SISTEM TERTAMPAN

SISTEM TERTAMPAN
154: Mengekspos Hubungan


__ADS_3

“Pacar?!“


Semuanya kaget mendengar jawaban Alseenio, terlebih Enji. Ia kira wanita di sebelah Alseenio adalah adik datau saudarinya Alseenio. Enji termasuk orang yang tidak percaya bahwa Alseenio memiliki pacar. Diam-diam Enji seorang penggemar Alseenio, tetapi tidak terlalu fanatik.


Kemungkinan besar setelah acara ini ia akan fanatik dengan Alseenio.


Meskipun lebih tua dari usianya dari Alseenio, tidak menghalangi untuk Enji menjadi salah seorang penggemar Alseenio.


“Iya, ini pacarku, namanya Fara Nisa.“ Alseenio mengangguk tanpa ragu dan tersenyum.


Gesta, Pincen, dan Enji tahu ini, mereka juga sempat melihat Yitub atau media sosial, dan berita tentang Alseenio tersebar ke mana-mana. Otomatis mereka juga tahu tentang wanita yang ada bersama Alseenio dan selalu memakai masker ini, mereka ingin tahu siapa sebenarnya wanita itu.


Pada akhirnya, di sini mereka bisa mengetahui bahwa wanita yang selama ini bersama Alseenio adalah pacarnya.


Fara menundukkan kepalanya, ia masih belum percaya diri dilihat oleh banyak orang.


Melihat tindakan Fara, membuat semua orang merasa gemas dengannya, sosok Fara meski tidak menampakkan keseluruhan wajahnya, itu terlihat lucu dan imut.


“Banyak orang yang bertanya-tanya tentang wanita yang selalu bersamaku dan bahkan pernah muncul di beberapa video Yitub atau Tiktod. Sekarang, di kesempatan kali ini, aku jawab bahwa wanita ini adalah pacarku,” ucap Alseenio dengan tegas.


Dalam sekejap, ruang studio menjadi sunyi sesaat. Terdengar suara isak tangis samar-samar di studio. Itu berasal dari wanita-wanita yang bekerja di bagian tim acara.


“Enji, kamu kenapa?“ Gesta melihat wajah Enji yang dipenuhi perasaan kecewa.


Sudut bibir Enji melengkung ke bawah, pandangan muram yang tertunduk. Aura sedih terpancar dari tubuhnya.


“Tidak apa-apa, aku sedikit merasa sedih saat tahu Alseenio telah dimiliki orang lain. Namun, di lain sisi aku juga senang Alseenio menemukan cintanya.“ Mata Enji memerah, ia ingin menangis.


Pada tahap ini, dia sudah melewati tahap negosiasi dalam 5 tahap kesedihan.


“Mengapa wanita di studio semuanya menangis?“ Pincen heran dengan reaksi mereka semua.


Reaksi mereka seharusnya bahagia karena idola tersayang menemukan kebahagiaannya, bukannya ditangisi.


Merasakan suasana menjadi aneh, Alseenio mulai memperbaiki suasana. “Meskipun aku punya Fara, itu tidak mengurangi rasa sayang kepada para penggemar. Tidak perlu khawatir, aku akan terus ada di hati kalian semua.“


Suara lembut Alseenio bergema di ruang studio, kalimat itu tepat mengenai hati semua penggemar yang menonton siaran langsung televisi ini dan semua penggemar yang ada di ruang studio, termasuk Enji.


Perasaan sedih, kecewa, dan putus asa mulai mereda, rasa senang dan bahagia tumbuh di tiap-tiap hati penggemar.


“Aku juga manusia, kalian juga manusia, kita sama-sama manusia, dan manusia berhak untuk mengambil sebuah pilihan, termasuk memilih pasangan. Jangan anggap idola sebagai boneka dan benda yang seenaknya diatur sesuai keinginan kalian. Semoga kalian senang dengan pilihan yang aku pilih.


“Terima kasih sudah menyukai aku, senang dengan bakatku, mendukung aku di media sosial, aku senang disemangati oleh kalian. Aku memiliki pasangan bukan berarti aku akan menghilang. Aku akan tetap ada dan terus melakukan kegiatan yang aku sukai. Semoga kalian mengerti.“


Alseenio menatap ke arah kamera dengan wajah tampannya yang tampak serius, kemudian ia melemparkan senyuman hangat di akhir kalimat.


Melihat senyuman Alseenio, membuat semua penggemar tersadar. Mereka tidak boleh egois, mereka sebagai pendukung semestinya mendukung pilihan idolanya, bukan ditentang dan dilarang. Mereka mengakui kesalahan mereka. Perlahan hati penggemar yang tersadar menjadi ikhlas dan turut senang dengan Alseenio memiliki seorang pacar.


