SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
Bab 171: Daun Aneh


__ADS_3

Bola besar milik Fara benar-benar sangat luar biasa indah. Pucuk berwarna pink dan bola itu mengkilap akibat keringat yang menempel, sangat mulus dan menggairahkan nafsu Alseenio.


Bentuknya bulat sedikit lonjong, tetapi itu cukup kencang dan tidak kendur. Sebuah bola besar yang diidamkan semua para pria.


Alseenio sungguh beruntung mendapatkan Fara. Entah tubuh dan sikap, Fara adalah yang terbaik di antara semua para wanita.


Saking besarnya bola Fara, ukuran kepala Alseenio kalah besarnya dengan bola besar ini. Alseenio sengaja menghimpit wajahnya di antara 2 bola kenyal dan lembut ini.


Selain bentuknya yang indah, tubuh Fara yang wangi tercium jelas oleh hidung Alseenio. Wewangian ini bukan berasal dari parfum ataupun bau baju, melainkan wangi tubuh asli Fara. Setiap manusia memiliki wangi tubuh yang berbeda, bahkan ada yang bau. Kemungkinan besar, orang yang sedang membaca kalimat ini adalah orangnya.


Bibir Alseenio mencium pucuk yang terbentuk di bola besar milik Fara, itu memiliki bentuk yang sangat imut dan menggemaskan.


Setiap Alseenio sentuh suatu benda yang menonjol di bola besar Fara, sebuah reaksi yang menggoda terjadi pada Fara.


Tubuhnya menggeliat dan ia memeluk kepala Alseenio begitu erat sambil mengeluarkan suara yang manis dan lembut.


“Sayang, jangan main dengan itu, aku tidak tahan~ ….“


Alseenio tidak mendengarkan, dia malah makin menjadi-jadi dalam melakukan tindakannya tersebut.


“Emmhh~ ….“


Duduk di pangkuan Alseenio, Fara memeluk kepala Alseenio daan membenamkan wajah Alseenio di jurang bola besar miliknya.


Baru pertama kali Fara merasakan sebuah kenikmatan ini, ternyata rasanya membuat dia kecanduan.


Lidah dan bibir Alseenio tidak berhenti mendaki gunung ini, dia melakukan hal tersebut secara intens dan berkelanjutan.


Gerakan Alseenio ini membuat Fara mengeluarkan sesuatu. Alseenio tidak tahu bahwa tindakannya ini sudah membuat Fara basah di bagian bawah. Di tengah-tengah celana Alseenio yang menjadi alas Fara duduk telah basah oleh sesuatu cairan.


Perasaan basah ini belum menembus ke permukaan kulit Alseenio sehingga dia belum tahu.


Di pertengahan Alseenio sibuk menjilat dan meremas bola besar ini, tiba-tiba Alseenio mendapati reaksi aneh yang begitu jelas dari Fara.


Tubuhnya bergetar hebat sambil memeluk kepalanya, seluruh tubuhnya bergetar selama beberapa detik sebelum akhirnya ingin jatuh dan berbaring di atas kasur, tetapi Alseenio tahan dengan memeluk tubuhnya.


“Sayang, aku sangat lelah, aku sudah beberapa kali mengeluarkan cairan itu. Kita sudahi kegiatan ini, ya?“ Fara yang tubuhnya ditopang oleh kedua tangan Alseenio berkata dengan mata yang lemas dan sayu.


Fara tidak menduga Alseenio sangat lihai dalam memainkan bola miliknya. Namun, Fara tidak curiga dengan Alseenio, mungkin sudah bakatnya.


Alseenio memeluk Fara dan mencium bibir Fara dengan penuh kelembutan, dia mencium untuk beberapa saat. Menatap Fara, Alseenio pun berkata, “Apa sebaiknya aku memandikan kamu? Kamu sudah beberapa kali keluar, kan? Tubuhmu menjadi kotor sekarang.“


“Umm ….“ Mata Fara melebar sekilas, kemudian ia menundukkan tatapannya ke bawah dan berpikir. Setelah beberapa saat merenung, dia memberi tanggapan dengan anggukan kepala. “Boleh, tetapi kamu harus berjanji terlebih dahulu.“


“Ya,apa yang harus aku janjikan?“ Alseenio memiringkan kepalanya dan tersenyum lembut.


