
“Aku, aku, aku diajak oleh Cantika ke rumahnya Minggu nanti.“
Mendengar kabar dari Fandick, membuat Alseenio lega sekaligus senang.
Wanita yang datang bersama keluarga ke restoran tempat dirinya bekerja ternyata sungguhan Cantika Pusi. Kemungkinan besar nama yang disebutkan untuk penanda meja atau atas terima adalah nama dari ayah Cantika, Dandi Mahalbet.
Dengan hati yang senang, Alseenio menjawab, “Syukurlah, berarti kamu ada kemungkinan besar untuk lolos seleksi keluarga Cantika. Jangan gugup dan percaya diri. Beri tahu kelebihan dirimu, tetapi jangan berbohong, dan paling penting jadilah dirimu sendiri, jangan tampil dengan gaya orang lain.“
“Shappp!“ Fandick berkata dengan keras dari telepon.
Alseenio jadi teringat sebuah video yang lucu dan kemudian ia mempraktikkan dialog video tersebut. “Tentara harus hitam!“
“Shapp!“
“Minimal seperti kamu ini!“
“Shapp!“
“Hahaha!“
Mereka berdua tidak tahan lagi, ledakan tertawa datang dari keduanya.
“Jangan jadi pembalap, Bang Nio.“
“Tidak, aku hanya mengikuti dialog video lucu yang terkenal beberapa waktu yang lalu. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk menghina ras, etnis, suku, dan lainnya.“ Alseenio menjadi panik.
“Hahaha. Santai, Bang Nio.“ Fandick tersenyum mendengar suara Alseenio yang terdengar panik. “Kalau begitu, terima kasih atas sarannya, Bang. Mungkin aku butuh bantuanmu Minggu nanti.“
“Bantuan apa?“ Alseenio menjadi penasaran dengan kalimat Fandick
“Aku pergi dari Bandung menuju ke Jakarta sehari sebelum hari aku berangkat ke sana. Pasalnya, Cantika bilang dia harus ada di sana pagi hari karena orang tuanya masih ada di rumah kalau pagi. Kemungkinan besar aku akan menginap di Jakarta, entah di Bang Windi atau di kamu, itu pun kalau boleh. Hehe ….“
Alseenio paham maksud Fandick, ia mengangguk dan tak mempermasalahkan niat Fandick. “Ke rumah aku saja. Jangan canggung, masih banyak kamar di sana. Mansion selalu terbuka untukmu.“
“Waduh, terima kasih banyak, Bang Nio. Aku akan ke sana di hari Sabtu.“ Di balik telepon, Fandick menggaruk pelipisnya yang terasa gatal, dia merasa tidak enak kepada Alseenio karena telah banyak merepotkan.
“Tidak mengapa. Malah bagus jika banyak tamu ke rumah. Kalau sepi, rumah terasa angker dan seram.“
“Haha. Baik, aku paham, Bang Nio. Aku ada keperluan dengan Bang Luffi. Terima kasih, Bang Nio!“
“Sama-sama. Salam untuk Bang Luffi di sana.“
“Shapp!“
__ADS_1
Panggilan ditutup setelah Alseenio dan Fandick tertawa bersama.
“Benar saja. Wanita itu adalah Cantika yang datang bersama keluarga besarnya. Semoga saja Fandick berhasil lolos dari penilaian keluarga Cantika.“ Alseenio menatap ponselnya yang masih menampilkan gambar riwayat panggilan berakhir dengan Fandick.
Setelahnya, Alseenio memasukkan kembali ponselnya dan menyalakan mesin sepeda motor.
Vroom!
Raungan dahsyat dari knalpot sepeda motor berbunyi keras meramaikan jalan raya.
Dengan kecepatan yang sangat tinggi, sosok Alseenio dan sepeda motornya melesat hingga hanya terlihat seperti bayangan hitam yang membelah jalanan.
Tak perlu waktu yang lama untuk Alseenio sampai di mansion. Belasan menit kemudian Alseenio sudah sampai di mansion dan duduk bersantai bersama anggota keluarga.
“Kamu tidak bercanda, kan?“ Fara menatap Alseenio dengan wajah yang terkejut setelah diceritakan tentang peristiwa yang terjadi hari ini.
Alseenio mengangguk dan tersenyum meyakinkan. “Benar, Sayang.“
“Ada apa ini?“ Bella yang baru turun dari kamar bersama Gondals menjadi penasaran dengan obrolan Alseenio dan Fara.
Di ruang keluarga hanya ada Alseenio dan Fara. Orang tua Fara sudah tidur jam 12 malam.
