
Bang Luffi dan kawan-kawan terdiam saat mendengar nama pria satu ini. Dari namanya saja sudah terdengar unik.
Mereka bertiga menahan diri untuk tidak tertawa, mereka masih memiliki sopan santun kepada sesama, tidak boleh menyakiti hati seseorang melalui ucapan.
Bang Luffi sudah sangat penasaran dengan pria ini, kostum yang dikenakan orang ini tidak bisa terindentifikasi olehnya, kemudian ia bertanya dengan rasa ingin tahu, “Ini lagi cosplay karakter apa, Bang?“
“Aku sedang cosplay karakter Ayya dari Spy XXX Family,” Pria bernama Burhan ini menjawab dengan jujur dan polos.
“Ayya?!“ Bang Luffi, Alseenio, dan Fandick berseru hampir bersamaan, mereka sama-sama terheran dan memandang sosok Burhan dengan hati-hati.
Pakaiannya yang dikenakan Burhan memang mirip dengan pakaian yang digunakan karakter bernama Ayya, rambut pink dan seragam khas gadis kecil memang lumayan mirip, tetapi jika dipakai oleh Burhan, karakter Ayya menjadi tercoreng, tidak imut sama sekali.
“Iya, aku cosplay Ayya.“ Burhan mengangguk dan meyakinkan ketiganya.
Fandick melirik dari atas sampai bawah kostum Burhan, dan ia berkata tanpa sadar, “Lebih mirip dengan Ayya dunia lain,
“Pftt!“
Bang Luffi menepuk bahu Fandick, dan menutup mulutnya dengan cepat. Hampir saja dia tertawa.
Mendengar kata-kata Fandick, orang-orang serta tim Luffi yang tengah menyaksikan wawancara ini pun tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, ledakan tawa terdengar.
Syukurnya Burhan juga ikut tertawa, ia tidak memasukkan candaan Fandick ke dalam hatinya.
Alseenio hanya senyum-senyum di balik masker hitamnya, ia pun terkejut dengan candaan Fandick yang keluar tanpa sengaja tersebut.
Beberapa menit berlalu, situasi kembali tentram dan mereka bertiga melanjutkan wawancarai Burhan.
“Kostum ini sewa atau beli?“ Fandick bertanya dan masih mengarahkan mikrofon di tangannya ke depan mulut Burhan.
Burhan melihat ke pakaiannya sendiri dan menjawab, “Kostum ini aku sewa di salah satu toko yang ada di Instagrem.“
“Berapa biayanya?“
“Aku menyewanya berkisar tiga ratus ribu rupiah untuk satu set pakaian ini.“
“Berapa hari lamanya?“
“Dua hari saja.“
Fandick dan yang lainnya mengangguk menunjukkan pemahamannya.
Harganya sangat kontras dengan milik Alseenio, dihitung harganya10 kali lebih murah dari harga sewa kostum Alseenio.
Sejak awal Alseenio hanya diam, ia juga memiliki pertanyaan yang ingin disampaikan.
“Mengapa kamu ingin cosplay Ayya? Apa ada motivasinya?“ Alseenio menoleh ke Burhan yang berada di sampingnya sambil memegangi mikrofon ke arah Burhan.
Sebelum menanggapi pertanyaan Alseenio, Burhan dari awal sudah terganggu oleh pesona Alseenio, sedari tadi ia memperhatikan para cosplayer wanita memandangi Alseenio di sebelahnya.
Ternyata ketika dilihat, Alseenio memang tampan dari segi sosok tubuhnya, tinggi dan bersih, tetapi ia bingung, kenapa harus memakai masker, padahal ini sudah tidak seperti dahulu yang mewajibkan menggunakan masker.
“Tidak ada motivasi, hanya sekadar suka saja dengan karakter lucu, imut, dan menggemaskan, Ayya. Jadi, aku bertekad untuk cosplay Ayya.“ Burhan menatap Alseenio dengan mata yang membara.
“Oh, begitu.“ Alseenio mengangguk dan paham.
