
“Yang benar saja, Rino Caca Marica Hei Hei! Kalau kentut jangan di sembarang tempat,” Candy berkata dengan wajah yang malas.
Ekspresi terpana rusak akibat suara kentut yang datang tanpa diundang, kentut tersebut berasal dari liang Rino Caca yang suka makan.
“Hehe, maaf-maaf, disengaja soalnya,“ Rino terkekeh secara tidak langsung mengakui bahwa dirinya adalah pelakunya.
“Bau banget kentut kamu, No!“ Bang Windi mengibaskan tangannya di depan hidungnya bertujuan untuk membubarkan bau busuk yang datang.
“Iya, nih!“
Agnis, dan para perempuan pun segera menjauh dari Rino sembari mengipasi dengan tangannya bau yang ada di sekitar hidungnya.
Alseenio juga mencium bau kentut yang aromanya bagai telur busuk yang disimpan beberapa hari lamanya.
Bang Windi segera mengaktifkan kipas angin yang ada di sudut ruangan, tidak lama kemudian aroma bau busuk menghilang.
“Balik lagi ke intinya, Bang Nio adalah pemegang saham GoTe?“ tanya Bang Windi memastikan ucapan Alseenio yang sebelumnya.
“Iya, lihat saja ini, Sayang,” Agnis berkata sambil memperlihatkan layar kaca ponselnya yang terdapat nama pemegang saham GoTe di halaman Gugel. “Nama AA di situ adalah Bang Nio.“
Mata Windi terbelalak melihat layar ponsel tak percaya, lalu ia menatap Alseenio seakan meminta konfirmasi dari Alseenio secara langsung.
Melihat ini, Alseenio langsung menanggapi dengan anggukkan kepala, data yang berada di Gugel hampir akurat.
Segera, semua anggota tim Jaya Exford ikut melihat data tersebut dan membacanya, dan kemudian satu per satu menatap Alseenio dengan wajah yang tercengang.
“Sepuluh persen saham dari perusahaan GoTe kamu yang pegang, Bang Nio?“ Candy masih tidak memercayai kenyataan ini dan ia masih bertanya lagi.
Alseenio mengangguk dan menjawab, “Benar, kurang lebih sepuluh persen aku yang pegang.“
“Woah! Berapa miliar pendapatannya, Bang Nio?“
“Ratusan, mungkin,” kata Alseenio yang tidak ingin menyebutkan hasil pendapatannya dari perusahaan GoTe.
Bang Windi dan teman-teman hany bisa menggelengkan kepala dan menghela napas, tidak heran apabila Alseenio mendonasikan uang melalui Candy.
Pada dasarnya, orang kaya sulit dimengerti, mereka terlalu banyak dalam memiliki uang sehingga mereka bingung dengan bagaimana caranya menghabiskan uang yang dipunya, dan dari situ terjadilah peristiwa seperti ini.
“Jadi … Tokopaedi dan JekGo ada di bawah kendali kamu, Bang Nio?“ Bang Windi bertanya dengan wajah penasaran.
“Kurang tepat jika dibilang seperti itu, sebab yang memiliki keputusan jalannya perusahaan bukan aku yang memegang, tetapi terdapat lima orang yang mengendalikan operasional perusahaan, semuanya orang Indonesia.“
Alseenio menggelengkan kepala dan menganggap dugaan Bang Windi kurang tepat.
“Mestinya orang-orang hebat tersebut tercantum di Gugel,” tambah Alseenio kepada mereka semua.
Mereka segera mencari informasi yang terkait, dan benar apa yang dikatakan Alseenio bahwa ada lima orang yang mengendalikan jalannya perusahaan dan semuanya orang Indonesia.
Tetap saja mereka semua terpesona dengan identitas Alseenio, terlebih Lafhel yang makin menjadi-jadi menyukai Alseenio setelah mengetahui informasinya.
