SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 163: Hari Pertama Kerja


__ADS_3

Selepas berteriak, keduanya meletakkan semua barang yang mereka pegang ke lantai, bangun dan menghampiri Alseenio dan Jidan yang berdiri di depan pintu masuk mes.


Mereka berdua harus sedikit mendongak untuk melihat wajah Alseenio. Alis, mata, bulu mata, dan dahi putih dengan kulit yang tak terlihat pori-pori, semuanya sangat indah dan membuat kesan tampan tak tertandingi.


Meskipun hanya terlihat wajah bagian atas saja, bagian hidung ke bawah tertutup masker, itu masih bisa dilihat sebagai pria tampan oleh para wanita.


Kedua wanita ini memiliki persepsi yang sama, keduanya menganggap Alseenio adalah pria tampan.


Usai melihat wajah Alseenio, mata mereka turun ke tubuh Alseenio yang masih mengenakan jaket. Tampak sangat tinggi, bahkan mereka berdua tingginya tak sampai sebahu Alseenio.


Tinggi kedua wanita ini lebih pendek dari Fara. Wajahnya yang sempat dirias sedikit kelihatan cantik. Sexeyes Alseenio menunjukkan bahwa kedua wanita ini memiliki nilai penampilan 70 poin ke atas.


Namun, ada sesuatu yang membuat Alseenio terkejut setelah melihat informasi dasar dari kedua wanita ini, ternyata mereka berdua pernah melakukan hubungan dengan pria, bahkan salah satu dari keduanya memiliki hubungan lebih dari 1 pria.


Alseenio agak waspada dengan 2 wanita ini. Mengetahui dari reaksi mereka ketika melihatnya, kemungkinan kedua wanita ini berani dalam melakukan sesuatu dengan lawan jenis.


“Kamu karyawan baru?“ Salah satu wanita bertanya dengan wajah yang penasaran dan tak percaya.


Alih-alih Alseenio yang menjawab, Jidan menjawab pertanyaan wanita ini mendahului Alseenio, “Sudah aku bilang dari awal, dia ini karyawan baru.“


“Ya, aku hanya ingin memastikan lagi kebenarannya. Siapa tahu dia bukan karyawan baru, tetapi pacarku yang baru.“ Wanita ini tersenyum dengan pipi yang memerah.


“Memang dia mau sama kamu?“ Jidan berkata dengan aneh kepada wanita gatal ini.


Wanita satu ini mendongak dan bertanya langsung kepada Alseenio, “Kamu mau jadi pacar aku atau tidak?“


Tatapan yang diberikan wanita ini bersifat seduktif dengan senyuman yang terlihat manis.


Jidan yang ada di samping Alseenio cuma bisa menggelengkan kepalanya melihat rekan kerja wanita ini. Mereka semua memang centil ke pria yang agak tampan.


Alseenio hendak menjawab sambil menggaruk kepalanya, tetapi itu disela oleh wanita lainnya.


“Mana mau dia sama kamu, dia maunya sama aku. Punya kamu kecil, punyaku besar, pria biasanya suka yang besar,” ucap Wanita yang satunya yang memiliki perawakan agak besar dibandingkan dengan wanita yang pertama bertanya pada Alseenio. Matanya yang terdapat riasan ini melirik wanita di sebelahnya dengan sinis.


Mendengar ini, Alseenio menjadi tak bisa merespons pertanyaan mereka, ia terdiam dan menatap keduanya dengan mata yang canggung.


“Kata siapa? Pria itu tidak selalu suka yang besar, mereka juga suka yang cakap dalam menggoyangkan sesuatu ….“ Wanita yang tubuhnya agak kurus tak mau kalah. Tubuhnya sengaja dicondongkan ke depan agar terlihat besar.


Keduanya mulai berdebat hebat mempermasalahkan perihal yang agak mencurigakan.


Selagi mereka berdebat, Jidan memberi isyarat kepada Alseenio untuk membuka jaket dan meletakkan tasnya di loker mes.


Dengan gegas, keduanya memakai sepatu kembali yang telah mereka lepaskan. Memasuki mes harus melepaskan sepatu supaya lantai tetap bersih.


Kemudian mereka berdua keluar dari mes meninggalkan kedua wanita yang tengah ribut.


“Halo, Pak Mugi. Ini ada karyawan baru, kertas ini dari dia.“ Jidan langsung menyerahkan kertas begitu keduanya tiba di dalam dapur restoran dan bertemu dengan seorang pria yang sudah tua, umurnya berkisar 40 tahun ke atas.


Pria tua ini bernama Mugi, salah satu leader restoran cabang Kebun Sirih yang kebetulan masuk pagi di hari ini.