“Kamu tidak boleh melakukan hal yang lebih intim kepadaku. Cukup membersihkan aku tanpa ada kegiatan yang aneh, terutama memasukkan punyamu ke milikku, oke?“ Fara menatap Alseenio dengan mata yang sedikit lemas. Kalimat Alseenio sebelumnya membuat dia menjadi agak segar.


Bukannya menjawab lebih dahulu, Alseenio bangun daei kasur sambil menggendong Fara yang tidak mengenakan pakaian bagian tubuh atas. Bola besar itu bergoyang liar dan menghantam dada Alseenio beberapa kali.


Fara bingung dengan apa yang Alseenio lakukan dan ia menatap wajah Alseenio dengan ekspresi yang bingung.


“Baik, sekarang aku akan memandikan kamu.“


Saat berikutnya, Alseenio masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa Fara di pelukannya.


Di dalam sana, Alseenio membantu Fara membukakan semua pakaiannya.


Sambil menahan air ludah, Alseenio akhirnya sukses membuka semua pakaian yang dikenakan Fara.


Pada saat ini, Fara tengah berdiri sambil tanpa pakaian sambil menutupi bagian bawah tubuhnya. Wajahnya sudah sangat memerah, ia menundukkan kepala tidak berani menatap Alseenio yang sedang memandangi tubuhnya.


Melihat Fara yang tanpa mengenakan pakaian di depannya, adik kecil Alseenio perlahan terbangun dan menjadi besar.


“Sayang, jangan menatapku seperti itu. Ayo kita mulai mandinya~ ….“


Fara membalikkan tubuhnya dan berjalan ke dalam bathtub, kemudian ia berendam sambil memastikan seluruh tubuhnya terendam oleh air.


Alseenio akhirnya tersadar dari keadaan terkesima saat melihat keindahan tubuh Fara. Ia menelan ludah di dalam mulutnya dan mulai bergerak melepaskan baju atas dan menggulung celana panjangnya.

__ADS_1


Setelahnya, Alseenio berjalan ke arah bathtub dan memulai memandikan Fara untuk pertama kalinya.


Tangan Alseenio mulai menyentuh tubuh lembut dan mulus Fara dengan begitu hati-hati. Kedua telapak tangannya menjelajahi tubuh atas Fara dan mulai menggosoknya secara pelan-pelan dan penuh kehati-hatian.


Fara menikmati sentuhan Alseenio dan dia hanya diam membebaskan Alseenio yang meraba tubuhnya.


Selama kurang dari setengah jam, Alseenio berhasil membersihkan tubuh Fara secara keseluruhan.


Terjadi sebuah peristiwa yang tidak terduga ketika Alseenio membersihkan tubuh Fara.


Tiba-tiba saja Fara membuka celana Alseenio dan melepaskan dari tubuh Alseenio. Alseenio terkejut dengan gerakan Fara saat itu, sebab Fara hanya berdiri diam di tengah kamar mandi dan merasakan sentuhan tangannya.


Dengan demikian, Leviathan milik Alseenio terlepas tepat di depan wajah Fara.


Ekspresi wajah Fara ketika Leviathan miliknya lepas kandang sangatlah lucu, wajahnya memerah dengan mata yang melebar.


Pada saat Alseenio ingin memasukkan kembali Leviathan, tangan Fara menahan gerakannya dan dia menggelengkan kepalanya menatap Alseenio. Tatapannya kepada Alseenio terlihat enggan, mengisyaratkan bahwa dia tidak boleh memasukkan kembali Leviathan yang besar.


Setelah itu, peristiwa yang tak disangka-sangka terjadi. Fara menggosok-gosok Leviathan dan mencucinya.


Mereka berdua saling mencuci tubuh masing-masing tanpa sedikit pun berbicara.


Keduanya saling menikmati pemandangan tubuh satu sama lain.


Selama 30 menit itu, Fara dan Alseenio menyentuh seluruh tubuh masing-masing. Alseenio sempat menyentuh kue apem milik Fara yang berwarna pink, dan rasanya sangat luar biasa.


Tidak perlu berlama-lama mereka melakukan hal tersebut, akan berbahaya jika terlalu lama. Jadi, setelah 30 menit, mereka keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian lagi.


Keduanya saling menatap mata satu sama lain, terlihat begitu kikuk dan malu-malu. Pipi Fara memanas dan matanya menurun ke bawah.