“Sekarang kalian sudah tahu, kalian tidak perlu takut lagi mengenai asal muasal uang yang aku donasikan, sebab semuanya sudah terjawab jelas, aku bukan seorang Afiliator yang menipu orang dan membeli sepeda motor mewah pribadi dari uang ilegal,” tutur Alseenio dengan serius. “Lupakan mengenai perusahaan GoTe, lebih baik kita makan makanan ini sebelum dingin.“
“Benar juga!“ Candy langsung mengambil potongan pizza dan memakannya.
Dengan itu para anggota tim Jaya Exford ikut juga memakan makanan yang ada. Rino Caca melahap makanan penuh semangat.
Untuk sementara waktu, suara kegiatan mengunyah makanan terdengar di dalam rumah, sekarang mereka sedang makan makanan yang diberikan Alseenio dengan nikmat.
Beberapa menit kemudian, mereka kembali mengobrol dengan beberapa sahutan dan balasan. Topik obrolan mereka terbilang sangat acak dan sebuah lelucon yang pada intinya tidak berbobot, sama halnya orang-orang yang mengobrol mengenai sesuatu yang sebenarnya tidak penting.
“Omong-omong, kamu tidak gerah, Bang Nio? Sejak awal ke sini jaketnya tidak dilepas,” ujar Bang Mac yang sadar Alseenio masih mengenakan jaket.
Alseenio bukan mengenakan jaket, melainkan hoodie tanpa ritsleting, sangat merepotkan apabila dilepas karena butuh usaha ekstra.
Akan tetapi, di Bekasi ini sangat panas, wajar panas karena planet Bekasi ini planet terdekat dari matahari setelah Merkurius.
“Oh, ya. Aku lupa, pantas saja aku merasa panas dan berkeringat,” Alseenio berkata sambil menepuk dahinya.
Setelah itu, Alseenio berdiri di depan mereka berniat untuk melepaskan hoodie dari tubuhnya.
Namun, ketika hoodie itu ditarik ke atas oleh Alseenio, baju hitam untuk ********** ikut terangkat sehingga perut dan setengah dada Alseenio kelihatan oleh semua orang.
Otot-otot perut dengan delapan kotak dengan minim lemak dan otot dada yang kokoh tampak jelas di mata anggota Jaya Exford.
“Aa—” Lafhel yang berteriak langsung menutup mulutnya, ia malu apabila teriakannya didengar teman-teman.
Sedangkan kak Gheska dan Agnis menundukkan kepalanya, tidak berani melihat pemandangan yang seksi ini.
“Akhirnya aku tidak gerah lagi.“ Alseenio duduk kembali dengan jaket di pangkuannya.
Kini Alseenio mengenakan baju kaus lengan pendek berwarna hitam dan celana abu-abu dari seragam sekolahannya.
“Bang Nio, badanmu bagus juga, secara tidak langsung mengingatkan aku pada tubuhku yang sebelum menjadi Yituber, tetapi aku tidak sebagus kamu waktu itu,” Bang Windi memuji dan berkata mengenai dirinya sendiri.
Windi juga dahulu sempat memiliki tubuh berotot, sayangnya dia tidak berotot layaknya Alseenio.
__ADS_1
Otot Alseenio seperti diciptakan dengan indah oleh para dewa dengan penuh kehati-hatian dan kasih sayang, mungkin Dewa Apollo akan merasa tersaingi ketampanannya dengan Alseenio.
“Iya, aku tahu itu, lalu kenapa kamu sering berolahraga lagi untuk mengembalikan tubuh bagus, Bang Windi?“ tanya Alseenio seraya memakan satu potong pizza.
Bang Windi mengigit sayap ayam goreng sebelum menjawabnya, “Susah kalau sudah menjadi Yituber, untuk membagi waktunya sangat sulit, tubuhku sekarang cukup kurus aku sudah bersyukur.“
Mendengar jawaban Windi membuat Alseenio memahami alasannya, memang sulit menjadi Yituber, waktunya banyak dihabiskan untuk siaran langsung dan mengedit video, jarang ada waktu untuk dirinya melakukan sesuatu di luar pekerjaan Yituber.
