SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 224: Nostalgia


__ADS_3

"Aku sadar, kehidupan ini tidak bersifat statis, melainkan dinamis yang dapat berubah kapan pun jika takdir mau dan mengizinkan.


"Ada kalanya kebahagiaan menghilang, dan kesedihan datang.


"Ada saatnya mereka bersama kita, dan meninggalkan kita.


"Hidup memang tempatnya untuk bersama dan berpisah, hanya hati yang tulus yang dapat menghadapi peristiwa kepergian yang muncul di kehidupan tanpa merasakan banyak kesedihan.


"Sayangnya, merelakan kepergian orang tersayang bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Aku di sini sendirian merasakan kesepian yang kian mendalam, mencoba hidup tanpamu di sisa usia, berusaha untuk tetap bisa bertahan sampai kematian tiba, dan mengirimku ke sisimu agar kita bisa kembali bersama selamanya."


Seorang pria tua sedang membacakan surat yang baru saja ditulis olehnya, pria tua itu duduk di kursi taman sendirian tidak ada satu pun orang yang menemaninya.


"Bella, Gondals, Orang tua Fara, Bang Windi, Ryan, Niara, Fandick, Cantika, Tiara, Om Daddy, Rara ...."


Pria tua itu adalah Alseenio yang sedang menyebutkan nama-nama orang yang dia kenal. Semua nama yang disebutkan Alseenio telah meninggal dan tidak ada lagi di dunia.


Sudah 50 tahun berlalu sejak kepergian Fara. Dunia telah banyak berubah, Alseenio yang tampan masih mempertahankan ketampanannya, tetapi wajahnya sudah mulai ditutupi oleh keriput dan garis-garis halus.


Ketampanan tak lagi Alseenio favoritkan, kekayaan tidak berarti lagi untuk sekarang, pertemanan satu per satu menghilang, kini hanya ada dia sendiri di taman, tanpa ada yang melihatnya duduk di kursi dengan kesepian.


Taman rumah Alseenio yang mewah tetap rindang dengan burung-burung Huia berterbangan, tetapi suasananya berbeda, tidak ada Fara yang duduk di sisinya.


Rumah mewah hanyalah pajangan untuk Alseenio di masa tua, tidak lagi berfungsi sebagai rumah karena di dalamnya hanya ada kekosongan yang kuat dan menyelimuti seluruh ruangan.


Tidak ada orang di sana, tak ada yang mengurus rumah, pembantu yang melayani Alseenio pergi lebih dahulu dan entah ke mana.


Gedung-gedung pencakar langit mengelilingi rumah Alseenio yang sekarang, dia masih populer di masa depan, tetapi orang-orang di puluhan tahun ke depan sangat berbeda dengan Alseenio kenal.


Teman-teman artis dahulu yang sempat berkolaborasi sudah tiada di dunia, semua yang ada di atas perlahan diganti oleh pendatang.


Hidup di sini terasa asing, Alseenio ingin pergi dari dunia ini, tetapi tidak tahu bagaimana caranya.


Apakah dia harus bunuh diri?


Itu sangat melawan prinsip dan etika yang sudah dibangun berpuluh-puluh tahun di dalam dirinya.


Bunuh diri bukan jalan yang tepat.


Bangkit dari kursi taman, tubuh Alseenio yang masih berdiri tegak melirik kursi berdebu ini.


Sebuah fragmen ingatan kembali diputar di benaknya, peristiwa indah di mana dirinya masih muda duduk bersama dengan istri tercintanya, mulai dari hubungan pacaran hingga Fara hamil delapan bulan.


"Waktu berjalan begitu cepat, aku sampai tidak sadar bahwa semua itu telah berlalu lama. Rasanya, baru kemarin dia pergi selamanya ...."


Sudut bibir Alseenio sedikit bergetar, matanya sudah memerah, tetapi senyuman di wajahnya menenangkan seluruh tubuh dan hatinya.