Penampilan Fara saat ini sangat lucu dan menggemaskan, Alseenio tidak tahan lagi, dan ia bergerak mendekati Fara untuk memeluknya dengan erat.


Tubuh Fara yang tegang langsung menjadi tenang dan santai, bagai es yang mencair di dalam ruangan yang hangat.


Wajah mereka berdua saling berdekatan dan tak lama mereka berciuman. Ciuman pada kesempatan kali ini berbeda, mereka makin panas dan liar, Alseenio tidak ragu-ragu lagi meremas bola milik Fara.


“Aku ke kamar dahulu,” ucap Alseenio sembari tersenyum.


“Ya, itu pasti.“


Percakapan mereka berdua terdengar sangat canggung.


Selanjutnya, Alseenio mencium kening Fara, berbalik badan dan keluar dari kamar Fara.


Melihat Alseenio yang menghilang di balik pintu, sebuah senyuman bahagia masih tercetak di mulut Fara.


Perlahan Fara berjalan ke kasur dan dia duduk di atas kasur. Pikirannya kini masih terbayang-bayang peristiwa yang telah terjadi barusan.


Begitu membayangkan dan mengingat peristiwa yang baru saja terjadi, Fara menepuk-nepuk pipinya, ia sangat malu hingga bertingkah seperti gadis remaja yang sedang jatuh cinta.


“Apa yang telah aku lakukan dengan Alseenio tadi? Itu memalukan~ ….“


Tak bisa terlepas pikirannya dari peristiwa yang telah terjadi. Fara masih terus mengulang ingatan tentang kegiatan itu. Tak peduli seberapa banyak dia mencoba mengalihkan pikirannya, ingatan tersebut terus muncul di dalam kepalanya.


Pada saat Fara menendang kasur untuk melampiaskan rasa malunya, sebuah potongan ingatan muncul di dalam pikirannya dan memori ingatan diputar.


Di sebuah tempat yang indah, tempat di mana tanaman hijau tumbuh dengan subur, pemandangan indah sangat mudah ditemui.


Terdapat sebuah istana berdiri di samping air terjun cantik yang mengalir ke danau yang jernih, dan di seberang danau ada sebuah bukit yang berdiri gagah menunjukkan keindahannya.


Di dalam istana tersebut ada 2 orang yang sedang duduk dengan posisi yang ambigu. Seorang wanita dan seorang pria sedang duduk bersama dengan posisi seperti seorang ibu yang tengah menyusui anaknya.


Kedua orang ini memiliki paras wajah yang cantik dan tampan. Saking tampannya tidak ada yang bisa menandingi tingginya nilai penampilan wajah mereka.


“Bagaimana? Kamu menyukai itu?“ Wanita cantik yang duduk di ruangan kamar yang sangat megah bertanya kepada pria yang berbaring di atas pangkuannya.


Pria ini sedang bermain dengan buah besar milik wanita cantik tersebut, wajah tampannya dengan tenang memainkan kenikmatan buah yang menggantung.


“Suka, aku sangat menyukainya.“ Pria ini mengangguk dan masih sibuk bermain dengan bola-bola tersebut, seolah-olah dia tidak ingin melewatkan 1 detik pun momen bermain benda ini.

__ADS_1


Wanita ini tersenyum melihat tingkah pria ini. Dia membiarkan pria tersebut bermain-main dengan bola miliknya.


“Aa! Sakit! Jangan gigit bagian itu!“ kata Wanita tersebut kepada pria ini.


Mendengar ini, pria tersebut langsung memberhentikan gerakannya dan ia tidak melakukan hal itu lagi.


Merasakan rasa sakit yang menghilang, senyuman muncul kembali di wajah wanita ini. Dia memandang pria itu dengan tatapan yang penuh kasih sayang.


Akan tetapi, suasana yang indah dan damai ini tidak bertahan lama, seseorang datang ke dalam istana mereka berdua.


“Halo! Aku datang untuk berkunjung!“


Sebuah panggilan terdengar dari luar ruangan dan mereka berdua mendengar ini dengan jelas.


Dengan gegas, pria tersebut bangun dari pangkuan wanita itu dan segera merapikan bajunya. Wanita ini pun melakukan hal yang sama, dia berdiri dan buru-buru merapikan gaunnya yang berwarna putih dan hijau.


