
“Bang, aku mau bertanya,” ujar Darel sambil melirik Alseenio yang tengah menyetir mobil.
“Tanya saja, silakan.“ Alseenio menoleh dan tersenyum ke arah Darel yang duduk di kursi depan.
“Abang itu orang kaya, ya?“ tanya Darel dengan polos.
Orang tua Darel merasa malu mendengar pertanyaan anaknya, suatu pertanyaan yang sebaiknya jangan dikeluarkan.
Alseenio menggerakkan kepalanya satu kali anggukan begitu mendengar pertanyaan Darel, kemudian ia berkata, “Bisa dibilang begitu. Apakah Darel mau menjadi seperti Abang?“
“Mau banget!“ seru Darel sembari mengangguk cepat.
Tangan Alseenio terulur dan mengusap dengan lembut kepala Darel. “ Kalau mau, Darel dan yang lain harus rajin belajar. Nanti Abang akan menyekolahkan kalian.“
“Benar, kah?“ Mata Darel membulat, ia terkejut mendengar perkataan Alseenio.
“Iya, Darel.“ Alseenio melepaskan tangannya dari kepala Darel dan kembali fokus menyetir. “Namun, kamu harus berjanji pada Abang, sekolahnya harus benar dan jangan malas-malasan.“
“Siap, Abang! Aku pasti sekolah dengan baik!“ Mata Darel menyala dengan semangat yang membara.
“Nia juga!“
“Umm … Zia juga~”
Kedua gadis kecil yang duduk di belakang mobil bersama orang tuanya ikut berseru.
Mereka merasa sangat bahagia ketika tahu niat Alseenio yang ingin menyekolahkan mereka. Perasaan yang sama juga dirasakan oleh kedua orang tuanya.
Berkali-kali mereka berdua mengucapkan terima kasih kepada Alseenio karena telah banyak membantu mereka.
Bagi mereka, Alseenio adalah orang yang paling berjasa. Orang yang layak dihormati dan dikagumi bahkan oleh anak cucunya nanti.
Mereka bingung membalas kebaikan Alseenio dengan apa, tidak ada harta yang mereka punya yang nilainya sebanding dengan kebaikan Alseenio kepada mereka.
“Bu, Pak, aku akan membiayai sekolah anak kalian. Tolong gunakan uang yang ada di dalam kartu dengan baik dan bijak. Uang ini akan dipantau. Maka dari itu, sekali lagi, aku mint Ibu dan Bapak menggunakan uang dengan benar dan jujur. Total 500 juta untuk keperluan sekolah Darel, Zia, dan Nia, dan sisanya 500 juta lagi untuk keperluan makan sehari-hari.“
Sebelum sampai di mansion, Alseenio membawa keluarga Darel ke kantor bank pusat untuk membuka rekening. Rekening tersebut atas nama Bapaknya Darel, sebagai seorang ayah sudah sepatutnya yang memimpin keluarga, Alseenio memilih Ayah Darel untuk membuka rekening, dan Ibu Darel yang mengelola uang.
Pada kenyataannya, wanita cukup pintar mengelola keuangan, tak heran jika ibu kita masing-masing saat kecil memberi uang jajan kepada kita sangat sedikit, berbeda dengan ayah yang memberi uang dengan nominal yang lebih besar.
Hal itu merupakan cara Ibu kita menghemat keuangan demi bisa makan sehari-hari.
Alseenio segera mengisi uang ke rekening mereka dengan jumlah 1 miliar.
Untungnya, Presdir BSA ada di sana, yakni Bapak Dodi, dia membantu Alseenio mengisikan rekening bank atas nama Ayah Darel uang sebanyak itu.
Alseenio sempat berbincang-bincang mengenai perusahaan sesaat dengan Bapak Dodi sambil menunggu proses alokasi uang.
Ada 15% saham yang Alseenio punya di perusahaan BSA ini, akhirnya Alseenio bisa berkunjung untuk melihat gedung pusat meskipun untuk beberapa saat.
Setelah itu, Bapak Dodi berpamitan kepada Alseenio karena pekerjaannya sudah selesai hari ini.
Urusan rekening pun tak lama selesai begitu Bapak Dodi pulang, dan mereka semua pun melanjutkan kembali perjalanan menuju mansion.
Melihat kartu ATM di tangannya, Ayah Darel memegang kartu dengan gemetar. Matanya memandang kartu dengan sorotan mata yang tidak percaya.
Perlahan air matanya keluar dan jatuh ke atas paha.
Ibu Darel sudah menangis dari mereka masih ada di dalam gedung bank.