Biasanya para bujangan dan anak muda yang begadang, seperti mereka berempat ini.
Duduk di sofa yang lain. Bella dan Gondals tertarik dengan informasi ini.
“Bukannya itu bagus?“ Gondals menatap Alseenio dan Fara.
Mendengar ucapan Gondals, Alseenio dan Fara menanggapi secara bersamaan. “Memang bagus.“
“Lalu? Apa yang dipermasalahkan?“
Bella menjadi bingung dengan titik obrolan mereka berdua. Sebelumnya, mereka dengan dari jauh, obrolan mereka begitu antusias.
Mengapa isinya membosankan seperti ini?
“Tidak ada, aku hanya memberi tahu informasi tersebut kepada Fara.“ Alseenio menggelengkan kepalanya.
“Oalaaa ….“ Gondals dan Bella menepuk keningnya begitu tahu isi sebenarnya dari obrolan mereka.
“Teman kamu itu yang wanita atau yang laki-laki?“
“Laki-laki, dia pernah datang ke sini. Wajahnya memiliki banyak luka jerawat,” jelas Alseenio kepada Bella dan Gondals.
__ADS_1
Orang ini tidak terlalu diingat oleh keduanya. Jadi, butuh waktu sejenak untuk mereka mengingat orang dimaksud Alseenio.
“Oh! Aku tahu. Orang itu yang suka melawak dan memberikan lelucon tak terduga, kan?“ Gondals sepertinya ingat Fandick.
Alseenio dan Fara langsung merespons dengan anggukan kepala. “Itu benar.“
“Dia yang disuruh ke rumah pacarnya?“ Bella makin penasaran dan ia mulai bertanya-tanya.
“Iya. Wanitanya bertemu saat kita liburan di Kota Shanghai ….“
Sebuah cerita pertemuan cinta Fandick dibeberkan oleh Alseenio dan Fara kepada Bella dan Gondals.
Mendengar cerita ini, Bella dan Gondals menyimak penuh perhatian. Ceritanya cukup menarik untuk didengar sebagai dongeng tidur.
Akan tetapi, ini adalah cerita yang terjadi di dunia nyata, bukan dongeng ataupun novel
“Wow! Fandick beruntung sekali!“ seru Gondals yang kagum dengan keberuntungan Fandick.
Mata Bella membulat begitu mendengar cerita cinta Fandick.
Bella duduk di sofa sambil mengelus jari besar Gondals, yaitu suaminya. Menatap Alseenio dan Fara, kemudian dia berkata, “Mungkin saja itu adalah sebuah timbal balik atas perbuatan baik yang pernah dilakukan Fandick. Dia setia dengan pasangan, bahkan tetap sabar meski tahu dirinya diduakan oleh wanita yang tak pantas diperjuangkan. Takdir memang menjadi misteri, kita tidak tahu apa yang terjadi nanti. Fandick sekarang telah mendapatkan ganjaran atas kebaikan yang ia perbuat.“
“Semoga saja seperti itu.“ Alseenio mengangguk setuju dengan pernyataan Bella.
Diam-diam Fara masuk ke dalam pelukan Alseenio dan menyimak ucapan Bella.
“Kita sebagai manusia, memang harus berbuat yang baik. Perkecil keburukan yang kita perbuat. Pada dasarnya, semua di dunia ini memiliki kausalitas. Semua sebab pasti ada akibat dan akibat tentunya ada sebab. Sama halnya dengan perbuatan dan peristiwa yang terjadi kepada kita, itu semua ada di lingkungan kausalitas dunia,” ucap Gondals dengan wajah yang serius.
Mereka berdua ketika mengobrol serius terasa seperti sepasang pemimpin mafia atau kelompok yang berkuasa.
Alseenio merasakan temperamen mereka yang keras. Namun, di hadapan Alseenio, temperamen mereka tidak berguna sama sekali.
Fokus pada ucapan Gondals, Alseenio sependapat dengan kalimatnya.
Kemungkinan besar, Fandick memang sudah saatnya mendapatkan konsekuensi baik dari perbuatannya dahulu. Rela bersabar meski tahu pacarnya selingkuh ketika jalan berdua bersamanya. Sangat miris dan kasihan.
Mereka berempat mengobrol selama setengah jam hingga akhirnya mereka pamit untuk pergi ke kamarnya masing-masing.
Besok, Alseenio mendapatkan jadwal siang hari lagi dan ia harus ikut penutupan toko yang penuh oleh tugas.
Tidak masalah, Alseenio harus melakukan pekerjaan ini dengan sepenuh hatinya.
“Widih! Bang Asep makin tampan saja.“
__ADS_1