SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 140: Belanja Oleh-oleh


__ADS_3

Fandick menirukan kalimat tukang dagang mainan di Indonesia ketika melihat banyak penjual di jalan Nanjing ini.


“Ini bukan pasar baru, Bang Fandick.“ Alseenio tersenyum menahan tawa mendengar kalimat Fandick.


Tangan Fandick bergerak, ia menggaruk kepalanya sambil menunjukkan senyuman canggung. “Di sini sangat ramai, Bang. Bahkan pasar malam tidak banyak seperti ini orang-orangnya.“


“Memang ramai, jalan ini sudah terkenal sekali, bahkan ini adalah jalanan tersibuk di dunia, ada satu juta orang di setiap harinya yang berjalan di sini.“


Mendengar ini, Fandick terpana dan matanya memindai ke area sekitar.


Di sepanjang jalan yang cukup lebar ini, banyak sekali toko dan restoran yang menjual barang dan makanan atau jajanan. Jalanan ini memiliki terbilang lebar dan memang dibuat untuk pejalan kaki.


Di sini banyak sekali toko mewah yang menjual pakaian ataupun barang-barang mewah. Merek barang terkemuka dan ternama semuanya ada di sini.


Tidak hanya itu, produk buatan khas Cina pun banyak yang dijajakan di sana, biasanya produk yang dijual itu kain sutra, permata, hingga batu giok.


Toko-toko itu berada di sepanjang Jalan Nanjing, tetapi memiliki kawasannya masing-masing tidak bergabung. Sebagian bangunan yang ada di sini berarsitektur Eropa dan modern dengan setiap toko terdapat papan nama toko yang memakai huruf Mandarin.


Alseenio dan teman-temannya membeli beberapa makanan khas Cina yang enak, seperti mie daun bawang, mie lobster kuning, Bao Zi, bbq daging domba, terong panggang, Guo tie, Xiao long bao, dan makanan khas Cina lainnya, tidak ketinggalan juga hot pot.


Mereka semua juga membeli beberapa permata dan batu giok yang harganya cukup mahal, tetapi tidak masalah, anggap saja oleh-oleh, Alseenio juga membelikan batu giok asli untuk Ayah Fara, dia suka dengan aksesoris semacam itu.


Semua apa yang diinginkan oleh Fara dan semua orang termasuk Tim Manusia Pohon Alseenio yang bayar, termasuk jajanan dan makanan.


Anggota Tim Yitub Manusia Pohon menolak pada mulanya, tetapi setelah Alseenio bujuk dengan lama, mereka akhirnya menerima dan membiarkan Alseenio membelanjakan mereka barang.


Setelah puas dengan barang-barang aksesoris kecil khas Cina, seperti gantungan kunci, sarung tangan, kalung, cincin, dan gelang, mereka pergi ke bagian toko-toko mewah.


Bukan cuma membeli pakaian mewah, mereka juga membeli barang elektronik, misalnya laptop, telepon pintar, jam tangan pintar, komponen komputer, dan barang elektronik lainnya. Anggota Tim Manusia Pohon Alseenio pinta untuk memilih barang yang diinginkan, Fandick dan yang lain juga.


Mereka memilih membeli barang ponsel Android mahal, laptop, dan kamera.


Semuanya Alseenio bayar menggunakan kartu hitam. Manajer semua toko yang mereka kunjungi terkejut begitu Alseenio mengeluarkan kartu hitam asli, tidak sembarang orang yang bisa mendapatkan kartu hebat tersebut.


Secara otomatis, semua perlakuan dan pelayan mereka kepada rombongan Alseenio menjadi lebih sopan dan dihargai.


Setiap orang Alseenio belikan pakaian mewah dari berbagai toko ternama, yaitu Luis Vuton, Caline, Hennessey, Doir, dan toko lainnya yang terkenal akan pakaian dan gaya berbusana.


Fara makin suka dengan barang mewah seperti ini, tetapi ia masih memegang prinsip teguh untuk tidak boros, dia hanya membeli satu barang mewah yang ia sukai. Namun, Alseenio lihat, Fara lebih suka membeli pakaian yang agak seksi. Fara biasanya memakai pakaian seksi hanya untuk dirinya saja ketika mereka berdua di ruang studio bersama.


Mungkin karena Alseenio menyukai Fara memakai pakaian yang seksi saat berdua bersamanya, Fara membeli pakaian tersebut untuk Alseenio.


