakai, kalau ingin keluar pun biasanya membawa Zx-10RR.


Sudah satu jam lebih berada di perjalanan menuju Kota Bogor, Alseenio akhirnya sampai di jalan besar dekat Kebun Raya Bogor.


Alseenio berhenti di Tugu Kujang untuk mengabari terlebih dahulu kepada Dua Secoli.


“Halo, Bang Nio!“ Suara pria muda terdengar di Aerpod yang terpasang di telinga kirinya.


“Halo.“


“Di mana, Bang? Kami berdua ada di Tugu Kujang, kita tunggu di situ,” kata Pria muda yang sedang bertelepon dengan Alseenio.


“Tugu Kujang bagian mana? Kebetulan aku sedang di Tugu Kujang juga.“


“Bang Nio ada di sini?! Kenapa enggak bilang? Kami ada di barat dari Tugu Kujang.“


Setelah mendengar ini, Alseenio segera melihat ke sekelilingnya dan mencari sosok dua pemuda ini.


Ketika melihat ke arah sekitarnya, Alseenio menemukan dua sepeda motor KLX atau supermoto di depannya yang sedang parkir, tetapi tidak ada orangnya.


“Bukannya ini sepeda motor punya Dua Seco—”


“Bang!“


Tiba-tiba saja dari belakang ada orang yang mengagetkan Alseenio, untungnya Alseenio sudah tahu lebih dahulu berkat insting bertarung Taekwondo dan bereaksi seperti biasa.


Alseenio hanya sedikit tersentak karena suara mereka berdua yang kencang hingga menembus pelindung helm.


“Hahaha, benar kataku juga, Bims. Itu Bang Nio.“ Salah satu pemuda yang masih mengenakan helm berkata kepada temannya.


“Iya, Dils. Ternyata Bang Nio sudah sampai, haha.“


Mereka berdua adalah Dua Secoli, mereka memiliki nama, yaitu Pandil dan Bima.


Mendengar obrolan mereka, Alseenio cuma bisa menggelengkan kepalanya dan turun dari sepeda motornya.


Sifat mereka berdua sama dengan seperti di video Yitub di channel mereka, ternyata apa yang ada di video itu aslinya mereka tanpa gimik.


Konyol, tengil, dan lucu.


Alseenio bersalaman dengan mereka berdua dan berkenalan satu per satu dengan keduanya.


“Keren banget sepeda motor ini, warnanya menarik mata dan enak dilihat.“


“Benar, Bims. Tubuh sepeda motornya juga kelihatan gagah.“


Mereka berdua menyoroti sepeda motor Alseenio dengan kamera di helmnya sekaligus mengomentari.


Selain itu juga mereka meminta izin untuk mencoba menaiki tanpa menyalakan mesinnya, hanya ingin mencoba bobot sepeda motor ketika sedang tidak berjalan.


“Hari ini mau ke mana, Bang?“ tanya Pandil kepada Alseenio.


Mereka bertiga berdiri di trotoar sesaat untuk mendiskusikan mereka bertiga hari ini ingin membuat konten ke mana. Pasalnya, semalam Alseenio hanya membuat janjian pertemuan saja tanpa tahu apa isi kolaborasi, hari sudah malam dan Alseenio juga terpaksa tidur karena keluarga Fara sudah tidur. Mereka tidak mengobrol lama di Instagrem.


Omong-omong, mereka berdua tinggi berkisar 180 cm ke atas, tentu masih lebih tinggi Alseenio.


“Biasanya kalian berdua ke mana kalau membuat konten?“ Alseenio balik bertanya pengganti dirinya menjawab.


“Kalau kami berdua biasanya bikin vlog di sekitaran Bogor saja, seperti ke Pakansari dan lain-lain,” jawab Bima menatap Alseenio yang hanya terlihat sepasang matanya.


“Kalau begitu … kita ke sana saja.“


“Oke, kita pergi ke keliling Bogor. Ayo berangkat, Bang Nio.“


Mereka bertiga sepakat untuk berkeliling daerah Bogor untuk hari ini.