Untuk sementara waktu, di dalam mobil dipenuhi suara tangisan kebahagiaan, ketiga anak kecil juga ikut menangis, mereka sedikit mengerti uang.
Mendengar ucapan Alseenio tadi, mereka paham apa maksudnya.
Zia dan Nia memeluk ayah dan ibunya masing-masing di kursi belakang, sedangkan Darel menggosok matanya dan berusaha untuk tidak menangis.
Namun, air matanya terus keluar dan membanjiri pipinya.
Alseenio membiarkan mereka menangis karena bahagia dan lega.
Sempat Alseenio berpikir apabila posisinya ada di mereka, mungkin Alseenio akan menangis ketika ada seseorang yang membantunya dalam kesulitan.
Jujur saja, Alseenio ingin menangis, tetapi ia tidak bisa melakukannya.
Jika dia menangis, akan berbahaya, sebab saat ini dirinya sedang menyetir mobil. Penglihatan mata Alseenio akan terhalangi oleh bayangan air yang bersemayam di matanya, itu terlihat buram sehingga Alseenio tidak bisa melihat kondisi jalan raya dengan jelas.
Seiring melajunya mobil, mereka perlahan berhenti menangis, kini mereka mengucapkan terima kasih yang paling dalam dan tulus kepada Alseenio.
Alseenio merespons dengan anggukan sambil menenangkan mereka semua.
“Sebentar lagi kita sampai,” Alseenio memperingatkan mereka.
Darel, Nia, dan Zia berekspresi tidak sabar, mereka ingin melihat tempat tinggal Alseenio.
Ketiganya secara serempak mengalihkan pandangan matanya ke arah luar mobil.
Rumah besar demi rumah besar mereka lihat. Mobil yang mereka tumpangi sudah memasuki area perumahan elite.
Tiap rumah besar yang mereka lihat, akan ada suara seruan dari mereka bertiga. Pertama kalinya mereka melihat rumah besar sedekat itu.
“Rumahnya bagus-bagus, Nia suka! Apalagi warna rumahnya pink, sangat lucu!“
“Lebih bagus rumah yang sebelumnya, di pagarnya ada gambar yang keren!“
“Zia setuju dengan Nia, rumah warna pink paling bagus ….“
Celotehan dan seruan ketiga anak kecil ini terdengar seru dan asyik. Masa-masa kecil adalah masa-masa di mana semuanya terasa seru.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, sebuah rumah besar terlihat di kejauhan dengan sebuah helikopter yang bertengger di atas bangunan rumah.
Mata ketiga anak ini teralihkan dan mereka menatap rumah tersebut dengan mata yang membesar.
“Besar sekali rumahnya! Ada helikopternya juga lagi! Rumah yang ada gambar keren tadi tidak jadi Darel sukai, Darel suka yang ini sekarang!“
“Rumahnya sangat besar, Nia suka yang besar!“
“Zia juga suka yang lebih besar ….“
Seketika suasana canggung memenuhi dalam mobil, kedua orang tua Darel terdiam dan merasa kikuk karena ucapan kedua putrinya.
Keduanya tidak berani melihat ke arah cermin spion dalam mobil, lebih canggung jika dilihat Alseenio.
Sementara itu, Alseenio terdiam sesaat, kemudian ia menekan klakson agar satpam membukakan pintu gerbang mansion.
Segera, Pakuitod membukakan gerbang untuk mobil Alseenio.
Setelahnya, Alseenio mengendalikan mobil ke dalam area mansion.
Di dalam mansion, lebih tepatnya di parkiran depan mansion, Alseenio melihat banyak sepeda motor dan mobil yang terparkir, artinya orang-orang yang ia undang sudah banyak yang datang.
Benar saja dengan dugaannya, begitu mobil masuk ke dalam tempat parkir bawah mansion, Alseenio melihat Abang MV serta beberapa Tim Semfack tengah memandangi koleksi sepeda motor dan mobil Alseenio.
Saat melihat mobil yang dikendarai Alseenio datang, mereka langsung menggerakkan matanya untuk melihat mobil ini.
“Bang Nio sudah datang, kalian tidak boleh lancang pegang-pegang sepeda motornya.“
“Sutt! Jangan berisik, orang yang kita tunggu akhirnya datang.“
“Sepertinya Bang Nio tidak sendiri.“
“…”
Mereka semua berbisik-bisik saat melihat mobil lain yang datang, bisa dilihat dari luar, di balik kaca mobil terlihat ada wajah Alseenio dan beberapa orang di dalam.
Pada saat mobil berhenti dan terparkir dengan rapi, sosok Alseenio keluar bersama dengan keluarga Darel.