Wanita paruh baya juga membeli barang dengan santai, meski tahu dia sedang ditraktir, wanita ini cuma membeli satu barang mewah yang dia suka, harganya pun sebenarnya tidak begitu mahal, bahkan dia bertanya kepada Alseenio apakah boleh membeli barang untuk kedua anaknya di rumah.


Tentu saja Alseenio bolehkan, Alseenio tidak masalah dengan ini.


Fandick membeli sepatu, dia suka dengan sepatu, sepatu yang ia beli sangat mahal hampir seratus juta harganya. Reaksi ekspresi wajah Fandick sangat lucu begitu tahu harga dari sepatu yang dia ambil. Awalnya, ia kira harganya hanya belasan juta, ternyata harganya di luar ekspektasi, tetapi Alseenio tetap membelikan Fandick sepatu tersebut.

__ADS_1


Anggota Tim Manusia Pohon tercengang begitu tahu Alseenio adalah orang kaya yang sangat kaya, mirip dengan taipan yang ada di sini.


Mereka menganggap Alseenio sebagai generasi kedua yang kaya, padahal Alseenio bukan generasi kedua. Pasalnya, Alseenio bukan dari keluarga yang kaya atau konglomerat.


Usai sesi berbelanja mewah, mereka pergi ke toko kue yang ada di ujung barat Jalan Nanjing sebagai penutup berkunjungnya mereka di Jalan Nanjing.


Total uang yang dihabiskan oleh Alseenio, termasuk biaya traktir semuanya sekitar lebih dari 2 miliar rupiah. Hari ini dia telah mengeluarkan banyak uang.


Dengan pengeluaran yang mencapai 2 miliar inilah yang membuat Alseenio berhasil menyelesaikan misi.


[Ding! Misi Traktir Teman-teman di China Terselesaikan dan Dapatkan Kemampuan Bela Diri Wing Chun Menengah, Uang 1 Miliar Yuan, Bahasa Mandarin Menengah.]


[Apakah Anda ingin mengintegrasikan kemampuan?]


Alseenio langsung menjawab tidak karena dirinya masih berada di Jalan Nanjing yang ramai akan orang-orang.


[Kemampuan disimpan. Kemampuan yang diperoleh akan hangus setelah 1 hari disimpan.]


Pengumuman kali ini Alseenio abaikan dan ia fokus berjalan meninggalkan kawasan Jalan Nanjing. Mereka berjalan santai menuju tempat selanjutnya, yaitu The Bund.


The Bund adalah tempat lokasi yang di mana kita bisa melihat Kota Shanghai baru dan lama dalam satu bingkai atau spot.


Sisi barat terdapat wajah Kota Shanghai lama dan di sisi timur terdapat wajah Kota Shanghai yang baru dan modern.


Sengaja mereka ke sini di penghujung hari, pemandangan yang disajikan sangat bagus di waktu malam menjelang.


“Kota ini adalah kota yang keren menurutku. Kota yang terdapat sungai besar dan indah di sekelilingnya membuat orang-orang terpukau dengan keindahannya,” gumam Fandick sambil melihat dan menikmati panorama gedung-gedung yang tinggi dengan lampu yang menghiasi.


Mendengar ini, Alseenio dan yang lainnya tersenyum. Mereka diam-diam setuju dengan kalimat Fandick.


Anggota Tim Manusia Pohon ikut tersenyum walau tidak mengerti bahasa apa yang digunakan Fandick.


Pemandangan Kota Shanghai memang sangat ikonik dan harus dilihat jika pergi ke Negara Cina, sangat direkomendasikan untuk ke sana.


Alseenio mengajak foto bersama dengan anggota Tim Manusia Pohon, tampak jelas sekali wajah mereka yang kelihatan bahagia di dalam gambar dalam kamera Alseenio.


Banyak sekali foto yang diambil oleh Alseenio, hal ini juga merupakan tanda misi akan selesai.


Sebagai penutupan misi spesial, Alseenio memotret dirinya dan Fara dalam satu gambar dengan pose saling berpegangan tangan satu sama lain.


Foto ini akan dia unggah ke media sosial untuk menunjukkan dirinya telah memiliki pasangan.


Saat sesi pengambilan foto keduanya dilaksanakan, banyak para pengunjung lokal maupun internasional yang datang ke The Bund yang perhatiannya dialihkan kepada sosok Alseenio dan Fara yang sedang berpose romantis dengan latar belakang Kota Shanghai.