Di restoran ini memiliki 2 leader yang berbeda jadwal, satu di antara mereka ada yang masuk pagi dari pembukaan, dan satunya masuk di siang hari sampai malam atau penutupan restoran, saling melengkapi.


Melihat kertas yang diberikan Jidan, Pak Mugi tahu arti kertas ini, dan ia mengeluarkan selembar kertas yang berisikan nomor-nomor. Itu nomor absensi atau nomor identitas karyawan.


Pak Mugi belum sempat melihat Alseenio dan sudah terlalu fokus pada kertas dari Jidan.


Begitu ia melihat ke Alseenio dan hendak memberi tahu rangkaian nomor karyawan, tiba-tiba Pak Mugi tersentak sesaat dan ia tersenyum lebar di wajahnya.


“Kamu Asep, kan? Ini nomor kamu. Kamu sudah tau situs absensi restoran, kan? Kamu hanya perlu masukkan nomornya di kolom absensi,” ucap Pak Mugi dengan senyuman yang lebar. Ia memberikan selembar kertas kecil yang berisikan sebuah seri nomor atau rangkaian nomor.


Kesan Pak Mugi setelah melihat sosok Alseenio ialah pria muda yang baik, memiliki sosok tubuh yang bagus dan tampaknya bisa diandalkan.


“Terima kasih, Pak.“ Alseenio mengambil kertas tersebut dan mengangguk sedikit sopan.


Setelah itu, ia mengambil ponsel di saku celananya dan mulai mencoba untuk melakukan absensi. Sebentar lagi ingin jam 8 pagi.


Mata Jidan melirik ponsel yang Alseenio pegang, di sana terdapat gambar seorang wanita di layar ponsel yang dijadikan sebagai wallpaper ponsel.


Lantas ia tahu apa artinya ini, Alseenio memilik seorang wanita, terlebih wanita di gambar tersebut sangat cantik.


Terlepas dari itu, Jidan lebih fokus ke jenis ponsel milik Alseenio, itu iPon 14 terbaru, ponsel yang selalu dia inginkan.


Tepat ketika Alseenio sedang mencoba memasukkan nomor karyawan miliknya, di mes datang seorang karyawan baru, yaitu Hilman Nadim. Dia baru datang, dan diantarkan oleh Abangnya.

__ADS_1


Hilman sedang berjalan ke dalam dapur belakang restoran tempat Alseenio Jidan dan lainnya sedang berkumpul.


Di mes, Hilman bertemu dengan kedua wanita yang sedang merias wajahnya dengan serius, kedatangannya membuat mereka berdua berhenti sejenak untuk berkenalan dengan Hilman.


Wajah Hilman tampak canggung, kelihatan seperti orang yang belum pernah berkomunikasi dengan wanita yang sepantaran dengannya.


“Karyawan baru juga?“ Jidan melihat Hilman datang ke dalam dapur dan bertanya.


Hilman segera mengangguk kepalanya dan menjawab, “Benar, aku karyawan baru, sama seperti dia.“


Tangan Hilman menunjuk Alseenio yang sedang melakukan absensi karyawan.


“Pak Mugi, ada karyawan baru lagi,” kata Jidan kepada Pak Mugi yang sedang melihat layar komputer. Di dapur ini terdapat tempat menyimpan ponsel dan tempat untuk Leader membuat laporan, ada komputer untuk mereka membuat laporan dan menyimpan data.


Pak Mugi menoleh dan segera memeriksa sebuah pemberitahuan dari perusahaan. Memang ada 2 orang baru yang ditempatkan di TaySatay Kebun Sirih ini.


Dengan senyuman di wajahnya, Pak Mugi memberikan nomor karyawan kepada Hilman.


Sikap Hilman sangat sopan, dia bahkan sedikit membungkukkan tubuhnya ketika diberikan selembar kertas nomor karyawannya oleh Pak Mugi.


Setelah itu, Alseenio dan Hilman berhasil melakukan absensi tepat waktu sebelum jam 8 pagi.


“Ponsel yang kalian bawa boleh diletakkan di dalam kotak ini.“ Jidan berjongkok dan membuka sebuah kotak kayu yang disimpan di bawah meja komputer diletakkan.


Di dalamnya Alseenio dan Hilman bisa melihat banyak ponsel yang diletakkan di dalam sana. Mereka berdua meletakkan ponsel ke dalam kotak tersebut.


“Kalian berdua kerja di bagian apa? Apakah sudah diberi tahu oleh orang-orang di kantor pusat?“ Pak Mugi bertanya kepada mereka berdua tentang posisi mereka bekerja.


Alseenio dan Hilman sepertinya tak diberi tahu informasi tentang itu, mereka berdua hanya diberi tahu tentang gaji per hari 120.000 yang akan dikirimkan di akhir bulan. Apabila mereka tidak masuk sehari dalam sebulan, itu akan terpotong 120.00 sehingga dalam sebulan itu bisa mendapatkan uang gaji sekitar 3,6 juta atau lebih.