Bang Luffi dan timnya juga mengangguk mengerti, orang ini hanya sekadar suka saja sehingga tidak ada alasan khusus dirinya me-cosplay.
“Aku juga ingin bertanya, tetapi sebelumnya harap dijawab jujur,” Fandick berkata kepada Burhan dengan mimik wajah yang serius.
Burhan merespons dengan anggukan kepala. “Silakan bertanya saja, aku usahakan untuk menjawab.“
“Tuh, buruan kasih pertanyaannya,” Bang Luffi mendesak Fandick sambil menepuk bahu Fandick.
“Sabar, dong.“ Fandick mengusap bahunya yang ditepuk Bang Luffi, itu hanya refleks, sama sekali tidak sakit.
Sebelum melontarkan pertanyaan, Fandick menatap ramah Burhan dan berkata dengan sopan, “Apakah keluarga tahu abangnya sedang cosplay ini? Apa tidak menyesal atau marah?“
“Puff!“
Bang Luffi dan Alseenio, hampir saja tertawa lagi, keduanya sama-sama menahan mulutnya supaya tidak kelepasan tertawa.
Fandick benar-benar konyol, pertanyaannya keluar dari konteks.
“Hahaha, bajingan si Fandick ini! Lucu sekali!“
“Sialan, sangat mengocok lambung! Hahaha!“
“Keluarganya sepertinya sudah menyerah, hahaha ….“
Orang-orang yang menonton keduanya mewawancarai Burhan kembali tertawa lagi, tetapi hanya sebentar sebelum Bang Luffi menyuruh mereka semua diam.
“Keluarga mengizinkan aku untuk cosplay, tetapi ketika aku cosplay Ayya ini mereka semua tidak tahu, soalnya aku berganti pakaian di sini,“ Burhan yang ikut tertawa juga langsung menjawab begitu selesai tertawa.
Fandick yang berwajah polos seakan-akan tidak pernah membuat lelucon itu mengangguk tegas, ia paham sekali dengan jawaban Burhan. “Ternyata bukan dari rumah, ya, berganti pakaiannya?“
“Betul!“
“Kalau begitu, apa ada pesan untuk para cosplayer di luar daerah?“ tanya Bang Luffi dan masih membidik mikrofonnya ke dekat mulut Burhan.
“Ada, aku punya pesan.“ Burhan mengangguk ke arah Bang Luffi.
Setelah memperhatikan dan mengamati orang ini, Alseenio mendapat kesimpulan bahwa Buthan adalah orang yang cukup percaya diri, meski sedikit grogi, terlihat tubuhnya bergidik sekilas.
Bang Luffi menunjuk ke arah kamera dan menginstruksikan Burhan untuk melihat lensa kamera saat berkata.
“Untuk kalian, Cosplayer Indonesia. Jangan malu dalam me-cosplay suatu karakter. Percayalah, Cosplayer Indonesia akan dikenal banyak orang sampai ke manca negara suatu hari nanti.“ Burhan menatap lensa kamera dengan berani dan penuh tekad, suaranya tegas penuh keyakinan sehingga orang-orang yang mendengarnya kagum.
Alseenio, Bang Luffi, dan Tim mengangguk terkesan dengan kata-kata Burhan yang dikeluarkan, cukup menyuntik semangat kepada para Cosplayer yang hadir di sini.
__ADS_1
“Terima kasih, Bang Burhan. Sudah mau diwawancarai oleh kita bertiga, ini ada hadiah stiker KOS atau The King of Soldier untuk Bang Burhan.“ Bang Luffi menyerah selembar kertas yang berisi stiker gambar karakter gim KOS yang semalam dimainkan olehnya dan Alseenio.
Tidak enak hatinya jika tidak memberikan apa-apa kepada orang yang diwawancarai.
“Terima kasih kembali,” ucap Burham dengan tulus, ia sangat menerima hadiah ini, kebetulan dia adalah penggemar permainan bertarung satu ini, sangat cocok hadiahnya.