Keduanya berdiri dengan pakaian yang rapi kembali


“Sepertinya … kita akan melanjutkannya nanti,” kata pria ini dengan wajah yang serius.


Wanita ini tersenyum dan mengangguk. “Kapan pun yang kamu mau, aku akan selalu ada.“


“Baik. Ayo kita keluar!“ Pria ini mengulurkan tangannya ke arah wanita tersebut.


Tangan wanita ini mengambil tangan pria dengan lembut. “Ayo! Jangan buat dia menunggu.“


“Kalau begitu, aku akan membawamu ke sana dengan cepat“


Tanpa aba-aba, pria ini langsung menggendong wanita itu dengan gaya menggendong seorang putri. Selanjutnya, sosok pria dan wanita tersebut menghilang dari ruangan tersebut entah pergi ke mana. Hanya menyisakan satu tetes air yang jatuh di tempat di mana wanita itu berdiri.


Sepotong ingatan itu berhenti dan kesadaran Fara kembali.


“Siapa mereka berdua?“ Setelah mengingat potongan ingatan itu Fara bertanya-tanya tentang siapa yang ada di dalam ingatan tersebut yang telah diputar. “Mengapa wajah pria itu mirip dengan Nio?“


Fara masih ingat dengan bentuk wajah pria yang sedang memainkan bagian tubuh wanita berbentuk bulat dan besar, mirip dengan Alseenio, tetapi ini versi lebih tampannya. Begitu tampan, Fara bisa mengingat betapa bercahayanya wajah pria tersebut, terlebih saat tersenyum, seolah-olah dunia berubah menjadi lebih baik dengan munculnya senyuman ini.


“Tunggu!“ Fara baru sadar akan sesuatu yang ada di dalam gambaran ingatan itu.


Berdiri turun dari kasur, Fara berjalan menuju ke cermin yang ada di dalam kamar.


“Wajah wanita itu … mirip dengan wajahku!“


Di dalam cermin, Fara menatap wajahnya yang ada di dalam cermin dengan ekspresi yang menunjukkan rasa terkejut tak tertahankan.


Wajah wanita yang ada di dalam ingatan itu ternyata mirip dengan wajahnya. “Jangan bilang wanita itu adalah aku? Dan pria itu adalah Nio?!“


“…”


Di sisi lain, Alseenio duduk di atas kursi sambil mengedit video di laptopnya. Wajah Alseenio terlihat aneh saat ini, dia menatap ke arah benda yang ia pegang di tangannya.


Selembar daun berukuran sedang digenggam oleh Alseenio. Pada daun ini terdapat sederet tulisan yang bercahaya, tidak tahu ditulis dengan alat apa dan bahan apa. Tulisan yang tercatat di daun bertuliskan sebuah informasi yang belum dimengerti maksudnya.


“Apa yang dipercepat?“ gumam Alseenio sambil memandangi tulisan yang ada di daun tersebut.


Dalam daun itu memiliki sebuah informasi yang bertuliskan seperti ini “Percepat! Mereka sebentar lagi datang”.


Alseenio sama sekali tidak tahu apa artinya tulisan itu. Daun ini pun tiba-tiba muncul di mejanya begitu saja tanpa diketahui olehnya sendiri.


Dilihat dari tulisan yang bercahaya ini, Alseenio merasa bahwa kalimat tulisan tersebut bersifat penting.


Daun ini juga terlihat aneh, tidak ada tulisan yang bisa bercahaya seperti ini tanpa adanya sebab dan alat. Daun ini kelihatan sangat fantasi dan memiliki kesan sihir yang kuat.


Melirik daun ini lebih lama, Alseenio menjadi teringat dengan pengalaman anehnya bertemu dengan seorang Dewi atau makhluk luar biasa.


“Akankah ini datang dari dia?“ tebak Alseenio setelah mengingat Dewi Gaia.


Sesuatu yang aneh dan tak mungkin pasti datang dari Sistem, tetapi Sistem tidak mengakui bahwa daun ini datang darinya.


Dugaan lainnya adalah Dewi itu, yang pernah membawanya ke domainnya.

__ADS_1


Begitu Alseenio memikirkan ini, tulisan yang ada di daun tersebut berubah.


Alseenio menyadari ini dan dia segera membaca tulisannya.


__ADS_2