Selanjutnya, Alseenio melakukan salam pertemuan dengan mereka semua.
“Halo, Abang Mv. Bagaimana kabarnya?“
“Halo, Bang Nalpi, ketemu lagi kita.“
“…”
Keluarga Darel juga ikut bersalaman meski tidak kenal orang-orang ini.
“Sebentar, Semuanya. Aku mau ke atas dahulu, kalian lihat-lihat dahulu saja, kalau mau coba nyalakan, silakan saja. Ini kuncinya.“
Selepas memberikan kotak kayu yang berisikan kunci mobil dan sepeda motor, Alseenio membawa keluarga Darel ke atas, ke lantai 1 mansion.
Mata ketiga anak ini tertulis rasa penasaran dan keingintahuan yang besar. Mata bersih Darel dan dua gadis kecil menjelajahi apa pun yang ia lewati.
Alseenio dan keluarga Darel ke lantai 1 melewati tangga dan bukan lift.
Alseenio terbiasa memakai tangga jadi ia lupa tidak menaiki lift bersama mereka.
Setibanya di lantai 1 rumah, Alseenio dan yang lainnya melihat kumpulan orang tengah duduk di sofa ruang tamu.
Dilihat lebih dekat, ternyata itu Tim Jaya Exford dan kumpulan Yituber gaming dan meme.
Bang Egi MiawGuguk juga hadir di sini dan beberapa Yituber gim yang belum dikenal Alseenio.
Total ada 12 orang Yituber gaming yang datang, dan 17 orang Yituber Motovlog, belum termasuk pasangan masing-masing dari Yituber ini.
Jika diakumulasikan, totalnya ada 43 orang yang datang, sangat ramai.
Dalam sekejap rumah Alseenio menjadi ramai dan penuh oleh kicauan orang mengobrol.
Melihat Alseenio dan ketiga anak kecil datang, Fara yang sedang mengobrol dengan Kak Agnis langsung berdiri dan mendekati mereka.
Fara menyambut hangat kedatangan ketiga anak ini, ia berkenalan dengan orang tua anak-anak kecil ini sesaat sebelum akhirnya mengajak Darel, Nia, dan Zia ke dapur untuk mengambil makanan.
Orang tua Darel diajak mengobrol oleh orang tua Fara, Bella, dan Gondals.
Sesama orang yang sudah menikah biasanya obrolan mereka sinkron dan cocok.
Dan itu benar, Alseenio mendengar pembicaraan mereka yang saling terhubung satu sama lain, kedua orang tua Darel mulai merasa nyaman.
Mereka semua saling berbaur, Yituber Motovlog dan gim berkenalan.
Di momen inilah kebersamaan mulai muncul.
Beberapa wanita dari Yituber Gim dan Motovlogger bersatu, mereka pergi ke dapur bersama Fara untuk mencoba belajar membuat kue sambil menunggu waktu pukul jam 10 malam.
Sementara para pria tersebar, mereka pergi ke mana saja, ada yang ke lantai 3 untuk berenang di malam hari, ada yang ke tempat parkir untuk membuat konten koleksi mobil dan sepeda motor Alseenio, dan ada yang bermain gim di ruang keluarga.
Alseenio pergi ke mana saja untuk memantau mereka sambil mengobrol dengan masing-masing dari mereka.
Para orang tua masih di ruang tamu, mereka mengobrol sambil menonton televisi yang disediakan di ruang tamu.
Ketiga anak kecil tersebut berpencar, kedua gadis ikut Fara ke dapur, mereka tengah sibuk memperhatikan cara bagaimana membuat kue.
Sedang Darel sedang berbaur dengan Bang Luffi dan temannya yang asyik bermain gim konsol.
“Bocah ini jago juga, siapa namanya?“ Bang Luffi bertanya kepada Darel yang duduk santai di sebelahnya.
__ADS_1
“Namaku Darel, Bang.“ Farel menoleh sambil memegangi alat kontrol permainan.
“Darel, kamu jago bermain gim, diajari siapa?“
Bang Luffi kalah bermain gim bertarung 1 lawan 1 dengan Darel, ini sesuatu yang jarang terjadi. Bang Luffi terkenal jago bermain gim duel, tetapi kali ini dikalahkan oleh seorang anak kecil ingusan.
“Tidak diajari siapa-siapa, aku baru pertama kali main gim ini,” ucap Darel dengan mata yang polos.
“Benaran, kan?“
“Iya, benar, Darel tidak bohong.“
Mendengar jawaban Darel, Bang Luffi tertegun, ia tidak percaya bisa dikalahkan Darel, seorang anak kecil yang belum disunat. Kepercayaan diri Bang Luffi dalam bermain gim seketika runtuh.