Dilihat-lihat Bang Windi memang tampak lebih kurus ketimbang beberapa bulan yang lalu, ini adalah sebuah kemajuan dalam meningkatkan kesehatannya.
“Bang, itu kenapa pakai celana abu-abu, habis sekolah?“ celetuk Candy yang heran dengan celana Alseenio.
“Sudah menjadi orang kaya untuk apa sekolah, Candy. Ada-ada saja kamu.“ Bang Rino menggelengkan kepalanya sambil mengunyah daging ayam di mulutnya.
“Hehe, siapa tahu, kan?“ kekeh Candy membenarkan posisi kacamatanya.
“Ini aku habis ada acara di Bekasi, acara untuk membuat konten Motovlogger juga, mumpung ada di Bekasi jadi aku mampir ke sini,“ Alseenio menjelaskan secara singkat.
Bang Windi mengangguk, dan berkata, “Oh, Bang Nio juga punya channel Yitub, kan? Channel sepeda motor itu.“
“Iya, benar.“
“Keren lho, hanya beberapa hari setelah dibuat sekarang sudah mencapai seratus ribu pelanggan,” kata Bang Windi dengan takjub. “Eh, aku lupa mengucapkan, selamat untuk seratus ribu pelanggannya, Bang Nio.“
“Selamat sudah seratus ribu pelanggan, Bang Nio!“
Mereka mengucapkan selamat kepada Alseenio dengan wajah yang senang, Alseenio membalas tersenyum dan mengangguk.
Selanjutnya, Alseenio dan anggota Tim Jaya Exford mengobrol ria dan memakan makanan sambil melihat-lihat studio siaran langsung Bang Windi.
Rencananya Alseenio ingin membeli peralatan siatan langsung untuk channel Yitubnya nanti, tetapi tidak sekarang, tunggu sampai dia membeli rumah besar dengan parkiran luas.
Setelah makan-makan di rumah Bang Windi sampai jam 7 malam, Alseenio pamit untuk pulang ke apartemen.
Makanan masih ada yang tersisa dan ia menyarankan untuk anggota tim Jaya Exford bawa saja ke rumah, lumayan untuk makan nanti, atau tidak bagikan ke tetangga apabila tidak mau.
Alseenio berdiri di dekat sepeda motornya dan sedang bersiap-siap, memakai hoodie dan masker helm, tidak lupa juga mengaktifkan kameranya setelah diisi ulang baterai-nya di rumah Bang Windi.
Bang Windi dan teman-teman menunggu Alseenio di depan rumah, mereka menemani Alseenio sampai berangkat.
“Terima kasih sudah diperbolehkan ke sini, Bang Windi.“ Alseenio berdiri di depan mereka semua dengan memakai helm, tas, dan semua perlengkapan berkendara.
“Tidak perlu seperti itu, kita sudah menjadi teman, Bang Nio. Kapan-kapan ke sini lagi, mungkin kita adakan kolaborasi, bocah kehidupan mungkin ingin melihat kamu juga,” jawab Bang Windi dengan senyuman khasnya.
“Oh, iya … uang sudah resmi menjadi milikmu, jangan takut kalau aku tiba-tiba mengambilnya kembali, dijamin itu tidak akan terjadi, gunakan uang tersebut sesuka hatimu, Candy.“ Alseenio menepuk pundak Candy.
“Aku pamit dahulu, ya. Nanti kita saling mengikuti di Instagrem untuk komunikasi di waktu yang akan datang,” ujar Alseenio sambil melakukan salam kepal tangan kepada mereka semua.
Bang Windi dan teman-teman menyetujui saran Alseenio dan mereka pasti akan mengikuti Alseenio di Instagrem.
Duduk di atas jok sepeda motornya, Alseenio melambaikan tangannya ke arah mereka semua dan kemudian melesat meninggalkan mereka semua.
Vroom!
Sosok Alseenio perlahan menghilang di ujung jalan dan tidak terlihat lagi.
Bang Windi dan teman-teman masuk ke dalam rumah seusai Alseenio pergi.