Setelah mewawancarai Burhan, mereka bertiga bergerak ke tempat bagian lain dari acara cosplayer ini, mereka sekali lagi mencari mangsa.
Alseenio lihat-lihat di acara ini, kegiatan mereka hanya saling bertemu dan berkenalan, tidak lupa berfoto-foto dengan orang yang berkostum karakter favoritnya masing-masing, di sini juga ada acara bernyanyi bersama di atas panggung, tetapi saat ini sedang istirahat.
Kegiatan cuma seputar itu saja, mungkin ada lomba. Namun, Alseenio lihat dari tadi, ia tidak menemukan di mana tempat perlombaannya.
Selain itu, di sini juga banyak orang yang berjualan, khususnya berjualan aksesoris gambar karakter film anime dan juga gim. Intinya, di sini sangat ramai.
“Bang Nio, tidakkah kamu betah diam di sini?“ Bang Luffi tiba-tiba bertanya kepada Alseenio, mungkin dia bosan mencari target yang cocok, lebih baik mengobrol.
“Aku betah-betah saja, memangnya kenapa?“ Alseenio menoleh ke Bang Luffi dengan heran.
Fandick mendadak menutupi hidung dengan tangannya, dan menjawab, “Di sini tercium bau badan yang sangat keras, Bang Nio tidak menciumnya?“
“Benarkah? Aku tidak mencium bau badan sama sekali.“ Alseenio tidak mencium bau badan dari orang-orang di sini, sejak datang ke sini ia hanya mencium wewangian.
“Sepertinya Bang Nio harus membuka maskernya.“ Bang Luffi menunjuk ke arah masker yang di pakai Alseenio.
“Nanti saja, ketika momennya pas.“
Belum saatnya Alseenio membuka masker ajaib ini, akan ada waktu yang cocok.
Tak lama kemudian, mereka akhirnya menemukan target baru yang siap ditanya-tanya dengan pertanyaan yang tidak penting.
Targetnya berbeda dengan sebelumnya, target yang diwawancarai ini masih berjenis kelamin laki-laki, tetapi kostum yang digunakan cukup unik dan nyentrik.
Kostum yang digunakan pria satu ini ialah kostum dari sebuah gim yang pernah Alseenio mainkan, yakni Mobel Entok. Karakter yang bernama Nana yang sangat disayangi para pemainnya, kostum ini dipakai oleh pria ini, sangat nyeleneh sekali, lebih unik dari sebelumnya.
“Gila! Keren sih ini senjatanya!“ Fandick berseru ketika melihat senjata besar yang dipegang pria berkostum Nana.
Senjata yang mirip dengan bumerang raksasa yang melengkung, tampak keren apabila digunakan sebagai senjata sungguhan.
Senjata ini diberdirikan dan dipegang oleh pemiliknya.
Mendengar pujian Fandick, pria ini bangga dan tersenyum.
“Halo, Bang! Siapa namanya?“ Bang Luffi langsung memulai wawancara.
“Perkenalkan aku Nani Pedeipe.“ Pria ini melambaikan kedua tangannya ke arah kamera. Satu lagi orang yang sangat percaya diri.
Bang Luffi dan Timnya hanya bisa tersenyum, mereka tidak berani membuat lelucon mengenai nama pria ini, berisiko sekali.
“Lagi cosplay apa, Bang?“ Fandick bertanya dan menyodorkan mikrofon yang dipegang ke arah Nani.
Melihat mikrofon yang begitu dekat dengan bibirnya, ia memundurkan diri sebelum menjawab. “Ini aku cosplay karakter Nana dari Mobel entok. Tahu, kan?“
“Oh, Nana. Mirip sekali kostumnya, tetapi orangnya beda jauh.“ Lagi-lagi Fandick membuat lelucon. “Lebih mirip Nana yang habis jatuh dari Abyss.“
Alseenio juga tertawa kecil, lelucon Fandick memang tidak terduga.
Penonton yang di sekitar juga tertawa, mereka terhibur dengan lelucon Fandick.