Pak Wandi menyebutkan bahwa akan ada bonus jika mereka rajin masuk dalam sebulan itu tanpa ada bolong atau absen.


Selain dari informasi tersebut, Pak Wandi tak menyebutkan di mana posisi mereka, apakah bagian depan yang bertugas membuat minuman dan melayani pelanggan atau bagian belakang yang memiliki tugas memasak makanan.


Hilman menggelengkan kepalanya dan berkata dengan kaku, “Anu, Pak Mugi. Tampaknya kami berdua tak diberi tahu di mana posisi kita bekerja.“


“Oke, sebentar, ya. Aku periksa dahulu.“


Pak Mugi memutuskan untuk mencari laporan dan pemberitahuan lain yang berkaitan dengan keduanya.


“Kamu, Alseenio Asep, aku akan memanggil kamu Asep saja, nama depanmu sulit diucapkan. Asep kamu ditempatkan di bagian depan, nanti Jidan akan memberi tahu apa yang harus kamu lakukan.


“Sementara itu, Hilman, kamu di bagian belakang, kamu bisa bertanya kepada Bondan tentang apa yang harus kamu lakukan. Hanya itu saja, semoga kalian betah di sini.“ Pak Mugi memberi senyuman kepada mereka berdua.


Setelah mendengar ini, Alseenio dan Hilman mengangguk menunjukkan bahwa diri mereka mengerti.


Alseenio dan Hilman tidak tahu kapan ada 2 wanita yang merias wajah di mes tadi sudah muncul di belakang mereka berdua.


“Oh, nama kamu Asep? Kebetulan sekali kamu di bagian depan. Ayo ikut aku! Aku akan mengajari kamu apa yang harus dilakukan.“


Wanita yang memiliki tubuh yang agak besar itu menarik tangan Alseenio dan membawanya ke depan restoran melalui dapur.


Para karyawan yang bekerja sebagai koki ini tersenyum masam melihat wanita ini dengan cekatan mengambil Alseenio.


“Dasar, Linda. Dia selalu gerak cepat kalau ada anak baru yang tampan. Padahal, dia sudah punya pacar.“


“Kasihan sekali si Burhan. Tekan F untuk dia.“


“Sutt! Jangan gosip tentang dia, kamu nanti dipersulit kerja di sini.“


“Kerja! Kerja! Kerja! Semangat pagi!“


“Uraa!“


“…”


Jidan, Hilman, dan wanita yang agak kurus yang masuk bersama dengan Wanita berbadan agak berisi, Linda, terdiam di tempat, kemudian mereka bertiga berjalan menuju ke tempat bagian mereka berkerja.


Tugas Jidan sama dengan Alseenio, di ada di bagian depan, sama dengan wanita satu ini yang bernama Mawar, dia juga di bagian minuman.


Hilman diam di tempat dan hanya melihat-lihat rekan kerja yang sibuk mengolah dan memasak makanan.


Pada saat ini, Alseenio sedang diajari bagaimana cara menjadi pelayan yang baik.

__ADS_1


Awal-awal Alseenio diajarkan bagaimana cara membersihkan kaca restoran, cermin kamar mandi, dan pilar keramik restoran oleh Linda, dia adalah ketua bagian depan, bawahannya Leader.


Jidan juga mengajarkan kepadanya mengepel lantai dan membersih kamar mandi.


Jujur saja, pekerjaan menjadi pelayan yang masuk di jadwal pagi sangat merepotkan, disebabkan mereka harus menyiapkan semuanya, entah itu tempat, alat masak dan minuman, meja dan kursi makan, kamar mandi, dan alat cuci piring lainnya. Pastikan semuanya bersih.


Untungnya, Alseenio bisa beradaptasi dengan cepat dan ia bisa melakukan semua itu hanya dalam satu kali ajaran.


Alseenio mempelajari tentang hal tersebut dan mempraktikkannya secara langsung. Waktu berjalan cepat hingga jam 12 siang tiba.


Leader lainnya ternyata masuk di bagian siang hari. Mengetahui kedatangan Alseenio dan Hilman, ia bergegas mengambil beberapa kertas dan pergi ke depan restoran dan duduk salah satu kursi makan untuk para pelanggan yang datang.


“Jidan, tolong panggil anak-anak baru itu untuk datang ke sini.“


“Baik, Pak.“


Jidan yang tengah membuat minuman untuk salah satu pelanggan, segera memberhentikan gerakannya dan pekerjaannya diambil alih oleh rekan kerja yang lain.