Alseenio menggelengkan kepalanya, berbalik menghadap rumah yang memiliki banyak sekali kenangan indah yang pernah dilalui bersama.


Langkah demi langkah Alseenio lakukan hingga dirinya masuk ke dalam rumah yang kotor dan tidak terawat.


Beberapa tumbuhan kecil dan lumut menghiasi dinding, langit ruangan, dan lantai, sangat lusuh dan tidak layak digunakan untuk tempat tinggal.


Triring!

__ADS_1


Sebuah panggilan ponsel berbunyi, tetapi Alseenio tidak mengambil ponselnya lagi, melainkan membuka sebuah benda kotak kecil berwarna hitam hampir transparan.


Kotak itu memanjang dan memancarkan cahaya dengan banyak warna.


Sebuah gambar ditampilkan di benda mirip ponsel ini, sebuah wajah dari wanita yang cantik dan disayangi oleh Alseenio, yaitu istrinya, Fara.


Alseenio menempelkan kotak yang memanjang itu di dadanya dan secara otomatis menempel di pakaian jas hitamnya.


Sebuah suara datang dari benda kotak itu, terdengar sangat familier dan akrab bagi Alseenio.


"Halo, Sugi?"


Panggilan datang dari Sugi yang masih hidup, tetapi dia sudah tidak lagi bekerja sama sebagai asisten pribadi.


Sugi kembali ke Jepang beberapa puluh tahun yang lalu, membangun bisnis sendiri dengan modal dari Alseenio.


Kini dia sukses dan memiliki keluarga besar sendiri. Berbeda dengan Alseenio, dia sendirian tidak ada satu pun anggota keluarga.


"Tidak perlu, urus saja keluargamu. Jangan khawatir, aku di rumah lamaku, masih ingat, bukan?"


Alseenio sedikit tersenyum mengobrol bersama Sugi di panggilan telepon, perlahan ia berjalan melihat-lihat keadaan rumah.


"Kamu masih ingat dengan sofa ini? Kamu sering duduk di sini bersama istrimu, Fani, aku masih ingat jelas tindakan kikukmu di sini, hahaha. Bagaimana kabarnya dia sekarang?"


"..."


"Syukurlah, aku senang kamu dan dia masih sehat sampai sekarang."


Alseenio pergi ke ruang keluarga sambil menceritakan apa yang pernah terjadi di sana. Berikutnya, Alseenio pergi ke ruang dapur hingga ke tempat parkir bawah tanah yang ternyata masih ada banyak mobil mewah yang telah berkarat.


Benda-benda mewah ini tidak lagi berharga bagi Alseenio. Sengaja Alseenio tinggalkan bersama rumah ini sebagai kenangan-kenangan.


Pada akhirnya, Alseenio tiba di dalam kamar Fara, di saat itu juga Alseenio mematikan panggilan telepon dengan Sugi.


Tangan Alseenio terulur ke arah banyak bingkai foto di atas meja yang rapuh.


Gambar diri Fara di banyak usia bisa Alseenio lihat sekarang, bahkan foto Alseenio masih muda berpose bersama Fara ada banyak yang dipajang di sini.


Nostalgia masa muda yang indah, masa-masa paling indah dan terbaik bagi Alseenio.


Bersama merupakan bagian hidup paling membahagiakan untuk Alseenio.


Dia adalah wanita yang hebat, wanita yang mampu menerima kelebihan dan segala kekurangannya.


Tidak ada wanita yang lebih baik dari dia.


Mengambil salah satu foto di meja, Alseenio memandangi wajah mendiang istrinya yang cantik dan rupawan.


Air mata sudah mengalir di pipi Alseenio, menetes dan membasahi kaca bingkai foto ini.