Nani juga tertawa, ini baginya juga lucu, ia melihat dirinya sendiri pun langsung terbahak.
Sebagian penonton yang menyaksikan mereka bertiga wawancara adalah penonton yang ada di wawancara sebelumnya bersama dengan Bang Burhan, mereka mengikuti ketiganya karena penasaran, penasaran dengan siapa yang bersama dengan Bang Luffi dan Fandick.
Mereka menganggap Alseenio orang baru, sebab mereka tidak tahu siapa Alseenio, masker ya benar-benar bisa menyembunyikan identitasnya.
“Sewa atau beli, Bang?“ Bang Luffi melanjutkan wawancar lagi dan mengirimkan pertanyaan.
“Aku bikin sendiri, Bang.“
“Wow! Benaran?“ Bang Luffi memastikan.
Nani mengangguk dan menjawab, “Iya, aku buat sendiri kostumnya.“
“Kira-kira habis berapa?“
“Satu juta sepertinya ada.“
“Besar juga, ya.“
Bang Luffi dan yang lainnya sedikit terkejut dengan pengeluaran untuk membuat kostum ini. Mereka kira murah, ternyata sebaliknya.
“Ini senjatanya terbuat dari apa?“ Fandick mencoba memegang bumerang besar dan mengecek bahannya dengan mengetuk beberapa kali.
“Ini dari kardus tebal yang aku bentuk sampai mirip dengan senjata Nana.“
“Pantas saja terasa ringan, aku kira ini bakal berat saat diangkat.“ Bumerangnya Fandick mainkan dan diangkat dengan hati-hati, bumerang ini agak ringkih, Fandick takut merusaknya.
Bang Luffi penasaran, dan ia ingin mencoba memegangnya. “Sini, aku ingin coba pegang.“
“Nih.“ Fandick menyerahkan bumerang ke tangan Bang Luffi.
Usai puas bermain bumerang, mereka melanjutkan lagi kegiatan wawancaranya.
Alseenio juga bertanya dengan pertanyaan yang sama saat bertanya ke Burhan. Jawaban Nani sedikit mirip dengan Burhan.
Keduanya sama-sama diizinkan keluarga, tetapi keluarga Nani tahu tentang anaknya ini yang cosplay karakter wanita. Mungkin keluarganya sudah menyerah dengan hobi aneh anaknya ini.
Namun, ada cerita seru dari Nani, katanya ia sempat dibilang cantik oleh tukang ojek yang mengantarnya ke sini, dia dari rumah sudah memakai kostum ini. Nani jujur terkejut ketika mendengar pujian tukang ojek, padahal ia sama sekali tidak cantik, pria berkumis dan memakai rok pendek serta bando berwarna pink, mustahil dibilang cantik.
Tampaknya ada yang salah dengan tukang ojek tersebut.
__ADS_1
“Apa ada pesan untuk para Cosplayer?“
“Ada.“
“Silakan katakan di depan kamera.“
“Jangan berhenti dalam hobi kalian hanya karena pernah dicaci-maki oleh orang, jangan dengarkan mereka, tetap maju Cosplayer Indonesia!“
Setelah mengatakan itu, Bang Luffi dan tim bertepuk tangan, orang-orang juga bertepuk tangan.
Selepas berpamitan dan memberi hadiah stiker, mereka bergerak lagi mencari target sambil melihat-lihat acara cosplayer.
Tepat ketika Alseenio melihat ada seorang wanita cantik yang memakai kostum seperti orang pekerja, suara Sistem tiba-tiba muncul di telinganya.
[Ding! Misi Telah Terdeteksi!]
Misi : Foto bersama Cosplayer cantik.
Syarat : 3 wanita cantik (0/3), buat ketiganya tersipu.
Waktu : 2 jam.
Hadiah : 1x Kotak Misteri.
Hukuman : Kuku jari memanjang 1 kilometer.
[Apakah Anda Menerima Misi?]
Begitu Alseenio melihat misi yang datang, ia terkejut karena misi ini menanyakan dirinya ingin menerima misi atau tidak.