Suasana canggung dan aneh menghilang, Enji kembali tersenyum dan perlahan menerima kenyataan. Di tahap ini, Enji mulai menerima walau masih ada rasa sakit yang dirasa.


Gesta sadar dengan ini, kemudian ia langsung melanjutkan acara wawancara ini berlangsung. “Mengapa Fara selalu memakai masker? Apakah ada sesuatu yang buruk disembunyikan? Atau ada bisul besar?“


“Hahaha, tidak.“ Alseenio tertawa sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Lantas, mengapa tidak dibuka saja maskernya?“ Gesta sangat penasaran dengan Fara.


Enji ikut penasaran dan mendukung Gesta. “Fara, bolehkah kamu membuka masker mulutnya?“


Alseenio menoleh ke Fara dan menatapnya.


Mata Fara melirik sorot mata Alseenio, ia mengetahui maksud dari Alseenio.


Fara mengangguk tanpa berbicara sebagai tanggapannya, kemudian tangannya bergerak dan mulai melepaskan kaitan masker mulut dengan hati-hati.


Mereka semua menaruh perhatian pada wajah Fara, mereka dengan sabar menunggu Fara membuka masker hitam yang ia kenakan.


Tali masker sebelah kanan terlepas dari daun telingan kanan, tangan Fara melepaskan tali masker yang satunya lagi. Kedua tali masker sudah terlepas, hanya tinggal Fara mengangkat masker ini dari mulutnya.


Di bawah tatapan mata penasaran puluhan orang di ruang studio, wajah Fara yang cantik terungkap, membuat orang-orang terdiam untuk beberapa saat.


Fara melipat masker dan tersenyum ke arah kamera juga semua orang. Senyuman yang ditampilkan terlihat sangat lembut, bagai senyuman dari bidadari yang nyata.


Gesta dan Pincen menelan ludah tanpa sadar. Terlah cantik, wajah Fara terlalu indah, bahkan Enji yang cantik tidak ada apa-apanya dibanding kecantikan Fara.


Semua pria yang ada di ruang studio terpana seketika, bahkan ada pria yang menggosok matanya untuk memastikan apa yang ia lihat adalah nyata atau fana.


Melihat tanggapan dan reaksi semua orang yang hadir di tempat ini, Alseenio dan Fara tersenyum.


Kedua senyuman ini bergabung menciptakan sinar kecantikan dan ketampanan yang membuat mata semua orang termanjakan tak terbayang.


Sungguh keindahan yang di luar nalar manusia.


Hal ini dirasakan juga oleh Enji. Meskipun ada rasa iri karena kecantikan Fara yang jauh di atasnya, ia merasa senang tahu pasangan Alseenio adalah orang yang lebih baik kecantikannya dibandingkan dengan dirinya. Semua penggemar juga mempunyai pikiran yang sama dengan Enji.


Setelah Fara membuka masker dan semua orang kembali normal, acara berlanjut lagi.


Gesta, Pincen, dan Enji menanyakan sesuatu di antara keduanya, bukan lagi Alseenio seorang yang dilemparkan pertanyaan.


Dari pertanyaan-pertanyaan inilah yang secara tak langsung menambah persetujuan penggemar terhadap hubungan Alseenio dan Fara. Ternyata, selain cantik, Fara juga memiliki kepribadian yang baik.


“Alseenio, bisakah kamu menyanyikan lagu di sini?“ Enji tiba-tiba bertanya kepada Alseenio.


“Bisa, mau lagu apa?“ Alseenio mengangguk dan menoleh ke samping untuk melihat Enji.


Gesta yang mendengar ini langsung melontarkan jawaban, “Lagu Rupiah saja.“


“Rupiah? Lagu Pak Haji?“ Alseenio tahu lagu bergenre dangdut ini.


Ia tahu bahwa lagu ini sangat kontroversi di zaman rezim dahulu.


“Iya, kamu tahu?“ Gesta tak menyangka Alseenio tahu lagunya. Lagu yang ia sebutkan adalah lagu lawas yang cukup terkenal di kalangan orang tahun 1980 ke atas.


“Tahu, tetapi ada baiknya jangan lagu itu. Lagu lain saja.“ Alseenio duduk dengan postur tubuh yang baik dan rapi.


Selama mereka mengobrol, semua orang menyukai cara Alseenio duduk dan menghadap mereka semua. Ketiga pembawa acara yang paling dekat dengan Alseenio bisa merasakan aura elegan dan lembut yang keluar dari tubuh Alseenio. Membuat mereka nyaman ketika sesi perbincangan berlangsung.


“Lagu apa, ya?“ Gesta merenung memikirkan lagu yang cocok untuk dinyanyikan oleh Alseenio.