Alseenio pun tidak keberatan dengan pilihan ini, terlebih juga Alseenio belum pernah berkeliling Bogor dengan sepeda motor, ia selalu menaiki transportasi kereta setiap kali berlibur ke Bogor.


Dua Secoli menyalakan mesin sepeda motornya masing-masing, Alseenio pun ikut menyalakan mesin R6.


Raungan dasar knalpot sepeda motor Alseenio berbunyi dan tidak terlalu berisik.


Akan tetapi, orang-orang yang berjalan di atas trotoar banyak yang mengalihkan pandangannya ke sepeda motor Alseenio.


Vroom!

__ADS_1


Dua Secoli melajukan sepeda motornya dan diikuti oleh Alseenio, mereka bertiga berangkat menuju jalan raya di dekat Stadion Pakan Sari.


Di jalan raya menuju ke lokasi tujuan, mereka bertiga bercanda ria dan mengobrol sambil mengendarai sepeda motor.


Masing-masing dari mereka juga berinteraksi dengan penonton khayalan melalui kamera. Alseenio telah membuka video sejak awal dia pergi ke Bogor, rencananya perjalanan dia ke Bogor akan dijadikan video yang terpisah, total video hari ini akan ada dua konten.


“Bims, ada perempuan tuh di depan, arah jam 11,” ujar Pandil yang tak sengaja melihat dua perempuan di satu sepeda motor berboncengan.


Bima menggerakkan matanya memandang ke arah depan sesuai dengan arahan Pandil, dan benar saja ia langsung melihat wanita atau perempuan di depan mereka bertiga. Terlalu fokus ke jalan sehingga Bima kurang memerhatikan sekitarnya.


“Woah! Gas enggak nih, Dils?“ tanya Bima yang bersemangat.


Ketika mendengar pertanyaan Bima, dengan spontan Pandil berkata, “Coba tanya Bang Nio dahulu.“


“Oke!“


Mereka berdua memakai interkom yang saling terhubung, tidak perlu berkata kencang dan berdekatan ketika berkendara agar suara satu sama lain terdengar saat mengobrol.


Bima menarik gas sepeda motor supaya ia bersampingan dengan Alseenio.


Alseenio ada di depan mereka, tetapi dua perempuan tersebut sedikit lebih jauh dari Alseenio.


“Bang! Mau dekati perempuan itu atau enggak?“ tanya Bima dengan suaranya sedikit dikeraskan.


“Perempuan di depan?“


Sedari tadi Alseenio sudah tahu keberadaan dua perempuan naik satu sepeda motor ini.


“Iya, Bang. Bagaimana menurutmu?“


“Terserah, aku ikut saja.“


Alseenio bebas dengan pilihan mereka, ia ikut saja apa yang mereka lakukan, asalkan tidak ilegal dan tidak membahayakan orang.


“Baiklah.“


Bima memberitahukan kepada Pandil bahwa Alseenio setuju dengan ajakannya, dan akhirnya mereka berdua yang mengeksekusi pertama kali.


“Pepet, Bims. Jangan sampai lolos!“ Pandil berkata sambil mengejar dua perempuan yang belum tahu bahwa mereka berdua menjadi mangsa Dua Secoli.


“Sabar-sabar, agak macet ini, susah dekatnya.“


Bima berusaha untuk mendekati sepeda motornya dengan sepeda motor bebek yang dibawa dua perempuan ini.


“Mbak-mbak, saya mau tanya,” ujar Bima yang akhirnya bersebelahan lajunya dengan sepeda motor dua perempuan ini.


“Ya, apa?“ kata perempuan yang diboncengi.


Dua perempuan ini perlahan meminggirkan sepeda motornya dan Bima berhenti di depannya, sedangkan Pandil berhenti di belakangnya, perempuan-perempuan ini dihimpit oleh Dua Secoli.


Melihat operasi keduanya yang kompak terhadap mangsa, Alseenio tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, mereka berdua memang cakap dalam masalah ini.


