SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 54: Membantu Wanita


__ADS_3

Siluet hitam melintas dengan cepat di jalan seakan-akan membelah jalanan yang sepi dan remang-remang.


“Sudah larut malam, aku harus cepat pulang,” gumam Alseenio seraya fokus mengendarai sepeda motor.


Kecepatan laju sepeda motor Alseenio begitu tinggi hingga spidometer menunjukkan kecepatan di angka 150 kilometer per jam, dan itu terus melonjak.


Ia harus cepat pulang sebelum malam makin sepi, dan itu berbahaya apabila di jalan sendirian tanpa ada pengendara lain.


Kejahatan pasti akan menghampiri kalau kita memberi mereka kesempatan untuk bertindak.


Pada saat ini, Alseenio sedang berada di daerah Pasar Minggu. Jalanan di sini tidak macet seperti di malam minggu, lebih lagi di malam hari menjelang tengah malam ini, lebih sepi dari jam 9 malam ke bawah.


“Apa itu?“


Di bidang penglihatan Alseenio, terdapat seseorang yang tengah berdiri di pinggir jalan bersama dengan sepeda motor, kelihatannya orang ini memiliki masalah dengan sepeda motornya.


Segera, Alseenio membiarkan kamera helm menyala untuk berjaga-jaga, kemudian ia menurunkan kecepatannya dan berhenti di dekat orang ini.


Alseenio melihat bahwa orang ini adalah seorang wanita memakai masker mulut di wajahnya, berpakaian jaket merah marun dan celana jeans panjang.


“Halo, ada apa denganmu?“ Alseenio turun dari sepeda motor dan mendatangi wanita ini.


Melihat Alseenio datang ke arahnya, wanita ini segera berjalan mendekat seraya berkata, “Anu, sepeda motorku tidak bisa menyala, sepertinya kehabisan bensin.“


Mendengar masalah wanita ini, Alseenio sigap untuk menawarkan bantuannya. “Kalau begitu, aku bantu dorong ke tempat isi ulang bahan bakar bensin.“


“Baiklah,“ Wanita ini menjawab dan menganggukkan kepala satu kali.


Wanita yang tak dikenal ini naik ke sepeda motornya, Alseenio menjulurkan kaki kirinya ke arah injakan kaki penumpang pada sepeda motor wanita itu, kemudian Alseenio perlahan menarik gas.


Pelan-pelan sepeda motor wanita tersebut bergerak maju karena didorong oleh kaki kiri Alseenio. Lambat laun Alseenio menambahkan kecepatannya agar tidak terlalu lambat.


“Tahu arah pom bensin terdekat?“ tanya Alseenio dengan suara yang sedikit dikencangkan.


“Iya, aku tahu, tidak terlalu jauh dari sini,” Wanita itu membalas ucapan Alseenio dengan suara yang sama kerasnya.


“Oke, nanti kamu beri tahu aku arahnya.“


“Aku mengerti.“


Wanita itu mengendalikan setang sepeda motornya dan mengarah ke suatu jalan. Jalan yang Alseenio lalui termasuk jalan raya yang besar, beruntungnya makin maju makin ramai oleh kendaraan, mungkin ada 3 atau 4 kendaraan sepeda motor yang melintas di jalan ini sama seperti mereka berdua.


Tak lama berselang, keduanya melihat cahaya yang bersinar terang di pinggir jalan, tertulis jelas tulisan 'Pertamani' di tempat yang bersinar itu, sudah tak perlu diragukan, itu adalah tempat yang dituju mereka berdua.


Mereka berdua berbelok dan masuk tempat pom bensin, dan wanita itu langsung meminta kepada petugas yang bekerja di sini untuk isi sepeda motornya dengan bensin sampai tangki penuh.


Kebetulan Alseenio melihat bahwa bahan bakar bensin sepeda motornya juga sudah hampir habis, tanpa berpikir ia gegas mengisi sepeda motornya dengan bensin Pertamax Turbo, mumpung pom bensin di sini menyediakan bensin dengan RON tinggi.


Tidak semua pom bensin Pertamani menyediakan Pertamax Turbo, cukup langka. Oleh karena itu, Alseenio tidak boleh menyia-nyiakan ketersediaan ini.


Tepat ketika wanita yang tadi ingin membayar bensinnya, Alseenio melarangnya dan membiarkan dirinya yang membayar.