__ADS_1


“Bagaimana kalau aku menyanyikan lagu Mine dari Putra Sigombing?“ Alseenio tiba-tiba teringat lagu satu ini yang bagus untuk dinyanyikan.


Gesta yang merenung langsung tersadar dan ia berkata dengan wajah yang cerah, seperti telah menemukan sesuatu benda berharga, “Aku tahu! Bagaimana kalau kamu bernyanyi lagu Mine dari Putra Sigombing?“


“Telat, Gesta!“ Enji memukul Gesta dengan bantal, niatnya hanya bercanda.


“Hahaha!“


Setelah itu, Alseenio bernyanyi beberapa lirik dari lagu tersebut secara langsung tanpa diiringi oleh musik.


“Oh, Baby. I'll take you to the sky, forever you and i~ ….“


“Dan kita akan selalu bersama hingga akhir hayat~ ….“


“Cinta kita akan selalu ada, selalu bersama, dan kamu selalu menjadi milikku~ ….“


“You'll be mine~ ….“


Lagu diakhiri dengan senyuman menawan Alseenio yang ditujukan untuk Fara yang duduk di sebelahnya.


Lagu tadi memang dipersembahkan kepada Fara. Liriknya sangat cocok untuk menggambarkan isi hati Alseenio kepada Fara.


Kemampuan bernyanyi Alseenio sangat sempurna dan terlihat mudah, tetapi jika didengar dengan saksama, cara bernyanyi Alseenio dipenuhi oleh teknik bernyanyi yang sangat tinggi.


Tangga nada serta tempo nyanyian sangat pas sehingga menciptakan sebuah perasaan yang manis pada hati orang yang mendengar nyanyian Alseenio.


Setelah Alseenio bernyanyi, mereka semua bertepuk tangan untuk menghormati dan menghargai nyanyian Alseenio yang sangat bagus.


Tak lama kemudian, acara berakhir dan ditutup oleh ucapan Pincen yang mendoakan kesuksesan Alseenio dan Fara dalam segi hubungan, pekerjaan, hobi, urusan, dan lainnya.


Alseenio dan Fara juga mendoakan kembali mereka.


“Terima kasih, Alseenio dan Fara. Kami senang bisa berkenalan dengan kalian berdua, banyak informasi yang kami tahu tentang kalian, semoga saja kita bisa lebih dekat dan berteman baik. Kalau begitu, sampai ketemu lagi di Acara Malam berikutnya!“


Kamera acara mati dan tayangan dialihkan ke iklan-iklan yang sejak tadi sudah menunggu diputar.


Ketika kamera mati, Alseenio dan Fara masih di sana duduk dan mengobrol dengan ketiga pembawa acara ini. Obrolan mereka lebih santai ketimbang saat kamera menyala.


“Alseenio, bolehkah kita foto bersama? Anakku yang masih sekolah menengah tahu kamu dan ia juga penggemar kamu. Aku sampai bingung mengapa dia begitu fanatik kepadamu. Di ponselnya tersimpan beberapa foto wajah kamu. Dia pasti senang dan iri jika ayahnya foto bersamamu. Hahaha!“ Gesta tersenyum sambil mengambil ponsel di kantung celana. Bersiap untuk mengambil swafoto bersama dengan Alseenio.


Sementara itu, Fara dan Enji menjadi akrab satu sama lain, mereka berdua sangat heboh membicarakan sesuatu. Keduanya masih satu frekuensi.


Melihat Gesta yang berfoto bersama dengan Alseenio, Pincen meminta izin kepada Alseenio untuk melihat mobilnya, ia baru saja diberi tahu bahwa Alseenio ke sini dengan membawa mobil Bugatti, sebagai pencinta mobil, ia harus melihatnya secara langsung.


Sebelum Alseenio dan Fara pulang, mereka semua bersama dengan Tim Acara Malam melakukan foto bersama. Kenang-kenangan mereka bisa foto dengan pasangan paling cantik dan tampan.


Kapan lagi mereka bisa bertemu Alseenio dan Fara. Mereka tahu sendiri bahwa Alseenio kebanyakan menolak banyak tawaran acara, dan ini pertama kalinya Alseenio dan Fara masuk ke dalam televisi. Sungguh sangat disayangkan, apabila mereka menyia-nyiakan kesempatan ini.


Setelah pulang dari Gedung Not Televisi, Alseenio dan Fara ke rumah sakit terlebih dahulu. Keduanya memastikan keadaan Ibu Fara yang menjaga di rumah sakit.


Mereka berdua di rumah sakit sampai jam 10 malam, meninggalkan Ibu Fara yang setia menemani Ayah Fara.


[Ding! Misi Tampil di Televisi Terselesaikan dan Dapatkan Kemampuan Akting Tingkat Dewa, Nilai Penampilan +25, dan Fisik +50!]

__ADS_1


__ADS_2