Mereka semua mengamati pergerakan Alseenio dan Fara, sebab keduanya memiliki postur tubuh dan tempramen yang berbeda dibandingkan yang lain sehingga mudah ditemukan di kumpulan orang-orang.


Terlebih sepasang mata keduanya terlihat cantik dan tampan meskipun masih mengenakan masker.

__ADS_1


“Apakah sudah siap, Bang Nio?“ Fandick bertanya kepada keduanya di kejauhan.


Orang yang akan mengambil gambar keduanya adalah salah satu anggota Tim Manusia Pohon, orang ini memiliki ilmu fotografi yang bagus, Alseenio menyuruh dia untuk memotret dirinya dengan Fara.


Alseenio memberi jempol tangan tanda sudah siap.


Fara dan Alseenio menoleh bersamaan dan saling bertatapan, kedua tangan Alseenio melingkari pinggang ramping Fara dan tangan Fara melingkari leher Alseenio.


Setelah itu, keduanya membukakan masker satu sama lain, wajah mereka berdua terungkap di depan umum.


Seketika, semburan suara bergema di The Bund. Semua orang yang melihat wajah keduanya langsung berteriak keras seolah-olah tengah melihat artis terkenal dalam negeri.


Entah itu orang tua, remaja, dewasa, dan anak-anak, mereka semua terpana ketika melihat wajah Alseenio dan Fara tanpa ditutupi masker.


Dalam sekejap, cahaya kamera mulai bermunculan, banyak dari mereka mengambil foto Alseenio dan Fara secara terang-terangan.


Pada saat ini, Luan Jing dan anggota timnya hanya bisa tersenyum pasrah. Tidak peduli seberapa sering mereka lihat, wajah keduanya memang sangat cantik dan tampan, bagai pasangan yang jatuh dari langit.


Cekrek,


Cahaya terang yang berasal dari kamera milik Alseenio menyala, keduanya memberhentikan posenya, kemudian mereka memakai masker lagi di wajahnya.


Begitu keduanya ingin ke tempat Fandick dan yang lainnya berada, mereka langsung dikerumuni oleh orang-orang.


Semua orang meminta tanda tangan seakan-akan Alseenio dan Fara seorang artis yang sangat terkenal.


“Permisi, tolong berikan kami berdua jalan! Kami bukan artis, kami bukan siapa-siapa, tolong jangan halangi jalan kami.“


Alseenio mencoba untuk menembus tembok para manusia yang mengelilinginya, tetapi mereka tidak mendengarkan Alseenio dan tetap mengerumuni dia dan Fara.


Melihat keramaian orang di sekeliling, Fara memeluk Alseenio dari belakang sambil menutupi wajahnya di punggung Alseenio. Fara tidak menyangka mereka berdua akan menimbulkan keramaian.


Orang-orang tidak percaya dengan kata-kata Alseenio dan mereka memaksa Alseenio untuk memberi tanda tangan.


Tiba-tiba saja ia memiliki pikiran untuk menerobos kerumunan, memandangi mereka yang berteriak dan berseru, bagaikan kelompok penggemar, Alseenio berniat untuk berjalan maju dan mendorong orang-orang.


Tepat ketika Alseenio ingin menjalankan aksinya, sekelompok orang dengan seragam hitam keluar dari kerumunan dan tiba-tiba melindungi Alseenio dan Fara.


Kelompok pria ini memiliki badan kekar dan menyeramkan sehingga orang-orang yang mengerumuni Alseenio dan Fara mundur pelan-pelan.


Tanda tanya memenuhi wajah Alseenio. Sorot matanya bergerak dan melihat di kejauhan Sugi yang tersenyum ke arahnya.


Alseenio paham dengan senyuman ini, ternyata Sugi memberikan pertolongan dengan menyewa beberapa pengawal untuk keduanya.


Selanjutnya, Alseenio dan Fara berhasil keluar dari kerumunan karena adanya 7 orang pengawal berbadan besar ini.


Pengawal-pengawal yang disewa sukses menakuti banyak orang karena mereka berbadan besar dan lebar, ditambah wajah masing-masing dari mereka yang terlihat bengis.

__ADS_1


Tidak ada satu pun orang yang berani melawan mereka, lebih baik mereka mundur daripada babak-belur oleh para pengawal.


__ADS_2