Wanita ini menolak dan tidak mau dibayarkan oleh Alseenio, tetapi tidak ada yang bisa menolak permintaan Alseenio, akhirnya wanita ini menyerah.


“Terima kasih banyak sudah membantuku!“ Wanita ini sedikit membungkuk untuk menyatakan terima kasihnya.

__ADS_1


Alseenio melambaikan tangannya, “Tidak perlu seperti itu. Sama-sama, sudah menjadi keharusan untuk kita sebagai manusia membantu satu sama lain.“


Wanita mengangguk mengerti.


“Karena sudah selesai, aku izin pulang dahulu, hati-hati di jalan.“ Alseenio berbalik badan dan langsung menaiki sepeda motor.


“Sampai jumpa!“ Alseenio pamit dan segera menarik gas melaju meninggalkan pom bensin.


Wanita ini menatap Alseenio sampai Alseenio menghilang dari pom bensin.


Usai menunggu Alseenio pergi, wanita ini singgah di depan Indomalet yang ada di dekat pom bensin.


“Halo.“ Wanita ini mengangkat telepon dari seseorang di ponselnya.


Seseorang di telepon bertanya sesuatu kepada wanita ini.


Wanita ini menjawab, “Ya, kemungkinan besar dia ke jalan itu, pasalnya orang itu pergi pulang ke arah Jakarta Selatan.


“Sepeda motor besar berwarna hitam ungu, hari ini akan besar hasilnya.


“Siap!“


Setelah mengatakan beberapa patah kata, wanita itu mematikan telepon dan pergi menuju ke arah yang sama dengan Alseenio sehabis meninggalkan pom bensin.


Pada saat yang sama, Alseenio melaju kencang di jalan raya yang sepi dan gelap, tetapi sekali lagi ia melihat dua orang yang berdiri di bawah lampu jalan yang ada di pinggir jalan tampak membutuhkan pertolongan.


Sama dengan format sebelumnya, Alseenio berhenti di pinggir jalan dan berjalan ke tempat keduanya berdiri.


“Ada apa ini, Bang?“ tanya Alseenio dengan ramah sembari berjalan mendekat kepada mereka berdua.


Mendengar pertanyaan Alseenio, mereka berdua tidak menjawab dan hanya menatap Alseenio dengan mata yang tajam sambil menyeringai aneh.


Deg!


Alseenio tiba-tiba tersadar dengan hal ini, dan rasa kewaspadaan melonjak ke tingkat yang tertinggi.


Di luar Alseenio tampak biasa saja dengan berdiri menghadap mereka berdua yang perlahan menghampirinya, berbeda dengan di hatinya yang sudah berwaspada dan memperhatikan gerak-gerik mereka berdua secara diam-diam.


“Bang? Kenapa diam saja? Kerasukan setan?“ Alseenio bertanya lagi terlihat seolah-olah tidak tahu apa-apa.


Saat berikutnya, pria memakai baju hitamnya berlari tiba-tiba ke depan Alseenio sambil menebas dengan senjata celurit di tangannya.


Whooshhh!


Alseenio bereaksi lebih cepat dari lambaian celurit tajam berkarat ke arahnya dan sosoknya mundur beberapa meter, mencoba menjauh dari kedua orang aneh yang mendadak menyerangnya.


Tidak sampai di situ, kedua pria ini terus berlari mendekati Alseenio dan berusaha menebas tubuh Alseenio dengan celurit di tangan kanan mereka. Ternyata mereka tidak gatal, melainkan menyembunyikan senjata tajam di balik bajunya.


Tepat ketika pria berbaju hitam ini ingin menebas bahu Alseenio, sebuah kaki yang panjang dengan cepat menyambar menghantam pergelangan tangan pria tersebut, senjata tajam celurit itu terlepas dari tangan pria dan terjatuh ke bawah.


Tak menunggu pria berbaju hitam ini bereaksi, Alseenio pun meluncurkan serangan kedua dengan menendang kiri pria ini dengan keras.


Alseenio tidak memberikan kesempatan kepada pria ini berteriak, ia menendang dengan teknik Ap Chagi ke arah mulut pria tersebut hingga pria ini terpental ke belakang dan mendarat menghantam permukaan trotoar dengan keras.