Alseenio berhenti dan mengisi kekosongan di antara kepungan Dua Secoli.


“Mau tanya apa?“ tanya Perempuan yang duduk di belakang jok.


Dua perempuan ini tampak bingung dan waspada. Mereka tidak mengerti kenapa tiba-tiba didekati orang asing.


Bima merasakan kecanggungan ini dan berkata, “Ini teman saya mau bertanya, Mbak.“


“Hah?“ Pandil bingung dengan tindakan Bima.


Melihat ekspresi Pandil, Bima sedikit tertawa dan membujuknya untuk bertindak agar tidak makin canggung.


“Anu, kita kesasar, Mbak. Tadinya kita mau ke Bandung, jadinya malah ke sini, Mbaknya tahu ini daerah apa?“ tanya Pandil yang berpura-pura bingung.


“Jauh atuh kalau ke Bandung bisa nyasar ke sini, ini daerah Cibinong, Aa,” Perempuan yang duduk di belakang menjawab dengan nada sedikit ke logat orang Sunda.


Setelah mendengar jawaban ini, Bima dan Pandil mengangguk pura-pura mengerti.


Melihat suasana agak canggung lagi, Pandil memberi kode dengan cara-cara bisik-bisik melalui interkom, “Bims, giliranmu, coba tanya, jangan aku terus.“


“Santai-santai,” kata Bima ringan.


“Kalau ke Pakansari ke arah mana, ya?“ Bima bertanya sambil menatap dua perempuan ini yang cukup cantik dengan mata yang bingung.


Kali ini yang menjawab ialah wanita yang menyetir.


“Lurus saja ke depan nanti juga ada bacaan jalurnya yang mengarah ke Stadion Pakansari, Aa.“ Perempuan ini menunjuk ke arah depan.


“Oh … gitu.“ Pandil dan Bima mengangguk hampir bersamaan.


Segera, Alseenio yang bergerak sekarang, ia bosan kalau menonton saja.


“Aku mau tanya juga, kalau itu ke mana?“ tanya Alseenio yang tidak jelas.


“Itu?“ Kedua Perempuan ini tidak mengerti apa yang Alseenio tanyakan.


“Iya, itu yang itu, Mbaknya enggak tahu?“ tanya Alseenio dengan serius.


Pandil dan Bima menyaksikan penampilan Alseenio dan ingin tahu apa yang akan dilakukan Alseenio.


Dua Perempuan masih tak mengerti dan berkata, “Itu apa? Tanyanya yang jelas, Aa.“

__ADS_1


“Itu … masa kalian enggak tahu, itu nama kalian berdua,” ucap Alseenio sambil tersenyum di balik masker helm.


“Ihh~… bilang dari tadi, Aa. Kenapa rumit kayak begitu,” Wajah kedua perempuan ini memerah dan berkata sedikit kesal.


Dua Secoli juga tersenyum dan memuji Alseenio karena suasana tidak lagi canggung.


“Aku Putri,” jawab Perempuan cantik yang mengendarai sepeda motor.


“Kalau aku Gina,” tambah Perempuan yang duduk di belakang jok sepeda motor.


Perempuan bernama Putri dan Gina ini cukup cantik, dari mata Sexeyes Alseenio tercantum bahwa penampilan mereka berdua ada di angka 75 poin.


Di sekolah sepertinya mereka berdua menjadi perempuan yang cukup terkenal.


Akan tetapi, kemurnian mereka tidak 100 poin, melainkan ada di bawah 95 poin, berarti mereka tidak murni polos dan lugu.


“Kenalkan, aku Bima.“


“Aku Pandil anak Bang Candil.“


Dengan sigap, Dua Secoli ini berkenalan dengan dua perempuan ini, menurut mereka perempuan ini mulus dan licin, sayang apabila tidak berkenalan dan berteman.


“Aku Asep,“ Alseenio mengungkapkan namanya kepada Dua Perempuan ini.


Selepas itu, Dua Secoli yang terakhir mengeksekusi, mereka minta nama Instagrem Putri dan Gina, lalu saling ikut mengikuti di akun Instagrem.