“Bang, tadi kamu diajari apa oleh wanita tadi? Aku barusan benar-benar bingung, mereka tidak langsung memberi tahu hal apa yang harus aku lakukan, di dapur aku hanya bisa diam dan melihat mereka sibuk dengan pekerjaannya selama hampir 2 jam.“


Mendengar Hilman yang mengeluh, Alseenio yang sedang mencuci piring kotor bersama Hilman itu menahan tawa. Pantas saja, Alseenio perhatikan, Hilman ini hanya berdiri diam di dekat panggangan satai sambil menonton Bondan, ketua bagian belakang yang sibuk membakar satai.


Tepat ketika Alseenio hendak membalas pertanyaan Hilman, Jidan datang dari depan dan berkata, “Bang Alseenio dan Bang Hilman, kalian berhenti dahulu mencuci piringnya, biar Bang Franki yang cuci piring nanti, kalian disuruh untuk bertemu Pak Nana.“


“Oke.“


Mereka berdua mengangguk bersama dan melepas celemek anti-air dari tubuhnya. Setelahnya, mereka mengekori Jidan ke depan.


Tempat cuci piring di bagian dapur.


Begitu sampai di depan, Alseenio melihat sudah ada banyak pelanggan yang sedang duduk saling bersebelahan, kemudian ia melihat seorang pria berseragam hitam yang mirip pakaiannya dengan Pak Mugi.


Alseenio tahu itu adalah Pak Nana yang dimaksud oleh Jidan.


Begitu mereka berdua duduk di seberang Pak Nana, Pak Nana menyuruh mereka pergi ke lantai 2 restoran, tepatnya ke ruang tamu VIP.


Di sana mereka dijabarkan tentang apa yang harus dilakukan oleh mereka berdua sebagai posisi seorang karyawan baru. Alseenio diinformasikan tentang pekerjaannya sebagai pelayan sekaligus dishwasher atau pencuci piring, semua yang diajarkan oleh Jidan dan Linda disebutkan oleh Pak Nana.


Sementara itu, Hilman bertugas untuk membakar satai dan membantu orang belakang yang memasak, dia juga merangkap sebagai pencuci piring.


Sebenarnya, mereka semua juga harus mencuci piring, tidak wajib hanya dilakukan oleh karyawan baru saja.


Selama hampir 2 jam mereka dijabarkan dan diterangkan tugas-tugas mereka berdua, beberapa lembar kertas juga diberikan kepada Alseenio dan Hilman.


Isinya sebuah rangkuman tugas mereka berdua, termasuk ada SOP perusahaan dan larangan yang tak boleh dilakukan.


Pak Nana juga berkata bahwa tugas mencuci piring dijadwalkan, semua tugas dijadwalkan berbeda setiap harinya. Maka dari itu, Alseenio dan Hilman sebelum masuk harus melihat papan tugas yang ada di lorong yang memisahkan antara bagian depan dan belakang restoran.


Usai pemberitahuan ini, mereka berdua diperbolehkan untuk istirahat selama 1 jam dan jangan lupa melakukan absensi istirahat.


Alseenio, Jidan, Hilman, dan beberapa karyawan lainnya istirahat dan pergi ke mes.


Di sana, mereka mengobrol dengan Alseenio dan bertanya tentang personal Alseenio.


Linda yang ikut istirahat juga makin penasaran, ia selalu menatap Alseenio dengan wajah yang memerah.


“Asep, mengapa kamu selalu memakai masker? Bahkan kamu rela tidak makan dengan alasan tidak mau lepas masker.“ Linda melihat mata Alseenio dengan rasa penasaran yang kuat.


Hilman, Jidan, Bondan, dan 2 karyawan lainnya langsung mengalihkan perhatiannya kepada Alseenio yang duduk di dalam mes bersama mereka semua.


Beberapa dari mereka sedang makan dan menyendok makanan ke mulutnya.


Alseenio merenung sejenak memikirkan jawaban yang cocok.


“Aku sedang sariawan, tidak enak untuk dilihat. Makanya aku selalu pakai masker. Kalau makan pun terasa perih, aku makannya nanti saja.“ Alseenio menatap mereka semua dengan pandangan yang meyakinkan.


“Ih, padahal tidak apa-apa dibuka maskernya, kita tidak memandang fisik orang, kok. Bondan yang jelek saja, kita hargai,” kata Linda dengan wajah yang serius.


“Puff!“


Bondan yang sedang menenggak air putih, langsung menyemburkan air dari mulutnya dan membasahi jalan yang memisahkan mes dan dapur restoran.


Dengan wajah tidak senang, Bondan berkata, “Enak banget ngomongnya, Gendut satu ini.“

__ADS_1


“Gendut? Tubuh aku seksi, bukan gendut, enak saja!“


__ADS_2