Dengan seringai licik, Alseenio menjawab tegas di dalam hatinya, “Tentu saja … tidak!“
[Ding! Misi otomatis diterima!]
“Brengsek!“ Alseenio mengutuk Sistem.
Sistem ini sungguh membuatnya kesal.
Melihat mata dan alis Alseenio yang berubah, Bang Luffi dan Fandick langsung menanyakan keadaan Alseenio.
“Tidak apa-apa, tiba-tiba aku teringat sesuatu yang menyebalkan.“
“Kukira kenapa.“ Bang Luffi menghembuskan napas ringan. “Di sana ada wanita cantik, apa mau kita wawancarai dia saja?“
“Bebas, aku ikut saja.“ Fandick tentu saja mau, tetapi ia tidak ingin berterus terang.
“Kalau Bang Nio? Bagaimana?“
Mengingat isi misi, tentu saja Alseenio setuju dengan ajakan Bang Luffi. “Aku bagaimana Bang Luffi saja.“
“Baiklah, ayo kita wawancarai dia!“
Mereka bertiga bersama dengan tim Bang Luffi berjalan mendekati wanita cantik berkostum yang mirip seorang pekerja kantoran.
“Halo!“
“Halo juga!“
Mereka disapa balik oleh wanita cantik ini. Fandick seketika tersenyum lebar, terlebih para Tim Bang Luffi.
Namun, saat wanita ini melihat Bang Luffi dan timnya datang, pandangan wanita ini langsung terpaki dengan sosok Alseenio.
Pesona Alseenio tidak tertutup oleh masker, tidak heran jika banyak perempuan yang ikut mereka untuk menyaksikan wawancara selanjutnya.
“Siapa namanya, Kak?“ Bang Luffi berganti mode, ia menjadi sangat ramah.
“Hai-hai! Perkenalkan, nama aku Farida!“ Wanita ini sangat antusias dan memperkenalkan diri menghadap ke kamera.
Bang Luffi dan Fandick menjadi bingung harus merespons bagaimana.
“Ini lagi cosplay apa, Kak?“ Fandick dengan kemah lembut mengarahkan mikrofonnya agar lebih dekat ke mulut wanita ini.
“Aku cosplay Makina dari Manusia Gergaji Mesin!“
“Oalah, pantas saja familiar. Sangat cocok, Kak!“ puji Fandick yang terlihat menjilat.
“Terima kasih~” Farida berkata dengan wajah yang malu.
Fandick menggaruk-garuk kepalanya setelah mendengar ucapan terima kasih Farida, sangat imut wanita di depannya. “Hehe, sama-sama.“
“Ini bu—”
“Abang satu ini juga sedang cosplay?“ Wanita ini sangat aktif sehingga ia memotong kalimat Bang Luffi.
Mendengar pertanyaan yang dilemparkan ke arahnya, Alseenio mengangguk seraya berkata, “Benar, aku juga lagi cosplay.“
“Coba aku tebak ….“ Farida menatap sepasang mata Alseenio yang memesona dan berpikir sejenak. “Cosplay Narji, ya?“
“Benar, aku sedang cosplay Narji.“
“Bisakah aku melihat wajah kamu? Aku dari tadi sudah penasaran.“
Alseenio langsung bingung harus bagaimana, ia menatap Bang Luffi dan Tim Bang Luffi untuk meminta pendapat.
Namun, banyak orang-orang yang menyaksikan mereka bertiga sejak pertama wawancara yang mendesak Alseenio untuk membuka masker.
Bang Luffi juga mengangguk, menyatakan pendapatnya yang setuju dengan permintaan Farida.
“Baik, sesuai dengan keinginan kalian,” ucap lemah Alseenio, ia pasrah.
__ADS_1
Pada saat tangan Alseenio memegang kaitan masker ajaib, semua memfokuskan perhatian mereka ke wajah Alseenio.
Tepat ketika kaitan itu dilepas, sesuatu yang tidak terduga terjadi.