“Bakatnya memang bermain gim, kelihatan anak kecil ini dengan cepat beradaptasi terhadap gim dan alat kontrolnya,” Bang Windi berkata setelah mengamati Darel bermain gim melawan Bang Luffi tadi.
Dalam 3 ronde, Bang Luffi kalah telak melawan Darel, berarti itu bukan sebuah kebetulan, melainkan kebenaran bahwa Darel memiliki bakat bermain gim.
“Sepertinya iya, Darel ini tidak asal memencet tombol tadi, iya paham dengan kemampuan karakternya.“ Candy setuju dengan pendapat Bang Windi.
Bang Luffi berjanji akan memberikan sebuah mainan kepada Darel apabila ia mengalahkan dirinya lagi.
Alhasil, Darel dengan mudah mengalahkan Bang Luffi di ronde terakhir atau ronde keempat.
Dengan begitu, Bang Luffi harus menepati janjinya.
Sontak, Darel melompat-lompat dan merasa senang.
Alseenio tidak tahu tentang ini, sekarang ia tengah berada di dapur, sibuk melihat Fara dan wanita membuat kue.
Melihat kedatangan Alseenio, wanita-wanita menjadi semangat dalam mempelajari ilmu membuat kue.
Mereka ingin tampil baik di depan Alseenio, padahal mereka tahu bahwa Fara adalah pasangannya.
Tetap saja, wanita ingin tampil yang terbaik di hadapan pria tampan, terlebih pria setampan Alseenio.
Tidak terasa waktu berlalu, jam 10 malam akhirnya tiba dan mereka berkumpul di luar mansion, lebih tepatnya di lahan kosong berlantai marmer.
Di sana sudah disiapkan tempat bakar-bakaran dan tempat duduk, Alseenio dan orang rumah yang menyediakan ini semua.
Meja besar untuk meletakkan makanan yang dibakar sudah ditempatkan di sana.
Pencahayaan berasal lampu neon kelap-kelip yang tergantung dan tergeletak di sisi lantai.
Keseluruhan tampak meriah dan cocok dijadikan tempat pesta bakar-bakar.
Orang yang akan membakar daging dan yang lainnya adalah Alseenio bersama dengan salah satu Motovlogger yang biasanya menyiapkan makanan saat berkumpul para Motovlogger, yaitu Bang Ojoy, dia memiliki ilmu memasak.
Keahlian memasak Alseenio digunakan lagi pada saat ini.
Semua orang, termasuk orang tua Fara dan ketiga anak kecil, memandang Alseenio dengan takjub.
Teknik bakar daging Alseenio sangat menghibur. Api besar menari-nari di atas alat pemanggang, Alseenio dengan lihai mengendalikannya, seakan-akan api tersebut tunduk padanya
Aroma wangi masakan yang lezat tercium jelas oleh hidung setiap orang yang hadir.
Ryan dan Niara pun mencium aroma kelezatan dari panggangan.
Begitu hasil bakaran Alseenio dan Bang Ojoy disajikan sebagian, dalam sekejap ludes dilahap oleh semua orang.
Mereka berebutan untuk mendapatkan makanannya, sebab rasanya sangat enak, seperti makanan yang ada di restoran bintang 5.
Tidak sadar, waktu sebentar lagi menunjukkan pukul jam 12 malam.
Mereka mengobrol santai sambil menikmati kelezatan sosis dan makanan yang dibakar oleh Alseenio dan Ojoy.
Tak lama kemudian, hitungan mundur pergantian tahun dimulai.
Orang-orang sudah siap menghitung detik-detik terakhir tahun 2022.
Dengan serempak, mereka mulai menghitung.
“Sepuluh!“
“Sembilan!“
“Delapan!“
“…”
“…”
“Lima!“
“Empat!“
“Tiga!“
“Dua!“
“Satu!“
“Happy new year!!“
Berikutnya, suara kembang api terdengar di segala penjuru. Tahun sudah resmi berganti, 2023 sudah mulai berlaku dan hari-hari baru siap disusun dan diisi dengan berbagai peristiwa di masa depan.
Alseenio dan yang lainnya bersorak gembira sambil meminum segelas air mineral, tidak baik meminum alkohol, mansion Alseenio bukan bar dan tempat orang bebas mabuk-mabukan.
__ADS_1
Bang Windi dan para Yituber lainnya tidak lupa untuk membuat unggahan di media sosial mereka masing-masing mengenai keseruan merayakan malam tahun baru di mansion Alseenio.