Melihat ini, teman pria berbaju hitam ini tidak gentar dan mencoba melakukan penyerangan demi membalas dendam temannya.

__ADS_1


Pria berbaju cokelat mengayunkan celuritnya tanpa ada ilmu bela diri menggunakan senjata tajam. Alseenio dengan mudah menghindari segala serangan ini, sosok Alseenio begitu licin sehingga serangan yang diluncurkan pria ini tidak bisa memotong sehelai rambut Alseenio yang panjang.


Pada saat pria cokelat ini hendak menebas horizontal ke arah Alseenio, tubuh Alseenio sedikit miring ke belakang dan lututnya kirinya terbang secepat kilat menghantam tulang hasta tangan pria tersebut sehingga celurit yang dipegangnya terlepas. Sebelum pria ini bereaksi untuk melawan, kaki Alseenio yang ditekuk terbentang dan menendang keras leher pria ini dengan kuat.


Buk!


Pria berbaju cokelat ini terpelanting menabrak pohon yang ada di pinggir trotoar.


“Argh!“


Jeritan kesakitan keluar dari mulut pria berbaju cokelat ini, ia terbaring lemah di dekat pohon sambil memegangi lehernya yang tampaknya tak bisa digerakkan lagi.


Sementara itu, pria yang pertama menyerang Alseenio masih terbaring tak sadarkan diri, Alseenio melihat pria ini masih bernapas.


“Sialan! Bertemu begal!“ Alseenio menatap mereka yang terbaring lemah di trotoar pejalan kaki dan berkata dengan marah.


Tidak disangka Alseenio bertemu dengan penjahat berdarah dingin, beruntungnya ia memiliki ilmu bela diri dari sistem, kalau tidak, Alseenio tidak bisa membayangkan nasibnya bagaimana.


Segera, Alseenio menelpon layanan darurat 110 dengan ponselnya untuk melaporkan kejadian ini.


“Halo, saya ingin melaporkan sesuatu—”


Alseenio melaporkan kejadian pembegalan yang baru saja terjadi ke petugas yang mengangkat teleponnya.


Selanjutnya, polisi menerima laporan dan gegas meluncur ke tempat kejadian perkara.


“Benar, Pak. Baik, saya akan menunggu di sini.“


Tut-tut!


Telepon ditutup dan Alseenio diminta untuk menunggu petugas polisi untuk datang.


Tak lama berselang, mobil bertuliskan Polisi datang dan berhenti dekat sepeda motor Alseenio dan sepeda motor dua pembegal ini.


Beberapa anggota polisi keluar dari mobil polisi dan mendekati kedua pembegal untuk melakukan pemeriksaan dan pemborgolan.


Tidak butuh lama untuk semua selesai, tetapi Alseenio diminta untuk pergi ke kantor polisi untuk memberikan keterangan lebih lanjut.


Di kantor polisi Alseenio ditanya-tanya lebih jelas apa yang terjadi, Alseenio juga memberikan rekaman bukti dari kamera Yopronya, untungnya ada beberapa personel polisi yang mengetahui Alseenio sehingga kasus ini bisa diselesaikan dengan cepat.


“Terima kasih, Tuan Alseenio telah membantu kami menangkap dua buronan ini, kami sudah mencari-cari orang ini karena banyak sekali laporan pembegalan yang datang ke kantor kami.


“Saya pribadi akan mengurus kasus ini, akan saya kabari tentang dua begal ini nanti, saya rasa ada orang yang masih berkaitan dengan dua begal ini. Mungkin Tuan Alseenio akan dikabari besok untuk menerima piagam karena telah membantu kami,” tutur Ajun polisi yang bertugas di daerah Pasar Minggu.


Mendengar ini, Alseenio mengangguk, “Baik, Pak. Saya mengerti.“


Selanjutnya, Alseenio pulang dari kantor polisi daerah Pasar Minggu ditemani oleh dua anggota polisi yang membawa motor polisi dengan sirene.


Pemimpin polisi tadi begitu baik, meminta anak buahnya untuk mengamankan Alseenio sampai ke apartemennya.


“Hari yang mengejutkan ….“


Alseenio berbaring di atas kasur dengan telanjang dada dan menatap kosong langit-langit kamar.


“Beruntungnya aku masih hidup sekarang.“

__ADS_1


__ADS_2