"Aku masih mencintaimu sampai saat ini, sesuai dengan janji kita di pernikahan waktu itu, aku akan setia selamanya bersamamu, bahkan sampai kehidupan berikutnya ... aku tidak akan mengecewakanmu—aku bukan pria murahan yang mementingkan ego sendiri .... Pilihanku tidak berubah, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup, dan itu hanya denganmu seorang," gumam Alseenio dengan senyum di wajahnya.


Genangan air mata masih mengalir di wajah Alseenio, terus jatuh ke bingkai foto kecil yang ia pegang.

__ADS_1


"Jika waktu bisa terulang, aku akan menjagamu dengan ekstra, menikmati waktu bersamamu lebih banyak, dan tidak akan pernah melepaskan pelukan pada tubuhmu selamanya."


Setelah mengatakan itu, Alseenio meletakkan kembali bingkai foto tersebut di atas meja.


Dia mengambil kain kecil untuk menyeka matanya, sebuah kain yang terdapat tulisan yang dijahit oleh Fara, bertuliskan bahwa dia mencintai Alseenio sama seperti dirinya mencintai keluarganya.


Nostalgia telah berakhir, sudah tiba waktunya untuk pulang kembali ke kehidupan nyata, melanjutkan cerita hidup yang belum tamat.


Tepat ketika Alseenio ingin membuka pintunya, sebuah keanehan terjadi, suara Burung Huia berkicau telah menghilang dan semuanya sunyi seketika.


Alseenio berbalik ke dalam kamar dan melirik pemandangan luar dari jendela kamar Fara.


Burung-burung Huia yang banyak di dahan pohon telah menghilang sepenuhnya.


Pupil mata Alseenio membesar, sesuatu telah ia ketahui.


Menundukkan pandangan menatap kedua tangannya, mata Alseenio terlihat bingung seraya bergumam, "Perasaan ini, aku pernah merasakannya —"


"Sayang."


Sebuah suara wanita yang manis memasuki telinganya, membuat Alseenio terdiam mematung lupa bergerak.


Kepalanya perlahan menoleh dengan kamu ke arah suara itu muncul.


Di detik berikutnya, wajah Alseenio melebar dengan pupil mata terbelalak.


Kedua kaki Alseenio bergerak mundur ke belakang dengan cepat. Ekspresi Alseenio dipenuhi ketidakpercayaan terhadap apa yang ia lihat sekarang.


Namun, sebuah barang yang terjatuh di lantai membuat kaki Alseenio tersandung dan terjungkal ke belakang.


Tubuhnya yang cukup tua tidak bisa bereaksi cepat menahan tubuhnya terjatuh.


Dengan begitu, tubuh Alseenio menabrak kaca jendela yang tertutup dan menerobos jatuh ke bawah.


"Tidak!"


Alseenio melambaikan tangannya ke atas menggapai angin untuk mencoba menyelamatkan diri.


Pada akhirnya, tubuh tua Alseenio mendarat di tanah dengan posisi kepala menyentuh tanah terlebih dahulu.


Sebelum Alseenio sadar bahwa kegelapan sudah mendominasi seluruh penglihatannya, sebuah cahaya terang mengembalikan kesadarannya yang menghilang.


Kesadaran Alseenio makin kuat seiring cahaya terpancar lebih terang setiap waktunya.


Sebuah ingatan kembali muncul, Alseenio tahu apa yang telah terjadi dirinya. Namun, Alseenio tidak berkomentar dan berpikiran.


Penglihatan yang gelap bisa dirasakan, Alseenio dengan hati-hati membuka matanya untuk melihat apa yang telah terjadi kepadanya setelah peristiwa jatuh.


Mata Alseenio bergetar beberapa kali, sedikit demi sedikit kelopak matanya terbuka dan melihat apa yang ada di depannya.


Pupil mata Alseenio yang bingung langsung berubah menjadi pandangan yang terkejut tak tertahankan.


Dengan bibir bawah bergetar, Alseenio berkata, "Sa–sayang ...."

__ADS_1


__ADS_2