Di dalam rumah Bang Windi, mereka semua mengomentari tentang Alseenio, sifat wanita di dalam diri kak Gheska, Agnis, dan Lafhel keluar setelah sekian lamanya ditahan agar tidak membuat jijik Alseenio.
“Sumpah, pria itu tampan sekali, anggota PTS kayaknya kalah dengan wajahnya,” Kak Agnis membuka obrolan dengan Gheska dan Lafhel.
Kak Gheska tersenyum dan berkata dengan antusias, “Sudah aku bilang Nio itu tampan, coba saja bandingkan dengan pria tampan yang lain, Alseenio pasti jauh di atasnya. Sampai-sampai Lafhel saja menjadi penggemar berat Alseenio.“
“Hehe, jujur saja aku merasa Alseenio ini lebih baik dibandingkan di foto, terlebih orangnya memiliki sifat ramah kepada kita-kita, juga … aku tadi sempat memeluknya.“ Pipi Lafhel berubah merah seperti apel yang sudah matang.
“Oh, aku juga lihat kamu di depan pintu tiba-tiba memeluk Nio, tetapi Nio tidak memelukmu juga, aku lihat dia tidak ingin menyentuh tubuh seorang wanita tidak baru dikenal dari gerak-geriknya.“ Agnis mengambil potongan pizza dan menggigitnya.
“Dari mana kamu tahu, Kak Agnis?“ Lafhel berkata dengan penasaran.
Alih-alih menjawab, tangan Agnis terulur menunjuk ke arah Bang Windi yang sedang mengobrol sangat antusias bersama teman-temannya.
“Candy, kataku lebih baik beli CPU yang punya spesifikasi tinggi,“ ucap Bang Rojad.
Bang Windi menambahkan, “Benar, kalau tidak kamu beli ponsel baru atau kamera khusus vlog.“
“Jangan-jangan, lebih baik beli makanan yang banyak, terus buat konten mukbang atau makan banyak,” tutur Bang Rino.
Dalam sekejap, Windi, Candy, Mac, Mac Kecil, dan Rojad memicingkan matanya ke arah Bang Rino.
“Hehe, benar kata Bang Windi dan Bang Rojad, jangan beli makanan yang banyak.“
∆∆∆
Di sebuah jalan raya di Jakarta Timur terdapat sepeda motor yang hampir menyatu dengan gelapnya malam.
__ADS_1
Sepeda motor berwarna hitam dengan garis motif berwarna ungu terlihat sangat keren ketika berada di jalan yang gelap, motifnya seakan menyala saat ada di tempat yang minim cahaya.
Tampilan sepeda motor ini sangat cantik, bahkan di tempat yang remang-remang.
Alseenio sedang fokus mengendarai sepeda motornya yang ada di perjalanan menuju apartemennya.
Di dalam hatinya Alseenio merasa senang karena telah bertemu banyak orang, sosok yang ditemuinya seringkali ia lihat di layar kaca telepon ketika ia masih hidup di kehidupan sebelumnya, kini terwujud keinginan untuk bertemu dengan mereka.
Windi atau Rando memang orangnya memiliki sifat ramah dan rendah hati, mengobrol dengan tim Jaya Exford terasa seperti berbincang dengan sekelompok teman dekat, Alseenio tidak merasa canggung atau kaku, bahkan ia tidak menyadari bahwa tubuh atasnya saking asyik dan dekatnya dengan mereka.
Selain Tim Jaya Exford, Tim Semfack juga sangat asyik dengannya, tidak tahu mereka tulus atau tidak, selagi mereka baik dirinya akan membalasnya dengan baik.
[Ding! Misi Terselesaikan!]
[Selamat Kepada Tuan Rumah Anda Telah Mendapatkan Vyrus Alyen 988 (Custom)!]
[Selamat Kepada Tuan Rumah Anda Telah Mendapatkan Kemampuan Bermain Biola Level Menengah!]
Bunyi yang tajam dari pengingat Sistem muncul, Alseenio yang sedang menikmati perjalanan tidak bisa menahan untuk tidak terkejut, dengan sigap Alseenio segera menepi ke bahu jalan.