“Jago juga Bang Nio ini.“


“Benar, enggak disangka Bang Nio hebat dalam berkenalan dengan perempuan yang tidak dikenal.“


“Bagus sih daripada diam enggak bantu sama sekali, video kali ini bakal seru. Kita cari lagi, Dils!“ ajak Bima yang bersemangat.


“Cari adik gemas saja sekalian, kita ke sekolahan dekat sini.“


“Ide bagus!“


Bima memberi tahu lagi ide Pandil yang mencari adik gemas di sekolahan kepada Alseenio.


Mengetahui ide ini, Alseenio menyetujui rencana mereka tersebut.


Namun, Alseenio tidak akan antusias dan agresif seperti sebelumnya, ia harus menjaga cerminan kepribadiannya agar tidak disangka yang tidak-tidak oleh netizen.


Mereka bertiga melaju mencari sekolah yang masih masuk di hari ini, sebagian besar sekolah yang ada di Bogor sudah menerapkan hari libur di setiap hari sabtu, hal itulah yang membuat mereka berusaha lebih untuk mencari sekolahan.


Butuh setengah jam lebih untuk menemukan satu sekolah yang masih buka di hari Sabtu.


Mungkin karena mereka bertiga sampai di jam 12 siang lewat sekian menit, para pelajar telah pulang dan sekarang sedang keluar dari sekolah.


“Cantik-cantik anak SMA di sini, Bims,” kata Pandil yang senang melihat perempuan cantik berseragam sekolah yang keluar dari gerbang sekolah.


Bima mengangguk dan ia melihat-lihat perempuan yang masih duduk di bangku sekolah sedang jajan di pinggi jalan, di luar sekolah banyak sekali orang yang berjualan. “Kita cari lagi yang cocok, Dils.“


“Ayo!“ seru Pandil penuh semangat.


Bima dan Pandil memberi isyarat kepada Alseenio untuk mengikutinya, mereka memiliki rencana lagi.


Tidak butuh waktu yang lama bagi Dua Secoli ini untuk menemukan mangsa.


Tidak jauh dari sekolah, mereka berdua memberhentikan dua perempuan yang berseragam SMA putih abu-abu di pinggir jalan.


Kesempatan kali ini, mereka tidak memakai cara pura-pura, nyasar tetapi metode yang lain.


“Eh, kalian bukannya yang lewat di beranda Tiktod aku, ya?“ celetuk Bima si Pemberani.


“Iya, aku juga pernah lihat kalian berdua muncul di beranda Tiktod,” tambah Pandil untuk meyakinkan.


“Tiktod? Siapa itu? Kami enggak tahu ….“ Dua perempuan yang masih bersekolah ini bingung dengan sangkaan Dua Secoli.


Menurut mereka, video mereka belum pernah masuk ke beranda orang lain dan terkenal, sejak kapan mereka berdua terkenal.


Ketika Alseenio menyaksikan kedua perempuan ini yang bingung dan menyangkal dugaan Dua Secoli, sontak ia mendengar bunyi peringatan sistem di telinganya.


[Ding! Misi Sampingan Telah Terdeteksi!]


Judul Misi : Dikenal oleh Anak Sekolah.


Misi : Buat anak sekolah ini mengenali Tuan Rumah.


Waktu : 5 Menit.


Hadiah : 1x Kotak Misteri.


Hukuman : Tidak bisa melihat selama 20 tahun.


[Misi otomatis diterima!]


Ekspresi Alseenio seketika berubah dan ia segera mengambil langkah untuk menyelesaikan misi.


“Aku enggak tahu, Aa. Siapa yang ada di beranda Tiktod punya Aa.“ Kedua perempuan ini terus menyangkal Dua Secoli.


Namun, Dua Secoli ini terus menekankan bahwa mereka berdua pernah melihat dua perempuan ini di beranda Tiktod.


Alseenio membuka helmnya dan masker helm, lalu ia berkata “Kalau begitu … apakah kalian tahu siapa aku?“

__ADS_1


__ADS_2