[Ding! Mulai proses integrasi!]
Pengetahuan mengenai alat musik bertambah, dalam kedipan mata Alseenio menjadi seorang musikus yang cukup andal bermain biola.
Jarinya yang lentur menjadi lebih fleksibel lagi.
[Ding! Surat kelengkapan dan sertifikat kepemilikan sepeda motor telah diletakkan di dalam tas.]
Alseenio membuka matanya begitu proses integrasi selesai. Mendengar pengingat lanjutan Sistem ia memilik ekspresi yang berbeda.
“Vyrus Alyen 988? Itu sepeda motor yang langka serta ekslusif, kan?“ Alseenio bertanya kepada Sistem.
[Vyrus Alyen 988 satu ini dibuat khusus untuk Anda sesuai dengan permintaan Sistem yang berlandaskan karakter dan kesukaan Anda.]
[Semua komponen sudah yang terbaik, bahkan kapasitas tangki bensin dibesarkan secara khusus untuk Tuan Rumah, mesin ditingkatkan dari mesin standar yang seharusnya 2 silinder menjadi 4 silinder.]
[Nilai harganya adalah 9 Miliar.]
Alseenio tersentak terkejut mendengar harga dari sepeda motor ini, beberapa kali lipat dari harga sepeda motor yang Alseenio punya.
Menghela napas panjang, Alseenio tidak ingin banyak bicara mengenai hadiah ini, tentunya ia sangat suka.
Vroom!
Alseenio menarik gas dan melanjutkan perjalanan.
Pada saat Alseenio sedang bersantai mengendarai sepeda motornya, ia melihat seorang duduk di trotoar bersama sepeda motornya.
Sepeda motornya berjenis motor sport dengan merek Kawasaki, seharusnya orang ini tidak kekurangan uang.
Alseenio berhenti di pinggir jalan dekat orang tersebut, dari jarak ini Alseenio bisa melihat bahwa orang ini memiliki kepala botak dan tubuh berotot, terlihat dari otot tangan dan bahunya.
“Halo, Bang!“ sapa Alseenio kepada orang berkepala botak tersebut.
“Eh, halo, Bang!“ Pria botak tersebut langsung berdiri dan menyahut Alseenio.
“Kenapa di sini, Bang? Enggak pulang ke rumah? Sepeda motor mogok?“
Alseenio melontarkan banyak pertanyaan dalam sekali napas.
“Tidak-tidak, sepeda motor tidak ada masalah, tetapi yang bermasalah adalah aku sendiri.“ Pria botak itu menggelengkan kepalanya dengan lemah dan wajahnya yang sedih.
Alseenio penasaran dengan ini, dan bertanya, “Kenapa itu?“
“Begini ceritanya ….“
Pria botak tersebut bercerita panjang kali lebar kali tinggi mengenai masalah yang menimpanya.
Alseenio berkali-kali mengangguk dan menyimak dengan serius.
Akan tetapi … wajah Alseenio berubah dan menatap botak ini dengan tatapan yang tidak percaya.
“Ini benar terjadi?“ tanya Alseenio memastikan.
“Ya!“
Isi ceritanya adalah pria botak ini memiliki seorang istri yang baik kepadanya, sebagai suami yang baik ia pun harus membalas istri dengan perilaku yang baik.
Cerita berawal di waktu jam setengah tujuh malam, Pria botak ini memeriksa dompet istrinya di dalam kamar yang ternyata hanya ada satu lembar uang kertas 100 ribu di dalamnya, mengingat ia adalah seorang suami yang baik, pria botak berinisiatif untuk membantu istrinya dnegan cara mengganti selembar uang kertas tersebut menjadi dua lembar uang kertas.
Namun, apa yang dilakukan oleh pria botak ini salah besar, pasalnya pria botak ini mengganti selembar kertas uang 100 ribu menjadi dua lembar uang bernominal 10 ribu.
Oleh karena itu, pria botak ini berakhir di sini.
Ia diusir oleh istrinya dan tidak boleh tidur di rumah.
__ADS_1